Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 16 - Menolak


__ADS_3

"Bener-bener bikin BT deh tu orang." umpat Grace ketika sudah merebahkan tubuhnya di pulau kapuknya. "Kerja PR dululah." ucapnya sambil mencari buku Matematikanya yang tidak kunjung ditemukan. Setelah membolak-balik beberapa buku-buku itu secara berulang-ulang, akhirnya menemukannya.


Setelah rampung mengerjakan PR, ia pun kembali merebahkan tubuhnya lalu berusaha untuk tidur. Ada perasaan gelisah dalam hatinya. Berulang kali mencoba menutup mata dan membuka mata lagi, menutup mata dan membuka mata lagi tetapi tetap saja tidak kunjung tertidur. Entah apa yang membuatnya gelisah.


Sudah beberapa hari Peter meninggalkannya tetapi tidak ada rindu di hatinya sama. Sedikit lega. Hidupnya bebas sebebas-bebasnya seperti terlepas dari penjara. Ah, lebih tepatnya seperti kuda yang terlepas dari kandang. Yang akan berlari dan melompat-lompat kegirangan kesana-kemari sesukanya, tanpa ada yang menghentikannya. Kalau seperti orang yang keluar dari penjara kan ketika di luar pasti banyak yang nyinyir dan jadi bahan pembicaraan. Biasa kan manusia. Mulut satu dan lidah satu tapi sepertinya menjelma sebanyak seribu.


Pikiran dan hatinya sudah lelah karena masalah yang belum diketahuinya. Akhirnya alam pun membawanya ke negeri mimpi.


Pagi merekah tetapi Grace enggan untuk bangun dan mengikuti ibadah. Seperti biasa, Pembina akan selalu mengecek anggotanya yang tidak didapatinya di ruang ibadah. Dari kamar per kamar beliau masuki untuk membangunkan para pemalas sesuai dengan versinya. Grace berpikir bahwa Pembinanya tidak akan mengira kalau Grace masih enak menikmati suasana mimpi di pagi hari, karena sebelah sisi tempat tidur Grace ditutupi dengan kain seharusnya tidak kelihatan dari luar. Ah, bukannya seorang pembina itu pintar dan teliti? Kalau di ruang yang semestinya tidak ada berarti antara piket masak atau di dunia kapuknya.


Cekleeekkkk.... kreeeekkk.... bunyi pintu terbuka.


"Bangun .... bangun..." teriak bapak pembina sambil memercikkan air ke wajah Grace.


"Ciaaahhhh.... ketahuan gue...." gumam Grace yang merasakan percikan air di wajahnya. "iya pak. Bapak duluan." perintah Grace. Pak Londa pun meninggalkan Grace.


Entah apa yang terjadi pada Grace pagi itu bukannya bangun dan mengikuti ibadah, malah kembali tidur dan tidak mengindahkan aturan itu. Mungkin penyakit malasnya sedang kambuh.


Jam kerja praktis atau piket, Grace tetap menjalani. Grace tidak mau membebani teman-temannya. Grace tetap ingin bertanggung jawab untuk piket. Sebenarnya Grace juga menyesal karena tidak mengikuti ibadah. Pastilah menyesal itu di belakang. Kalau di depan namanya pendaftaran.


Soal pelajaran, Grace tidak akan pernah absen sekalipun ada pelajaran yang tidak disukainya seperti sejarah dan geografi. Untuk pelajaran seperti matematika, terkadang membuat Grace bosan sendiri karena setelah mengerjakan latihan soal, tidak diijinkan untuk membahasnya. Akhirnya dia memilih untuk tidur.


Setelah kegiatan belajar mengajar, hari itu Grace memutuskan untuk istirahat dan kumpul bersama teman-temannya sekedar ngobrol atau bernyanyi meminimalisir bertemu dengan Wanto yang akhir-akhir ini sering berkeliaran di asrama. Suara Grace yang fals dan cempreng itu hanya ikut-ikutan saja dengan teman-temannya. Otomatis Grace tidak akan bernyanyi lebih kencang dari pada yang lainnya supaya suaranya tertutupi. Jangankan nyanyi, bicara dan tertawa saja sudah fals.


Siang, sore dan petang telah Grace lewati. Waktunya untuk belajar.


Waktu Grace sedang belajar, tiba-tiba malam itu Wanto sudah datang di depan kelas untuk menemuinya dan membuat Grace sangat terkejut.


"Grace" panggil Wanto.


"Kok kamu disini?" tanya Grace. "Hmmmm siapa yang membawanya kesini?" lanjutnya dalam hati.


"Aku mau ketemu sama kamu. Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu." balas Wanto.


"Grace, aku mau kamu menjadi pacarku." lanjut Wanto yang membuat Grace terkejut.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah punya pacar." jawab Grace.


"Aku tahu. Pacar kamu Peter. Sekarang dia tidak disini. Aku mau kamu jadi pacarku." paksa Wanto.


"Tidak bisa. Aku tidak mau." balas Grace.


"Aku mau kok jadi yang kedua. Aku nggak apa-apa asalkan kamu terima aku jadi pacarmu." pinta Wanto.


"Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak mau menduakan pacarku." jawab Grace.


"Ayolah Grace, please." rengek Wanto yang sudah membuat Grace semakin geram.


"Maaf, aku tidak mau. Aku tidak bisa. Aku sudah punya pacar." tegas Grace.


"Tidak apa-apa. Aku yang kedua." paksa Wanto lagi.


"Maaf, tidak bisa ya tidak bisa. Jangan paksa aku. Sekarang silahkan pergi. Ini asrama. Seharusnya kamu tidak boleh masuk sembarangan. Kamu orang luar. Atau aku yang pergi!" tegas Grace secara keras. Karena Wanto tidak kunjung pergi juga, Grace pun meninggalkan Wanto dan menuju kamar. Grace yakin bahwa Wanto tidak akan sampai ke kamar.


Wanto pun keluar dari asrama dengan marah, geram dan sakit hati. Untuk meluapkan emosinya, dia meminum alkohol sampai mabuk.

__ADS_1


Ketika Grace mendengar itu, "Biarin aja. Jadi orang kok bodohnya minta ampun. Trus kalau dia sudah mabuk, aku berbelas kasihan gitu? Trus aku terima dia gitu? Ga bakalan! Jadi orang kok punya pikiran pendek!" umpat Grace dalam hati.


Grace benar-benar jengkel atas sikap Wanto. Kalau ini saja berani datang ke asrama, berarti orangnya akan nekat.


"Ah, baru sedikit lega karena Peter pergi, malah Wanto bikin tambah stress lagi." gumam Grace.


"Grace bingung menghadapi situasi ini. Tidak mungkin aku lapor ke pihak Yayasan. malah akan tambah heboh. Grace harus bisa menghadapinya sendiri." omelnya di hati.


Setelah Wanto menemuinya, malam itu Grace susah tidur lagi. Mata itu enggan terpejam dan pikiran tidak mau berhenti berpikir. Pikirannya terus berputar pada satu orang, yaitu bagaimana jika Wanto nekat.


Hingga dini hari Grace baru bisa tertidur dan harus bangun pukul 05.00 untuk mengikuti ibadah. Kali ini Grace tidak mau bermalas-malasan.


Siangnya Grace mendengar kalau Wanto datang lagi. Kali ini dia benar-benar nekat. Dia bisa sampai ke area asrama putri. Grace pun bergegas mencari bantuan. Otaknya berpikir keras dimana harus sembunyi. Wanto pasti akan jelajahi seluruh asrama. Wanto membawa orang dalam agar rencananya mulus. Setelah berpikir keras, Grace menemukan tempat dimana harus bersembunyi. Itulah satu-satunya tempat yang aman. Tidak mungkin Wanto akan sampai disitu.


"Kamar geng teot!" celetuknya dalam hati. "iya, dia nggak akan sampai ke kamar itu. Untuk masuk ke kamar itu harus punya kata sandi karena tidak seorang pun boleh masuk." lanjutnya. Sebenarnya Grace paling anti untuk masuk area asrama putra. Dia tidak akan kesana jika tanpa tujuan atau alasan yang mendesak. Jangankan ke kamar laki-laki, ke kamar sesama putri saja, Grace paling enggan. Menurutnya, yang paling nyaman itu kamarnya dan tempat tidurnya.


Menurut peraturan, angota asrama putri tidak diijinkan untuk masuk ke asrama putra. Begitu juga sebaliknya. Makanya masing-masing asrama ada bapak asrama dan ibu asrama. Tetapi terkadang itu hanya untuk alasan. Sekalipun anggota asrama putra sering ke asrama putri, mereka hanya sebatas di depan pintu. Begitu juga dengan anggota putri. Kecuali ada alasan yang jelas.


Tok... tok... tok... Grace mengetuk pintu geng itu tidak dibukakan karena tidak sesuai kata sandi...


Teooooootttt.... baru dibukakan. Terlihat Anes membuka pintu dengan terkejut karena melihat Grace begitu panik.


"Kenapa?" tanya Anes.


"Boleh aku masuk? Nanti kuceritakan." pinta Grace.


"Masuk." jawab Anes.


Grace pun bergegas masuk ke kamar itu. Kamar yang bersih dan tertata rapi.


"Kenapa?" tanya Anes.


"Ya sudah kamu disini dulu sampai dia pergi." jawab Anes."Kebetulan yang lain lagi pada keluar." lanjutnya sambil mempersilahkan naik di tempat tidurnya yang tertutup di berbagai sisi seperti tempat tidur seorang raja dari negeri kayangan itu.


Grace bingung mau bikin apa selama bersembunyi. Tidak mungkin mau ngacak-ngacak kamar mereka.


"Ah, bodo amat. Aku mau tiduran aja disini. Bertahan dulu selama Wanto belum pergi." batin Grace. Suasana hening. Tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka berdua. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.


Benar. Wanto masuk ke asrama putri, tidak menemukan Grace. Ke kelas, Grace tidak ada. Ke dapur pun tidak nampak batang hidungnya. Setelah mengelilingi asrama dengan bantuan temannya di asrama tidak menemukan Grace, dia pun menyerah dengan sebuah kekalahan, geram, kesal, dan marah. Dia pun kembali melampiaskan kemarahannya dengan minum-minum sampai mabuk. Tetapi apa peduli Grace. Dia memutuskan tidak mau peduli dengan sikap Wanto dan tidak mau berurusan dengan semua urusan Wanto. Grace tetap pada komitmennya.


Sesudah dirasa Wanto meninggalkan asrama, Grace keluar dari kamar geng teot itu dengan perasaan yang masih was-was.


"Bang, aku keluar ya... Terima kasih untuk tempat persembunyiannya yang paling aman dan nyaman." pamit Grace.


"Emangnya dia sudah pergi?" tanya Anes.


"Kayaknya sudah." jawab Grace yang masih ragu.


Grace pun keluar dari kamar itu dan menuju ke kamarnya.


Grace mendapatkan informasi bahwa tim pecinta alam akan mengadakan kegiatan ke puncak. Grace tidak mau melewatkan kesempatan ini. Selama ini Grace selalu mengikuti latihan mendaki gunung. Jadi Grcae tidak akan melewatkannya.


Selain kegiatan pencinta alam, Grace juga mengikuti kegiatan teater. Inilah kesempatan untuk Grace untuk mengasah dirinya. Kegiatan-kegiatan itu mengajarkan Grace banyak hal; membangun kepercayaan diri, membangun rasa peduli kepada orang lain, meningkatkan kemampuan berakting, membangun kepedulian terhadap lingkungan dan lain-lain.


Seminggu sekali setiap hari Kamis sore, kegiatan teater itu dilakukan. Mereka belajar untuk mengatur pernafasan, belajar menjiwai peran dan belajar akting. Bagi Grace ini sangat menyenangkan, seru dan suatu hal yang baru karena selama sekolah di SMP, Grace tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Grace pernah dipilih sebagai salah satu penari Jawa tetapi Grace hanya bertahan beberapa kali pertemuan karena kesibukannya yang terlibat kegiatan children program di gerejanya.

__ADS_1


Sedangkan kegiatan pecinta alam juga dilakukan seminggu sekali pada hari Jumat. Disitu akan banyak pelajaran bagaimana cara mendaki gunung, kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi saat berada di puncak dan bagaimana mempersiapkan diri baik fisik maupun mental. Sehingga ketika naik ke puncak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.


"Ambil nafas. Tahan. Buang. Ambil nafas. Tahan. Buang." ucap pembina teater yang berulang-ulang dan langsung dipraktekkan oleh peserta.


"A, i, u, e, o. A, i, u, e, o. A, i, u, e, o." ucap pembina agar diikuti peserta.


"Naik lagi. Segini." perintahnya lagi.


"Naik lagi." lanjutnya.


"Naik lagi. Tahan." lanjutnya


"Haaaaaaaaa....." diikuti oleh peserta. "Tahan." lanjutnya terus.


"Ambil nafas. Tahan. Buang."


"Hmmmmmmmmmm..... Oke, mulai." langsung diikuti peserta.


"Tahan. Terus tahan." pungkasnya.


"Oke, untuk hari ini sampai disini. Tolong terus latihan. Minggu depan kita sudah bisa belajar akting teater dan menjiwai peran. Teater itu berbeda dengan akting saat bermain sinetron. Jadi kita harus sering latihan. Selamat sore" ucap pembina teater, Pak Muel


"Selamat sore. Terima kasih pak." seru semua peserta yang dibalas dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Sama-sama." sambil meninggalkan ruangan.


"Yang mau ikut mendaki ke puncak. Sekarang latihan jalan keliling dari asrama ke arah X, kemudian ambil arah ke X dan kembali ke arah asrama." Pengumuman dari Pak Londa. "Sekarang siap-siap dan kumpul di lapangan depan asrama untuk melakukan pemanasan." lanjut Pak Londa.


Peserta pecinta alam pun kembali ke asrama masing-masing. Mengganti pakaian, memakai sepatu dan bergegas menuju lapangan di depan asrama.


"Oke, yang mau ikut mendaki sudah terkumpul semua?" tanya Pak Londa. Masing-masing kepala menoleh ke kanan kiri dan depan belakang. Merasa semua sudah lengkap, "Sudah pak." sahut semua peserta.


"Oke perhatikan. Dalam penulisannya Pipit di tempo.com mengatakan bahwa Banyak orang yang belum memahami apa manfaat melakukan pemanasan sebelum berolahraga. Buat kebanyakan atlet, intensitas pemanasan dilakukan secara bertahap guna membantu tubuh mempersiapkan diri untuk latihan yang cukup berat. Semakin berat dan rutin latihan, pemanasan pun semakin dibutuhkan. Pemanasan yang tepat akan membantu memperlancar aliran darah ke otot untuk mengurangi ketegangan otot atau kram, mengurangi risiko cedera, dan tak jarang meningkatkan performa." jelasnya. "Oleh karena itu kita perlu pemanasan. Karena pemanasan itu sangat penting sebelum olahraga." lanjutnya.


Mereka pun mengikuti arahan dan gerakan yang dilakukan oleh pembina dengan antusias.


Setelah merasa pemanasan itu cukup, semua peserta meninggalkan lapangan secara berurutan menuju ke arah jalan yang sudah ditunjukkan sebelumnya.


Nyanyian berganti canda tawa silih berganti mereka suarakan. Yang tentunya mengundang perhatian bagi orang-orang yang lewat atau orang-orang yang mereka lewati. Hingga akhirnya mereka sampai ke asrama tanpa suatu halangan apapun. Tetapi Grace merasakan agak sedikit kesleo di bagian pergelangan kakinya. Tetapi itu bukan masalah yang berat bagi Grace.


*Orang yang mendua itu tidak akan tenang dalam hidupnya. Jagalah hatimu. Jika tidak untuk orang yang mencintaimu, setidaknya untuk melatih dirimu sendiri. Kamu lebih memanfaatkan situasi atau mengendalikan situasi. Kamu lebih tergoda atau tahan godaan.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....


Semoga hari kalian menyenangkan...

__ADS_1


Mari saling mendukung dalam berkarya....


__ADS_2