
Pagi merekah di hari yang baru, bulan yang baru dan Tahun yang baru. Sejuta impian atau target dirancangkan untuk satu tahun ke depan sudah tersusun rapi dalam pikiran bahkan dalam bentuk tulisan.
Pagi itu setelah sarapan, Grace memutuskan untuk kembali ke asrama. Dia pamit kepada Bu Tri lalu pergi. Dia tidak pamit dengan Peter dan teman-temannya karena semalam Grace sudah pamit sekaligus.
Grace terpaksa harus menunggu bus sendiri. Orang yang dia harapkan justru tidak ada. Semuanya tiba-tiba berubah, tidak sesuai rencana dan harapan. Tetapi apakah Grace menyesal dan kecewa dengan keputusan Anes yang tidak jadi datang? Tidak!!! Grace masih positive thinking meskipun dia merasa hampa dan sedikit jengkel.
Bus yang akan menghantarkan Grace pun berhenti tepat di depannya. Grace melangkahkan kakinya naik bus itu dan mencari dimana ada tempat yang kosong dan bisa duduk sendirian. Biasanya dia lebih suka jika duduk di belakang Sopir. Tempat yang nyaman bagi Grace. Disitu dia bisa merenung sambil menikmati suasana perjalanan.
Sang sopir mulai menjalankan busnya. Rumah demi rumah dan gedung demi gedung telah terlewati. Kendaraan lalu lalang untuk mengantarkan sang pemilik untuk beraktivitas. Kemacetan lalu lintas juga sempat terjadi. Antrian panjang mobil berjejer menunggu traffic light berubah berwarna hijau dan untuk menuju ke asrama harus melewati beberapa traffic light. Hampir satu jam perjalanan hingga sampai ke asrama. Penumpang naik turun yang membuat perjalanan makin lama. Sungguh perjalanan yang sungguh membosankan. Inikah yang namanya pengorbanan cinta? ah, ini belum seberapa.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam dan perjalanan yang membosankan itu, akhirnya Grace pun sampai di asrama dan masuk kamar untuk meletakkan tasnya. Istirahat sebentar lalu mencari keberadaan Anes. Seperti biasa, yang ia tuju adalah kamar geng teot itu. Mau bagaimana pun ia masih anggota geng itu.
Tetapi Grace pun tidak mendapati dia ada di kamar itu. Grace nggak mau ambil pusing. Dia pun merebahkan tubuhnya di kasur milik salah satu anggota itu. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba muncullah Anes.
"Selamat Tahun Baru ya..." Anes membungkukkan badannya lalu mencium hidup Grace sontak membuat Grace terkejut dan melototkan matanya. Pasalnya saat dengan Peter, Grace bisa menghindar tapi kali ini tiba-tiba langsung nyosor saja sehingga Grace belum mempersiapkan diri.
"Bang, kau curi hidungku." Gumam Grace yang tidak mau berdebat kalau ia protes akan tindakan Anes. "Selamat tahun baru juga." langsung bangkit dari kenyamanannya.
"Kita jalan yuk..." ajak Anes.
"Kemana?" tanya Grace
"Ke sungai X." kemana lagi kalau bukan kesitu. Selain tempat favorit karena tempatnya nyaman juga karena gratis tidak perlu mengeluarkan biaya apapun.
"Ya." Mereka pun keluar kamar. Kali ini mereka hanya berjalan berdua. Selain untuk membahas kenapa Anes tidak jadi pergi, Grace juga mau menjelaskan apa yang sudah ia lakukan saat di asramanya. Grace tidak mau jika akhirnya nanti, Anes mendengar dari orang lain dan menimbulkan masalah.
Saat mereka melewati jalan setapak. Sebenarnya bukan jalan. Itu adalah pagar tembok pembatas namun biasanya dijadikan jalan pintas atau jalan tikus. Jalan ini hanya bisa dilalui oleh satu orang saja sehingga Anes mempersilahkan Grace untuk jalan di depan sedangkan Anes di belakangnya.
"Bang, kayaknya kita tidak usah ke sungai deh. Kita di bendungan dekat sini saja. Lagi malas jalan." ucap Grace.
"Oh ya udah kalau gitu." jawab Anes.
Setelah berjalan berkisar lima belas menit, mereka pun sampai ke tempat yang Grace maksudkan. Memang pemandangan disitu tidak sebagus sungai X. Mereka hanya bisa melihat orang-orang di seberang sungai yang melakukan aktivitasnya dan melihat limbah sungai itu yang mengental. Tempat mereka duduk memang agak jauh karena sungai itu juga dalam sehingga tidak tercium bau limbah. Hanya saja tempat itu agak nyaman jika hanya sekedar untuk mengobrol.
"Grace Abang minta maaf ya... karena Abang tidak jadi datang semalam untuk malam tahunan baru sama kamu karena Abang nunggu teman Abang hingga malam tidak datang-datang. Kalau malam sudah tidak ada bus lagi. Sedih sih tidak bersama kamu." ujar Anes.
"Iya nggak apa-apa." jawab Grace.
"Trus disana bagaimana?" tanya Anes
"Saya ikut ibadah di gereja Bu Tri. Setelah itu pergi ke gereja yang biasanya kalian pergi." ucap Grace. "Bang." seketika Anes melihat ke arahnya.
"Iya." jawab Anes
"Semalam waktu aku ke asrama kalian aku ngobrol dengan bang Peter." ucap Grace berharap Anes tidak cemburu.
"Trus?" Anes penasaran.
"Dia ceritakan semua keadaannya ketika putus dengan Grace. Dia stress, tidak bisa makan dan badannya kurus." jawab Grace yang masih menatap lurus ke arah sungai. "Abang nggak nggak marah dan cemburu kan?" Grace memasang wajah agak ketakutan.
"Nggaklah itu kan mantan. Kecuali kalau kamu masih berharap sama dia dan mau balikan sama dia. Kalau itu maumu ya apa boleh buat?" tegas Anes membuat Grace sedikit lega karena pacarnya yang pencemburu itu ternyata tidak marah.
"Nggaklah. Nggak mungkin aku kembali sama dia. Dia cuma menceritakan saja dan tanya kenapa aku tidak percaya sama dia. Dan aku hanya bisa bilang 'maaf' ke dia." lanjut Grace.
"Grace, berjanjilah kalau kamu tidak akan berpaling dari abang." pinta Anes.
"Bang, Grace tidak bisa berjanji tapi Grace akan berusaha. Hanya, Grace juga minta Abang untuk melakukan hal yang sama." ucap Grace.
"Kenapa kamu tidak berani berjanji Grace?"
__ADS_1
"Grace hanya takut jika Grace tidak menepati. Tapi Grace akan berusaha setia. Oleh karena itu, Grace minta supaya kita saling terbuka, saling percaya, saling mendukung dan saling peduli. Tapi apakah Abang mau janji untuk tidak berpaling?"
"Apakah kamu akan selingkuh? kalau Abang, Abang janji akan setia sama kamu. Abang janji tidak akan berpaling. Abang cinta kamu. Kumohon Grace, berjanjilah."
"Grace tidak mau berjanji bang. Grace berusaha setia. Grace juga sayang sama Abang. Grace cinta sama Abang. Grace nyaman sama Abang. Tapi mari, jangan saling mengecewakan. Jika ada masalah langsung bicarakan. Langsung selesaikan supaya tidak menumpuk. Dan, jangan mudah percaya sama cerita orang. Grace akan jujur dan terbuka sama Abang." ucap Grace.
"Ya sudahlah kalau itu mau kamu. Abang setuju saja." ucap Anes menyerah
"Terima kasih bang." Grace menoleh memandang Anes. Anes hanya membalas tatapan Grace dan menganggukkan kepalanya. "Pulang yuk bang..." ajak Grace.
"Ayo..." mereka pun mengangkat tubuhnya, mengibaskan pantatnya dan meninggalkan tempat itu.
"Grace, kenapa kamu putus dengan Peter?" tanya Anes dalam perjalanan.
"Abang bener-bener ingin tahu?" tanya Grace balik dan Anes menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Yakin?" tanya Grace ulang untuk memastikan.
"Iya."
"Kenapa Abang tanyain dia yang sudah masa lalu? Sedangkan sekarang dan masa depanku ada Abang di sisiku. Bukankah itu lebih baik dari pada masa lalu?"
"Abang ingin tahu supaya tidak melakukan kesalahan yang sama dan membuat hubungan kita rusak." Grace tersenyum mendengarnya.
"Grace putus dengan bang Peter karena Grace sebenarnya tidak cinta sama dia. Grace sudah berusaha keras untuk mencintai tetapi tetap tidak bisa. Selain itu karena Grace tidak ingin hidup dalam tekanan, dikekang dan diatur. Grace ingin sebuah kebebasan. Berbeda ketika Grace menjalani hidup dengan Abang. Grace sayang sama Abang dan Grace cinta sama Abang. Bersama Abang, Grace merasa nyaman, tidak ada kekangan dan aturan. Itu yang membuat Grace nyaman jalan sama Abang. Percayalah bang, Grace tidak mungkin selingkuh tapi Grace tidak bisa janji. Mungkin suatu saat jika Grace pergi dari Abang, bukan serta merta karena selingkuh. Tetaplah menjadi pacar yang seperti ini sehingga Grace tetap bertahan."
"Terima kasih banyak Grace. Abang juga sayang dan cinta sama kamu. Abang hanya kuatir kalau hubungan ini tidak akan lama."
Tidak terasa langkah mereka sudah mendekati asrama. Meskipun mereka berjalan berdua namun mereka tetap menjaga jarak. Tidak ada gandengan tangan apalagi cipika-cipiki untuk mencari-cari kesempatan. Cinta mereka dibuktikan dengan saling perhatian dan memberi kabar bukan sentuhan fisik. Anes benar-benar ingin menjaga kehormatan Grace dan memberikan kebebasan. Dia juga seperti Peter yang tidak mau memanfaatkan pacarnya untuk mencuci bajunya. Itulah yang menjadi nilai plus dari Grace.
Sesampainya di asrama, mereka berpisah di ruang makan menuju kamarnya masing-masing dan untuk membersihkan diri. Saat jam makan tiba, mereka kembali bertemu dan makan bersama sambil berpamitan.
"Iya, kalau gitu Grace juga mau balik. Grace usahakan untuk kasih kabar ke Abang. Abang hati-hati ya.... Jaga diri dan selalu jaga hati. Jangan merokok, itu tidak baik untuk kesehatan. Tapi jangan berhenti merokok untuk Grace tetapi untuk diri sendiri. Kesehatan itu mahal dan penting." pesan Grace.
"Kamu juga jaga kesehatan dan jaga hati. Jangan selingkuh. Untuk merokok, Abang akan usahakan. Kata kamu benar. Itu tidak baik untuk kesehatan." pesan Anes
"Salam buat Bu Tri dan Bu Sugeng ya...."
"Kemarin ada ketemu dengan Bu Sugeng?"
"Iya, dia kok tahu hubungan kita?"
"Iya, Bu Sugeng sudah Abang anggap seperti orang tua sendiri. Abang juga sudah kasih lihat foto kamu. Bu Sugeng ancam Abang jika Abang sakiti kamu. Bu Sugeng senang sekali mendengar kalau kamu pacar Abang." jelas Anes.
"Pantesan Bu Sugeng welcome banget dengan Grace..." balas Grace
"Makanya Abang ingin kamu berjanji supaya tetap setia dan tidak selingkuh dari Abang." ungkitnya lagi.
"Bang...."
"Iya.... iya... Abang ngerti." pungkasnya agar tidak berlanjut berdebat lagi.
"Cie makan berdua..." celetuk Rius yang tiba-tiba muncul di samping mereka.
"Kenapa kami makan berdua? Pertama, irit sabun. Kedua, irit air. Ketiga, irit tenaga. Keempat, irit tempat. Kelima,...." balas Grace berhenti seketika karena Rius sudah tidak tahan mendengar ocehan Grace dan meninggalkan mereka.
"Buset dehhhh..." Rius beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur. Mungkin mencari makanan tambahan.
"Kamu itu lho.... kalau ngomong..." protes Anes cekikikan.
__ADS_1
"Ahhhhh, bener kan. Lah, lagian jadi orang kok kepo dan sibuk dengan orang lain."
"Jangan-jangan dia suka sama kamu Grace?" ucap Anes
"Mungkin!" seketika membuat mata Anes fokus memandang Grace. "Kenapa Abang terkejut dan muka Abang berubah gitu? Cemburu? Hahaha...." Grace tertawa ngakak sedangkan Anes hanya diam terkejut atas respon Grace.
"Bener? Dia suka kamu?" Grace hanya mengangguk dan tersenyum.
"Dia sudah 3 kali nembak Grace." goda Grace.
"Bener?" matanya sudah semakin melotot.
"Abang ini lhoooo.... kenapa melotot begitu? Cemburu bang?" goda Grace.
"Iyalah. Apalagi Abang kan tidak disini. Jangan sampai kamu selingkuh dengan dia." Grace semakin tertawa tidak tertahankan dan semakin membuat Anes menjadi bingung.
"Kenapa kamu tertawa?" lanjut Anes.
"Grace cuma bercanda bang. Rius tidak pernah tembak Grace. Kalau dia tembak Grace bahkan sampai 3 kali, pasti Grace sudah mati bang." Grace masih bercanda.
"Maksudmu?"
"Dia tidak pernah tembak Grace bang. Grace tadi cuma bercanda. Kalau pun dia ada perasaan dengan Grace, Grace juga tidak tahu. Itu hatinya. Grace tidak bisa mencegahnya. Bukankah yang lebih penting sekarang Grace dengan Abang?" Anes masih menyimak kata-kata Grace. "Lagian bang, Grace tidak punya perasaan apapun dengan dia. Jadi Abang tidak perlu kuatir. Cinta ini hanya untuk Abang seorang. Tiada yang lain." pungkas Grace.
"ihhhhhh.... berantakan rambutku bang." teriak Grace saat rambutnya diacak-acak Anes.
"Awas aja kalau selingkuh. Talak tiga langsung keluar." seru Anes.
"Bah... emangnya kita sudah menikah. Lagian, dalam ajaran kita tidak boleh cerai. Harus saling memaafkan jika pasangan ada salah." protes Grace.
"Selingkuh itu fatal Grace!!! tidak ada ampun bagi Abang." tegas Anes
"Iya bang. Grace ngerti. Nanti kalau Abang sudah ada orang lain di hati Abang selain Grace, tolong jujur dan kasih tau Grace ya bang. Grace akan sukarela melepaskan abang. Grace tidak akan marah sama Abang. Mungkin orang itu lebih pantas di hati Abang dari pada Grace." ucap Grace yang membuat Anes terkejut lagi.
"Ehhhh kamu kok ngomong gitu?"
"Iya bang, lebih baik Grace diputusin dari pada Grace harus diduakan. Grace tidak mau diduakan. Selama ini Grace juga berusaha untuk setia pada satu orang meskipun ada kesempatan untuk menduakan orang. Tapi itu bukan tipe Grace. Grace akan berusaha untuk mempertahankan hubungan. Jika Grace merasa bahwa Grace sudah tidak mampu bertahan, maka Grace akan mengakhiri. Mengakhiri bukan karena ada orang lain ya... Sama sekali bukan! lebih cenderung ke sikap pasangan. Grace tidak suka dikekang dan diatur tapi Grace akan berusaha untuk menjadi yang lebih baik dan tidak merusak kepercayaan." ucap Grace
"Pernah ada yang minta diduakan?"
"Pernah... Abang ingat saat Grace sembunyi di kamar Abang. Itu karena orang dari seberang sungai X kejar-kejar Grace. Dia nekat dan minta diduakan. Jelas Grace tidak maulah. Pacar satu aja bikin pusing apalagi kalau lebih. Beeehhhh, bikin tensi." lanjut Grace
Lanjut part berikutnya ya....
*Pertahankan apa yang perlu kamu pertahankan. Jangan pertahankan jika memang tidak bisa. Kamu masih punya pilihan untuk memutuskan. Jangan sampai keputusanmu menghancurkanmu kemudian hari.*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....
Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....
Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....
Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....
Semoga hari kalian menyenangkan...
__ADS_1
Mari saling mendukung dalam berkarya