IPA

IPA
IPA--33


__ADS_3

Keisha tersenyum kecut. Menatap Rizki yang semakin hari semakin dekat dengan wanita. Kakak kelas yang menjadi musuh bebuyutan Keisha semenjak bolos bersama Rizki. Mesya. Ya, Rizki kembali dekat dengan Mesya.


"Ekhem Itu matanya gak usah ngikutin dua orang itu napa," sindir Nurul saat memperhatikan Keisha yang menatap Rizki dan Mesya terus-menerus.


"Iya nih. Kayaknya ada yang cemburu," ucap Silmi ikut mengompori.


"Cemburu tanda cinta.. Marah tandanya sayang..." sambung Jera sambil membawakan sebuah lagu pop indonesia.


"Gw gak cemburu," bantah Keisha kesal.


"Terus?" tanya Safitri menggoda.


"Gw tuh gak suka aja. Gw kesel, gw benci, gw jijik. Kemaren mereka nganggap satu sama lain musuh. Sekarang apa? Buktinya mereka malah jadi deket lagi. Terus, maksud Rizki kemarin bilang suka ke gw tapi TOD apaan? Dia latihan buat nembak Si cabe-cabean itu? Terus gw dijadiin pelampiasan dia, gitu?" ucap Keisha kesal.


"Ya mana gw tau. Tanya sendiri sono!" suruh Jera menantang.


"Dih, ogah banget. Gak penting!" balas Keisha menolak.


"Kalo gak penting ngapain dipikirin," sahut Safitri menyindir.


Keisha semakin kesal. Ditambah melihat Rizki dan Mesya duduk dibangku tak jauh darinya sambil memakan pesanan makanan mereka bersama.


"Bodoamat. Gw kesel!" desis Keisha tajam.


"Woy! Kenapa lo? Marah-marah gitu kayak habis gagal ngejar tukang cendol," ucap Rangga yang kebetulan melewati meja Keisha dan teman-temannya.


Rangga duduk disebelah Keisha sambil menyimpan makanan menu istirahatnya kali ini di meja.


"Kenapa dia?" tanya Rangga kepada yang lainnya.


Silmi, Nurul, Jera, dan Safitri hanya menggendikkan bahu acuh tak acuh. Lalu Rangga kembali menatap Keisha dan mengikuti arah pandang Keisha. Pandangannya berhenti disebuah meja yang diisi Rizki dan Mesya.


"Cemburu?" tanya Rangga tanpa menatap Keisha.


"Ngapain lo disini?!" bentak Keisha. Rangga yang baru saja menelan suapan pertamanya itu langsung tersedak.


"Uhuk uhuk uhuk," batuk Rangga yang langsung tersedak.


Silmi dan Nurul membantu Rangga sambil memberikan minum. Sementara Keisha malah mendelik kesal tanpa berniat membantu.


"Thanks ye," ucap Rangga setelah batuknya mereda. Laki-laki itu menoleh dan menatap Keisha dengan tajam.


"Kalo lo benci sama Rizki ya benci aja sama dia, gak usah lo jadi benci juga ke gw. Gw yang gak tau apa-apa dan gak ikut campur ngelakuin apa-apa malah jadi kena kayak gini. Kenapa? Lo kayak gini ke gw gara-gara gw temen deketnya Rizki?" ucap Rangga menceramahi Keisha panjang lebar.


"Iya. Gak usah ngelampiasin amarah lo ke orang lain," sahut Safitri ikut mengingatkan.


"Maaf. Kebawa emosi," ucap Keisha dengan nada yang masih kesal.

__ADS_1


"Ganggu gw makan aja. Untung gw gak baperan nyet!" sarkas Rangga sambil melanjutkan lagi makannya yang tertunda.


***


"Assalamualaikum," ucap Keisha sambil berjalan ke dalam rumahnya.


"ASSALAMUALAIKUM MAMA! ECA CANTIK PULANG," teriaknya lagi lebih keras.


Tetap tak ada jawaban. Yanti juga tak kunjung datang. Sepertinya dirumahnya tidak ada siapa-siapa. Keisha melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Ca," panggil seseorang dari belakang.


Keisha yang sudah berada ditengah-tengah tangga itu menoleh dan melihat siapa yang memanggil dirinya.


"Disuruh nyokap lo ke rumah gw," ucap Rizki saat Keisha sudah menoleh kepada dirinya.


Keisha membuang muka dan kembali menatap ke depan sambil naik dan melanjutkan langkahnya ke anak tangga berikutnya.


"Males. Gw capek."


"Nyokap lo yang nyuruh. Dia lagi dirumah gw," ucap Rizki lagi berusaha membujuk.


"Gw capek. Mau istirahat," tolak Keisha lagi.


"Dia nyokap lo, Ca. Masa perintah nyokap lo gak lo lakuin? Lo harus nurut," ucap Rizki mengingatkan.


Keisha sudah di anak tangga terakhir. Saat sudah sampai dilantai 2, Keisha langsung bergegas menuju ke kamarnya.


Keisha masuk ke dalam kamarnya dengan kesal. Membanting tubuhnya ke kasur sambil menatap langit-langit atap dengan perasaan emosi.


Tak lama kemudian, ponsel disakunya berbunyi. Membuat Keisha spontan mengambil ponsel yang bergetar itu di sakunya.


"Eca, sini dulu kenapa sih ke rumah Iki." ucap Yanti diseberang telepon.


"Males ah. Baru pulang. Capek."


"Eca sayang yang cantik yang lucu yang imut. Sini dulu ya, bantuin mama kesini." ucap Yanti dengan suara yang yang dilembut-lembutkan.


"Capek ih, Ma," ucap Keisha manja.


"KESINI ATAU BAN MOTOR ECA MAMA COPOTIN DUA-DUANYA?!" ucap Yanti kencang.


"Yaudah iya iya Eca kesana. Eca lompat dari balkon kamar Eca langsung!" balas Keisha kesal lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak.


Gadis itu bangkit dengan keadaan belum sepenuhnya rela. Tapi bagaimanapun dia harus menuruti perintah ibunya itu. Walaupun sikapnya kepada Yanti seperti tadi, dia selalu menuruti dan menyayangi ibunya.


"Ada apa sih, Ma?" tanya Keisha malas sambil duduk lemas di meja makan keluarga Rizki.

__ADS_1


"Nih. Bantuin mama bawa makanan ini ke rumah," ucap Yanti sembari menunjuk beberapa piring yang berisi berbagai macam makanan.


"Buset dah, ini masak buat sekampung? Acara kondangan siapa?" tanya Keisha heran saat melihat begitu banyak makanan yang berjejer.


"Makanya bantuin mama bawa ke rumah. Banyak banget nih," bujuk Yanti.


"Yaudah iya ayo buruan pulang. Eca capek baru pulang," keluh Keisha sambil meraih beberapa piring diatas meja itu.


"Aku pulang dulu ya, Rik. Maaf nih dapurnya jadi berantakan," pamit Yanti seraya terkekeh.


"Tante, pamit pulang dulu ya," ucap Keisha mengikuti.


"Iya," jawab Erika sembari tertawa kecil.


Keisha mengikuti Yanti dibelakang. Sambil membawa piring-piring itu dengan sangat berhati-hati. Saat baru sampai di ruang tengah, suara ponsel seseorang yang tergeletak diatas rak disampingnya itu berbunyi.


Tentu saja Keisha refleks berhenti dan melirik ponsel itu sebentar. Sebuah telepon dari Mesya dan sebuah notif pesan chat dari kakak kelasnya itu terpampang jelas di layar ponsel Rizki.


"Ca, chat sama telepon dari siapa itu di hp gw?" tanya Rizki yang sedang duduk di sofa depan tv.


Keisha langsung tersentak kaget dan berpura-pura tak melihat. Dia melanjutkan langkahnya dan berharap cepat keluar dari rumah itu.


"Woy Ca, Itu siapa yang nelpon gw? Takut hal penting," ucap Rizki.


"Gak tau! Gw gak liat," elak Keisha kesal.


"Lah tadi lo ngintip, kan? Siapa yang nelepon? Apa susahnya jawab sih, lagian tadi lo liat kan," ucap Rizki dengan nada yang mulai meninggi.


Keisha langsung diam. Lalu menoleh kearah Rizki dengan kesal dan marah.


"Nenek lampir!" teriaknya kesal.


"Siapa? Mesya?" tanya Rizki pelan, lebih seperti gumaman.


Keisha tak menjawab. Dia melanjutkan langkahnya dengan harapan terbebas dari suasana itu. Karena keadaan dirinya yang sekarang sedang membawa beberapa piring, akhirnya dirinya tak bisa berjalan cepat apalagi berlari.


"Mesya kali ya?" gumam Rizki lagi, lalu dia melompat dari sofa dan berlari menghampiri ponselnya.


Keisha semakin kesal. Perasaannya bercampur aduk. Bagaimana tidak? Dia merasa sakit saat melihat Rizki yang begitu semangat membalas dan mengangkat telepon dari Mesya.


Dan yang lebih membuatnya sakit adalah saat mengingat chat yang Mesya kirimkan untuk Rizki.


Mesya


Ki, lo dimana?


Sini. Katanya mau kesini lagi.

__ADS_1


Temenin gw.


Notif chat dari Mesya di ponsel Rizki itu begitu menganggu pikirannya. Rasanya sakit sekali, dadanya sesak entah kenapa. Pesan itu terngiang-ngiang dipikirannya. Membuat dirinya ingin menangis dan berdiam diri ditempat yang gelap.


__ADS_2