Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 18 - Putus


__ADS_3

Tidak bisa terelakkan lagi. Dengan ketampanan Peter akan dengan mudah meluluhkan hati para wanita. Grace memang akui bahwa Peter memang tampan. Selain tampan, dia cerdas dan bertalenta. Pasti banyak perempuan yang akan mengidam-idamkannya saat pertama kali bertemu dengannya.


Berbeda dengan Grace, kesan pertama bertemu dengannya 'pasti orang itu sombong' bahkan ketika Grace memutuskan untuk menerima pernyataan cintanya saja hingga sekarang tidak ada rasa cinta yang tumbuh di hatinya.


Bahkan jika ada orang yang menyukai Peter pun dengan sukarela dan terang-terangan akan melepaskannya. Gila memang. Setiap orang ingin menjadi pacar Peter, tetapi Grace ingin mengakhirinya.


Kehidupan sehari-hari yang tanpa adanya Peter membuat terbebas dan lega karena tidak ada sepasang mata itu yang mengawasi dan yang sewaktu-waktu siap menyidangnya. Sebenarnya maksud Peter dan apa yang dilakukan Peter hanya kebaikan Grace tetapi bagi Grace seperti berada di dalam penjara.


Tanpa Peter membuat hari-harinya sungguh nikmat dan menyenangkan. Dia bisa melakukan apa yang dia mau dan apa yang dia suka.


Di benak Grace saat ini bagaimana cara memutuskannya supaya tidak menyakitinya. Tetapi yang namanya sudah mencintai orang bahkan berkomitmen untuk setia tiba-tiba minta putus, pasti akan menyakitkan.


"Bukankah lebih baik putus sekarang. Bukankah lebih baik mengakhiri sekarang. Bukankah lebih baik menyakiti sekarang dari pada dia akan lebih sakit saat hubungan ini berakhir di kemudian hari." gumam Grace. "Meskipun aku dekat dengan Anes dan Anes sudah mengakui kalau ada perasaan denganku, bukan berarti aku minta putus karena Anes sudah nembak saya. Sama sekali tidak. Aku minta putus murni karena aku merasa bahwa hubungan ini tidak pengaruh dan tidak ada manfaatnya buatku. Justru aku akan semakin menyakitinya dan aku akan semakin gelisah karena terus berbuat jahat kepada dia.


Flashback On


Anes sudah menyatakan perasaannya kepada Grace sebelum ia pindah asrama yang sama dengan Peter. Grace terkejut saat Grace menerima surat tentang perasaannya, ingin menjadikan Grace pacarnya dan ia juga bertanya bagaimana hubungan Grace dengan Peter. Jika sudah putus, apakah masih ada kesempatan ataukah sudah diisi oleh orang lain.


Grace belum bisa menjawabnya karena masih punya hubungan dengan Peter. Grace tidak mau menjadi cewek yang egois. Saat datang orang yang dapat memberikan kenyamanan dan kebebasan, dia akan menerimanya. Sedangkan hubungan dengan Peter masih terikat. Grace tidak mau menduakan karena itu justru akan menyusahkan dirinya sendiri.


Kini, Grace mendapatkan jawaban atas penasarannya yang pernah mengusik pikirannya tentang kedekatannya dengan cewek sekelasnya. Ternyata yang ia cintai adalah dirinya bukan perempuan yang selama ini diduga oleh Grace.


Apakah Grace merasa senang karena ternyata dicintai oleh seorang anggota geng teot yang pernah menjaganya saat air kencingnya sudah di ujung tanduk dan yang melindunginya saat dikejar oleh Wanto? Apakah Grace juga merasakan perasaan yang sama seperti Anes yang sudah jatuh hati padanya?


Grace senang atas pernyataan cinta Anes. Grace juga senang dengan pribadi Anes yang hangat dan bersahabat. Dia melindungi meskipun Peter juga melakukan hal yang sama.


Tetapi Grace belum memiliki perasaan yang pasti terhadap Anes. Mungkinkah hanya perasaan kagum? Ah, belum bisa dipastikan.


Grace tidak bisa menjawab sekarang. Grace masih membutuhkan waktu untuk berpikir dan mengakhiri hubungannya dengan Peter yang tanpa cinta itu. Jika hatinya sudah mantap, ia akan segera membalas surat itu.


Flashback off


Hari ini Grace sedang ada kegiatan di kota X. Tetapi perasaannya sedang tidak gelisah. Grace secepatnya harus mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Peter. Tanpa berpikir panjang, malam itu Grace keluar tanpa ragu untuk mencari telepon umum. Sebenarnya ini bukan cara yang tepat untuk memutuskan hubungan apalagi lewat telepon. Tapi Grace tidak mau menunda-nunda lagi.


Grace ingat kalau ada telpon umum di daerah dekat situ. Grace harus memakai telpon umum karena di asrama hanya bisa menggunakan telpon genggam.


Di sela-sela kegiatan yang sedang ia ikuti, dibantu oleh temannya dari kota itu, Grace dibonceng mengendarai motor menuju telpon umum. Sesampainya di telpon umum itu, Grace mengeluarkan beberapa koin dan memasukkan ke lobang mesin itu. Sudah dipastikan koin-koin itu masuk dan muncul perintah di layar. Setelah koin-koin itu masuk, Grace memencet tombo-tombol angka yang di catatannya.


Kring.... kring.... kring.... kemudian terputus karena gagang telepon di ujung sana ada yang mengangkatnya.


"Selamat malam. Maaf ini dengan siapa? Ada yang bisa dibantu?" sapa orang yang di seberang telpon.


"Selamat malam. Ini dengan Grace. Bisa bicara dengan Peter?" balas Grace.


"Baik tunggu sebentar. Akan saya panggilkan." pinta si penerima telpon itu. Sesaat kemudian telpon itu kembali diangkat.


"Malam sayang. Apa kabar? Tumben kamu telpon kesini?" ucap Peter yang disertai dengan rentetan pertanyaan.


"Malam bang. Aku baik. Ada yang ingin aku sampaikan." jawab Grace.


"Kamu mau menyampaikan apa?"

__ADS_1


"Bang, aku minta kita putus." pinta Grace dengan penuh keberanian.


"Aku tidak mau. Aku tidak mau putus dengan kamu." jawab Peter dari seberang telepon sana.


"Aku sudah tidak bisa menjalani hubungan ini bang. Maaf." tegas Grace.


"Aku nggak mau Grace." rengek Peter.


"Tetapi bang. Aku nggak bisa mempertahankan hubungan ini. Sudah ya.... aku tutup." Grace memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Grace bernafas lega. Akhirnya dia bisa mengakhiri hubungannya dan mengakhiri pula kejahatannya kepada Peter.


Peter POV


Kring.... kring.... kring.... ada telepon masuk dan temanku yang mengangkatnya. Kemudian terdengar teriakan dari si pemegang telpon itu.


"Selamat malam. Maaf ini dengan siapa? Ada yang bisa dibantu?" sapa temanku yang di seberang telpon.


"Selamat malam. Ini dengan Grace. Bisa bicara dengan Peter?" balas Grace.


"Baik tunggu sebentar. Akan saya panggilkan." pinta si penerima telpon itu.


Peter ada telpon dari Grace." teriaknya yang membuatku lari kegirangan.


Sesaat kemudian telpon itu kembaangkat.


"Malam sayang. Apa kabar? Tumben kamu telpon kesini?" ucapku yang dengan rentetan pertanyaan sebab tidak biasanya Grace menelponku. Perasaan senang campur bingung campur penasaran.


"Malam bang. Aku baik. Ada yang ingin aku sampaikan." jawab Grace. Deg.... deg.... deg... membuat jantungku berdetak kencang bukan karena perasaan cinta tetapi sepertinya ada hal yang kurang baik untuk kudengar.


"Bang, aku minta kita putus." pinta Grace dengan penuh penegasan dan penekanan. Jantungku seperti berhenti berdetak. Ada rasa sakit yang menusuk-nusuk di dalam sana. Mungkin hatiku.


"Aku tidak mau. Aku tidak mau putus dengan kamu." jawabku dengan memohon. Aku salah apa? Kenapa Grace minta putus?


"Aku sudah tidak bisa menjalani hubungan ini bang. Maaf." tegas Grace yang semakin membuat jantungku terus berdetak dan seolah-olah nafasku terhenti. Aku lemas. Tanganku bergetar kencang.


"Aku nggak mau Grace." rengekku lagi agar Grace mencabut kata-katanya. Tapi sepertinya tidak berhasil.


"Tetapi bang. Aku nggak bisa mempertahankan hubungan ini. Sudah ya.... aku tutup." Grace memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Aku terdiam sejenak untuk mengambil nafas dan menetralkan nafasku. Dadaku sesak. Aku elus-elus dadaku, sedikit membuatku bisa bernafas. Mataku berkaca-kaca. Tidak membutuhkan waktu lama maka bendungan itu akan jebol saking banyaknya debit air. Air itu bening seperti kristal-kristal es mengalir di pipiku. Segera ku hapus dengan lengan bajuku agar tidak seorangpun memergokiku yang sedang menangis dengan hati yang benar-benar kalut dan hancur menjadi keping-kepingan kecil.


Aku berjalan menuju kamar dengan sedikit lemas. Aku terus berusaha agar kakiku mengantarku ke kamar. Saat menaiki tangga menuju kamar, kupegang pagar tangga itu agar aku dapat bantuan kekuatan darinya.


kulangkahkan kakiku menaiki tangga itu dengan pelan namun pasti. Aku buka kamarku. Aku duduk di ranjangku dengan sangat frustasi. Ku acak rambutku yang lurus dan hitam ini. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi mulutku sulit untuk terbuka. Aku benar-benar stress.


"Grace apa salahku? Katakan! Aku akan berusaha berubah. Berusaha menjadi yang terbaik buatmu. Aku ingin melakukan yang kamu minta. Tapi kumohon jangan hukum aku seperti ini. Aku berusaha untuk setia dan kamu wanita satu-satunya yang aku cintai. Kenapa Grace? Apakah kamu sudah menemukan orang yang lebih baik dari aku? Apakah aku menyakitimu? Apakah aku tidak layak untukmu? Kenapa kamu lakukan ini padaku Grace? Telpon aku dan cabut kata-katamu Grace." isakku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dan tanpa jawaban itu.


Pikiranku sudah buntu. Mataku sudah membengkak karena menangis dan kurang tidur. Hatiku benar-benar kalut. Aku putus asa. Ini lebih menyakitkan lagi dari sebelumnya sewaktu putus dengan Tina. Grace benar-benar berhasil menghancurkan hatiku.


Peter POV off


Grace berhasil membuat Peter hancur sehancurnya, patah hati berkeping-keping dan frustasi berat.

__ADS_1


Setelah Grace menutup telepon genggam itu secara sepihak, ia membuka pintu wartel itu dan kembali bertemu temannya. Grace saat malam itu juga diajak temannya berkenalan dengan seseorang.


Grace pun naik motor di bagian belakang. Motor itu membawanya ke sebuah bangunan agak mewah. Bank. Grace ke Bank itu bukan untuk berkenalan dengan teller Bank atau manager bank. Dan itupun tidak mungkin pada saat malam hari mereka masih kerja.


Setelah memasuki halaman bank itu, Grace turun dari motor dan diperkenalkan dengan seseorang yang ada di dalam bank itu. Dia bernama Ivan.


Beberapa hari sebelum bertemu, Grace sudah dikasih tahu bahwa temannya akan memperkenalkan pada seseorang yang bernama Ivan. Nama yang keren dan modern. Grace mengira bahwa akan diperkenalkan dengan seseorang yang seimbang dengan namanya. Tetapi semua penilaian Grace sebelumnya salah besar. Itu tidak seperti yang dibayangkannya. Sangat jauh berbeda. Jika dibandingkan dengan Peter pun tentunya sangat jauh sekali.


"Ivan." kenalnya sambil mengulurkan tangannya.


"Grace." jawab Grace bengong bukan karena terpesona dengan orang yang di depannya itu. Sebaliknya. "Orang inikah yang dikenalkan dengan ku. Wahhhh..... aku putus dengan seorang yang tampan berkulit bersih tapi ini sebaliknya. Ga salah ni orang mengenalkan aku dengan dia. Pria berseragam ini?" lanjut Grace dengan gumaman.


Grace benar-benar terkejut bukan main dengan ulah temannya yang memperkenalkan dengan Ivan yang bekerja sebagai seorang satpam.


Memang tidak ada salahnya dengan sosok Ivan. Bagaimana pun wajahnya, itu adalah pemberian Tuhan dan mengenai pekerjaan, semua pekerjaan itu halal tetapi setidaknya Grace ingin mendapatkan seseorang yang pekerjaannya lebih baik.


Sebenarnya dari awal, Grace sudah menolak dengan pertemuan itu. Terlebih dari semuanya itu adalah masalah keyakinan. Itu kriteria yang tidak bisa ditawar-tawar atau diganggu gugat karena itu adalah kriteria paling utama.


Dengan agak kecewa. Lebih tepatnya menyesal telah membuang-buang waktu. Seharusnya Grace bisa melakukan hal-hal yang bermanfaat.


Grace segera mengajak temannya untuk mengantar pulang. Grace tidak mau lama-lama disitu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan atau lebih tepatnya jadi bahan pembicaraan orang. Karena Grace sudah terbiasa menjadi langganan bahan pembicaraan orang. Tetapi kali ini, Grace tidak mau menjadi perbincangan di tempat ini.


Akhirnya Grace pun kembali ke penginapan. Menjelang tidur, Grace teringat dengan apa yang sudah dilakukannya pada Peter. Grace merasa bahwa dirinya benar-benar menjadi perempuan buas, kejam, tidak berbelas kasihan, tega, egois dan angkuh.


Grace bisa menebak dan membayangkan bagaimana hati Peter saat ini. Bukan puas karena telah menyakitinya. Tetapi puas karena merasa lega. Dia tidak akan menambah dosa lagi. Cukup. Mengakhiri adalah keputusan yang terbaik.


Esoknya Grace diajak Yanto ke bekas asrama putra. Di sebelah asrama itu terdapat warung mie ayam. Grace pun ditraktir mie ayam oleh Yanto. Tetapi sekalipun Grace sedang senang karena menerima gratisan, Grace tetap masih menjaga hatinya. Grace mengira bahwa traktiran ini mengandung udang dibalik batu. Ada sesuatu yang ingin Yanto ucapkan.


Setelah menunggu apa yang akan disampaikan oleh Yanto, ternyata Yanto hanya terdiam saat menikmati mie ayam. Hanya sesekali saja berbicara. Grace memang berhasil menciptakan suasana canggung.


Yanto sebenarnya juga memiliki perasaan 'sayang' kepada Grace. Tetapi Yanto tahu diri. Pasti Grace tidak akan menolaknya.


Setelah melakukan pemesanan dan menunggu lama karena antrian, akhirnya mie ayam itu pun datang. Mangkok itu di taruh tepat di depan Grace karena memang itu pesanan buat Grace.


Grace pun mengambil sendok dan menaruhnya di pinggiran mangkok yang bergambarkan ayam jago merah itu. Kemudian dia mengambil saos dan sambal, dan menuangkannya di atas mie ayam itu. Grace Mengaduk-aduk mie ayam itu agar bumbunya tercampur dengan sempurna dan nikmat. Grace memang ahlinya dalam meracik mie ayam. Itu adalah makanan kesukaan Grace.


Selesai makan, Grace mempersilahkan Yanto untuk membayarnya dan meninggalkan tempat ini menuju tempat pertemuan.


*Kamu akan semakin menyakitinya jika tidak secepatnya mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan yang tidak kamu sukai. Sekarang atau nanti adalah waktu penentuan bagimu untuk menyakiti sekarang atau menyakitinya nanti dengan luka yang terlalu dalam.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan...


Mari saling mendukung dalam berkarya....


__ADS_2