
"Bangsatttt!!!"
"Rizki! Ricky! Keisha!" Elisa berteriak panik seraya berlari kearah ketiga orang itu.
Keisha menutup mulutnya tak percaya. Melangkah mundur memperhatikan Rizki yang memukul Ricky tanpa ampun.
"Rizki, Udah bego! Udah!" teriak Elisa berusaha menahan dan menenangkan Rizki.
"Arrgghhh, diem lo!" Rizki mendorong Elisa hingga gadis itu terjatuh kebelakang.
" lo! ! Ternyata lo yang bikin Keisha hampir mati. Brengsek lo!!!" Rizki berteriak kencang di depan wajah Ricky. Memukul semua bagian perut dan wajah Ricky tanpa sadar.
Rizki bangkit sambil menarik kerah baju Ricky. Membuat Ricky bangkit dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Gila lo!" desis Rizki tajam. Rizki mendorong dan menjatuhkan tubuh Ricky yang sudah kehabisan tenaga. Tanpa perlawanan dari Ricky, Rizki kembali memukul bagian perut dan pipi Ricky.
"Rencana...gw...gagal," lirih Ricky disela-sela pukulan Rizki.
Rizki menghentikan pukulannya. Menatap Ricky dengan penuh kebencian. Rizki mendekatkan telinganya pada mulut Ricky. Berusaha mendengar jelas suara Ricky yang semakin tak terdengar.
"Gw gagal nyelakain lo. Gw...gw malah nyakitin Keisha. Gw...gw benci lo baik-baik aja. Gw benci diri gw yang gagal jalanin misi diri gw buat nyelakain lo." Ricky tersenyum sinis. Tanpa ringisan yang bahkan tak keluar dari mulutnya, lelaki itu masih bisa tertawa kecil membalas tatapan membunuh dari Rizki.
Bugh
Rizki memukul wajah Ricky. Pukulan berikutnya terhenti di udara atas perintah seseorang yang ternyata mampu mengendalikan dirinya.
"Stop!"
Dengan wajah yang basah dan becek karena airmata, Keisha duduk disamping Ricky yang terbaring di atas pasir lembut bisu saksi atas semua kejadian saat ini.
Keisha mengusap darah yang mengalir dari hidung dan ujung bibir Ricky. Membuat Ricky tersenyum tipis dan membuat Rizki semakin marah.
"Sadar, Ca. Sadar! Dia yang bikin lo hampir mati." Rizki menghempaskan tangan Keisha dari wajah Ricky.
Keisha menatap Rizki dengan sendu. Membalas tatapan Rizki yang penuh dengan amarah dan kebencian.
"Kenapa lo gak bilang sama gw? Kenapa? Kenapa lo nutupin semuanya dari gw? Kenapa?!" bentak Rizki kesal.
Keisha memejamkan matanya sekejap. Senyum samar yang hampir tak terlihat itu masih mampu Rizki tangkap. "Gw gak mau dia kenapa-kenapa karena lo."
Rizki menegang. Tubuhnya kaku mendapat jawaban tak terduga dari Keisha. Apa maksud dari semua ini? Rizki benar-benar tidak mengerti. Dia menelan semuanya dengan sekaligus tanpa pertanda.
Rizki bangkit. Menatap Ricky dan Keisha secara bergantian. "Lo kenapa sih? Lo sadar gak? Dia yang nyakitin lo. Kenapa respon lo kayak gitu? Dia nyelakain lo. Brengsek!"
__ADS_1
Keisha tertawa. Menatap Rizki dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gw tau dia salah. Gw tau. Lo tau kenapa gw bersikap kayak gini? Gw berusaha ngelindungin Ricky dari amarah lo. Selama ini Ricky yang selalu lindungin gw. Lo gak tau itu, kan? Dia bukan mau nyakitin gw. Dia mau nyakitin lo. Karena apa? Karena lo nyakitin gw. Dan satu lagi, lo bilang dia brengsek? Lo bahkan lebih brengsek dari Ricky. Lo mainin perasaan gw, lo nyakitin hati gw, lo bikin gw sakit sendirian. Sementara Ricky? Dia selalu ada buat gw tanpa gw tau kalo dia ada."
Rizki diam. Menatap Keisha yang mulai kembali mengusap darah yang mengalir dari hidung Ricky. Otaknya berpikir keras. Namun pikirannya melayang entah kemana.
"Uhuk uhuk." Ricky terbatuk. Membuat Keisha semakin panik dan khawatir.
"Ri? Lo udah gak kuat? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" tanya Keisha lembut pada Ricky.
Ricky menggeleng. Namun Keisha tetap berusaha menarik Ricky untuk berusaha bangun. Ricky duduk atas bantuan tenaga dari Keisha. Laki-laki itu membungkuk, membiarkan Keisha lebih leluasa membersihkan pasir yang mengotori bajunya.
"Gw udah telepon pihak rumah sakit. Sebentar lagi paling ambulan dateng," ucap Elisa yang mulai bersuara setelah sedari tadi hanya mampu diam.
Keisha mengangguk pada Elisa. Dan benar saja, tak lama dari itu, suara khas mobil ambulan datang. Para petugasnya membawa tandu ke arah Ricky dan membawa laki-laki itu ke dalam mobil.
Keisha bangkit. Menerima uluran tangan Elisa yang mengajaknya ikut masuk ke dalam mobil ambulan.
"Keisha," panggil Rizki.
Keisha dan Elisa berhenti sejenak. Keduanya memutar tubuh lagi dan menatap Rizki.
"Gw... sayang sama lo."
Keisha tersenyum getir. Setelah mampu memberikan senyumnya pada Rizki, Keisha berbalik lagi. Meninggalkan Rizki sendirian di bibir pantai dan menemani Ricky yang sudah terbaring lemas di depan sana.
"Mama?" gumam Keisha.
Yanti datang bersama Erika. Berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Keisha dan Elisa yang sedang duduk menunggu Ricky.
"Eca? Eca gak apa-apa, kan?" tanya Yanti khawatir.
"Eca gak apa-apa, Ma," jawab Keisha meyakinkan Yanti.
"Keadaan kakak kelas kamu gimana?" tanya Erika sembari menyentuh bahu Keisha dengan lembut.
"Gak apa-apa kok. Tante sama mama... tau?" tanya Keisha ragu.
"Tau. Iki cerita semuanya," jawab Erika tersenyum geli.
"Iki sekarang dimana?"
"Tadi pulang ngabarin dan cerita dulu ke tante sama mama kamu. Tapi pas kita mau pergi kesini, dia juga ikut pergi. Tapi gak tau kemana, tante gak banyak nanya. Tante ngerti, Iki pasti lagi butuh waktu sendiri. Lagi galau kayaknya," ucap Yanti sembari terkekeh.
"Ih tante..." jawab Keisha malu-malu.
__ADS_1
"Nih mama bawain baju ganti. Ganti dulu sana, udah malem gini kamu masih pake baju seragam." Erika memberikan totebag yang berisi baju bebas milik Keisha.
Keisha tertawa kecil. "Hehe iya, Ma." Keisha meraih totebag yang disodorkan mamanya, lalu pergi setengah berlari ke arah toilet.
Drrrrtttt .... drrrtttt ...
Keisha berhenti tepat di depan toilet. Merogoh ponselnya yang berada di saku seragam.
"Rangga?" gumam Keisha. Keisha menempelkan ponselnya ke telinga. Sambil menunggu teleponnya tersambung, gadis itu berjalan masuk ke dalam toilet.
"Woy!"
Keisha terlonjak kaget. Untung saja ponselnya tidak terjatuh. Rangga benar-benar membuatnya terkejut setengah mati.
"Buset dah, orang mah salam dulu kek nyapa kek yang lembut. Malah ngegas bambang!" gerutu Keisha kesal.
"Hehehe ya udah iya sorry."
"Hm. Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Elu kenapa?"
"Hah? Gw gak apa-apa kok."
"Dih? Terus ngapain nelpon gw?"
"Mampus bego gw khilaf. Jadi gini, tadi si Rizki dateng ke rumah Matthew. Terus ngajakin gw sama Matthew ngedugem woy! Gw sama Matthew kan aneh gitu ya, terus dia tiba-tiba marah gitu terus pergi. Pas gw kita ikutin, ternyata dia beneran dateng ke club sendirian. Ini gw lagi mantau dia dari jauh. Makanya tadi gw khilaf, cewek sexy dimana-mana, Ca!"
"Terus?"
"Terus? Terus apaan maksud lo?"
"Ya terus lo ngapain nelpon gw?"
"Ohiya. Engga sih. Gw mau nanya aja, dia lagi ada masalah? Atau gimana? Sampe cari pelarian ke club gitu."
"Hm. Kalo ada apa-apa kabarin gw aja ya."
Tut. Keisha mematikan sambungannya sepihak. Tak ingin Rangga lebih bertanya kesana-kemari pada dirinya tentang Rizki.
Keisha menghembuskan nafasnya lelah. Menatap pantulan dirinya di cermin luas yang berada di hadapannya sekarang.
__ADS_1