IPA

IPA
IPA--14


__ADS_3

"Masa kita disatuin sama X IPA 1 coba," kesal Nurul tiba-tiba sambil mendudukan bokongnya kasar dikursi.


"Maksudnya?" ranya Jera.


"Bu Eja gak masuk, kita disatuin sama kelas X IPA 1 belajar sama Pak Asep," ucap Safitri mewakili.


"Lah, kok gitu? Padahal mah biarin aja freeclass," murung Silmi malas.


"Gw mah biarin aja disatuin, asal jangan diduain," celetuk Keisha sambil menenggelamkan wajahnya diatas lipatan tangan.


"Bisa aja lo nong!" ujar Jera.


Kriiinggg


Suara bel masuk menggema diseluruh gedung sekolah. Anak X IPA 2 juga berbondong-bondong masuk ke dalam kelas. Saling berburu duduk manis dikursinya masing-masing.


"Semuanya ke lab sekarang ya kita belajar disana," teriak Daffa, Sang ketua kelas.


Anak-anak X IPA 2 langsung heboh, mempersiapkan buku dan alat tulis yang akan mereka bawa.


"Buruan dong Ca, tinggal elo nih!" kesal Silmi yang jengah melihat Keisha mempersiapkan alat tulisnya dengan malas.


"Rusuh amat sih. Yaudah sono duluan," ketus Keisha.


Dan benar saja, Silmi, Jera, Nurul, dan Safitri benar-benar meninggalkan Keisha dikelas sendirian. Membuat Keisha menggerutu dan bermonolog kesal sendirian.


"Mereka emang gak peka, emang!" kesal Keisha sambil memeluk buku dan alat tulisnya di dada.


Gadis itu melangkah ke ambang pintu, berjalan dengan sempoyongan sambil sesekali menguap. Baru saja beberapa langkah keluar dari kelas, dia...


Brukkk


Entah Keisha yang tertabrak, entah Keisha yang menabrak. Yang jelas, dia bertubrukan dengan seseorang yang melintas di depannya. Buku dan alat tulis miliknya pun berserakan.


"Kalo jalan pake mata dong!" bentak Keisha sambil memunguti buku dan alat tulis miliknya dilantai.


"Jalan itu pake kaki ****," jawab Rizki lalu melengos meninggalkan Keisha.


Keisha hanya berdecak malas saat tahu siapa yang bertubrukan dengannya tadi.


Keisha ikut berjalan dibelakang Rizki. Mereka hanya berjarak beberapa langkah, namun hanya ada keheningan tanpa saling membuka suara.


Ruangan lab sudah dekat di depan mata, Keisha mempercepat langkahnya untuk mendahului Rizki. Namun yang malah terjadi adalah... dirinya tersangkut di ambang pintu, bersama dengan Rizki.


"Gw duluan yang masuk!" ujar Keisha sambil berusaha mendorong Rizki disampingnya.


"Ogah, gw duluan!" jawab Rizki tak mau kalah.


"Ladies first dong!"


"Gak! Lagian pake acara ngeduluin segala sih."


"Gw duluan ih, ngalah napa."


"Ngalah mulu, makin ngelunjak lo!"


Saking terlalu asik berdebat dan saling mendorong, mereka tak sadar bahwa mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di dalam ruangan lab. Pak Asep yang ikut jengah memperhatikan dua remaja itu akhirnya angkat bicara.


"Hei, niat belajar gak kalian? Malah ribut!" kesal Pak Asep.


"Susah masuknya pak, dia gak mau ngalah!" ucap Keisha sambil melirik Rizki dan mendelik.


"Ribet amat sih. Itu kan ada dua pintu, buka pintu yang sebelah susah amat," teriak Jera.


Keisha dan Rizki langsung mematung. Dan benar saja, ternyata ada dua pintu. Namun yang terbuka memang hanya satu pintu.

__ADS_1


Rizki yang langsung tersadar lebih dulu langsung membuka slot pintu sebelah, lalu menghambur masuk kedalam ruangan lab meninggalkan Keisha.


Brukkk


Kali ini Keisha yang jatuh, tentu saja bersama buku dan alat tulisnya. Dorongan akibat disenggol keras oleh Rizki itu membuat Keisha kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh.


Tawa para murid meledak dan pecah memenuhi ruangan lab yang awalnya hening. Menertawakan Keisha yang tertimpa musibah, lagi.


"Aduhhh." Keisha mengusap-usap pantatnya sambil berjalan kearah teman-temannya.


"Peristiwa yang mengharukan," gumam Safitri.


"Kegiatan lo sial mulu ya Ca," timpal Silmi cekikikan.


"Malu gak, Ca?" tanya Jera yang berada dibangku belakang Silmi, Safitri, dan Keisha.


"Ngga lah," jawab Nurul santai.


"Lah, kenapa?" tanya Silmi sambil berusaha menahan tawanya.


"Diketawain satu angkatan bikin telor pecah aja bisa nahan malunya, apalagi ini yang gak seberapa!" seru Nurul bangga mewakili Keisha.


Jera, Silmi, dan Safitri langsung tertawa. Menikmati lelucon Nurul yang meledek Keisha.


Keisha hanya mendelik, lalu beralih menatap Rizki dengan sinis. Rizki yang merasa diperhatikan itu langsung menoleh, menatap Keisha yang juga sedang menatapnya.


Rizki menyenggol pelan bahu Rangga, membuat Rangga ikut menatap Keisha dan menertawakan Keisha tanpa suara. Keisha semakin naik pitam, melihat dua lelaki diseberang sana menertawakan dirinya.


Pletak


Sebuah penghapus mini mendarat mulus dikepala Rizki. Lemparan sempurna dari Keisha itu membuat Rizki ikut naik pitam hingga bangkit dan menggebrak meja.


Brakk


Tentu saja semua orang disitu langsung menoleh kearah sumber suara, menatap Rizki dengan nafas memburunya.


Bukannya Keisha takut dan malu, tetapi dirinya malah ikut bangkit seraya mengangkat dagunya angkuh. "Apa?!"


"Berani lo sama gw?!" ucap Rizki semakin kesal.


"Berani, sini lo maju!" tantang Keisha.


Rizki terpancing, merasa ditantang oleh gadis yang so pemberani. Namun lengannya lebih dulu ditahan oleh Rangga.


"Udah lah, gak usah kayak bocah," ucap Rangga sambil menahan Rizki.


"Kalian berdua, saya hukum kalian!" sela Pak Asep yang ikut kecipratan emosi.


"Jangan dong pak," rengek Keisha memelas.


"Maju ke depan dan kalian jelaskan kembali materi yang tadi saya terangkan. Kalo bisa, kalian saya maafkan," ujar Pak Asep.


Rizki dan Keisha mau tak mau maju ke depan. Sesudah di depan mereka hanya diam, menatap balik para murid diruangan dengan datar.


"Lo ngomong dong katanya pinter," bisik Keisha kepada Rizki.


"Lo bantuin juga," bisik Rizki balik.


"Kalian buang-buang waktu saja! Sudah keluar, dan selamat berlari keliling lapangan sebanyak 10 putaran," final Pak Asep.


"Jangan dong pak," melas Keisha membujuk lagi.


"Terus kalian mau berapa? Setengah putaran, gitu?" tanya Pak Asep.


"Sekali putaran setengah putaran, bersihkan sel kulit mati dan kotoran. Tar putar diwajah, bilas, multivitamin!" lawak Rizki yang malah menyanyi sambil menggoyangkan pinggulnya.

__ADS_1


"DIAM!" teriak Pak Asep menghentikan tawaan heboh para murid.


"Keluar!" bentak Pak Asep kepada Rizki dan Keisha.


"Elo sih!" seru Keisha sambil mendorong Rizki ke tengah lapangan.


"Kenapa gw? Lo juga!" jawab Rizki.


"Lo yang duluan!"


"So berani banget lo sama gw."


"Gw emang berani, ngapain takut sama lo? Ayo!"


"Emang gw takut sama lo? Ayo berantem!"


"Halah, beraninya sama cewek," ledek Keisha.


"Dasar cewek, bagian diladenin bilang kayak gitu, bagian mau ngalah malah dikatain banci. Cowo emang selalu salah!" pasrah Rizki.


"Emang. Apalagi cowok kayak lo, pantes banget disalahin!"


Rizki tak menjawab lagi Keisha, dia memilih untuk memulai lari daripada tak sengaja memukul mulut rombeng Keisha. Tak lama dari itu, Keisha juga ikut memulai lari.


Dalam sekitar beberapa puluh menit, Rizki beristirahat dipinggir lapangan. Setelah mengerjakan perintah hukuman itu, Rizki duduk sambil sesekali memperhatikan Keisha yang berhenti dengan nafas yang terputus-putus.


Brukk


Keisha tiba-tiba jatuh pingsan di depan mata Rizki. Rizki yang panik itu langsung menghampiri Keisha yang sudah tergeletak dilapang tak jauh darinya.


"Ca, bangun, " ujar Rizki sambil menepuk-nepuk pipi Keisha.


"Bangun, dasar lemah lo!" ledek Rizki berusaha membangunkan, namun Keisha tak kunjung membuka matanya.


Rizki menggendong Keisha dengan khawatir. Berlarian dikoridor sekolah tanpa menjawab pertanyaan dari para guru dan murid yang berpapasan.


Bahkan Rizki menendang keras pintu UKS, lalu membaringkan Keisha di ranjang.


Setelah membaringkan Keisha, Rizki mengacak-acak lemari obat untuk mencari obat yang menurutnya pas.


"Thank you!" Suara cempreng dengan nada ceria itu terdengar jelas di telinga Rizki. Dia memutar tubuhnya ke belakang dan membelakakan matanya saat melihat Keisha berbaring santai seperti dipantai. Bahkan Keisha memejamkan matanya dengan senyum yang menghiasi muka merahnya yang terkena sinar matahari tadi.


"Lo bohongin gw?" tanya Rizki tak percaya.


Bukannya menjawab, Keisha malah membelakangi Rizki.


"Jawab!" bentak Rizki kesal.


Keisha langsung bangkit seraya menatap Rizki dengan kaget, sementara Rizki menatap Keisha dengan dingin.


"Gw udah gak kuat lari. Kalo gw gak pura-pura pingsan lo gabakal mau gendong gw," ujar Keisha.


"Bercanda lo gak lucu, lo pikir gw juga gak capek apa? Gw lari 10 keliling dan bahkan lo cuma 4 keliling. Dan lo malah ngerjain gw? Lo mikir, gw lari-larian sambil gendong lo yang ringannya gak kayak kapas!" bentak Rizki bertubi-tubi.


"Lo kok malah nyindir berat badan gw sih?" sewot Keisha balik.


"Lo masih mikirin yang kayak gituan? Harus lo nyadar. Lo manfaatin gw buat kepentingan lo sendiri dengan keadaan gw yang kayak gini. Egois lo!"


Keisha diam tak berkutik. Mencoba menahan airmata yang sudah menggenang.


"Gw gak suka dibentak!" teriak Keisha histeris dengan airmata yang sudah terjun bebas membasahi pipinya.


Rizki tertawa meremehkan. "Lo pikir gw mau dengan sukarela ngabisin tenaga sama waktu gw buat bentak lo tanpa alasan? Lo pikir juga, emangnya kalo lo yang ada diposisi gw lo gabakal kayak begini? Terus lo pengen gw harus tunduk dan ngikutin semua permainan lo? Sering-sering belajar bersifat dewasa aja deh. Bedain dan tentuin mana keadaan sama waktu yang pas buat main-main."


Keisha diam. Menatap Rizki datar dengan airmata yang terus mengalir.

__ADS_1


Bugh


Rizki memukul tembok disampingnya. Membuat Keisha ikut terlonjak kaget dan semakin kaku. Baru saja Keisha hendak kembali bersuara, namun Rizki sudah pergi sambil membanting pintu UKS yang langsung membuat telinga Keisha berdengung.


__ADS_2