Indahnya Masa SMA

Indahnya Masa SMA
Part 10 - Pengakuan


__ADS_3

Pagi  telah merekah. Matahari terbit dari timur. Sinarnya mulai menghangatkan bumi. Udara pagi yang berbeda dengan asrama sebelumnya mulai terasa. Di sini agak panas dan suasana sudah mulai ramai.


Setiap orang sudah mulai mengeluarkan suaranya. Gemericik air kamar mandi sudah terdengar. Satu per satu meninggalkan tempat tidurnya. Pembina sudah siap mengecek kamar per kamar untuk memastikan para penghuninya sudah menuju ke ruang ibadah.


Bagi sebagian anggota asrama, mungkin ada yang sudah terbiasa bangun pagi-pagi buta untuk menghadap Tuhan dan beraktivitas tetapi mungkin ada juga yang tidak biasa. Namun kali ini mereka harus bangun pagi-pagi buta untuk menghadap Tuhan.


Mereka menaikkan lagu pujian untuk Sang Pencipta dan mendengarkan kotbah dari pembina sebagai bekal untuk melanjutkan hari mereka agar mereka bisa menjalani hari itu sesuai dengan petunjuk Firman-Nya.


Selesai ibadah, masing-masing kelompok mengerjakan tugasnya. Semua harus kerja. Saat kerja, mereka juga mengerjakan dengan tulus dan ikhlas. Bercanda adalah warna bagi mereka untuk menciptakan kebersamaan. Bernyanyi adalah seni untuk menciptakan kehangatan bagi mereka.


Kerja buat Tuhan selalu manise


adalah lagu yang sering dinyanyikan saat melakukan kerja praktis.


Sayur jipang tidak berubah


Tidak berubah.... tidak berubah....


Sayur jipang tidak berubah...


Tak berubah selama-lamanya...


Ini lagu yang sering dinyanyikan bagi mereka yang kerja di dapur dan saat jam makan tiba.


Sayur jipang (Labu Siam) adalah sayur yang sering dimasak. Selain murah juga awet. Oleh karena itu mereka memelintir lagu untuk dijadikan lagu wajib ketika bertepatan dengan menu sayur jipang.


Grace, salah satu orang yang berada di keributan tersebut. Peter, matanya akan terus mengawasi gerak-gerik Grace. Dia tidak akan melepaskan pandangannya pada Grace. Dengan siapa kelompoknya? Dengan siapa dia bergaul? Tidak lepas dari pantauannya. Jika bukan dia yang mengawasi, berarti teman-temannya yang mengawasi.


Seperti ketika berada di kelas satu, saat naik ke kelas dua pun akan tetap menjaga nilainya agar tidak dikalahkan oleh teman-temannya. Dahulu, saingan dia Steve. Tetapi kini Steve sudah pulang ke kampung halamannya.


Masih tetap sama juga mengenai Motto atau komitmen Grace. 'Saat teman-temannya meningkatkan kualitas diri dalam belajar maka Grace akan melakukan lebih dari itu. Begitu juga sebaliknya, jika mereka santai maka Grace juga akan santai'.


Sebelum Steve pergi, Grace menyempatkan diri untuk bertemu dengannya yang akan kembali ke kampungnya. Tidak tahu apa yang dibenak Grace saat itu. Grace mencium punggung tangannya. Suatu hal yang konyol bagi Grace.


Setelah melepaskan kepergian Steve, Grace kembali ke kelasnya. Grace tidak ingin melewatkan semua pelajaran meskipun ada pelajaran yang tidak ia sukai. Ia akan tetap berusaha semampunya.


Grace suka duduk di belakang. Kalau di belakang, dia bisa sambil bercanda dengan teman-temannya. Aci. Grace suka mengganggu dia. Dia tipe orang yang pemalu. Inilah yang menjadi senjata ampuh Grace untuk menggoda Aci. Grace menggoda Aci bukan karena memiliki perasaan 'sayang' kepada dia. Hanya saja Grace suka iseng mengganggu orang pemalu seperti Aci yang adalah laki-laki. Aci sebenarnya memiliki postur tubuh yang bagus, tampan dan kulit yang agak bersih. Sebenarnya dengan yang dimiliki Aci, bisa menjadi modal untuk bersikap percaya diri. Tetapi ini justru sebaliknya.


"Masa laki-laki pemalu." itu yang dibenak Grace. Apalagi Aci juga suka duduk di belakang. Itu mempermudah Grace untuk melancarkan aksinya.


"Husttt... hust... suit.... suit..." goda Grace yang dibalas Aci dengan senyuman tersipu malu.


"Aci...." panggil Grace menggoda sambil mengedipkan matanya yang hanya dibalas senyum lagi.


"Aci..... I love you." Aci tetap saja hanya tersenyum dan dibalas teman-temannya dengan geleng-geleng kepala.


"Grace....!" panggilan dari arah depan. Guru PPKn yang cantik dan imut. Namanya Bu Angel


"Ya Bu." jawab Grace.


"Kamu itu ya.... gangguin orang yang belajar. Siapa nama kamu?" tanya Bu guru.


"ACI Bu..." jawab serentak semua murid.


"AciG...?" kata Bu Angel.


"Aci Bu" jawab serentak lagi.


"AciG.... Aci cinta Grace." canda Bu Angel yang dibalas dengan gelak tawa murid-murid.


"Ayo fokus Grace." pinta Bu Angel.


"Sudah selesai Bu." jawab Grace.


"Pantesan kamu gangguin orang." sahut Bu Angel sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah kelas selesai, semua pada heboh menanggapi apa yang sudah Grace lakukan kepada Aci. Kehebohan itu sampai di kamar mereka. Dan mereka satu kamar dengan Peter. Apa yang mereka bicarakan mengenai Grace, Peter sering mendengarnya. Yang membuat Peter menjadi geram.


Meskipun geram, Peter tidak berhak untuk berbuat apa-apa kepada Grace. Apalagi Peter belum mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Sore itu Grace sedang duduk-duduk di kelas. Tiba-tiba terdengar langkah yang menuju ke arah Grace. Grace bersikap biasa saja karena memang Grace tidak memiliki perasaan apapun terhadap Peter.


Peter mengambil secarik kertas dan menuliskan kata 'I love you'. Tetapi kata-kata yang sering disukai oleh semua pasangan itu, tidak membuat jantung Grace berdetak kencang. Sikap Grace biasa saja. Grace berpikir kata-kata itu hanya sekedar coret-coretan saja.


Seperti biasa, Grace membuat keributan yang membuat Peter merasa terhibur atas ulahnya. Memang kalau sudah sore, keributan selalu terdengar dari segala penjuru.


Suara gitar yang mengiringi lantunan-lantunan lagu disertai dengan suara pukulan seng yang adalah tempat sampah sudah memenuhi tempat itu. Suara canda tawa tidak kalah besar dengan suara nyanyian. Ah, ribut sekali.


Beberapa orang diantaranya ada yang sekedar jalan-jalan ke Sungai. Tempat yang murah dan menyenangkan meskipun harus menempuh perjalanan selama 30 menit dengan berjalan kaki. Tidak terkecuali dengan Grace. Mereka senang duduk-duduk di pinggir sungai sambil melihat orang yang mengambil pasir, orang mancing dan anak-anak kecil yang sekedar bermain air. Sesekali mereka menikmati buah kersen yang menaungi mereka dari teriknya matahari. Sesekali mereka juga duduk-duduk di atas pohon kersen tersebut sambil membaringkan tubuhnya dan menatap ke langit yang disuguhkan dengan burung-burung beterbangan.


1 jam sampai 2 jam mereka menikmati suasana sungai. Semilir angin menyejukkan dan memberantakkan rambut mereka yang rapi dari asrama. Seketika rasa penat dan rindu kampung halaman terbang bersama angin dan terbawa arus air sungai itu.


Sungai bagaikan sorga bagi mereka. Tempat untuk curhat, tempat untuk refreshing dan tempat untuk memadukan rasa kasih sayang bagi pasangan. Tempat itu adalah salah satu saksi bisu bagi mereka yang sedang kasmaran.


Jika langit sudah menunjukkan warna merah keemasan, itu tandanya mereka harus pulang karena gelap segera tiba. Mereka akan sampai pas pada jam makan malam. Jika terlewat dari jam yang ditentukan, maka tidak ada lagi bagian dari mereka meskipun makan makanan sederhana tetapi tetap ditunggu.


Saat jam ibadah tiba, satu per satu mulai meninggalkan kenyamanan mereka. Tidak terkecuali Grace. Biasanya Grace akan mengambil tempat duduk jejeran paling belakang supaya bisa bercanda di belakang dan melihat semua anggota asrama. Sedangkan Peter berada di jejeran paling depan.


Dua kepribadian yang bertolak belakang antara Grace dan Peter. Peter senang duduk di depan saat beribadah, orangnya serius dan perfeksionis. Sedangkan Grace, senang duduk bagian belakang, suka bercanda atau cengengesan dan ceroboh.


Selesai kegiatan ibadah, mereka belajar bersama. Tetapi apakah jam belajar itu berlaku bagi Grace? Jawabannya; tidak. Grace berada di tempat belajar tetapi tidak untuk belajar selain berbuat ribut dan heboh. Itulah mengapa Grace suka jika belajar dengan teman-teman dekatnya supaya bisa bercanda.


Grace selalu mengerjakan pekerjaan rumah di kelas sehingga waktu jam belajar, dia tinggal santai-santai. Di dalam kamusnya Grace, dia akan belajar kalau ada PR (lebih tepatnya bukan belajar tapi mengerjakan PR) dan jika ada ulangan.


Malam itu Grace ngobrol dengan Peter. Ngobrol receh ala Grace yang bahkan tidak ada manfaatnya selain untuk membuat orang tertawa.


Sebelum masuk ke kamar, Peter menghentikan langkahnya dan memberikan kertas yang terlipat rapi.


"Apa ini? tanya Grace.


"Surat. Baca aja." balas Peter.


"Aku masuk dulu." ucap Grace yang meninggalkan Peter.


"Oke selamat malam. Balasnya di buku saja. Tidak usah dilepas." yang dibalas dengan anggukan kepala.


Sesampainya di kamar, Grace membuka lipatan kertas itu terheran dan membacanya.


Setelah aku dari ruang belajar, aku mau masuk kamar tetapi langkahku dihentikan oleh Peter. Dia memberikan lipatan kertas. Lalu, aku naik ke tempat tidur dan membuka pelan-pelan kertas itu yang membuatku sedikit terkejut.


Buat yang


Aku sayang


Di arena


Santai


 


"Syalom"


 


Yang kamu pasti okekan, soalnya baru ketemu tadi malam kan, kalau aku sich lagi rindu-rindunya sama kamu.


 


"Aku oke bang. Dan aku belum merasakan apapun terhadapmu." batinku saat membaca suratnya pada paragraf pertama.


 


G yang baik, semenjak Minggu ini pikiranku selalu tertuju padamu. Aku rasa mungkin disebabkan oleh perhatianmu padaku. Kamu begitu baik padaku, perhatian, senyummu kadang membuatku termenung sendiri. G, yang manis saat aku berada di sisimu, aku merasa ada ketenangan, dimana selama ini hal itu sangat jauh dari diriku. Bila aku ngobrol sama kamu, saya merasa ada kedamaian hati, yang saat ini sulit kudapat. Sungguh Minggu ini merupakan Minggu yang sangat berat, susah, sukar, untuk kulalui. Rasanya untuk melewati Minggu ini seperti melewati sebuah jalanan ranjau yang bila salah mengambil keputusan akan berakibat fatal bagi diriku dan sangat beruntung sekali kamu hadir di saat yang tepat, dimana nestapa yang melanda hatiku. Kamu memberi penghiburan bagiku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika tanpa kamu Minggu ini, mungkin bisa jadi "wong gendheng kali".


 


Aku menyimak setiap kata-katanya dan aku merasa bahwa selama ini perlakuanku kepada dia dan orang lain sama saja. Karena aku suka berteman dan bercanda dengan siapa pun. Dia terlalu berlebihan.


 

__ADS_1


G yang baik, terus terang aku sudah jatuh hati padamu. Aku sendiri jadi bingung sendiri. Soal, kamu tahu sendiri kan, kalau aku sudah punya pacar (kamu tahu kan namanya \=> Tina kelas 1 SMU). Karena dia aku hampir jadi gila. Untungnya ada penyelamat yang namanya Grace yang memberi ceria dalam hidupku. Sepertinya aku ingin secepatnya pindah dari sini biar plong rasanya, tinggal disini banyak masalah yang kuhadapi.


 


Sebenarnya aku tidak tahu hubungan mereka berdua sejauh mana. Dan Tina itu siapa aku juga belum kenal. Mengapa pergi selalu menjadi jalan keluar terbaik bagi orang-orang? Mengapa tidak mencoba untuk menghadapi dan menyelesaikan?


  G yang baik selama aku sama dia, bukannya suka yang kudapat. Aku terus terang sangat menyayangi dia, aku takut kehilangan dia tetapi dia itu anak yang lugu, nggak tahu apa-apa, ngobrol sama dia seperti ngobrol sama patung, cueknya bikin sakit hati.


 Kalau emang dia sayang dan takut kehilangan cewek itu, kenapa tidak dibicarakan saja? Selesaikan baik-baik.


 


Waktu aku tanya sama teman-temanku yang mana yang harus kupilih, mereka mengatakan lebih baik pilih yang dewasa ajalah. Jadi jika aku disuruh memilih kamu / dia, tentu aku akan pilih G dong.


Sekarang yang jadi masalah G sudah ada yang punya / belum, kalau sudah punya habis deh aku, kalau belum apa ada blanko nich??? (emangnya mau ngelamar pekerjaan kali ya...?)


 


Oke deh cukup ini dariku nanti sambung lagi, da.....


 


Balas ya yang


 


Aku bingung menanggapinya. Aku bingung mau membalas apa. Memang aku belum punya pacar tapi aku belum bisa membuka hati untuk siapapun. Aku akui kamu tampan, putih dan pintar tapi aku belum mencintaimu.


Lalu aku mengambil buku dan membukanya dibagian tengah. Aku mulai menyusun kata-kata untuk menjawab suratnya. Ballpointku mulai menari-nari di atas kertas.


Shalom,


Terima kasih atas surat yang diberikan untukku. Aku sudah membacanya dan memahaminya. Terima kasih atas pujiannya. Terima kasih kalau aku sudah bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.


Sejujurnya aku belum mengenal Tina tapi aku lihat dia cantik kok dan mengenai pacar, aku belum punya pacar. Aku belum bisa membuka hati untuk siapapun. Aku mau fokus sekolah. Aku tidak mau jika aku bermasalah karena pacaran dan aku dikeluarkan. Niatku kesini sekolah karena orang tuaku tidak mampu.


Terima kasih banyak. Sekian balasan aku...


Tidak banyak balasan surat Peter padaku. Aku menjawab singkat.


Grace POV OFF


Grace menjawab singkat surat Peter karena Grace bingung mau jawab apa.


Keesokan harinya, Grace bertemu dengan Peter dan memberikan surat itu yang masih menempel di buku bagian tengah-tengah.


Peter menerima surat itu dengan senang. Membuka dan menyimaknya.


"Jadi Grace belum punya pacar?" tanya Peter lirih pada diri sendiri.


"Oh aku mengerti maksudnya." lanjutnya.


Setelah menerima surat itu, Peter menganggap bahwa Grace menerima perasaannya padahal Grace tidak menjawab 'iya' untuk jadi pacar Peter. Terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


Apa yang akan terjadi kemudian? Akankah Grace juga menerima anggapan Peter? Atau Grace tetap mengikuti kata hatinya?


*Jika kamu tidak bisa membuat orang lain tertawa, setidaknya jangan membuat orang lain sakit hati, menangis dan putus asa.*


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai readers...


Terima kasih banyak sudah membaca karya saya....


Semoga menginspirasi dan semoga kalian menikmati....


Jika ada typo atau kata-kata yang susah dipahami, mohon koreksinya ya....


Bisa komen di bawah atau masuk ke grup saya....

__ADS_1


Semoga hari kalian menyenangkan...


Mari saling mendukung dalam berkarya....


__ADS_2