
"Eh, eh, nonton yuk," rengek Keisha manja.
"Kapan?" tanya Silmi.
"Besok."
"Lah, besok gw gak bisa. Mau pacaran sama Hamka. Udah lama gak bucin," ucap Jera sambil menopang kepalanya dengan tangan.
"Kayaknya gw gak bisa. Masa iya Roy lagi sakit tapi gw seneng-seneng," sambung Safitri.
"Kalian gimana?" tanya Keisha sambil menatap Silmi dan Nurul.
"Gw harus jagain rumah. Bokap sama nyokap gw lagi keluar kota," jawab Nurul.
"Rumah kok dijagain. Doi tuh jagain, biar gak lirik sana-sini," balas Keisha ngegas.
"Gak perlu dijagain. Dia kan orangnya dingin. Gw aja susah banget dapetin dia," ucap Nurul yakin.
"Wih, tahan lo sama yang dingin-dingin?"
"Oh tentu dong. Gw kan cemilannya es batu. Es batu khas kutub utara lagi."
"Serah lo dah serah. Mi, lo gimana?" Keisha mengalihkan pandangannya pada Silmi.
"Gak bisa. Duit gw belum cair. Masih beku di dalem es batu Si Nurul," jawab Silmi cengengesan.
"Ah gak asik. Masa iya gw nonton sendiri," ucap Keisha kesal.
"Nanti aja kenapa sih. Harus banget besok gitu?" tanya Silmi ikut kesal.
"Ya gw pengennya besok. Lagi punya duit nih gw, kalo nanti-nanti keburu ilang tuh duit."
"Lah? Gw kira doi doang yang suka ilang-ilangan. Ternyata duit juga bisa," celetuk Nurul dengan nada polos.
"Kenapa sih jadi bahas-bahas doi mulu? Lagian maksud gw tuh ilang dipake buat yang lain. Kalian tau sendiri, kan? Gw kalo punya duit pasti gak awet. Liat tempe goreng dipinggir jalan aja gw khilaf."
"Ya udah nonton aja sendiri. Lo malu keliatan jomblo ya?" ledek Jera sambil mencubit perut Keisha bercanda.
"Aw! Eh denger ya, gw gak pernah malu gw jomblo. Indonesia aja merdeka karena bersatu, bukan berdua," jawab Keisha sombong.
"Ya udah ajak siapa kek. Rizki atau ngga Ricky?" tanya Safitri menyarankan.
"Rizki? Ogah banget gw."
"Kalo gitu... Ricky?" tanya Safitri ragu namun polos.
Silmi, Jera, dan Nurul kompak langsung menatap Safitri dengan sinis. Sementara Keisha malah pura-pura tidak mendengarnya sambil mencorat-coret buku miliknya di halaman paling belakang.
"Mpit..." panggil Silmi, Jera, dan Nurul serempak sambil memberikan tatapan sinis dan peringatan pada Safitri yang baru saja tersadar.
***
__ADS_1
"Hallo?" ucap seseorang dari seberang telepon.
"Dimana?" tanya Keisha to the point.
"Sapa dulu kek, basa-basi kek, apa kek. Tumben langsung to the point gini. Kenapa emang, Ca?"
"Dimana?" tanya Keisha lagi. Gadis itu sedang tidak ingin bercanda dengan Rizki. Dan tujuannya menelepon Rizki adalah mengetahui dimana keberadaan laki-laki itu sekarang.
"Kenapa sih? Kangen?" ledek Rizki. Terdengar suara tawa kecil dari seberang telepon.
"Dimana?" tanya Keisha kesekian kalinya. Nadanya benar-benar dingin dan cuek. Keisha tak ingin semakin menaruh hati pada Rizki.
"Lo kenapa sih? Kok jadi jutek gini? Lagi badmood?" tanya Rizki yang mulai heran dengan sikap Keisha.
"Tinggal jawab sekarang lo dimana. Susah?" sinis Keisha tak peduli.
"Masih di warung Mak Dinah. Ada apa?" tanya Rizki. Nada laki-laki itu sekarang berubah menjadi lebih serius dan tenang.
"Pulang kapan?"
"Bentar lagi juga pulang."
Tut. Keisha langsung mematikan sambungan teleponnya. Tidak menjawab ataupun mendengarkan lebih lama ucapan Rizki.
***
"Eh gw balik duluan ya," pamit Rizki pada anak-anak penghuni warung Mak Dinah.
"Gak apa-apa. Mau pulang dulu aja gw, capek."
Mesya mengangguk mengiyakan. Lalu Rizki kembali menatap beberapa temannya yang lain, mengangguk dan pamit pulang. Rizki memutar tubuhnya, berjalan keluar dari warung Mak Dinah dan menghampiri motornya yang tak jauh dari warung.
Laki-laki itu berpikir sepanjang perjalanan. Jika nada Keisha sudah benar-benar serius seperti ini, pasti ada hal yang bisa terbilang penting. Rizki mengarahkan tujuannya pada rumah Keisha. Tanpa berniat menyimpan ataupun mengganti seragamnya lebih dulu ke rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Rizki sambil mencium tangan Yanti.
"Eh Iki? Tumben. Ada apa?" tanya Yanti.
"Mau ketemu sama Eca. Ada, Tan?"
"Oh, ada kok. Dia lagi dikamarnya. Kesana aja, paling lagi nonton tv atau ngga main hp doang," suruh Yanti mempersilahkan.
"Ya udah Iki keatas dulu ya, Tan."
Rizki mengangguk sopan lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar Keisha yang berada dilantai 2.
Rizki mengintip sedikit pada pintu kamar Keisha yang terbuka. Ternyata Keisha sedang fokus memainkan ponselnya diatas kasur. Tanpa permisi ataupun izin masuk, Rizki menyelonong masuk.
Laki-laki itu langsung menjatuhkan diri di kasur Keisha dan menjadikan paha Keisha sebagai bantalnya sementara.
"Ca," panggil Rizki.
__ADS_1
Keisha menatap Rizki sekilas, lalu mengalihkan lagi pandangannya pada ponsel.
"Udah mandi lo? Wangi," ucap Rizki basa-basi.
"Ca," panggil Rizki lagi. Laki-laki itu menatap Keisha sekilas yang tampak tak merasa terganggu, lalu menatap lagi langit-langit kamar milik Keisha.
"Lo kok gak marah sih? Biasanya lo marah kalo gw ngacak-acak kasur lo. Apalagi kalo gw belom ganti seragam gw, biasanya lo gak mau deket-deket gw yang masih bau asem, apalagi lo udah mandi."
Keisha tetap tak menjawab. Rizki yang merasa kesal karena sedari tadi seperti tak dianggap itu akhirnya merebut ponsel Keisha dan menyembunyikannya di dekapannya.
"Iya sorry. Mana?" tanya Keisha menagih.
"Mana apaan? Main nanya mana mana aja lo. Dari tadi gw ngomong aja gak lo dengerin," ucap Rizki kesal. Laki-laki itu bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Hutang."
"Hutang apaan?" tanya Rizki pura-pura tak mengerti.
"Bekas makan di restoran kemarin malem. Mana? Lo belum bayar."
"Ya lagian kemarin gw mau bayar. Tapi lo udah tidur."
"Ya terus? Jadi lo nggak akan bayar gitu?" tanya Keisha menyindir.
"Kayaknya sih gitu," jawab Rizki polos.
"Enak aja lo. Mana duitnya?"
"Buat apa sih? Mau nonton konser blackpink?"
"Gak usah kepo. Itu duit gw juga, kan? Ya terserah gw buat apaan. Yang penting lo balikin sekarang."
"Ya udah sih, santai aja kali. Kenapa sih? Lo lagi badmood ya? Jutek banget," goda Rizki sembari mencolek pipi Keisha gemas.
Keisha langsung melotot tajam. Mendorong Rizki hingga Rizki terhuyung ke belakang. Dan hasilnya, Rizki terjatuh ke lantai.
Brukk
"Akhhh sakittt, Ca," ringis Rizki sembari mengusap-usap pantatnya.
"Bodoamat," balas Keisha ketus.
"Gak asik lo. Gw kan niat hibur lo. Yaudah nih, gw mau pulang dulu. Mati gw kalo diem disini. Diterkam harimau betina," ucap Rizki mengalah. Laki-laki itu memberikan Keisha tujuh ratus ribu rupiah.
"Gak perlu so-soan ngasih duit. Nih, gw gak butuh duit tambahan lagi." Keisha mengembalikan uang dua ratus rupiah pada Rizki. Rizki menatap Keisha kesal dengan bibir maju. Keisha yang melihat itu langsung bangkit dan mendorong Rizki hingga keluar kamarnya.
"Eh eh, Ca. Pelan-pelan ini gw gak seimbang eh, eh, Ca." Rizki kehilangan keseimbangannya. Saat merasa dirinya akan terjatuh lagi, Rizki langsung menyambar dan menarik tangan Keisha membuat Keisha ikut terjatuh dan parahnya lagi, Keisha terjatuh diatas badan Rizki.
Keduanya saling menatap. Saling tukar menukar pandangan canggung bercampur gugup. Keisha bisa merasakan. Merasakan detakan jantung Rizki yang berdegup dengan cepat. Keisha juga merasakan, merasakan Rizki yang bersusah payah menelan salivanya kasar saat beberapa detik yang lalu.
"Apaan sih!" ketus Keisha kesal. Keisha segera bangkit. Masuk ke dalam kamarnya lagi dan menutup pintunya dengan keras. Meninggalkan Rizki yang masih belum beranjak dari lantai diluar.
__ADS_1