
Lanjutan part sebelumnya ya....
Selamat membaca...
"Itu dulu bang. Kan waktu itu Grace lagi pacaran dengan bang Peter. Nggak mungkin Grace pacaran dengan dia juga. Kalau pun Grace sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun, Grace tidak mau terima dia."
"Kenapa?"
"Kan beda keyakinan bang. Itu prinsip Grace bang. Grace tidak akan menjalin hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan. Apalagi Grace tidak suka dengan sifatnya."
"Emangnya dia bagaimana?" kepo Anes.
"Abang kepo banget sih...." jawab Grace.
"Abang cuma pengen tahu." Balas Anes penasaran.
"Tukang maksa juga dia. Perokok. Mabuk juga. Abang kan bisa lihat sendiri saat dia kesini muter-muter cari Grace. Makanya Grace sembunyi." jawab Grace. "Udah deh.... nggak usah membahas mereka-mereka lagi. Yang penting sekarang cintaku cuma buat Abang. Oke? kita masuk sudah." lanjut Grace untuk mengalihkan pembicaraan yang sudah memanas.
"Besok antar Abang ke depan ya..."
"Males..." canda Grace.
"Kok gitu?"
"Iya abangku sayang, cintaku, manisku, pujaan hatiku yang baik hati, tidak, sombong, rendah hati dan rajin menabung. Abang lupa kalau besok Grace juga mau pulang? Tidur ahhhh.... Selamat malam..." balas Grace yang langsung berdiri meninggalkan Anes.
"Kok ditinggal?"
"Emangnya Abang mau disitu terus?" Tidak peduli dan terus berjalan sambil dada.... dada... tanpa menoleh ke arahnya.
Terpaksa Anes pun juga beranjak dari tempat itu karena malam sudah menunjukkan pukul 10.00. Seluruh anggota asrama wajib masuk asrama masing-masing meskipun terkadang mereka masih di luar kamar tetapi tetap di lingkup asramanya.
Ayam tetangga untuk berkokok. Itu artinya pagi sudah tiba dan tidak lama lagi matahari akan muncul dari sebelah timur. Semua mata diwajibkan terbuka untuk melakukan saat teduh atau doa bersama.
Setelah doa, Anes memutuskan untuk kembali ke asrama dan Grace kembali ke rumahnya.
"Grace, kita bareng ke depan ya."
"Iya, aku siap-siap dulu. Nanti habis makan langsung jalan."
Setelah sarapan, Grace langsung ke kamar dan mengambil tasnya. Mereka berangkat bersama-sama untuk menunggu bus ke arah masing-masing tujuan.
"Abang akan tunggu kamu, sampai kamu dapat bus." ucap Anes.
"Nggak usah, kalau bus Abang sudah ada, naik aja nggak apa-apa." tegas Grace
"Ndak, Abang nggak mau kalau kamu disini sendiri. Nanti kamu diculik orang lagi."
"Bah, emangnya Grace anak kecil!"
"Iya bagi Abang."
"Apaan sih...? Kalau diculik pangeran berkuda putih, mau aku." goda Grace yang manxing keributan.
"Tu kan, Mau selingkuh...."
"Siapa sih yang tidak mau menikah dengan pangeran?" seketika Anes mengalihkan pandangannya. "Canda bang.... lagian mana ada pangeran berkuda putih disini?"
"Awas aja kalau kamu selingkuh!!!"
"Nggak berani bang. Adek lebih takut sama Abang dari pada takut sama setan."
__ADS_1
"Kamu tu..." Anes mengacak rambut Grace.
Bus pertama jatuh pada Anes, Anes pun tidak menghiraukan bus itu. Ia masih ingin menunggu busnya Grace.
"Bang, bus Abang datang tu... Naik gihh.." ucap Grace menyuruh Anes untuk duluan.
"Nggak. Nunggu kamu duluan. Kalau Abang duluan, siapa yang temani kamu?" bantahnya.
"Gampang, tinggal suruh orang panggil Rius kok." Anes langsung memutarkan bola matanya.
"Bercanda bang.... ihhh."
Akhirnya bus yang mau ditumpangi Grace pun datang.
"Bang, Grace duluan. Itu bus Abang juga sudah datang." tunjuk Grace ke arah bus di belakang.
"Oke, hati-hati ya. Kabari Abang.... da...." pungkas Anes sambil mengacungkan tangan untuk menghentikan busnya.
Mereka berpisah untuk sementara waktu untuk menikmati liburannya masing-masing.
********
Masa liburan telah usai. Grace harus kembali ke kehidupannya di asrama. Kembali pada kehidupan yang serba diatur.
Sesampainya di asrama, Grace mendengar bahwa Jesi sedang dirawat di Rumah Sakit. Mendengarnya membuat Grace menjadi iba. Selama ini belum ada yang sakit sampai masuk rumah sakit berarti sakitnya parah. Grace memutuskan untuk menghubungi Anes agar bisa besuk bersama-sama.
"Besok kita besuk Jesi ya." ajak Anes. Jesi adalah adek kelas Grace, adek dari temannya, Etty. Ternyata Anes juga memiliki kepedulian kepada orang lain. Dia akan lebih memikirkan orang lain.
"Okelah kalau begitu. Kita pergi agak siangan ya...."
"Iya."
Keesokan harinya setelah sekolah, mereka pun besuk temannya ke Rumah Sakit bersama-sama. Setelah berdoa untuk temannya, mereka bercerita sebentar untuk memberikan kekuatan buat Jesi agar kuat dalam Tuhan kemudian langsung kembali ke asrama tempat Grace.
Ini merupakan pukulan terberat bukan hanya untuk kakaknya tetapi juga untuk semua anggota asrama. Air mata terus ditumpahkan. Jikalau Tuhan berkehendak, mereka mau supaya Jesi kembali. Tapi semua adalah kehendak Tuhan.
Yang paling terpukul adalah keluarga yang di Kalimantan Barat. Disaat-saat terakhir anaknya berjuang, tidak bisa menemani. Disaat-saat terakhir, juga tidak bisa bersama. Bahkan mereka tidak bisa melihat jasad terakhir Jesi. Jesi dimakamkan di pemakaman umum asrama lama sehingga semua anggota juga ikut bersama-sama mengantarkan jasadnya.
Tetapi siapa sangka, inilah awal renggangnya hubungan Grace dan Anes. Anes bersikap terlalu posesif dan cemburu dengan Grace karena Grace bertemu dengan teman-teman lamanya. Ya, di kampung itu Grace memiliki beberapa teman. Sebenarnya mereka juga bukan hanya teman Grace. Mereka semua berteman dengan teman-teman Grace. Anes tidak suka kalau Grace dekat-dekat dengan mereka.
Malam itu, Grace hanya sekedar ngobrol dengan teman-teman lamanya. Memang salahnya Grace tidak mengenalkan Anes kepada mereka. Bukan karena malu tidak mengenalkan Anes. Bukan pula ingin menutupi hubungannya dengan Anes. Grace memang tidak suka mengumbar kemesraan dan mengumbar hubungannya. Grace hanya ingin hubungannya berjalan sewajarnya. Tetapi tidak bagi Anes. Dia ingin agar semua orang tahu kalau punya hubungan dengan Grace. Sungguh bertolak belakang. Hal inilah yang membuat Grace mnejadi tidak nyaman dan tidak enak dengan teman-temannya. Semua orang juga sudah tahu kalau Grace punya pacar.
Grace sedang duduk-duduk di halaman asrama karena masih terlalu ramai pengunjung. Tiba-tiba muncullah Anes dari belakang dan memeluk Grace. Seketika mata Grace terbelalak atas perlakuan Anes di depan umum. Grace geram tapi tidak ingin membuat Anes marah.
"Bang." Grace melepaskan diri dari pelukan itu dan wajah Anes sudah mulai tidak beraturan.
"Ada banyak orang." cegah Grace untuk menetralkan pandangan dan wajah Anes.
Tidak lama dari kejadian itu. Grace bercanda ria dengan teman-temannya. Cerita demi cerita juga mereka suarakan. Seperti kembali ke jaman dulu, waktu Grace kelas satu. Dimana dia bebas bercanda dan bergaul dengan siapa pun. Tapi Grace sadar bahwa sekarang Grace sudah menjalani hubungan dengan Anes. Grace juga harus bisa menghargai Anes.
"Asyik ya.... ngobrol terus... Abang dilupakan." cetus Anes.
"Nggaklah bang. Jangan marah. Mereka teman Grace." jawab Grace dengan santai.
"Grace, ini sudah jam berapa kok kamu baru selesai ngobrol?" sewot Anes padahal sudah cemburu.
"Iya bang. Makanya sekarang Grace masuk." Grace melewati Anes dan masuk ke dalam rumah. Mereka harus tidur di satu ruangan baik laki-laki maupun perempuan mengingat banyaknya anggota asrama yang datang.
Dengan adanya mereka tidur bersama-sama, otak jahilnya Grace mulai bekerja karena diantara mereka sudah ada yang tidur pulas padahal yang lainnya masih sibuk ngobrol. Grace mencari air mineral gelas dan menyisakan sedikit airnya kemudian dia letakkan di dekat mulut mereka yang sudah tidur.
"Kamu ngapain Grace?" tanya Rius
__ADS_1
"Hussssttttt..." Grace meletakkan tangannya di mulutnya meminta supaya Rius tidak ribut. "Wahhhh.... wahhhh..... ni orang tidur pada ngiler segitu banyak sampai gelasnya sudah mau penuh." sontak membuat Rius geleng-geleng kepala dan menaikkan ujung bibirnya melihat Grace dan teman-temannya yang tidur terbangun atas teriakan Grace. Mereka yang tadinya tidur langsung mengelap mulutnya yang tidak ada airnya mengalir itu menggunakan tangannya.
"Hancur kamu Grace." ucap Rius sambil tertawa terbahak-bahak.
Karena keributan yang sedang terjadi itu terdengar sampai di luar, membuat Anes masuk penasaran.
"Kenapa?" tanya Anes.
"Pacar Abang bikin ulah." sahut Rius.
"Kenapa Grace?" tanyanya ulang butuh penjelasan.
"Ahhhh, nggak apa-apa bang." sorotan mata Anes makin tajam dan penasaran.
"Ini lho bang." Rius mengangkat satu gelas yang berisi air itu. "Grace taruh di dekat mulut mereka yang dan berteriak pada ngiler. Akhirnya mereka pada bangun dan ngecek mulutnya masing-masing." Anes pun senyum tipis atas ulah pacarnya dan membuat Grace malu sendiri.
"Mau tidur!" ucap Grace untuk mengalihkan suasana yang mencekam itu. Grace membaringkan badannya di atas tikar dan membuka selimut kemudian mengatur selimut itu agar menutupi seluruh tubuhnya. Namun sepasang mata itu tidak kunjung terpejam. Grace kuatir kalau ada pembalasan dari mereka untuk ngerjainnya. Hingga tengah malam mata itu baru terpejam tetapi Grace merasakan ada benda di atas perutnya. Sontak Grace beralih posisi agar tangan itu menyingkir. Tetapi usaha itu tidak membuahkan hasil. Grace benar-benar merasa risih. Grace mengomel dalam hati atas sikap Anes. Dia mencari kesempatan dan itu di tengah keramaian. Hati Grace dongkol tetapi tidak berani mengungkapkan. Takut Anes tersinggung apalagi suasana sedang tidak mendukung.
Sejak malam itu, Grace mulai menjaga jarak. Grace mulai dingin. Dia tidak suka kalau diperlakukan berlebihan. Pertama, dia peluk Grace dari belakang agar orang tau kalau ia pacarnya Grace. Kedua, Anes tidak suka kalau Grace ngobrol bersama teman-temannya. Ketiga, Anes mengambil kesempatan memeluk Grace saat Grace sedang tidur.
Bagi Grace, tindakan itu tidak bisa ditolerir dan tidak bisa lanjutkan. Kalau dilanjutkan bisa menjadi lebih parah dan berbuat nekad. Grace menjaga jarak, karena Grace tidak mau seperti teman-temannya yang memberikan tubuhnya untuk pacarnya meskipun itu tidak sampai memberikan keperawanannya.
Grace sudah mulai membangun tembok dengan Anes. Untuk saat ini harus bertahan karena masih dalam si mencekam atau duka. Tetapi setelah pergi dari tempat ini, Grace sudah harus menjauh. Grace masih memegang komitmennya untuk menjaga seluruh anggota tubuhnya sampai menikah. Dia tidak akan membiarkan siapapun termasuk pacarnya untuk menyentuh tubuhnya.
Esoknya acara pemakaman di gelar. Artinya setelah pemakaman, semua anggota harus kembali ke asrama. Tetapi tidak untuk Grace. Grace kembali ke rumahnya karena masih diberi waktu untuk libur.
Selama Grace di rumah, Grace sama sekali tidak menghubungi Anes. Dia benar-benar menjauh dari Anes. Ia ingin melupakan Anes meskipun berat. Rasa cinta itu lambat laun sirna bersama dengan waktu dan komitmen. Harga diri dan komitmen telah mengalahkan cinta. Tidak ada ampun lagi jika dua hal itu disentuh.
Sedangkan Anes terus menunggu dan mencari informasi apakah Grace menelpon ke asrama? Kenyataannya tidak. Grace sama sekali tidak menghubungi asrama juga. Memang Grace menutup akses untuk sementara waktu. Anes juga tidak bisa menghubungi Grace. Anes hanya bisa berharap Grace menghubunginya. Tapi harapan itu hanyalah seperti menangkap angin. Anes sudah mulai frustasi, geram, marah. Tapi mau marah kepada siapa?
Anes juga mencoba untuk mendatangi asrama Grace, kali-kali aja Grace sudah datang. Tetapi tetap nihil. Kenapa? Ada apa? Grace kemana?
Dia kembali pulang dengan tangan kosong. Tanpa bertemu Grace dan tanpa kabar dari Grace.
Grace kali ini melakukan hal yang lebih parah dari sebelumnya ketika bersama Anes. Grace menggantungkan hubungannya. Grace juga tidak tahu harus berbuat apa? Ingin bertahankah? Ingin mengakhirikah? Perlu keputusan yang matang sehingga tidak menyesal dikemudian hari.
Grace memutuskan untuk melanjutkan tapi hati masih berat. Sementara kabar yang sudah berhembus di telinga Anes, Grace sudah dijodohkan dengan seorang pendeta muda. Grace memang sempat dijodohkan dan orangnya pun sempat berkunjung ke asrama. Tapi hati Grace menolak karena Grace tidak cinta. Grace masih ingin melanjutkan cita-cita yang selama ini diidam-idamkan. Grace tidak ingin menikah mudah. Grace menentang perjodohan itu dengan keras meskipun yang ditentang adalah Pendetanya. Bahkan kabar perjodohan itu sudah meluas di beberapa gereja yang kenal dengan Grace. Ini adalah perjodohan kedua yang dilakukan boleh Pendetanya. Yang pertama waktu Grace lulus SMP dan itu gagal. Ini yang kedua tapi Grace tetap pada pendiriannya.
Anes mendengar itu langsung tambah geram dan marah di level dewa. Seandainya ia bisa bertemu atau setidaknya berbicara dengan Grace maka ingin tahu penjelasannya. Tapi apa daya? Anes mudah sekali termakan berita itu.
Dalam kemarahannya atas berita itu dan ditambah Grace tidak ada berita, Anes berpikir untuk mengambil sebuah keputusan yang terbaik baginya.
Apakah keputusan yang Anes ambil?
Akankah Grace kembali?
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?
*Cemburu yang berlebihan akan merusak suatu hubungan. Cemburu yang berlebihan juga menunjukkan bahwa kamu tidak sepenuhnya percaya pada pasanganmu. Bersikaplah sewajarnya saat pasanganmu bersama teman-temannya. Dia butuh refreshing dengan teman-temannya. Pacaran tidak harus selalu nempel terus."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....
Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....
Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....
Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....
__ADS_1
Semoga hari kalian menyenangkan...
Mari saling mendukung dalam berkarya