Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 9 - Anggota Baru


__ADS_3

5 bulan kemudian


Besok akan kedatangan calon siswa baru dan calon mahasiswa baru dari Kalimantan dengan jumlah yang besar. Selama satu bulan, Pak Budi dan beberapa pembina datang langsung ke Kalimantan Barat dengan membawa brosur yang sudah mereka persiapkan satu bulan sebelumnya. Pantas saja banyak anggota baru kali ini.


Mereka datang dengan menggunakan Kapal karena terlalu banyak calon anggota baru. Kebanyakan dari mereka sudah kenal dengan teman-teman di kelasku karena berasal dari kampung yang sama.


Untuk menyambut mereka, pihak Yayasan mengadakan retreat bersama sebagai awal kenalan dan pembekalan diri secara rohani untuk mereka.


Sampailah mereka di tempat retreat itu. Kelasnya Grace memang tidak banyak terlibat. Semua dihandle Pak Budi dan beberapa pembina selama acara berlangsung. Grace dan teman-temannya hanya sesekali saja mengikuti acara dan membantu menyiapkan beberapa hal jika dibutuhkan.


Grace juga diajak Ita dan Dona untuk berkenalan dengan beberapa dari mereka. Sesaat Grace melewati Aula. Sepasang mata itu memandang ke arah dalam aula yang jari-jarinya sedang menari-nari di atas papan keyboard. Sejenak Grace memandang orang itu. Dia tampan, putih, berkharisma, berwibawa dan jari-jarinya lincah memainkan tuts-tuts di atas keyboard itu. Tak sedikitpun cowok ganteng itu menoleh ke arah Grace. Kalimat singkat yang terucap di benak Grace, "Orang itu pasti sombong!"


Bagaimana mungkin Grace bisa menghakimi, menilai dan mengklaim orang dengan asumsinya sendiri kepada orang yang baru ia lihat bahkan mereka sempat belum berbicara. Apakah penilaian Grace berangkat dari tampang dia? Kalau orang ganteng itu sudah pasti sombong? Apakah orang yang kelihatan itu sudah pasti sombong? Apakah orang yang berwibawa itu pasti sombong? Apakah orang yang bertalenta itu sombong? Itu sudut pandang Grace terhadap lelaki itu. Setiap orang berhak menilai apa yang dilihatnya. Tetapi jangan lihat buku dari sampulnya. Kata-kata itu pantas disandang oleh Grace. Grace melihat orang itu dari sampul tanpa melihat isinya bahkan daftar isinya pun tidak ia lihat. Belajarlah berpikir positif kepada orang lain! Teguran yang pantas untuk dilontarkan kepada Grace.


Ternyata pihak Yayasan sudah menyiapkan tempat asrama yang baru. Jadi selesai acara retreat, mereka langsung ke asrama baru. Tidak terkecuali teman sekelas Grace. Tetapi ada beberapa yang tidak ikut karena mereka memiliki pilihan masing-masing. Bita dan Tatik kembali ke kampungnya. Toni, Elis dan Hendri mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Teologia. Sedangkan Steve tetap pada pendiriannya untuk kembali ke kampungnya Kalimantan Barat setelah ikut ke asrama baru di kota X.


Grace tetap melanjutkan sekolahnya karena dia tidak punya pilihan lain untuk mewujudkan mimpinya. Dengan menggunakan truk, semua anggota kelasnya Grace berangkat ke asrama baru. Ada rasa yang tercampur aduk di dalam hatinya Grace. Senang, was-was dan kuatir mengaduk-aduk hatinya.


Grace mulai beradaptasi dengan anggota asrama baru. Untuk kelasnya juga ada teman baru; Aci, Rius dan Lius. Grace juga mulai mengenal beberapa adik kelasnya baik perempuan maupun laki-laki. Tetapi yang paling akrab dengan Grace adik kelas laki-laki; Nimrod, Rinto dan Yusak. Grace memang merasa lebih nyaman dan terlindungi jika berteman dengan laki-laki. Rinto naksir teman Grace yang bernama Ita. Karena Ita sangat dekat dengan Grace, akhirnya membuat Rinto juga dekat. Kedekatan mereka berdua hanya sebatas menganggap kakak-adik saja. Yusak dan Nimrod, memang menaruh hati kepada Grace. Menurut Yusak, Grace mirip dengan mantannya makanya dia berusaha untuk mendekati Grace. Sedangkan Nimrod mendekati Grace awalnya karena nyambung saja hingga pada akhirnya ia juga menaruh hati kepada Grace. Mungkin karena mereka sering bersama-sama.


Sudah menjadi hal yang biasa bagi Grace, saat petang tiba duduk-duduk di depan asrama untuk bercanda ria dengan teman-temannya. Tiba-tiba datanglah Tini membawa seorang cowok. Cowok itu yang Grace bilang "sombong" sewaktu bermain keyboard di Aula pada kegiatan retreat yang lalu.


"Grace, kenalin." titah Tini pada Grace.


"Peter." kenalnya sambil menyodorkan tangannya.


"Grace." membalas uluran tangannya.


"Orang sini ya?" tanyanya yang dibalas dengan anggukan kepala.


Yang awalnya canggung mulai mencair suasananya. Yang dulu Grace mengatakan kalau Peter sombong, pemikiran itu lambat laun sirna. Sebenarnya Grace sudah melupakan Peter saat bersamaan dia meninggalkan aula. Tidak disangka bahkan mereka sedang bercanda ria.


Peter POV On


"Aku tertarik pada gadis jawa satu-satunya itu. Aku akan mendekati temannya dulu." batinku.


Kemudian aku kenalan dengan teman sekelasnya yang bernama Tini. Itu salah satu cara untukku mengenalnya.


"Hai aku Peter. Senang kenalan dengan kamu." Aku menyodorkan tangan kananku ke arah cewek di depanku.


"Tini." dia membalas jabatan tanganku.


"Boleh minta tolong?" tanyaku tanpa mau menunggu lama lagi.


"Apa bang?" tanya dia balik padaku.


"Kenalkan aku dengan cewek yang suka ribut disana." kuarahkan jari telunjukku ke arah cewek yang suka ribut di seberang sana.


"Bisa. Ayo kesana." ajaknya dan kami pun menghampiri dia yang sedang bercanda dengan teman-teman barunya.


"Grace, kenalin." titah Tini pada Grace.


"Peter." sambil menyodorkan tanganku.


"Grace." membalas uluran tangannya.

__ADS_1


"Orang sini ya?" tanyaku padahal sudah tahu kalau orang sini karena berbeda dengan yang lainnya. Dia pun membalasku dengan anggukan kepala.


Yang awalnya kami merasa canggung mulai mencair suasananya. Tidak kusangka bahkan kami bercanda ria. Grace memang cewek yang mudah beradaptasi. Aku sudah tertarik kepada dia sejak pertama kulihat dia yang sedang bercanda dengan teman-temannya dengan begitu leluasanya. Aku senang bercanda dengan dia. Dia telah mencuri hatiku. Tanpa ia sadari ia sudah memberiku kekuatan disaat aku terpuruk. Aku bisa kembali tersenyum dan tertawa saat bersama dia.


Aku memang tidak tahu isi hatinya padaku. Karena memang dia bergaul dengan semua orang. Dia hangat dengan semua orang. Mungkin orang lain juga akan menganggapnya sama sepertiku. Tetapi aku benar-benar jatuh cinta pada Grace.


Peter POV off


Hari terus berlalu, kegiatan sekolah telah dimulai. Semua jadwal kerja praktis sudah dipajang. Tata tertib juga tidak lupa menempel di majalah dinding. Pembagian kelompok juga sudah dibagi. Meskipun sudah ada ibu-ibu dapur, petugas yang bertepatan di dapur juga harus membantu agar terlatih bekerja dan bekerja sama.


Grace POV On


Pagi ini aku mendapatkan jadwal untuk MC saat doa pagi. Tanpa aku sadari ternyata Peter yang mainkan keyboard. Isi yang otakku semua negatif itu memangg sudah diporakporandakan oleh Tuhan dalam sekejap. Pertama, semalam aku kenalan dengan Peter bahkan sampai bebas bercanda ria. Yang kedua, sekarang bahkan aku mendapatkan tugas bersama-sama dengan dia.


Aku harus tetap profesional meskipun aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Untuk saat ini aku memang tidak punya perasaan apapun terhadap dia. Yang kutahu, cowok yang dulu aku bilang sombong, semalam mau kenalan denganku dan sekarang tugas bersama-sama.


Aku menepis semua yang terjadi tapi tetap tidak bisa terelakkan. Semua pertanyaanku dan penasaranku kepada Petrus tersingkirkan dengan ungkapan perasaan dari Yusak. Dia adek kelasku yang baru datang sebulan yang lalu.


"Grace bisa kita bicara?" tanyanya padaku dan aku hanya menjawab dengan anggukan kepala pelan.


Kami keluar dari asrama menuju ke depan asrama. Berjalan berdampingan. Kami pun duduk di tempat seadanya. Pikiranku berkecamuk. Banyak pertanyaan disana. Kenapa dia mengajak aku untuk berbicara.


"Grace aku suka sama kamu. Aku ingin kamu menjadi pacar aku." Aku diam menyimak kata-katanya yang tidak tahu mengarah kemana. "Kamu mirip mantanku." lanjutnya. "Ha? dia mau menjadikanku pacarnya hanya karena aku mirip dengan mantannya." gumamku.


"Maaf Yusak. Aku tidak bisa. Kita baru saja kenal dan aku hanyalah orang yang mirip dengan mantanmu. Aku tidak punya perasaan apapun kepadamu." jawabku yang kemudian tiba-tiba dia berdiri.


"Ya sudah kalau tidak mau." dia pergi meninggalkanku dalam keadaan marah bercampur kecewa.


Aku kembali ke asrama dengan hati kesal. Untuk membuang rasa kesalku, aku masuk di antara kerumunan orang-orang. Salah satu diantaranya adalah Nimrod. Aku bercanda dengan dia. Aku kembali tertawa. Nimrod menatapku sedikit aneh.


"Kakak kenapa?" tanya Nimrod.


"Tidak apa-apa." sahutku.


"Jangan bohong. Cerita saja." kekehnya. Aku hanya diam. "Aku tadi lihat kakak dengan Yusak ke luar asrama. Pasti muka kakak yang jadi aneh l ini ada hubungannya dengan dia?" tebaknya.


Aku pun menceritakan semuanya. "Iya, barusan aku diajak Yusak ke luar asrama itu karna dia mau nembak aku." Nimrod tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Trus?" tanyanya lagi.


"Aku menolaknya." jawabku.


"Pantesan muka dia juga tidak beraturan gitu." balas Nimrod.


"Aku menolaknya karena aku mirip mantannya. Sebenarnya aku juga tidak ada perasaan apa-apa sih sama dia." lanjutku.


"Aku ke kamar dulu ya..." pamitku untuk mengakhiri pertanyaannya.


Grace POV off


Rinto tahu dengan apa yang terjadi pada Grace. Saat Grace diajak Yusak untuk berbicara dan jalan keluar asrama, Rinto melihatnya. Apalagi Yusak adalah teman Rinto di kelas. Sudah pasti gerak-gerik Yusak terbaca oleh Rinto. Tetapi Rinto ingin memastikan sendiri pada Grace. Tanpa ragu Rinto pun mengajak Grace bicara.


"Mbak, ada hubungan apa antara mbak dengan Yusak? Kalian pacaran?" tanya Rinto saat melihat Grace keluar dari ruangan tempat Grace ngobrol dengan Nimrod. Dengan berat hati Grace menjawab pertanyaan Rinto.


"Yusak nembak aku. Dia ngajak pacaran." sahutku.

__ADS_1


"Trus kalian jadian?" tanyanya lagi.


"Tidaklah." jawabku.


"Kenapa?" tanyanya lagi yang dibalas Grace dengan tatapan mata yang tajam.


"Dia bilang aku mirip mantannya. Jadi dia mau supaya aku jadian dengan dia. Yang benar sajalah aku terima dia." jawab Grace sambil menoyor jidat Rinto.


"Baguslah." balas Rinto yang hanya Grace jawab dengan 'hmm'.


"Aku kamar ya..." pamit Grace pada Rinto.


Grace pun meninggalkan Rinto dan masuk ke kamar. Sesampainya di kamar, Grace tidak langsung tidur tapi masih ngobrol dengan teman-teman di kamarnya yang berisi 10 orang.


Malam mulai larut, tetapi mata Grace belum bisa terpejam. Grace memikirkan apa yang sudah dia lalui selama berada di tempat baru ini. Apalagi hari ini yang berhadapan dengan Yusak dan teman-temannya yang kepo.


Yang benar saja. Setelah ketemu Yusak, Grace diinterogasi sama Nimrod dan Rinto. Nimrod dan Rinto juga tidak setuju kalau Grace menerima Yusak. Itu karena Rinto sudah menganggap Grace kakaknya sendiri. Sedangkan Nimrod, diam-diam menyimpan perasaan dengan Grace. Bukanlah waktu yang tepat untuk Nimrod menyatakan perasaannya secepatnya kepada Grace.


Semenjak itu, dia sama sekali tidak mau bertemu dengan Grace. Jangankan ketemu, dia selalu menghindar dari Grace. Dia selalu membuang muka.


"Nggak dewasa banget sih jadi orang." batin Grace yang kesal atas perlakuannya terhadapku. "Ya sudahlah! biarin aja. Masa bodoh dengan orang kayak gitu. Sudah orangnya dingin. Maksa pula" lanjut Grace dalam hati.


Sepasang mata itu masih menghadap langit-langit kamar. Ocehan teman-temannya masih terdengar berisik. "Apakah Peter juga melihatku waktu aku keluar dengan Yusak?" tanyanya pada diri sendiri. "Ahhhh.... kenapa aku jadi kepikiran Peter? Aku juga tidak mau ambil pusing dengan orang-orang itu. Aku tidak mau sekolahku terganggu." lanjutnya.


Mata Belo itu lambat laun mulai redup pancarannya. Siap untuk beranjak ke dunia mimpinya.


Jika Grace bertanya 'Apa Peter tidak tahu pertemuannya dengan Yusak?'. 'Jawabannya, ya Peter tahu dengan mata kepalanya sendiri kalau Grace berjalan berdampingan dengan Yusak'. Bukan hanya Peter yang melihat, teman-temannya Peter pasti ada yang melihat. Tapi Peter bersikap dewasa. Meskipun dia tipe orang pencemburu, dia bisa menahan diri. Apalagi Peter belum mengungkapkan perasaannya pada Grace.


Peter tidak ingin gegabah atau akan membuat Grace menjauh. Peter punya cara untuk mendekati Grace dengan slow tapi pasti. Apalagi teman-temannya dan teman-temannya Grace mendukung hubungan mereka. Tidak sulit bagi Peter untuk melancarkan aksinya.


Peter yakin bahwa Grace juga mempunyai perasaan yang sama. Meskipun pada kenyataannya, terbalik. Grace belum mempunyai perasaan apapun terhadap Peter. Grace merasa sedikit trauma atas sikap Steve meskipun di hati yang terdalam masih memiliki perasaan 'sayang' pada Steve. Grace masih cinta dengan Steve.


Yang dibenak Grace saat ini adalah jangan sampai cita-citanya kandas karena masalah percintaan. Grace menyakinkan diri sendiri dan sangat berharap bisa lulus dengan baik. Dia tidak mau mengecewakan kepercayaan orang tuanya. Dia ingin berubah keadaan keluarganya. Dia tidak ingin dikeluarkan karena melanggar peraturan tentang pacaran.


Grace siap menghadapi tantangan hari esok.


Siap menghadapi kenyataan. Siap menghadapi Yusak. Siap menghadapi pelajaran. Siap menghadapi teman-temannya. Siap menghadapi Peter dan Nimrod.


*Jangan menilai buku hanya melihat dari covernya tanpa melihat isinya. Tuhan bisa dalam sekedip mata membalikkan otakmu yang isinya benda-benda negatif itu untuk melihat orang dengan cara yang benar."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....


Semoga hari kalian menyenangkan...


Mari saling mendukung dalam berkarya....

__ADS_1


__ADS_2