IPA

IPA
IPA--47


__ADS_3

Rizki mengusap rambut Keisha. Menatap gadis itu yang masih tertidur di kamarnya dengan perasaan yang campur aduk.


Keisha terlihat bergerak. Rizki segera menghentikan aktivitasnya, menjauhkan tangannya dari kepala Keisha. Mata gadis itu perlahan terbuka, pandangannya langsung tertuju pada wajah Rizki membuat Rizki menjadi merasa malu dan canggung di waktu yang bersamaan.


"Udah baikan?" tanya Rizki. Berusaha menyingkirkan suasana yang terasa sangat awkard.


Keisha mengangguk pelan. Pandangan gadis itu teralihkan. Menatap ke arah jendela kamar Rizki dengan sendu.


"Ngapain disini?" tanya Keisha lemas. Suara serak khas orang bangun tidur itu membuat Rizki berusaha menelan air ludahnya dengan susah payah.


"Ini kamar gw," jawabnya sambil tertawa kecil. Berusaha memancing Keisha marah dan menjawab ketus seperti biasanya.


Keisha kembali menatap Rizki. Menatap laki-laki itu tanpa menyorotkan sebuah senyuman manis sedikitpun. Keisha berusaha bangkit dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Eh lo jangan bangun dulu, lo kan baru bangun. Keadaan lo masih lemah," ucap Rizki berusaha menahan Keisha yang sepertinya ingin pergi dari tempat itu.


"Gw gak lemah," balas Keisha sambil menatap Rizki dengan wajah datar. Rizki menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Merasa kikuk di tatap seperti itu. Keisha tidak pernah menampakkan ekspresi datar seperti saat ini.


"Jangan kemana-mana dulu. Gw pengen ngobrol sebentar."


Keisha bangkit dari kasur Rizki. Membuat Rizki ikut berdiri dan menghalangi Keisha yang hendak berjalan.


"Jangan pulang dulu. Ada yang perlu gw obrolin sama lo," ucapnya lagi.


"Gak perlu berduaan di kamar kayak gini. Gw pengen ke balkon," jawab Keisha tanpa menatap Rizki. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju balkon di kamar Rizki. Sementara Rizki mengikuti Keisha dari belakang.


Keisha duduk di sofa yang tersedia di balkon itu. Rizki malah kembali masuk ke kamar, lalu kembali lagi dengan sebuah selimut tebal. Lelaki itu menutupi badan Keisha dengan selimut yang dia bawa tadi.


Keisha menggeleng pelan. Membereskan kembali selimut yang menempel di tubuhnya dan memberikannya lagi pada Rizki yang duduk tak jauh darinya.


"Pake selimutnya. Udah malem, udaranya dingin." Rizki tak mengambil selimut yang disodorkan Keisha. Mau tak mau, Keisha kembali mendekap selimut itu.


Hening sejenak. Rizki menatap Keisha sekilas. Gadis itu menatap langit malam dengan tatapan kosong. Membuat Rizki menghela nafas panjang.


"Lo kenapa ujan-ujanan? Gw tau, lo ujan-ujanan di taman. Terus lo kedinginan kan gara-gara baju lo basah kayak gitu. Ditambah AC di minimarket sama udara dingin dari lemari pendingin minuman itu bikin lo tambah kedinginan. Lo juga belum makan. Daya tahan tubuh lo jadi lemah."

__ADS_1


Keisha tak menjawab. Tak menyanggah juga ucapan Rizki. Tentu saja, karena semua itu memang benar. Keisha membiarkan dirinya diguyur hujan, sementara dirinya tetap duduk di kursi taman, seolah-olah tak terjadi apapun pada dirinya.


"Ca? Lo denger gak?" tanya Rizki tanpa mengalihkan pandangannya dari bulan dan bintang.


"Hm," sahut Keisha singkat.


"Lo kenapa? Ada masalah?"


Keisha tak menjawab. Tapi matanya memanas. Rasa kecewanya pada Rizki semakin bergejolak. Tanpa dapat menahannya, airmata Keisha meluncur bebas begitu saja di pipinya. Airmatanya mengalir detik itu juga membasahi pipinya yang sedikit mengembung karena udara.


"Ca?" Rizki menoleh ke arah Keisha. Lelaki itu sedikit menyipitkan matanya. Pandangannya menangkap sebutir air yang jatuh dari mata Keisha.


"Lo, nangis?" Keisha tetap tak menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada langit. Sementara airmata itu tetap mengalir dengan deras.


Rizki mendekatkan dirinya pada Keisha. Merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Menyalurkan kehangatan dan kenyamanan untuk Keisha. Airmatanya semakin deras. Tak menyangka hatinya akan selemah ini jika sudah menyangkut urusan Rizki.


Keisha menangis dalam diamnya. Tanpa isakan, Keisha menyenderkan kepalanya pada dada Rizki. Hatinya menjerit, berusaha ingat untuk tidak membalas pelukan Rizki. Usapan serta kecupan lembut di puncak kepala Keisha semakin membuat gadis itu lemah. Tangannya terkepal kuat, menahan rasa sakit yang menyeruak ke dalam dirinya.


"Gw mau pulang..." lirih Keisha.


Rizki mengangguk pelan pada Keisha sambil memberikan senyum hangat yang menenangkan. Rizki memeluk gadis itu lagi sekejap dengan keadaan lebih erat dari sebelumnya. "Gw anterin."


Rizki membungkukkan badannya sambil membelakangi Keisha. Lalu menarik Keisha dengan tangannya agar segera naik ke punggungnya. Keisha yang sedang dalam keadaan tak siap itu tertarik begitu saja. Rizki, laki-laki itu langsung berdiri setelah merasa Keisha bersandar di punggungnya.


Keisha sudah terlalu lelah. Tak mampu berontak dan menolak. Membiarkan Rizki mengantarnya ke rumah dengan cara menggendongnya di belakang. Gadis itu tersenyum miris tanpa sepengetahuan Rizki, merasakan setiap detiknya saat berdua bersama laki-laki itu.


Tanpa pembicaraan, kedua remaja itu sampai dengan cepat di kamar Keisha. Rizki menurunkan Keisha dengan pelan. Menuntun gadis itu untuk berbaring lagi di kasurnya.


"Sekarang tidur ya... Besok, kalo nggak kuat sekolah, gak usah sekolah." Rizki mengusap lembut rambut Keisha.


Keisha menatap Rizki. Tanpa berniat menjawab ucapan lelaki itu, Keisha tersenyum samar.


"Selamat istirahat, princess. Gw sayang sama lo."


Deg

__ADS_1


Keisha payah. Keisha lemah. Lagi dan lagi airmatanya turun tanpa permisi. Membuat airmata itu membasahi daun telinganya.


Rizki menarik nafas lelah. Duduk di kasur Keisha sambil menggenggam erat tangan Keisha. Dia mengecup pelan punggung tangan Keisha. Membuat tubuh Keisha kaku dan tegang.


"Cukup, Ki!" bentak Keisha sambil menarik tangannya. Gadis itu spontan duduk sembari menatap Rizki dengan mata sembap miliknya. Rizki tersentak kaget. Tubuhnya mematung tak mampu bergerak.


"Cukup! Lo jahat, Ki. Lo pikir semua perlakuan lo ke gw selama ini gak bikin tanda buat perasaan gw gitu? Lo gak mikir apa? Sekecil apapun perhatian lo buat gw itu berpengaruh besar. Lo dengan mudah lakuin apapun yang lo mau ke gw, sementara gw? Gw harus nahan perasaan ini, Ki. Gw benci sama lo! Gw berusaha dewasa. Gw berusaha kuat. Gw berusaha nahan. Gw berusaha tegar. Tapi ini udah sifat gw, gw gak bisa. Sekuat apapun gw nutupin semua ini, gw gak bisa, Ki. Jangan bikin gw semakin benci sama lo..."


"Maksud lo apa sih? Gw gak ngerti, Ca."


"Gw butuh waktu sendiri, tanpa kehadiran lo sesaat."


Rizki semakin bingung. Jantungnya berdegup kencang. Apakah Keisha meminta agar dirinya menghilang dalam hidupnya?


"Gw gak ngerti, Ca. Kenapa sih? Maksud lo apa? Lo tau kan gw gak peka sama perasaan oranglain? Plis, jangan gini, Ca. Gw sayang sama lo," ucap Rizki memelas.


Keisha menatap Rizki dengan tak percaya. Tangannya melayang tanpa sadar. Membuat sebuah suara keras menggema di ruangan kamarnya.


Plakkk


Tamparan yang cukup keras itu membuat Rizki diam tak berkutik. Tubuhnya kaku, lidahnya kelu, matanya juga tak mampu berkedip selama beberapa detik. Keisha menamparnya. Rizki benar-benar tak percaya ini akan terjadi.


"Keluar dari kamar gw sekarang!!!" teriak Keisha frustasi. Tangisannya semakin menjadi. Segala umpatan, bahasa kasar, dan sumpah serapah keluar begitu saja dari mulut gadis itu.


Bukannya pergi, Rizki malah mendekap Keisha dengan sangat erat. Membuat Keisha diam dan tak bisa bergerak. Tubuhnya terkunci karena Rizki. Sekuat apapun melawan, tenaga Rizki tentu lebih kuat daripada tenaganya.


Keisha tetap menangis. Walaupun sekarang tubuhnya tak bereaksi. Rizki, laki-laki itu selalu saja tahu bagaimana mengatasi Keisha.


Setelah merasa Keisha lebih tenang, Rizki melepaskan pelukannya. Tanpa suara dan ucapan, laki-laki itu membaringkan Keisha dan menyelimutinya.


Rizki bangkit dari duduknya. Menatap Keisha yang terlihat sangat kacau dan berantakan.


"Pergi..." ucap Keisha pelan.


Rizki melangkah menuju pintu. Meninggalkan Keisha sendirian tanpa pamit ataupun salam perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2