IPA

IPA
IPA--27


__ADS_3

"Siapa yang bikin lo kayak gini?" tanya Rizki.


"Maksudnya?"


"Siapa?" tanya Rizki greget.


Keisha diam sejenak. Wajah gadis itu memerah dan berkeringat. Entah apa yang dia rasakan dan pikirkan, yang jelas itu semua membuat Rizki curiga.


"Gw gak tau," jawab Keisha cepat.


"Loh? Lo pasti liat kan siapa yang ngelakuin ini?"


"Ya, liat lah. Cuma gw emang gak kenal sama muka orang itu. Kayaknya preman kalo nggak begal," jawab Keisha meyakinkan.


Rizki diam sambil menatap Keisha. Membuat Keisha semakin gugup dan salah tingkah.


"Terus kenapa lo gak angkat telepon sama chat dari gw?" tanya Rizki sinis.


"Hp gw kebawa sama Silmi."


"Terus waktu itu lo nelepon gw pake hp siapa?"


"Pake hp premannya," jawab Keisha santai.


"Loh? Kok bisa?" bingung Rizki.


"Hp dia kan jatoh, terus yaudah gw manfaatin buat ngabarin lo."


"Terus waktu gw nyamperin lo kenapa lo sendirian doang. Premannya kemana?"


"D-dia..." gugup Keisha.


"Kenapa? Kok lo gugup gitu?" tanya Rizki mencurigai.


"Dia sembunyi. Dia tau kalo lo pasti dateng buat jemput gw," jawab Keisha pelan.


Rizki menghela nafasnya lelah sambil menyenderkan punggungnya pada kursi.


"Lo capek?" tanya Keisha malu-malu.


"Nggak," elak Rizki.


"Muka lo keliatan capel gitu. Lo mau air kamar mandi gak?" Keisha bertanya dengan polos. Entah polos alami atau buatan, yang jelas itu membuat Rizki langsung duduk tegap dan menatap Keisha dengan kesal.


"Nawarin air minum kek atau makanan kek, lo malah nawarin air kamar mandi," kesal Rizki.


"Ya, kan siapa tau lo mau mandi," jawab Keisha.


"Ngapain juga gw mandi disini, kayak yang gak punya rumah," ucap Rizki sewot.

__ADS_1


"Emang punya?"


"Punya lah. Terus gw selama ini tinggal dimana?" tanya Rizki yang semakin kesal.


"Ya gak tau. Hidup-hidup siapa, kenapa nanya ke gw?"


"Iya sih. Yaudah makanya gak usah ngurusin hidup orang kenapa sih. Dasar netijen," sindir Rizki.


"Gw gak ngurusin hidup lo kok. Emang gw mandiin lo? Emang gw ngasih makan lo? Ngga, kan?"


Rizki bangkit sambil menatap Keisha tajam. "Pusing gw ngomong sama lo tau gak?!"ujar Rizki kesal.


Keisha mendongakkan wajahnya dan menatap Rizki yang kini sedang menatapnya kesal.


"Nggak," jawabnya manja.


"Bodoamat gw gak denger, bodoamat!" kesal Rizki sambil melangkah pergi meninggalkan Keisha.


"Ikiii," panggil Keisha manja.


Rizki berbalik lagi, menatap Keisha yang sekarang mengerucutkan bibirnya sebal kepada dirinya.


"Apa lagi?" tanya Rizki malas.


"Laper," ucap Keisha manja.


"Terus?"


"Kalo laper ya makan, bukan curhat."


"Gak peka banget lo!" jawab Keisha sambil mendelik.


"Gak usah main kode-kode gitu sama gw. To the point langsung bisa gak sih? Jangan minta dimengerti terus, gw susah paham sama perasaan dan kemauan cewek."


"Lo pikir to the point gampang gitu? Ki, jadi cewek tuh susah. Jadi cewek juga harus mikir kalo pengen minta apa-apa ke cowok. Kalo terus-terusan to the point, emang lo gak bakal mikir gw matre gitu? Dikira matre lah, dikira banyak maunya lah, dikira manja lah, dikira morotin lah. Lo gak mikir kesitu apa?" ucap Keisha panjang lebar.


Rizki diam. Menatap Keisha dan membalas tatapan sendu dari gadis itu. Telinganya menyimak dan mendengarkan semua ucapan gadis itu. Dia bingung, kenapa suasananya jadi awkard begini?


Ini apaan sih, kok suasananya jadi kayak gini? Batin Rizki bingung.


Kok kayak malah saling ngungkapin isi hati gini sih? Batin Keisha ikut bingung.


"Mau makan apa?" tanya Rizki mengalihkan pembicaraan.


"Terserah," jawab Keisha malas. Ternyata gadis itu masih kesal.


"Gw gak tau makanan 'terserah' kayak gimana dan beli dimana."


"Bukan itu maksud gw," jelas Keisha semakin kesal.

__ADS_1


"Tuh kan. Salah lagi kan gw? Makanya, to the point langsung," balas Rizki sinis.


Keisha membuang muka sambil bersidekap dada. Menatap tembok diujung ruangan itu dan berharap Rizki cepat pergi. Gadis itu juga merasakan suasana yang tiba-tiba menjadi awkard seperti ini.


"Gw beli makan. Tunggu," final Rizki, lalu pergi meninggalkan Keisha diruangan itu sendirian.


***


"Loh? Itu Ricky? Ngapain dia?" gumam Elisa. Dia menatap Ricky yang sedang duduk ditaman sendirian. Mau tak mau Elisa mengikuti keinginan dirinya untuk menghampiri laki-laki itu.


Elisa berdiri di depan Ricky dan memunggungi laki-laki itu.


"Minggat lo!" bentak Ricky kepada Elisa.


Elisa memutar tubuhnya dan menghadap Ricky. Menatap Ricky dengan sebotol minuman alkohol ditangan Ricky.


"Mabok lo?" tanya Elisa meremehkan.


"Bukan urusan lo!" ucap Ricky kasar.


"Kenapa lo? Lagi ada masalah ya? Atau, Kepikiran sama pujaan hati lo yang sekarang lagi masuk rumah sakit?" tanya Elisa meledek sambil tertawa garing.


"Pergi lo, ganggu orang aja!" bentak Ricky lagi.


"Kasian banget ya princess lo itu masuk rumah sakit. Kenapa gak mati aja sekalian coba?" gumam Elisa. Namun suasana sunyi malam itu membuat taman menjadi sepi, sehingga Ricky dapat mendengar jelas apa yang diucapkan Elisa walaupun dengan nada yang kecil.


"Sebelum dia yang mati, lo dulu yang mati," racau Ricky tak jelas dan kali ini laki-laki itu mulai tertawa tak jelas.


"Haha, gitu ya? Ternyata lo kayak gini? Kirain Ketua OSIS disekolah gw gak kayak gini, ternyata ya gini deh. Hahaha," sindir Elisa semakin menjadi.


"Gw bilang pergi ya pergi. Gak ada kerjaan apa lo? Dateng-dateng langsung komat-kamit aja tuh mulut," balas Ricky sambil meneguk lagi alkohol miliknya.


"Ck, kasian amat sih jadi lo. Lo pasti kayak gini gara-gara pujaan hati lo dijagain sama cowok lain, kan? Pasti Si Keisha sekarang disana lagi mesra-mesraan sama Rizki. Sementara lo disini kayak gini. Gw turut berduka ya," ujar Elisa sambil bersidekap dada dan tertawa kecil.


"PERGI LO!!!" teriak Ricky kencang.


Elisa sedikit tersentak kaget. Namun gadis itu tidak takut sedikitpun. Malah dia semakin tertawa meremehkan menatap Ricky yang tidak menatap dirinya balik.


"Coba aja Si Keisha mati mungkin gw lebih puas," gumam Elisa tersenyum sinis.


Ricky bangkit sambil mengepalkan tangannya kuat. Menatap Elisa dengan tatapan lapar dan mematikan. Pakaian dan rambut yang acak-acakkan serta minuman alkohol yang digenggam Ricky dengan erat membuat penampilan laki-laki itu semakin mengerikan.


Elisa melangkah mundur dan melirik kesana-kemari. Mencari orang atau siapapun yang setidaknya bisa membantu dirinya jika Ricky melakukan sesuatu.


Ricky semakin maju mendekati Elisa. Sementara Elisa diam tempat dan tidak melangkah mundur lagi seperti tadi. Ricky sudah tahu, bahwa sorot mata dirinya telah mengunci Elisa sehingga gadis itu tak mampu melakukan apa-apa.


Ricky berdiri tegap dihadapan Elisa. Wajahnya semakin maju membawa wajah dirinya dan Elisa semakin dekat. Elisa semakin meneguk ludahnya kasar, jantungnya berdegup kencang dan merasa bahwa angin malam itu membuat dirinya malah gerah, tak merasakan kedinginan sedikitpun.


Selama Elisa mengenal Ricky bahkan dekat dengan Ricky, ini pertama kalinya dia melihat Ricky seperti ini. Menjadi sosok bad dan sangat mengerikan. Tidak seperti disekolah yang selalu ramah dan menyenangkan.

__ADS_1


"Pergi atau gw lakuin sesuatu yang bakal bikin lo gila dan tersiksa," bisik Ricky. Tepat di depan wajah Elisa yang sangat dekat dengan dirinya.


__ADS_2