Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 19 - Pacar Baru


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian


Setelah satu bulan Grace putus dengan Peter dan menerima pernyataan cinta dari Anes, Grace menerima Anes sebagai pacarnya. Grace membalas surat dari Anes yang sudah satu bulan berlalu;


"Shalom"


Maaf bang sudah lama menunggu jawaban surat dari Grace. Grace hanya ingin memantapkan hati Grace karena Grace tidak mau menyesal nantinya.


Grace sudah melihat ketulusan hati Abang untuk Grace. Grace juga merasa nyaman ketika di dekat Abang. Abang selalu memberikan kehangatan buat Grace.


Grace saat ini sudah tidak memiliki hubungan dengan siapa pun dan Grace sudah memikirkan jawaban yang akan Grace berikan kepada Abang. Grace sudah menyanyangi abang dan Grace sudah membuka hati untuk Abang. Grace mau menerima Abang sebagai pacar Abang.


Terima kasih untuk cinta dan kesabaran Abang. Grace akan berusaha menjadi yang lebih baik. Grace mau kita saling mendukung dan saling mengingatkan agar selalu dekat dengan Tuhan.


Sekali lagi terima kasih bang....


Tuhan memberkati....


**I love you


Grace**


Mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih.


Perasaan Grace dengan Anes berbeda saat pacaran dengan Peter.


Saat pacaran dengan Peter, Grace tidak merasakan cinta sama sekali justru Grace selalu merasa dikekang, diatur dan tidak ada kebebasan. Sedangkan dengan Anes, ada perasaan sayang, cinta, peduli dan kebebasan. Sifat yang sama antara Peter dan Anes adalah pencemburu. Oleh karena itu, Grace juga harus hati-hati saat berbicara dengan lawan jenis terutama kepada orang yang memiliki perhatian khusus terhadap Grace. Grace tidak ingin membuat masalah dengan Anes. Grace menghargai perasaan Anes.


Sekalipun mereka menjalani hubungan jarak jauh karena berbeda asrama, tidak membuat hubungan mereka merasa jauh. Ada rasa kepercayaan di antara mereka berdua. Salah satu cara mereka berkomunikasi adalah dengan telpon dan surat yang dititipkan ke guru Bahasa Indonesia, Bu Tri. Mereka akan balas-balasan surat melalui Bu Tri. Bu Tri pun senang melakukannya.


"Enak ya punya guru bisa sekalian dijadikan tukang pos cinta...." gumam Grace.


"Bu, boleh nitip surat hehehe...." pinta Grace.


"Boleh." jawab Bu Tri.


"Terima kasih banyak Bu."


"Sama-sama."


"Salam buat bang Anes ya Bu."


"Iya."


Menjalani hubungan jarak jauh itu ada ada enaknya dan tidak ada enaknya. Tidak enaknya, menanggung rindu yang begitu berat. Enaknya menabung rindu.


Satu Minggu kemudian


Akhirnya rindu yang berat itu dapat terlampiaskan dengan kedatangannya. Hati Grace berbunga-bunga. Ada perasaan senang di lubuk hatinya. Perasaan ini berbeda saat bersama Peter. Meskipun begitu Grace tidak mau mengumbar kemesraan dimana-mana seperti pasangan yang lainnya. Dia tetap menjaga jarak dan menjaga diri agar tidak kelewatan.


"Abang datang..." tanya Grace.


"Iya, apa kabar kamu." tanya balik Anes.


"Baik bang. Abang gimana?" jawab Grace.


"Baik juga. Udah makan?"


"Belum bang." jawab Grace.


"Kita makan yuk. Sepiring berdua saja." ajak Anes yang membuat Grace tersipu malu. Grace mengambil makanan dan sayurnya. Grace melakukan apa yang diminta Anes. Makan sepiring berdua tapi memakai dua sendok.


"Romantisnya kita." kata Anes.


"Ah romantis apaan begini?" jawab Grace


Bukan hal yang baru bagi Grace untuk makan sepiring bersama-sama. Bahkan Grace pun sering makan sepiring rame-rame, semua nyomot. Gelas satu, semua nyucup juga pernah. Tetapi tetap saja ada perasaan yang berbeda jika makan sepiring dengan pacar.


Sore itu di depan asrama sedang ada pertandingan sepak bola. Sebagian anggota asrama ada yang menyaksikan, sebagian ada yang mengerjakan urusan sendiri entah itu tidur, luluran, ngobrol di ruang makan atau jalan-jalan ke luar asrama.


Pertandingan itu terdengar meriah. Suara sorak-sorai dari masing-masing supporter terus di teriakkan untuk mendukung jagoannya.


"Kita lihat pertandingan di depan yuk." ajak Anes.

__ADS_1


"Ayo."


Mereka pun berdiri di antara kerumunan orang-orang itu. Tetapi setelah beberapa menit kemudian, Anes ada keperluan sebentar ke luar.


"Abang keluar sebentar ya." pamitnya.


"oke bang. Hati-hati." balas Grace


Setelah urusannya dari luar selesai, ia bergabung lagi dengan Grace. Tetapi kebersamaan mereka tidak seperti orang biasa. Mereka bersikap biasa saja. Jaga jarak.


Setelah dirasa Grace mengalami kebosanan, ia pamit kepada Anes untuk masuk ke asrama.


"Bang, aku masuk ya." pamit Grace.


"Iya." jawab Anes yang tahu kalau Grace sudah bosan dengan acara itu. Grace pun masuk. Saat sampai di ruang makan, ia bertemu dengan Peter (Adek kelasnya). Seperti biasa kalau mereka bertemu seperti terjadi perang dunia kedua. Bercanda.


"Cubit, pijit, injak." kalimat ini yang sering keluar dari mulut mereka berdua dan disertai dengan mencubit, pijit dan menginjak kaki. Jika tidak dapat maka akan saling kejar-kejaran.


Grace merasa kalah dan ia mengejar Peter menggunakan sapu lantai seperti emak-emak yang marah-marah mengejar anaknya yang nakal. Saat aksi kejar-kejaran itu ternyata Anes melihat dan hanya geleng-geleng kepala.


"Inikah pacarku? Kejar-kejaran menggunakan sapu." gumamnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Ngapain kalian tadi kejar-kejaran pakai sapu segala." tanya Anes ketika Grace sudah berhenti mengejar Peter


"Hahahaha.... aku bercanda sama dia. Aku kalah, dia lari." balas Grace yang disambut dengan senyum.


"Tadi Yanti tanya." ucap Anes.


"Tanya apa bang?"


"Tanya apa kita pacaran." jawab Anes


"Trus Abang jawab apa?" tanya Grace yang penasaran.


"Iya." jawab Anes singkat.


"Emang kita pacaran?" dibalas dengan melongo oleh Anes. "Hahahaha.... bercanda. Trus dia bilang apa lagi?" lanjut Grace.


"Dia bilang, 'Kok kita pacarannya nggak kentara?'" jawab Anes.


"Ga jawab. senyumin aja." jawab Anes.


"Oh...."


"Lagian emangnya mau diumumkan ke publik kalau kita pacaran? Emangnya kamu mau kalau kita umbar kemesraan?" lanjut Anes.


"Nggaklah. Biar apa begitu?" jawab Grace


"Biar dunia tahu."


"Ihhhh.... apaan sih. Nggak perlu lagi. Yang penting hati aku hanya untuk Abang seorang." balas Grace.


"Cieeee.... gombal."


"Ga ngegombal. Cuma mau memastikan aja." jawab Grace.


"Ni, kalung Abang kamu pakai." ucap Anes yang memakaikan kalungnya ke Grace. Kalung yang berantai, berliontin hitam, di tengah ada salibnya.


"Terima kasih." balas Grace.


"Sama-sama. Dipakai terus ya." pinta Anes. "Besok Abang kembali ke asrama Abang. Kamu hati-hati disini ya.... Jaga hati." lanjutnya.


"Oke bang. Abang juga harus jaga hati. Besok kita saat teduh sama-sama ya?" ajak Grace.


"Iya. Bangunin ya? Aku di kamar Yanto." pinta Anes.


Deg!!! Grace tidak jarang masuk asrama. Tapi Grace tahu dimana kamar Yanto. Paling ujung dekat kamar mandi. Kalau ke kamar Yanto memang sesekali Grace kesana. Karena disitu kamar sekelasnya.


"Iya."


Keesokan harinya, cepat-cepat Grace bangun. Mencuci muka dan gosok gigi agar bisa lebih cepat membangunkan Anes. Setelah selesai melakukan ritualnya, Grace menuju ke kamar Yanto. Orang-orang yang melihat Grace masuk ke asrama laki-laki disambut dengan "ehem... ehem..." suara batuk yang dibuat-buat. Grace hanya menjawab dengan senyuman. Yang penting saat ini tujuannya untuk membangunkan sang kekasih jiwa.


Sesampainya di depan kamar Yanto, pintu kamar itu sudah dibuka. Grace pun menyelonong masuk dan mencari sosok yang ia cari.

__ADS_1


Grace memandang satu per satu ranjang yang di kamar itu sampai menemukan orang yang dia maksud. Akhirnya Grace menemukannya masih dalam keadaan tertidur. Grace duduk di pinggiran ranjang itu dan berusaha membangunkan pacarnya itu.


"Bang, bangun yuk... sudah waktunya saat teduh. Katanya mau ikut saat teduh." ucap Grace. Grace tidak berani menggoyang-goyangkan badan Anes. Bukan takut kalau Anes marah tetapi dia tidak ada keberanian untuk menyentuh lawan jenis.


"Iya.... Kumpulkan nyawa dulu." sahut Anes sambil menyesuaikan matanya dengan sekitarnya.


"Jangan lama-lama. Orang sudah pada naik tu. Abang cuci muka dulu." pinta Grace.


"Iya." sahutnya singkat.


"Aku tinggal ya. Nanti ketemu di ruang doa." pamit Grace.


"Iya." tapi tidak kunjung bangkit dari tempat tidurnya sementara Grace sudah menghilang dari pandangannya. Setelah beberapa menit, ia pun bangun dan cuci muka.


Grace sudah menunggunya dan menyiapkan satu kursi khusus untuknya. Saat melihat Anes memasuki ruang ibadah, senyum manis Grace terpancar di wajahnya untuk menyambut kekasihnya. Lalu, Anes pun mengambil tempat duduk di kursi yang disiapkan Grace. Orang akan melihat mereka adalah pasangan yang serasi.


Selesai ibadah, mereka melakukan kegiatannya masing-masing. Grace tetap pada jadwalnya piket sedangkan Anes sibuk bersama teman-temannya di asrama.


Sepulangnya dari sekolah, Anes pamitan untuk kembali ke asramanya.


"Abang balik ya." pamit Anes.


"Iya, hati-hati." jawab Grace. "Saya antar ke depan sampai Abang dapat bus ya?" pinta Grace.


"Iya."


Mereka pun bersama-sama jalan ke gang depan untuk menunggu bus menuju arah Anes. Saat mereka berjalan berdua, tidak ada acara gandeng menggandeng tangan yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Bagi mereka berdua yang penting nyaman dan bisa saling percaya, itu cukup. Tidak perlu umbar kemesraan dan cipika-cipiki. Anes sangat menghargai Grace. Anes tidak mau membuat Grace merasa tidak nyaman agar tidak berpengaruh pada hubungan mereka berdua. Inilah yang disukai Grace dari seorang Anes.


Meskipun mereka pacaran tetapi tetap seperti teman, saling mendukung, saling menjaga dan saling mengingatkan. Anes juga seorang perokok ringan. Tetapi ketika bersama Grace, dia berusaha menahan keinginannya untuk merokok. Bahkan sedikit demi sedikit, Anes sudah mulai meninggalkan rokoknya. Ini nilai plus buat Grace.


Jika dibandingkan dengan Peter, memang sangat jauh. Peter mengedepankan aspek rohani dan kesehatan tubuhnya sehingga dia tidak menyentuh rokok. Sedangkan Anes, dalam segi kerohanian masih kalah dengan Peter dan dia seorang perokok. Tetapi bagi Grace, Grace lebih nyaman dengan Anes karena Grace bisa menjadi diri sendiri, bebas bercanda dan bersahabat.


Setelah Anes melihat bus yang akan membawanya menuju ke arahnya. Ia kembali pamit kepada Grace.


"Abang pergi ya..."


"Hati-hati bang." jawab Grace.


Bus itu pun berhenti tepat di depan mereka untuk membawa Anes. Anes menaikkan kaki sebelah kanan dan diikuti sebelah kirinya, masuk ke dalam bus. Saat sudah sampai di dalam bus, Anes melambai-lambaikan tangan kanannya yang berarti "da..... da..." dan Grace membalasnya dengan lambaian juga.


Lambat laun bus itu sudah menghilang dari pandangan Grace. Grace melangkahkan kakinya, menyebrang ke sisi jalan dengan menoleh ke kanan dan ke kiri agar terhindar dari kecelakaan. Dengan berjalan sendiri Grace memasuki asrama dan menuju ke kamarnya.


"Huhhhhh... sepi nggak ada dia." gumamnya yang belum 10 menit ditinggal pergi Anes. Tetapi dengan seiringnya waktu, Grace kembali seperti biasanya bergaul dengan orang-orang yang selama ini di sampingnya. Tetapi tidak untuk bagi mereka yang memiliki perasaan'sayang' dan perhatian khusus dengan Grace. Grace harus menjaga perasaannya Anes. Selain itu Grace juga tidak mau Abang sepupunya Anes salah menilainya meskipun dalam urusan percintaan merupakan urusan masing-masing. Tetapi sebagai Abang yang diberikan tanggung jawab oleh keluarganya maka ia akan terus memantaunya.


Sebenarnya sebelum Grace mengenal lebih dekat dengan Anes, Grace sudah dekat dengan Abang sepupunya Anes. Abangnya juga menceritakan semua tentang Anes termasuk tentang masalah percintaan bahwa Bang Frans tidak akan mencampuri urusan percintaan adeknya. Dia akan memberikan kebebasan dengan siapa ia menjalin hubungan. Begitu pula dengan Anes yang tidak ingin mencampuri urusan percintaan abangnya. Tetapi selama ini yang Grace tahu, mereka belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun.


Hari demi hari, Grace lalui tanpa adanya Anes di sisinya. Hanya surat dan sesekali berhubungan via telepon yang mengobati rindu mereka. Itu sudah cukup. Apalagi Grace juga sibuk sekolah dan dia juga sibuk mengikuti program otomotif seperti Peter.


Masing-masing dari mereka tahu harus melakukan yang terbaik untuk masa depan bersama. Mereka tidak mau hanya karena hubungan yang sebatas pacar bisa mempengaruhi masa depannya. Bukan saja diri sendiri yang menyesal, pasti keluarga juga menyesal karena telah memberikan kepercayaan yang salah kepada anaknya. Mau bagaimana pun, orang tua dan keluarga pasti juga cemas karena anaknya yang seharusnya bersama-sama dengan mereka harus berpisah jarak jauh demi menggapai cita-cita mereka. Mereka sebagai orang tua dan keluarga hanya bisa mendukung dan mendoakan agar cita-citanya bisa terwujud dan membawa perubahan serta pengaruh bagi keluarga dan orang banyak. Berguna bagi bangsa dan negara.


Setelah kepergian Anes dua Minggu yang lalu, Grace merasakan ada sesuatu yang salah di tubuhnya. Merasakan meriang, badan agak lemas kepala agak berat.


Apa yang terjadi dengan Grace?


Apakah Anes tahu jika Grace sakit?


Bagaimana tanggapan Anes jika Anes mengetahui kalau Grace sakit?


Akankah Anes mengorbankan waktunya untuk mengunjungi Grace?


*Jika pasanganmu membawamu ke arah yang positif dan membuatmu nyaman pertahankan. Yang perlu dipupuk adalah rasa kepercayaan terhadap masing-masing dan komitmen untuk bersama agar hubungan itu langgeng. Bawa hubungan dan namanya selalu dalam doa agar Tuhan memberkati.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan...


Mari saling mendukung dalam berkarya....


__ADS_2