
"Eca!" panggil Rizki.
Keisha tak menoleh. Bahkan dia malah mempercepat laju motornya dan meninggalkan Rizki. Rizki juga tak mau kalah, dia mempercepat laju motornya dan menyusul Keisha.
Motor Keisha lebih cepat sampai disekolah. Dia memarkirkan motornya buru-buru dan bergegas masuk ke dalam sekolah.
"Keisha!" teriak Rizki dari belakang.
Keisha tetap berjalan cepat. Dirinya ingin sekali berlari, namun dia tidak ingin terlihat sangat menjauhi Rizki. Gadis itu tetap berjalan cepat tanpa menoleh ataupun menjawab panggilan Rizki dibelakang.
"KEISHA TRULLY PURWANDANA!" teriak Rizki kencang.
Keisha langsung diam. Menoleh ke belakang dan menatap Rizki yang berada tak jauh dari dirinya. Dia juga sesekali melirik para murid yang menatap dirinya dan Rizki dengan tatapan aneh.
"Telinga lo flu, huh?" tanya Rizki geram setelah berada tepat di hadapan Keisha.
"Ngga tuh. Mana ada telinga flu," cibir Keisha sinis.
"Terus kenapa dipanggil gak denger?" tanya Rizki lagi kesal.
"Gw denger kok."
"Terus kenapa gak jawab? Malah pura-pura gak denger," ucap Rizki masih dengan nada kesal.
"Penting?" ucap Keisha datar.
"Y-ya ngga juga sih. Tapi gak sopan!" ucap Rizki menekankan.
Keisha mengangguk sambil melipat kedua tangannya di dada. "Makasih, udah ngasih tau gw," ucapnya tetap datar.
Rizki menatap Keisha aneh bercampur bingung.
"Lo kenapa?" tanya Rizki heran.
"Kenapa apanya?"
"Sikap lo aneh. Biasanya juga pecicilan, rempong, heboh, berisik, receh, malu-maluin, biasanya juga lo rusuh. Kenapa jadi so cool gini?" tanya Rizki heran setengah meledek.
"Wah, gitu ya? Bagus dong. Berarti gw bener-bener ngelakuin saran lo kemarin," jawab Keisha sinis.
"Yang mana?"
"Tentang berubah jadi yang lebih baik," bisik Keisha tajam lalu pergi meninggalkan Rizki yang masih terpaku disitu.
"Keisha," panggil Rizki lagi. Keisha tak menjawab, bahkan dia tetap berjalan hingga akhirnya hilang dibelokan.
Kenapa sih dia? Lagi badmood kali ya. Batin Rizki.
***
"Kusut banget tuh muka," ucap Silmi setelah Keisha duduk ditempatnya.
Keisha menyimpan tas miliknya ke atas meja dan menjadikan tas itu menjadi bantal untuk sementara.
"Kenapa sih lo? Mukanya kayak badmood gitu. Udah jelek, makin jelek aja," celetuk Jera menusuk ginjal, eh hati maksudnya.
"Paan sih," sindir Keisha singkat.
"Eh iya, besok Bu Eja gak masuk. Sakit katanya," ujar Safitri memberitahu.
"Bakal ada acara satu kelas lagi dong sama kelas IPA 1," sahut Nurul.
__ADS_1
"Besok berarti jadwal gw bolos," celetuk Keisha lesu.
"Kok bolos? Lo males ketemu Rizki?" tanya Jera curiga.
"Udah tau nanya!" jawab Keisha kesal.
"Eh nyolot lu, gw bilangin emak gw lu jenong," ucap Jera dengan nada tinggi.
"Sono aja. Emak gw yang lawan," balas Keisha percaya diri.
"Ya udah. Pulang sekolah kita cari buat nyewa tempat, Ca," ajak Jera sambil merangkul Keisha.
"Buat apaan?" tanya Nurul pura-pura polos.
"Buat pertandingan emak gw sama emak Si Eca," ucap Jera bangga.
"Gw nanti bikin tiket terus Mpit yang bagiin ya," ucap Silmi sambil menyenggol lengan Safitri pelan. Safitri hanya menanggapi Silmi dengan tatapan malas sambil memutar kedua bolamata malas.
"Gw jadi wasit aja deh," sambung Nurul ikut nimbrung.
"Eh ngapain nyewa tempat? Noh, jidat Eca juga luas!" seru Silmi sambil tersenyum puas tanpa dosa.
"Ujungnya gw lagi yang kena. Sabar Ca sabar," gumam Keisha sambil mengusap dadanya dramatis.
***
Roy menghampiri Keisha yang sedang fokus menonton televisi. Dia duduk disamping Keisha sambil ikut menatap ke arah televisi.
"Kenapa jarang ke rumah?" tanya Roy tanpa menatap Keisha.
Keisha menoleh dan menatap Roy sekilas. Lalu mengarahkan lagi pandangannya pada televisi.
Pletak
Sebuah jitakan dari Roy mendarat dikepala Keisha. Keisha langsung memajukan bibirnya kesal sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang menjadi korban.
"Gw serius. Kenapa lo bercanda?" tanya Roy tetap dengan datar.
"Karena hidup itu banyak rasa bukan banyak gaya," jawab Keisha sambil tersenyum bangga.
Pletak
Roy menjitak lagi kepala Keisha. Membuat Keisha menjadi marah dan kesal.
"Apaan sih bang. Lo pikir gak sakit apa?!" tanya Keisha kesal.
"Bercanda," jawab Roy santai.
"Bercanda tapi kayak gitu. Gak lucu!" ketus Keisha sebal.
"Lucunya gw lagi gak disini."
"Hah? Maksud lo?" tanya Keisha bingung.
"Iya. Lucunya gw lagi gak disini. Lagi dirumahnya," jawab Roy lagi tanpa menatap ke arah Keisha.
"Maksud lo apaan sih? Gw gak ngerti," heran Keisha kebingungan.
"Pacar gw. Udah anak kecil diem aja lo."
"Halah, bucin lo!"
__ADS_1
"Karena hidup itu banyak rasa bukan banyak gaya. Rasa sayang, rasa cinta, rasa suka, rasa rindu, rasa ingin bertemu, rasa ingin selalu di dekatnya. Banyak rasa, kan? Nah kayak gitu rasa gw buat Safitri," ucap Roy panjang lebar.
"Lah? Kok lo malah jadi bacot? Lo curhat?" tanya Keisha heran setengah meledek.
"Iya. Gw curhat. Terus kenapa?" tanya Roy sambil menatap Keisha tajam dengan alis yang terangkat satu.
"Y-ya gak apa-apa sih bang. Ya udah jangan liatin gw kayak gitu dong. Serem," ucap Keisha takut.
Roy kembali menatap televisi. Keisha juga melakukan hal yang sama. Kedua remaja itu hanya diam sambil menonton acara televisi itu, padahal pikiran keduanya sedang melayang entah kemana.
"Tumben lo kesini bang," ucap Keisha memecah keheningan.
"Pengen aja. Gak boleh?" tanya Roy malas.
"Ya nggak juga. Emang salah gw nanya? Kok lo jadi baperan gitu sih!" kesal Keisha dengan nada yang sedikit meninggi.
"Gw juga manusia. Punya rasa punya hati."
"Tuh tuh lo tumben banget nyanyi. Lo kok jadi ngelawak gini sih? Sumpah deh, Ini Bang Roy bukan sih? Perasaan Bang Roy itu kembarannya patung es yang cuek dan gak banyak bacot," ucap Keisha kebingungan.
"Karena benteng es gw udah cair sama kehangatan sinar cinta dari pacar gw. Safitri," jawab Roy tetap dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Gw kok pengen muntah ya liat lo kayak gini?"
"Muntah aja. Gw gak akan ganggu."
"Bodoamat gw gak denger," kesal Keisha bersidekap dada sambil membuang muka yang sudah sangat emosi.
"Bodoamat gw gak peduli," balas Roy tak mau kalah.
Keisha tak membalas. Dia tetap menjauhkan wajahnya agar tak menatap ke arah Roy. Sementara Roy menarik nafas panjang sambil berdecak sebal.
"Ya pengen aja gw kesini. Dirumah sepi," ucap Roy menjawab pertanyaan Keisha tadi.
"Tante, Om, sama Riz--" ucap Keisha menggantung.
"Kok gak diterusin pas bagian nama adek gw?" tanya Roy menyelidik.
"Ng-ngga kok. Emang belom beres aja ngomongnya!" elak Keisha.
"Nyokap bokap gw lagi nengok tante gw. Kalo Rizki tadi keluar sama cewek."
Keisha melotot tak percaya. Menoleh dan menatap Roy dengan wajah kagetnya. Saat Roy balas menatapnya, Keisha langsung mengubah raut wajahnya kembali datar seolah-olah tak peduli.
"Sama siap--" ucap Keisha kembali mengantung.
"Kenapa? Kok gak jadi nanya?" tanya Roy dengan nada datar andalannya.
"Emang gak akan nanya. Tadi keceplosan aja," bantah Keisha.
"Oh gitu ya. Tapi kalo gak salah tadi pergi sama anak kelas 12," ucap Roy tiba-tiba
***
Hallo! Cerita IPA update lagi hehe.
Maaf ya baru up :(
Soalnya dari kemarin tuh sibuk banget pliss :(:
See you! Jangan lupa like dan komennya yaaaaa
__ADS_1