
"Eca biar berangkat bareng papa aja ya. Gak usah bawa motor ke sekolah," ucap Dendra setelah menyelesaikan sarapannya lebih dulu.
"Ngga ah pa. Eca mau bawa motor aja ke sekolah," tolak Keisha tak terima.
"Kalo gak mau yaudah gak usah sekolah," balas Dendra tak mau di bantah.
"Ih papa, Eca udah lama banget gak sekolah. Lagian Eca udah gak apa-apa kok, Eca bisa dan Eca kuat."
"Sehari doang Ca. Nurut kenapa sih," celetuk Yanti yang ikut greget.
"Yaudah iya Eca ngalah," pasrah Keisha lesu.
"Yaudah ayo berangkat. Papa takut kesiangan ke kantor," ajak Dendra sambil berdiri dan merapihkan kemejanya.
"Hm. Eca berangkat dulu, Ma," pamit Keisha sembari mencium tangan Yanti.
***
"Belajar yang bener jangan banyak tingkah," ucap Dendra saat mobilnya sudah berhenti di depan gerbang sekolah Keisha.
"Iya," jawab Keisha lalu keluar dari mobil dengan cepat.
Gadis itu berjalan masuk ke dalam gedung sekolah. Sambil sesekali tersenyum singkat saat mengingat beberapa minggu ini dirinya tak masuk sekolah.
"Gini nih kalo berangkat bareng papa, pasti subuh," gerutu Keisha kesal. Dia berjalan di koridor dengan malas-malasan, padahal tadi gadis itu sepertinya sangat semangat.
Brukk
Seseorang menabrak dirinya dari samping. Sangat kencang sehingga dirinya hampir saja terhuyung dan mendarat di lantai dengan keras.
"Aww," ringis Keisha sambil memegangi perutnya. Merasa sedikit perih di area jahitan perutnya yang sedikit tersenggol.
"Ups. Sakit ya?" tanya Mesya meledek.
"Lo sengaja?!" tanya Keisha kesal.
"Menurut lo gimana?" tanya Mesya balik.
"Mau lo apaan lagi sih?" kesal Keisha berusaha melawan.
"Mau gw? Lo tau lah, mau gw tuh lo makin menderita. Gw pengen orang kayak lo itu menderita. Orang yang gw gak suka dan gw benci," ucap Mesya sinis.
__ADS_1
"Lo licik, dasar nenek lampir!" sarkas Keisha kencang.
Mesya melotot tak terima. Mendekat ke arah Keisha dan menarik rambut Keisha dengan kencang, membuat Keisha harus menahan rasa sakit di kepalanya.
"Gak usah berani macem-macem sama gw. Gw bisa ngelakuin yang lebih parah dari ini dan gw juga bisa bikin lo lebih menderita dari keadaan lo sekarang," bisik Mesya pelan.
"Gw gak akan pernah takut. Dan gw gak akan pernah tunduk walaupun lo terus lakuin hal jahat atau berusaha bikin gw menderita bahkan berusaha bunuh gw," balas Keisha menantang.
Mesya menggeram marah, dia semakin menarik rambut Keisha dengan kuat.
"Lepas!" bentak Ricky sambil menghempaskan tangan Mesya yang sedang menjambak rambut Keisha.
"Gak usah ikut campur lo!" bentak Mesya balik.
"Gw punya hak," jawab Ricky.
Keisha diam. Menatap Ricky dan Mesya yang sedang saling tatap di hadapannya. Namun tatapannya tiba-tiba beralih pada seorang laki-laki diujung koridor. Rizki sedang berjalan santai.
Rizki menatap Keisha dari kejauhan, tatapan kedua remaja itu bertubrukan. Tak menunggu semakin lama, Rizki langsung berlari ke arah Keisha dengan panik. Melihat Keisha dengan rambut yang sangat acak-acakkan ditambah ada Ricky dan Mesya disitu.
"Ada apa ini?" ujar Rizki sambil menggenggam tangan Keisha dengan erat.
Ricky menatap Keisha dan Rizki, lalu pergi meninggalkan mereka ditempat itu tanpa mengucapkan apapun lagi. Sementara Mesya semakin panas melihat Rizki yang sangat perhatian kepada Keisha.
Rizki menatap Mesya dengan bingung. "Lo kenapa sih, Sya? Mesya yang gw kenal gak kayak gini, lo jadi kasar."
Mesya tertawa sambil bersidekap dada. "Mesya kemaren ya kemaren, sekarang ya sekarang. Dan satu lagi, lo bukan temen gw lagi. Gw anggap lo asing atau perlu musuh. Gw benci sama lo Ki, gw benci sama lo dan sama cewek disamping lo itu!" bentak Mesya kencang. Lalu berlari pergi menjauhi Rizki dan Keisha yang terlihat biasa saja.
***
"Eca, lo kenapa? Rambut lo acak-acakan gitu. Sisiran kali ca biar rapi," ucap Silmi saat Keisha duduk dibangkunya dengan lesu.
"Iya Ca, tumben lo gak rapi gitu? Padahal biasanya lo paling utamain penampilan lo," sambung Nurul ikut heran.
"Gw dijambak," jawab Keisha cuek.
"Hah? Di jambak siapa?" tanya Jera kaget.
"Mesya si nenek lampir kelas 12," ucap Keisha sambil menopang kepalanya dengan tangan.
"Lo ada masalah apaan sama dia?" tanya Safitri ikut mewawancarai.
__ADS_1
"Gak tau. Biasalah, cabe-cabean lokal," jawabnya malas.
"Terus tadi lo dibantuin siapa?" tanya Nurul kepo.
"Awalnya dipisahin Ricky, tapi Rizki juga ikut bantu."
"Awalnya lo kenal sama Meysa itu gimana?" Silmi mendekatkan dirinya kepada Keisha dan duduk disebelah gadis itu.
"Waktu bolos ke kantin bareng Rizki. Yang gw cerita kalo si Rizki digodain kakak kelas," ucap Keisha berusaha mengingatkan.
"Oh iya iya," jawab Jera yang lebih dulu ingat.
"Cuma jambak doang? Gak ada acara pukul-pukulan sama tendang-tendangan sampe terbang gitu? Kayak di sinetron gitu loh," celetuk Nurul dengan polos.
"Sini, lo aja gw pukul," sahut Safitri sinis.
"Ogah ah, mending pukul mantan sono. Mantan yang udah sia-siain dan ninggalin kita demi yang lain," jawab Nurul dramatis.
"Gak kuat gw gak kuat sama virus micinnya dia," keluh Silmi sambil menunjuk Nurul dengan tak suka.
"Apa lo Mi? Ngajak ribut? Ayo kita pukulin Si Eca," ajak Nurul semangat.
"Eh, kok jadi gw? Berani lo sama gw? Gw tali lo di pohon mangga pake kawat!" ucap Keisha emosi.
"Ya mangap kan bercanda," jawab Nurul ngalah.
"Mangap mangap aja lo, mulut lo tuh mangap kayak ikan kepanasan di darat," sindir Keisha sambil mendelik.
"Iya panas, kayak liat dia jalan sama yang lain," celetuk Silmi heboh.
"Terserah aja terserah gw pusing," ucap Safitri malas.
"Pusing Mpit? Butuh bahu Bang Roy untuk bersandar? Nanti gw suruh Bang Roy kesini sambil bawa roti buaya," ujar Jera sumringah.
"Eh, Eca juga bucin kan sekarang?" celetuk Silmi menggoda.
"Belum, masih otw," ucap Nurul membetulkan.
"Iya, dia kan udah sering akur sama Rizki. Kayaknya benih-benih cinta mulai tumbuh," goda Jera sambil menaik-turunkan alisnya genit.
"Apaan sih bawa-bawa Iki, udah suttttttttttt gw jadi kepikiran dia," ucap Keisha kesal.
__ADS_1
"CIEEEEEE," goda mereka serempak.