Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 26 - Ajaran Baru


__ADS_3

4 Bulan Kemudian


Seperti yang diinginkan oleh Grace, hubungan antara Grace dan Indra hanyalah sebatas teman tetapi tetap akrab. Tidak ada jarak diantara keduanya. Terkadang mereka masih duduk bersama. Terkadang juga jalan bersama ke sungai X.


Grace juga belum bisa membuka hati untuk siapapun. Bukan trauma namun hati-hati memilih untuk menjalani hubungan dan tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk hal-hal yang tidak penting.


Ini sudah di penghujung semester, semua siswa-siswi bergelut untuk ujian akhir semester. Seperti biasa, Grace akan meluangkan waktu khusus untuk belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Catatan-catatan yang ia miliki (kadang Grace meminta orang lain untuk mencatat karena dia sering diberikan tugas untuk menulis di papan tulis sehingga tidak heran jika dalam satu halaman bisa berganti-ganti tulisannya), dia pelajari lagi jika tidak ada yang tidak dimengerti langsung bertanya kepada guru. Grace memang tidak pernah bertanya kepada teman-temannya soal pelajaran, dia akan bertanya langsung kepada guru karena Grace tidak mudah percaya dengan jawaban temannya. Maklum, Grace selalu juara pertama.


Ujian sedang berlangsung. Semua siswa berusaha untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun tidak semua bisa mengerjakan soal yang diberikan termasuk Grace. Meskipun Grace adalah siswi yang paling pintar, namun ada beberapa pelajaran yang tidak bisa ia kuasai seperti Sejarah dan geografi. Tetapi Grace tidak menyerah begitu saja. Dia akan tetap berusaha, berapapun nilai yang ia dapatkan.


Ujian-ujian telah dilewati. Perasaan lega karena sudah selesai ujiannya. Perasaan kuatir karena nilai-nilainya. Berapapun nilai yang biasanya Grace dapatkan, tidak lebi rendah dari temannya. Selalu unggul.


Laporan penilaian telah diterima dan memang Gracelah yang menjuarainya. Itu tidak perlu diragukan lagi.


Dengan berakhirnya semester genap dan kenaikan kelas, maka asrama akan kedatangan murid-murid dan mahasiswa-mahasiswi baru. Disinilah Grace juga mulai latihan untuk menyambut mereka yang bekerja sama dengan tim teater. Grace ditunjuk sebagai pemimpin acara sehingga ia harus meluangkan waktu untuk latihan.


Acara itu berlangsung dengan meriah atas komando Grace sebagai pemimpin acara. Lagu-lagu telah disiapkan, pemain musik siap dan pemeran teater juga sudah disiapkan. Grace tidak ingin acara ini gagal. Dan alhasil, semua acara berlangsung dengan baik hingga selesai tidak ada halangan dan rintangan apapun. Semua panitia bisa bekerja sama dengan baik dan kompak.


Tahun ajaran baru dan teman baru buat Grace. Tahun ini bahkan Grace lebih banyak mendapatkan teman laki-laki. Grace juga sempat berpikir juga untuk membuat geng dengan teman-teman barunya. Tapi Grace berpikir ulang, bahwa itu tidak baik.


Esoknya Grace berkenalan dengan dua orang laki-laki baru lagi.


"Nama aku Silwanus." dengan menyodorkan tangannya dan disambut oleh Grace.


"Grace."


"Stefanus"


"Grace" secara bergantian mereka berjabat tangan.


"Aku mendengar disini ada tempat favorit yang menjadi andalan anak-anak asrama." kata Silwanus.


"Oh iya, itu di sungai X. Mau kesana?" jawab Grace.


"Mau." jawab dua-duanya.


"Oh ya udah. Ntar sore kita bertiga pergia ya..." ajak Grace.


"Nggak apa-apa ni kalau bertiga?" tanya Stefanus.


"Nggak apa-apa." jawab Grace.


Sore harinya mereka bertemu di ruang makan untuk pergi ke sungai X bersama-sama seperti yang Grace katakan. Mereka juga melewati jalan setapak seperti biasa yang Grace lewati bersama teman-temannya meskipun ada jalan utama.


"Eh uang ni..." teriak Grace saat melihat uang lima ribu rupiah yang tergeletak di tengah jalan. Lumayan bisa untuk beli es cendol dawet.


"Ambil Grace kalau mau." kata Stefanus.


"Jangan, itu punya orang." ucap Silwanus.


Antara setan dan malaikat sedang berperang di telinga Grace. Malaikat di sebelah kanan telinga Grace dan setan di sebelah kiri Grace. Mereka beradu mulut, siapa yang menang mempengaruhi Grace.


"Ayo Grace, ambil aja.... Lumayan bisa untuk beli es cendol dawet." bisik setan.


"Jangan Grace, orangnya lagi cari." bisik malaikat.


"Nggak ada orang yang tahu kalau kamu yang ambil, Grace." bisik setan yang tidak mau kalah.

__ADS_1


"Jangan Grace!!" bisik malaikat lagi.


Akhirnya Grace memutuskan untuk tidak mengambil uang itu dan lewat begitu saja.


"Ahhhh, payah kamu Grace." bisik setan yang sudah kalah dan malu pada malaikat dan malaikat menjulurkan lidahnya ke arah setan.


"Ueeeekkk." ledek malaikat yang menang dari setan.


Mereka terus berjalan hingga sampai di bibir sungai X itu.


"Lumayan sih untuk duduk-duduk." komentar Silwanus.


"Untuk orang yang tidak punya uang." sahut Stefanus.


"Hahaha betul.... anak-anak asrama kan pada nggak punya uang. Termasuk aku." jawab Grace sambil tertawa. "Biasanya memang kami kesini untuk membuang penat selama di asrama. Biar nggak bosen." lanjut Grace sambil meletakkan pantatnya di tempat duduk yang terbuat dari potongan-potongan kayu bekas gergajian.


Mereka menikmati suasana sungai X itu sebentar sambil bercerita tentang keadaan Asrama. Dari pembicaraan mereka, Grace menangkap bahwa mereka sudah tidak betah tinggal di asrama. Bukan karena peraturan saja tetapi karena tidak sesuai dengan keinginan dan harapan mereka. Grace mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya. Itu artinya, pertemanan mereka tidak akan berlangsung lama.


Sesudah dirasa cukup untuk menikmati keindahan sungai X itu, mereka memutuskan untuk kembali. Beruntung, Grace tidak bertemu dengan Wanto lagi sehingga bisa ngobrol dengan puas. Sempat was-was jika tiba-tiba muncul namun kekuatiran itu tidak terjadi.


Pukul 17.30 mereka sampai di asrama. Grace langsung pamit ke kamar untuk membersihkan diri karena waktu untuk makan malam tidak akan lama lagi. Begitu pula dengan kedua cowok itu yang langsung pamit ke kamar masing-masing. Mereka berpisah di ruang makan yang adalah ruang penghubung antara asrama laki-laki dan perempuan. Di ruang makan inilah yang sering mereka gunakan untuk ngobrol dan bersantai karena ruangannya terbuka.


Sebelum pergi ke kamar mandi, Grace menyempatkan diri untuk duduk-duduk sebentar untuk meluruskan kaki yang habis dia pakai berjalan jauh. Grace merasa bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman baru dan mengenal mereka yang datang dari beberapa pulau yang berbeda dengan budaya dan bahasa yang berbeda namun satu bahasa, bahasa Indonesia.


Setelah Grace mengambil waktu selama 10 menit untuk beristirahat, Grace meraih baju dan semua keperluan mandinya lalu masuk kamar mandi membersihkan diri. Selama 10 menit, Grace menghabiskan waktunya untuk ritual mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap tetapi handuk masih menempel di kepalanya untuk membungkus rambutnya yang masih basah.


Teng .... teng ... teng .....


Bunyi lonceng tanda jam makan malam telah tiba. Satu per satu mereka keluar dari kamar dan mengambil tempat duduk sesuai dengan kelompoknya. Suara riuh terdengar dari segala arah. Masing-masing kelompok sibuk bercanda ria sambil menunggu jatahnya. Setelah semua mendapatkan jatahnya, mereka berdoa dan mulai menyantap makanan yang sederhana itu.


"Yud, kita main ini." ajak Grace pada Yudi dengan menunjukkan kertas kosong yang dicoret bulat-bulat. Dalam permainan itu, kertas yang dicoret harus dilipat menjadi dua. Bagian yang dicoret di dalam. Sedangkan pemain harus mencoret bagian luarnya. Jika bisa mengenai coretan bagian dalam dengan pas hingga Coretan itu habis, maka dialah yang menjadi pemenangnya.


Bukan hanya itu, Dona yang memiliki ballpoint yang ujungnya kaca juga digunakan untuk aksi konyolnya. Dia akan mencari orang yang dia suka dan melihatnya dari ballpoint itu. Disitulah Dona bisa melihat berbagai macam ekspresi orang-orang yang di sekitarnya khususnya bagi kaum Adam.


"Sini Don, pinjam!!!" Grace merebut ballpoint berkaca itu dari tangan Dona dan mulai mencari mangsa.


"Dasar kamu Grace!!!" umpat Dona.


"Ganteng Don!!!" ucap Grace seketika.


"Siapa?" tanya Dona.


"Ada deh..." goda Grace pada Dona yang sedang melihat beberapa cowok baru yang ganteng-ganteng. Bukan maksud hati Grace untuk menggoda atau tertarik kepada kaum Adam itu, Grace hanya iseng menggoda mereka.


"Kalau kita perhatikan ni ya... lebih banyak dari kita yang tidak belajar. Semua pada ngobrol dan membuat kekacauan. Yang serius belajar cuma adek-adek kelas yang mendapatkan PR." ucap Grace.


"Kamu itu biang keroknya Grace." sahut Yudi. Secara tampang Yudi juga tidak kalah menarik. Kulit agak cerah, rambut ikal, mata bello, badan tipis seperti triplek dan dia satu suku dengan Grace, yaitu Jawa. Grace sedikit terpesona dengan wajah Yudi. Lebih tepatnya sekedar mengagumi.


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30, semua anggota asrama harus sudah selesai belajar dan pukul 22.00, masing-masing anggota harus sudah masuk asrama. Setelah masuk asrama, tidak jarang mereka langsung ambil posisi di pulau kapuk kesayangannya. Biasanya mereka masih ngobrol dengan membicarakan hal-hal baru yang mereka sudah dapatkan pada hari itu. Ada juga yang masih membaca Alkitab bagi mereka yang tergolong hidup rohani. Kalau Grace tergolong di kelompok yang suka bikin kacau dan heboh.


Satu per satu sudah tidak menimbulkan suara lagi. Tinggal kesunyian yang ada. Hanya tinggal 1 atau 2 orang saja yang keluar masuk kamar karena ke toilet. Jika semua sudah tertidur, suasana benar-benar sepi. Beruntungnya, sekarang sudah tidak seperti dahulu lagi yang ada setan dimana-mana. Meskipun begitu, jika merasa ingin ke toilet, setan bukanlah penghalang bagi Grace.


Sunyi dan sepi, hanya terdengar suara jarum jam mendominasi ruang kamar itu. tik tok tik tok. Meskipun tidak dilihat namun tetap berputar. Detik menjadi menit, menit menjadi jam. Terus berputar tanpa lelah.


Kring.... kring... kring...


Jarum jam itu diatur pukul 04.30 untuk membangunkan seluruh penghuni ruangan. Tidak jarang diabaikan bahkan dimatikan lalu tidur kembali karena mata masih enggan untuk terbuka.

__ADS_1


Mereka terpaksa harus bangun ketika sang penguasa asrama sudah menggedor-gedor pintu dan memanggil satu per satu anggotanya.


Grace


Dona


Rina


Reni


Dewi


Lusi


Ita


Mimi


Winda


"Ya Bu" hanya itu jawaban mereka. Pelan-pelan mereka membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu yang menerangi kamar mereka. Setelah dirasa semua nyawa sudah terkumpul pada tubuh mereka, mereka cepat-cepat bangun lalu mengambil tempat sabun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


Semua orang diwajibkan mengikuti doa pagi kecuali bagi mereka yang sakit dan yang bertugas di dapur. Ibu dan Bapak asrama akan keliling dari kamar ke kamar untuk ngecek anggotanya apakah masih ada yang tidur. Jika masih menemui ada yang tidur maka mereka akan menunggu sampai bangun. Bapak dan Ibu asrama harus memastikan tidak ada satu pun orang di kamar selama doa bersama berlangsung.


Doa pagi telah dimulai. Masing-masing mengikuti dengan hikmat. Apalagi saat mendengarkan ceramah, banyak hal yang mereka dapatkan untuk modal menjalani hari itu dan masa depan sebagai pagar dan pegangan hidup agar tidak salah jalan.


Setelah doa pagi selesai, biasanya pembina akan memberikan pengumuman jika ada hal-hal yang serius. Untuk kali ini akan ada kegiatan kerja bakti untuk kelas baru.


"Karena kita akan menempati gedung baru, maka beberapa orang yang saya tunjuklah yang akan bertugas membersihkan nanti sore jam 15.00 setelah jam istirahat. Grace, Yanto, Depi, Dona, Rina, Reni, Ekon, Vinus dan Yosua. Nama-nama ini yang akan membersihkan gedung baru di lantai dua." ucap pembina.


"Baik pak." jawab Grace. "Yang lainnya aku kenal tapi siapa yang bernama Ekon, Vinus dan Yosua? kok baru kudengar nama itu? Ahhh, bodo amat. Yang penting aku kerjakan tugasku." ucap Grace dalam hati yang penasaran dengan ketiga nama baru itu.


"Sekian pengumuman dari saya. Selamat pagi. Selamat beraktivitas dan selamat belajar. Tuhan memberkati."


"Tuhan memberkati juga pak." seru semua anggota asrama yang masing-masing mengangkat tubuhnya dari tempat duduknya dan menuju ke kamar untuk meletakkan Alkitabnya.


Setelah itu kembali pada kelompoknya masing-masing untuk mengerjakan piket mereka sesuai dengan tugas yang sudah dibagikan. Dalam mengerjakan piket ini tidak ada yang boleh melihat saja atau tidak peduli. Baik senior, junior, berada atau tidak semuanya harus kerja. Ini membentuk jiwa gotong royong, kebersamaan dan kerendahan hati bagi masing-masing orang.


Piket, mandi, dan makan sudah selesai. Waktunya untuk belajar di kelas bersama guru-guru kesayangan. Tidak ada jarak antara guru dan siswa bahkan mereka bisa dianggap kakak beradik. Guru juga bersikap objektif, tidak membeda-bedakan atau pun pilih kasih. Semua sama di mata mereka. Semua membutuhkan bimbingan belajar yang baik, bersahabat dan nyaman.


Belajar telah usai. Makan siang juga sudah. Mereka harus beristirahat sebentar untuk menenangkan otak yang sudah terkuras di kelas. Tinggal menunggu waktunya untuk tugas yang diberikan pembina, yaitu bersih-bersih gedung baru.


*Bertemanlah dengan sebanyak mungkin orang agar kamu bisa belajar dari mereka untuk menambah wawasan dan pengetahuanmu. Tetapi jangan berteman dengan mereka yang akan menjerumuskanmu agar kamu tidak jatuh terperosok ke dalam pergaulan bebas.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....


Jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2