
Tetapi Ekon terus berpikir agar dua-duanya bisa dicapai atau didapatkan. Ekon pikir, toh jarak asrama dengan kampus yang akan dia masuki tidak jauh. Jadi masih gampang untuk komunikasi.
Ekon POV On
Huh, tidak lama lagi akan meninggalkan asrama ini untuk menggapai cita-citaku dan memperbaiki masa depanku. Tetapi rasanya berat meninggalkan Grace.
Gedung baru itu menjadi saksi tumbuhnya cintaku padanya. Cepat sekali perasaan ini muncul. Secara tiba-tiba pula. Dia cewek yang berbeda dari cewek lainnya. Ceria, humoris dan sepertinya dia juga dewasa dalam berpola pikir.
Hari ini aku memperhatikan dia lagi ketika dia di dapur bersama ketiga temannya. Aku tidak mendekati dan menyapa. Bagiku sudah cukup memperhatikan dia dari jauh. Itu pun sudah membuat jantungku berdetak kencang. Sudah mau copot rasanya. Tidak tahan lagi. Apalagi kalau mendekati, pasti jantungku benar-benar copot.
Tawanya yang menggelegar itu membuatku semakin ingin mendekatinya dan memilikinya. Dia seperti orang yang tidak punya masalah. Happy terus. Aku benar-benar tertarik pada dia.
Tapi ada penghalang, ada seorang cewek yang suka memperhatikan aku. Kemana pun aku pergi, rasanya dia selalu mengawasi aku. Aku sudah mencoba tidak peduli. Tapi dia terus berusaha mendekati aku. Dia adik kelas Grace. Mini namanya.
Kalau dibandingkan dengan Grace, sangat berbeda jauh.
Pandangannya selalu tertuju padaku. Aku risi. Ah, nggak tahulah dia cewek seperti apa. Agresif mungkin. Benar-benar berbeda dengan Grace.
Aku dimintain tolong Ibu Asrama untuk mengganti lampu di dapur. Lampunya sudah mati. Kasihan yang piket kalau gelap-gelapan bekerja. Aku iyakan saja dan nurut.
Karena lampu itu agak tinggi, aku mencari kursi supaya bisa meraihnya. Meskipun aku tergolong berpostur tinggi namun tetap tidak bisa meraihnya.
Dengan hati-hati aku naik di atas kursi itu agar tidak jatuh dan ketika tanganku meraih lampu itu tiba-tiba,
Doooooorrrrrrr…...!!!!!!!!
Ah, sial!!! ini suara orang yang ingin selalu kuhindari. Suara Mini mengagetkanku. Aku hampir saja terjatuh karena saking kagetnya. Aku mencoba menjaga keseimbangan ku. Alhasil, aku tidak jatuh.
Dia malah mentertawakan ku. Aku ingin sekali memaki dia. Ingin mengeluarkan kata-kata kasar seperti biasanya kulakukan tapi kutahan emosiku. Aku tidak ingin memancing keributan dan orang merendahkanku. Apalagi kalau Grace tahu aku maki-maki pasti ia akan menjauhiku.
Aku benar-benar kesal dengan cewek yang namanya Mini itu. Kalau bisa kubumi hanguskan atau kulenyapkan seketika biar tidak ada lagi di muka bumi ini.
Akhirnya, aku kembali fokus untuk memasang lampu itu hingga selesai. Aku coba pencet di stopkontaknya, bisa menyala. Kemudian kumatikan lagi. Setelah itu kuberitahukan kepada Ibu asrama kalau lampu sudah bisa menyala. Lalu aku kembali ke kamarku.
Ekon POV off
Setelah Mini dari dapur, ia pun ke kamar. Mini satu kamar dengan Grace. Saat sampai di kamar, dia menceritakan apa yang terjadi di dapur dengan heboh dan penuh semangat kalau ia sudah berhasil mengagetkan Ekon dan dia hampir jatuh.
Grace yang mendengar cerita itu hanya diam dan tertawa dalam hati karena Grace belum punya perasaan apapun terhadap Ekon. Dia hanya bersikap santai mendengar cerita itu. Lagian juga baru beberapa kali bertemu. Jadi, belum tumbuh rasa cinta dihatinya.
3 hari kemudian, Ekon meninggalkan asrama dan tanpa pamit kepada Grace. Tetapi dia memesan kepada Vinus agar Grace menelpon Ekon. Vinus pun mengantar Grace ke telpon umum atau wartel (warung telpon).
Grace tidak tahu kenapa Ekon menyuruh Grace untuk menelpon. Grace hanya menurut saja perintah Vinus. Mereka berdua keluar asrama dan mencari wartel terdekat.
Wartel yang paling dekat sedang mengantri beberapa orang. Grace ingat kalau masih ada wartel yang juga tidak jauh. Mereka pun menuju wartel tersebut.
Sesampainya di wartel, Vinus menekan tombol angka yang ada di hadapannya.
Tut.... Tut.... Tut....
Vinus memberikan gagang telepon itu kepada Grace dan Grace pun menerimanya.
"Halo, selamat malam Grace." suara yang di ujung telpon sana.
"Selamat malam juga kak." jawab Grace yang masih bingung untuk apa menelpon.
"Terima kasih sudah mau menelpon."
"Sama-sama kak. Kenapa kakak suruh bang Vinus bawa saya untuk menelpon kakak ya?" tanya Grace tanpa basa-basi.
"Aku kangen sama kamu Grace." jantung Grace sudah tidak beraturan.
"Aku suka sama kamu, Grace." seketika Grace ingat cerita Mini di kamar yang telah berhasil mengagetkan Ekon.
"Maukah kamu menjadi pacar aku, Grace?" lanjut Ekon.
__ADS_1
"Maaf kak, bukannya tidak mau. Tetapi saya tidak bisa." jawab Grace yang tidak mau Mini juga kecewa dan menjaga perasaan teman sekamarnya.
"Kenapa?" tanya Ekon.
"Ada orang yang menyukai kakak. Aku tidak bisa terima kakak." jawab Grace. Ekon tidak tanya lagi siapa yang suka dengan dia. Karena dia sudah tahu pasti itu Mini.
"Ya sudah kak. Sudah dulu ya. Terima kasih. Tuhan memberkati." Grace pamit dan menutup telepon secara sepihak.
"Sudah?" tanya Vinus.
"Sudah." jawab Grace singkat.
"Kok cepat sekali?" tanya Vinus penasaran. Grace tidak menjawab hanya membalas dengan senyuman.
Mereka berdua meninggalkan tempat itu dan kembali ke asrama. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Grace selama dalam perjalanan.
Vinus mengerti dengan sikap Grace yang tiba-tiba diam. Tapi Vinus juga penasaran kenapa Grace tiba-tiba diam. Vinus tidak mau menambah rusak mood Grace yang sedang tidak beraturan itu.
Sampailah mereka di ruang makan dan mereka berpisah.
"Terima kasih bang." hanya itu kata-kata Grace.
"Sama-sama." Vinus tidak menahan Grace lagi. Dia tahu kalau Grace akan ke kamar.
Grace masuk kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur tetapi tatapan matanya mengarah ke langit-langit. Dia memikirkan kata-kata Ekon barusan di telpon.
Sedangkan Ekon yang disana juga memikirkan jawaban Grace.
"Kenapa Grace menjawab seperti itu? Kenapa dia memikirkan kata-kata Mini? Kenapa dia peduli dengan perasaan Mini? Ini semua karena Mini. Tapi aku tidak akan menyerah. Besok aku akan datangi ke asrama." gumam Ekon dalam keheningan di kamarnya dengan bertubi-tubi pertanyaan.
Esoknya Grace bangun tidur seperti biasanya. Dia melupakan apa yang terjadi. Dia tidak mau ambil pusing dengan Ekon. Dia masa bodoh dengan itu. Dia akan memberikan kesempatan kepada Mini untuk mendapatkan Ekon meskipun secara tidak sadar Grace sudah punya perasaan 'sayang' kepada Ekon. Tapi sebisa mungkin Grace melupakan perasaan itu sebelum terlanjur.
Malamnya benar, Ekon datang ke asrama membawa sekotak donat sebagai oleh-oleh. Namun Ekon tidak langsung bertemu dengan Grace. Dia menunggu di ruang yang dulunya dijadikan kantor tapi sekarang sudah dikosongkan meskipun masih ada meja dan kursi.
Ekon meminta Vinus untuk memanggil Grace ke kantor. Grace pun mengikuti. Ternyata disana sudah ada Dona, Vinus dan Yosua. Ada beberapa orang yang nongkrong di depan kantor. Begitu ributnya.
Tanpa malu-malu, Grace menyomot satu donat dari box itu dan memasukkan ke mulutnya.
Ekon yang melihat itu hanya tersenyum. Canda tawa memenuhi ruangan itu. Apalagi jika sudah ada Yosua dan Vinus. Semua cerita akan dikeluarkan. Mereka satu gerombolan yang tidak bisa terpisahkan meskipun terpisah jarak.
Grace menghabiskan dua donat. "Mumpung gratis." pikirnya.
Malam sudah makin larut. Ekon harus kembali ke kostnya dan Grace kembali ke asrama untuk belajar.
Setelah pertemuan malam itu, Vinus yang bekerja membuat Grace untuk menerima Ekon. Tapi Grace menolak dengan alasan Mini. Ada cinta dalam hatinya untuk Ekon. Namun dia bisa membendung perasaannya. Grace tidak mau membuat Mini kecewa.
Cinta Grace kepada Ekon lebih besar dibandingkan kepada Anes apalagi Peter. Meskipun kalau dilihat dari tampang, Ekon tidak ada apa-apanya namun Grace sangat nyaman dengan Ekon. Tetapi yang namanya cinta tidak akan memandang fisik.
**********
Yosua punya ide untuk Ekon agar mempermainkan Mini dengan memanfaatkannya. Sebenarnya dia tidak mau tapi Yosua memaksakan. Yosua memaksa karena Mini selalu mengejar-ngejar Ekon.
"Kon, kamu kerjain Mini." ide di kepala Yosua.
"Apa? Jangan macam-macam ya aku tidak mau." jawab Ekon dengan mata melotot ke arah Yosua. Yosua menjadikan Ekon sebagai umpan.
"Kamu pura-pura sakit sakit dan suruh Mini datang bawa buah." ide konyol Yosua.
"Ah, tidak mau." pikir Ekon takutnya memberi harapan kepada Mini.
"Ayolah, coba saja." paksa Yosua yang pengen makan buah.
"Ya sudah aku coba. Tapi kamu yang hubungi Mini." jawab Ekon agak ketus dan jengkel atas ide Yosua yang konyol itu.
Yang benar saja, Yosua sungguh-sungguh menghubungi Mini dan minta besuk Ekon yang pura-pura sakit dan meminta untuk membawa buah.
__ADS_1
Karena begitu besar cinta Mini kepada Ekon, dia pun menyanggupinya. Lalu dia keluar dari asrama menuju ke penjual buah dan membawanya pada Ekon.
Setelah sampai di kostnya Ekon, ia melihat Ekon berbaring di tempat tidur. Kemudian dia meletakkan buah itu di meja kecil dekat tempat tidur Ekon. Mengambil kursi kayu didekatkannya ke ranjang lalu dia duduk sambil memperhatikan Ekon yang sedang tidur.
Dia tidak berani membangunkan Ekon dan dia juga tidak tahu harus bagaimana.
Sudah lewat dari 10 menit, tidak kunjung bangun. Sementara dia harus cepat-cepat kembali ke asrama. Karena Ekon merasa kasihan, ia pun mau membuka matanya dan menyapa Mini.
"Hai, kamu disini?" tanya Ekon basa-basi.
"Iya. Kan bang Yosua kasih tau kalau kakak lagi sakit dan minta dijenguk." ucap Mini memastikan.
"Oh, aku tidak tahu." jawabnya bohong. "Ya, sudah terima kasih sudah kunjungi. Lebih baik kamu cepat pulang. Tidak enak dengan orang lain. Lagian ini juga sudah sore." lanjut Ekon dengan maksud mengusir secara lembut.
"Sedikit lagi tidak apa-apa. Aku masih mau disini." rayunya.
"Gini lho..." Ekon bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk di dekat Mini. Lalu tangannya diletakkan di paha Mini, sontak membuat Mini kaget dan bergeser tempat duduk. Ekon tersenyum melihat kegusaran hati Mini secara tiba-tiba karena sentuhan itu. "Sebentar lagi kan sore, nanti kamu pulangnya kemalaman." lanjut Ekon.
Akhirnya, Mini pun menurut kata-kata Ekon dan meninggalkan kost itu.
"Ah, Yosua ini bikin repot saja. Tapi enak juga dia bawa buah-buahan." gumam Ekon. "Lain kali aku mau kenalin saja sama Kris. Siapa tahu dia mau. Pusing aku dibuatnya." lanjutnya ngomel-ngomel sendiri.
Malam telah tiba. Mini sudah sampai di asrama dengan hati yang berbunga-bunga. Sedangkan Ekon merasa bodoh dengan apa yang sudah dilakukannya terhadap Mini.
Malam itu Ekon dan Yosua berpesta buah pemberian Mini. Yosua hanya menikmati saja tanpa rasa bersalah. Sedangkan Ekon, terus berpikir bagaimana selanjutnya nanti. Pasti Mini terus berharap. Apalagi ini seperti memberikan kesempatan dan harapan pada dia.
Sementara itu, Grace yang di asrama terus menikmati hari-harinya. Meskipun Vinus terus berusaha agar Grace mau terima Ekon, tetap saja tidak mempan. Grace tidak mau merusak hati Mini yang lagi kasmaran itu. Kalau soal cinta, Grace paling malas ribut. Dia akan mengorbankan perasaannya untuk orang lain.
Terkadang Ekon juga masih ke asrama untuk bertemu dengan Grace. Namun akhirnya Grace memutuskan untuk tidak akan menemuinya lagi. Ekon pun akhirnya memutuskan untuk tidak akan ke asrama lagi mencari Grace. Lebih fokus untuk kuliah.
Ekon mengambil jurusan Informatika.
Untuk mendukung kuliahnya, Ekon juga mencari kerja agar tidak merepotkan orang tua. Kalau tidak kuliah, dia akan menghabiskan waktu untuk bekerja. Dari pada tidak melakukan apapun. Lebih baik bekerja supaya dapat uang untuk menopang kuliahnya.
Ekon memang sudah terbiasa hidup mandiri. Jadi, tidak masalah jika kuliah sambil bekerja.
Ekon dan Grace sama-sama berusaha untuk melupakan perasaannya dengan tidak saling bertemu lagi. Namun tetap tidak bisa. Bagi Ekon, Grace adalah cewek yang istimewa, yang sudah mencuri hatinya. Tentu saja sangat sulit untuk melupakan. Perasaan itu masih tersimpan rapi di dalam hati.
Begitu juga dengan Grace. Meskipun sudah merelakan untuk Mini, tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang sudah bertumbuh itu secara pelan-pelan.
Bagi Grace, Ekon berbeda dari Peter dan Anes meskipun secara rohani dan tampang, Peterlah pemenangnya. Tapi hati Grace benar-benar sudah terpatri kuat untuk Ekon.
Grace juga tidak berani untuk menjawab atau membalas perasaan Ekon meskipun ada rasa cinta dan rindu di hatinya. Ekon pun sama.
Grace tidak mau mengambil keputusan yang besar sehingga berakibat fatal. Dia tetap pada pendiriannya untuk tidak menerima Ekon.
*Cinta yang tulus itu tidak akan memandang fisik dan apa yang ada pada orang itu. Fisik bisa berubah dengan berjalannya waktu dan harta bisa hilang dalam sekejap. Tetapi cinta yang suci dan tulus, akan terus bertambah.*
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hai readers...
Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....
Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....
Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....
Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....
Jangan lupa like ya...
Support ya...
Sekali lagi Terima kasih banyak untuk partisipasinya....
__ADS_1
Note: Tinggal beberapa episode lagi ya....