
Cukuruuuyuuukkkkkk.... ayam jago milik tetangga sudah membangunkan tidur mereka.
Cit .... cit .... cit .... siulan burung gereja yang beterbangan di antara pepohonan.
Cukuruuuyuuukkkkkk .... kali ini suara ayam jago dari kamar Dona.
Pruuuttttt ... tuttt .... tuttttt ... pretttt.... terdengar suara dibalik selimut milik Lusi.
"Hmmmmm .... Lusi." Ita bersuara.
"Hahahaha ...." sahut tawa Lusi.
"Ahhhhh tunggu .... diam dulu. Dengar ada suara tidak?" Ucap Grace. Semua terdiam sejenak berusaha mendengar suara yang dimaksudkan Grace.
"Pretttt... tetet... tet ... tet .... Hahaha.... kali ini dengar kan?" ucap sambung Grace.
"Sialan lho Grace. Pagi-pagi sudah perang kentut." protes Bita dengan lemparan bantal. Dan diikuti tawa receh ala mereka.
Itulah aktivitas yang mengawali pagi mereka. Kalau sudah satu kamar dengan orang lain, tidak ada yang mungkin bisa ditutupi. Semua hal-hal buruk, memalukan dan menjijikkan pasti segera terungkap bahkan menjadi konsumsi publik.
Mereka pun beranjak dari tempat tidur masing-masing dan mengambil tempat sabun untuk cuci muka.
Tiba waktunya mereka mengikuti doa bersama. Seperti biasa mereka sharing bersama.
"Dunia menawarkan sejuta bahkan lebih keindahan dan menyenangkan. Tapi percayalah itu tidak abadi." ucap Steve.
"Saat Anda bergaul dengan orang yang salah, maka hidupmu pun akan menjadi salah." ucap Kobus.
"Lamanya hidup manusia tidak ada yang tahu, pergunakan waktu yang ada untuk hal-hal yang berguna bagi orang lain." balas Dirman.
"Kamu mengatakan cinta Tuhan, tapi kamu benci sesamamu. Bahkan itu tidak pantas disebut orang beragama." ucap Ita.
"Manusia akan fokus untuk kepentingan diri sendiri dan melupakan orang di sekitarnya." ucap Grace.
"Saat kamu berada dalam posisi teratas, banyak yang berbondong-bondong mengaku temanmu. Saat kamu berada dalam posisi paling bawah, mereka akan mengatakan 'aku tidak kenal' tapi jangan sampai membuatmu meninggalkan Tuhan." ucap Bita.
"Makin hari manusia melupakan Tuhannya karena fokus pada HP." ucap Tatik.
"Jika kamu memberi jangan pernah kamu mengingatnya. Tapi ingatlah jika ada orang yang memberi kepadamu." ucap Rina
Mereka pun menyelesaikan kegiatan mereka. Kemudian mereka beralih mengerjakan pekerjaan praktis. Tini, Grace, Yanto dan Toni sedang berada di dapur luar untuk masak nasi sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun by Slank.
*Hari ini, hari yang kau tunggu
Bertambah satu tahun, usiamu,
Bahagialah slalu
Yang kuberi, bukan jam dan cincin
Bukan seikat bunga, atau puisi,
Juga kalung hati
Maaf, bukannya pelit,
Atau nggak mau bermodal dikit
Yang ingin aku, beri padamu
Do'a s'tulus hati ...
Smoga Tuhan, melindungi kamu
Serta tercapai semua angan dan cita citamu
Mudah mudahan diberi umur panjang
Sehat selama lamanya.
Selamat ulang tahun yaaa...
Semoga panjang umur selalu.
Selamat Ulang tahun ...
Selamat Ulang tahun* ...
Tini dan Grace berperan sebagai vokalis, Toni sebagai gitaris, sedangkan Yanto drummernya. Sangat semangat mereka menyanyikan lagu itu meskipun tidak ada yang berulang tahun saat itu.
Dengan lihai Toni memainkan gitarnya. Sementara Yanto? Yanto mempunyai inisiatif untuk mengambil sebatang kayu, ditancapkannya di tanah dan tutup panci yang berlobang tengah itu dipasang pada kayu tersebut. Begitu semangatnya Yanto yang seolah-olah memukul drum benaran dari panci dan tutup itu. Dia memukul panci dan tutup panci secara sembarangan asalkan mengeluarkan suara. Tidak peduli bagaimana bentuknya nanti setelah ia mainkan.
Selesai kegiatan kerja praktis, mereka sarapan bersama. Kemudian melanjutkan kerja bakti lagi untuk menyelesaikan cor halaman yang tertunda pada hari sebelumnya.
Para tukang sudah datang. Mereka mulai mencampurkan pasir dengan semen dan air. Adukan semen pertama selesai, tugas anggota adalah mengangkatnya dan memberikan kepada tukang yang lainnya untuk diratakan.
"Kita buat estafet saja biar enak." usul Steven.
Mereka pun melakukannya.
"Biar asyik kita sahut-sahutan pantun lagi." pinta Yanto. "Siapa mau memulai?" lanjutnya.
"Alpukat enak buahnya," ucap Ita
__ADS_1
secara serempak mereka menjawab, "asyikkkk".
"kalau makan tak lupa kasih gula."
"Lanjut...." sahut mereka.
"Jika engkau tahu jawabannya,
Binatang apa yang ekornya di Kepala?"
semua terdiam karena tidak tahu apa jawabannya.
"Jawabannya adalah binatang Gajah." ucap Ita menjawab pertanyaannya sendiri.
"jika hendak menyebrang ke tengah pulau," ucap Hendri.
"asyikkkk." jawab serentak bahkan tukang-tukang pun tidak mau kalah
"selalu berdoa jika kapal terbawa angin"
"Lanjut...." sahut mereka.
"jangan dikenang yang jauh dirantau
siapa tau dia dah bekawin." lanjut Hendri.
Mereka pun membalas dengan tepukan tangan dan sorak-sorai.
Grace membalas dengan lagu dari daerah Ambon;
Apa kabar sayang
Beta paling rindu par mo telvon se
Sms, BBM deng mesenger se
Sakarang ini..
Baik ka bagaimana
Kangen dengar ale pung suara
Senyuman dari ale pung muka
Please Nona Videocall beta..
Beta tunggu tunggu
Tunggu ale nona
Kasi kabar bisa ka seng
Sampe kapan beta akan bertahan
Pertahankan rasa ini.. Nona
Memang jarak deng waktu
Katong ta pisah jauh
Tolong jang inga kenangan pahit dimasa lalu
Mari jua nona
"wuihhhhh .... mantap Grace." komentar Yanto, bukan pada suara Grace tetapi liriknya. Karena suara Grace masuk dalam golongan suara fals tingkat akut.
"Tapi lebih mantap lagi kalau kamu diam Grace, suara kamu fals tingkat akut." sambung Yanto lagi dengan jujur dari hati yang paling ujung. Dan disambung gelak tawa dari yang lainnya.
"Kamu terlalu jujur, Yan! Lihat tu muka Grace sudah berubah menjadi pepaya busuk." sahut Bita.
"Hahaha.... santai saja! Lanjut...." balas Grace
"Kenapa di komputer ada tulisan ENTER?" tanya Toni. Semua terdiam sejenak dan berusaha mencari jawaban. Namun lagi-lagi salah.
"karena kalo tulisannya ENTAR, programnya ngga jalan-jalan, dong…" jawab Toni untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
"Apa bahasa Dayak Bakati makan?" tanya Tatik.
"Belum waktunya makan, Tik?" balas Reni.
"Cuma tanya bah..." jawab Tatik.
"Uman." Sahut Ita
Akhirnya selesai juga kegiatan kerja bakti mereka yang disambung dengan makan bersama. Selesai makan, Grace, Bita dan Tatik siap-siap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Oke guys, sampai bertemu kembali." pamit Grace kepada mereka. Grace mengangkat rensel kecilnya dan menggendong di punggungnya.
"Kalau kamu datang tidak bawa oleh-oleh, maka jangan kembali Grace." teriak Dona yang melihat punggung Grace meninggalkan asrama.
Pulangnya Grace naik angkutan umum. Menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam apalagi menggunakan angkutan umum untuk sampai di Terminal pertama. Grace harus sambung sekali lagi untuk sampai rumahnya. Ternyata, sopir angkutan yang pertama tersebut mengenali Grace. Dia adalah anak dari majikan ibunya Grace sehingga sopirnya tidak mau menerima bayaran dari Grace.
"Tidak usah." kata sopir kepada Grace.
__ADS_1
"Terima kasih mas." balas Grace
Sampailah Grace di rumah. Satu Minggu telah ia lewati di asrama. Grace beradaptasi dengan baik. Memang teman-temannya Grace baik semua. Sebenarnya Grace hanya sedikit mempunyai teman perempuan. Bagi dia perempuan itu banyak mulut alias tukang gosip, tukang menjelek-jelekkan orang, suka iri-an, dan egois. Tetapi berbeda dengan teman-teman Grace kali ini. Mereka bersahabat semua. Tidak suka menggosip, menjelek-jelekkan orang lain di belakang dan mau bekerja sama. Tidak heran saat ini menjelang tidur, sambil menghadap langit-langit kamar yang masih kelihatan gentengnya (belum dipasang platform), Grace merasa kangen dengan situasi asrama.
Grace kangen kekocakan mereka, kekonyolan mereka dan kekompakan mereka. Memang di asrama diajarkan untuk saling mengasihi, saling peduli dan saling menolong sehingga masalah-masalah receh yang sering terjadi pada umumnya bagi kaum perempuan benar-benar tidak terjadi disana.
Grace senang bisa berada di asrama itu, menjadi bagian dari mereka dan mengenal mereka. Apalagi mereka yang datang jauh-jauh dari Kalimantan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Meskipun kenyataannya mereka hanya mengikuti program paket C. Kelebihannya adalah mereka belajar ketrampilan dan terutama keagamaan. Setiap pagi sebelum beraktivitas dan malam sebelum mengakhiri aktivitas disuguhkan ayat-ayat suci sebagai penuntun langkah mereka.
Sepi. Itulah yang dirasakan Grace. Biasanya ia selalu bercanda dengan teman-temannya dengan hal yang konyol dan tidak masuk akal. Hingga tengah malam, sepasang mata itu belum juga terpejam. Tidak tahu kenapa sulit sekali bagi Grace untuk memejamkan mata dan masuk ke dunia mimpinya. Padahal biasanya pukul 22.30 sudah berangkat ke dunia mimpinya. Ada apa dengan Grace? Dia kangen dengan suasana asrama dan teman-temannya kah? Atau hanya kangen kepada salah satu dari anggota asrama putra? Tidak. Grace kangen suasananya. Grace belum bisa membuka hati. Meskipun Grace mudah bergaul, tetapi kalau urusan hati, Grace tidak mau terburu-buru.
Mata itu akhirnya terpejam juga dan masuk dalam dunia mimpinya. Dia tidur sambil senyum-senyum. Apa yang sedang Grace impikan? Apakah ia bermimpi seorang pangeran berkuda putih sedang menghampirinya dan siap membawanya ke negeri kayangan. Ah, dia hanya mimpi suasana asram. Dia bermimpi duduk bersama Steve. Mereka bercanda ria dan bercerita.
Pagi pun merekah tapi ini masih hari Minggu. Hari ini Grace akan bersama keluarganya beribadah ke Gereja. Setelah dari Gereja, Grace dan keluarganya tidak kemana-mana. Keluarga Grace, bukan keluarga yang suka menghabiskan waktunya di luar rumah yang hanya sekedar refreshing atau jalan-jalan. Cukup di rumah, karena mereka tidak memiliki kendaraan apapun untuk bepergian. Itulah mengapa Grace merindukan suasana di asrama. Karena suasana di rumah monoton dan membosankan bagi Grace.
Grace juga bukanlah seorang anak yang suka menghabiskan waktunya untuk bermain di tetangga untuk bergosip ria. Berbeda waktu masih kecil. Grace suka sekali bermain dengan teman-temannya. Bermain permainan petak umpet, lompat tali, kelereng dan lainnya adalah rutinitas Grace setiap hari. Sekarang Grace sudah remaja dan membuat dia malas untuk keluar rumah hanya untuk bergosip ria.
"Bagaimana sekolah kamu Grace?" tanya penasaran Ibu Grace.
"Baik Bu." jawab singkat Grace
"Teman-temanmu?" tanya ibu Grace lagi.
"Baik juga Bu!" jawab singkat Grace lagi.
"Coba ceritakan keadaan disana..." tanya penasaran Ayah Grace.
Grace pun menceritakan tentang suasana disana dan bagaimana sikap teman-temannya kepada Grace secara singkat.
Akhirnya weekend telah usai. Senin pagi Grace berangkat di antar teman laki-laki kampungnya. Sebenarnya, orang tua Grace hanya meminta dia untuk mengantar sampai terminal saja. Dari terminal, Grace bisa naik angkutan umum. Karena pemuda itu ingin mengambil hati Grace, ia pun dengan diam-diam mengantar sampai asrama.
Untuk menghindari pertanyaan dari teman-temannya, Grace hanya meminta diantar di luar gerbang saja.
"Sampai disini saja ya... terima kasih banyak sudah antar." ucap Grace
"Ya sudah kalau begitu. Sama-sama." balas Dodi, pemuda itu.
"Hati-hati." sahut Grace yang dibalas dengan senyuman dan anggukan kepala.
Grace pun berjalan ke area asrama.
"Doooooorrrrrrr!!!!" teriak Grace pada teman-temannya yang membuat mereka terkejut. "Hai guys, apa kabar." sambungnya.
"Kamu itu lho Grace.... Datang-datang bukannya mengucapkan salam malah kagetin orang. Untung tidak ada yang jantungan." seloroh Ita.
"Hahaha .... Shalom dan selamat pagi teman-temanku yang baik, tidak sombong, rendah hati dan rajin menabung." sapa Grace.
"Shalom." jawab semua.
"Mana oleh-oleh?" tanya Lusi.
"Tidak ada ..... hehehe." jawab Grace.
"Ditungguin juga... ehhhh ada teman baru lho dari kota X." ucap Rina.
"Siapa? Ganteng?" tanya Grace penasaran.
"Biasa saja sih. Kurus, hitam dan tinggi. Anak nakal tu. Dikeluarkan dari sekolah trus diover kesini." jawab Ita. Grace hanya menjawab ber'oh' ria.
"Nanti saya kenalan." sahut Grace.
"Untuk?" tanya Lusi.
"Jadikan teman to....? Gimana sih? Emang kamu pikir apa?" jawab Grace atas pertanyaan konyol Lusi.
"Kirain mau dijadikan teman hidup." balas Tatik. Grace tidak menjawab Tatik tapi dia mendekati Tatik dan menoyor jidatnya. "Otakmu kejauhan Tik." ucap Grace.
Mereka pun masuk kelas. Guru sudah datang. Memang benar, ada murid pindahan baru datang karena di DO. Posturnya tidak jauh berbeda seperti yang Ita katakan. Saat istirahat, Grace pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan.
"Hai .... kenalkan namaku Grace. Dari Desa X, Kecamatan X" ucap Grace sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Hai juga.... namaku Onis. Dari kota X." balas Onis.
"Senang bertemu denganmu." ucap Grace. "Semua disini teman. Mereka semua baik kok... Jadi jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan." lanjut Grace.
"Terima kasih Grace. Senang bertemu denganmu juga." jawab Onis.
Akhirnya Grace dan Onis pun mulai saat itu berteman baik. Grace jadi lebih dekat dengan Onis dari pada teman laki-lakinya. Bukan karena menaruh hati pada Onis sejak pandangan pertama, bukan juga karena mereka berasal dari kota yang sama atau suku yang sama. Tetapi Grace lebih nyaman saat berbicara atau cerita kepada Onis meskipun penampilan Onis terlihat berantakan dan terkenal anak nakal. Grace senang berteman dengan Onis.
Hari itu telah Grace lewati tanpa keluh kesah dan menggerutu. Dia selalu bisa menempatkan diri dimanapun berada. Selalu belajar menikmati hidup dan bersyukur kepada Sang Pencipta. Apalagi mendapatkan teman baru. Menjadi momen tambahan bagi Grace
*Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Jika kamu tidak mau menerima masukan dan kritikan dari orang lain, yakinlah lambat laun kamu akan menjadi tumpul. Benda tumpul hanya layak dibuang.*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers .....
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya.
Semoga menikmati dan bermanfaat.
Mohon terus dukung ya...
Untuk semua masukan, silahkan bergabung di grup atau komentar di kolom komentar.
__ADS_1
Jangan lupa juga like....