IPA

IPA
IPA--25


__ADS_3

"*Kamu penyebab Eca begini. Tante pikir Iki bisa jagain Eca. Sekarang yang ada malah seperti ini," ucap Yanti sesenggukan.


Rizki hanya diam sambil menatap tubuh Keisha yang terbujur kaku diatas ranjang rumah sakit. Menatap wajah cantik pucat gadis itu yang sekarang tak bisa menatap balik dan berkelahi dengan dirinya seperti biasa. Merasakan betapa perih dan sakit lubuk hatinya saat menatap gadis yang baru saja singgah dihatinya dalam keadaan begini.


Menjadi sosok bodoh yang menjadi salah satu penyebab keadaan Keisha menjadi seperti ini. Keterkejutan dan kelalaian dirinya semalam membuat sebuah masalah yang sangat fatal.


Yanti maju sambil mendekati Keisha yang terlihat tenang dan damai. Tangan Yanti bergetar hebat saat menyentuh tangan Keisha yang terasa dingin menusuk kulit. Dia melepaskan genggaman itu dengan rasa sakit hati yang amat dalam sambil menatap Keisha dengan tak percaya.


"Yang sabar ya, aku tau kamu kuat..." ujar Erika pelan.


Yanti menatap Erika dengan mata sembab itu. "Aku tidak bisa sabar Eri. Kau tahu, kan? Dia anakku satu-satunya! Dan sekarang? aku tak mungkin rela jika harus mengikhlaskan Keisha pergi."


"Tenanglah Yanti, ini sudah takdir. Jangan membebani Keisha seperti ini," ucap Erika seraya mengusap dan menguatkan Yanti.


"Keisha... bangun nak..." lirih Yanti.


"Kamu harus kuat. Aku yakin Keisha tak tega melihatmu seperti ini," bisik Erika.


"Tidak Eri, Tidak. Aku tak akan pernah rela. Dia anakku, dan dia akan selalu ada di dekatku!" teriak Yanti frustasi.


Dokter Edran. Dokter yang menangani Keisha akhirnya angkat bicara dengan berat hati. "Kami turut berduka cita atas meninggalnya Keisha, Bu. Maaf, kami sudah melakukan dan berusaha dengan sebisa kami," ucap Edran pelan.


"TIDAK! BERHENTILAH BERKATA BAHWA ANAKKU SUDAH MATI! DIA MASIH HIDUP DAN AKAN TETAP HIDUP!" teriak Yanti. Setelah berteriak dengan hebat, akhirnya Yanti ambruk dan pingsan.


Rizki menatap Keisha dengan kosong. Namun telinganya mendengar jelas semua suara yang ada diruangan yang dominan putih itu. Bagaikan ditusuk ribuan jarum dan dilempari ratusan batu kerikil, menerima kabar pahit ini membuat dirinya ingin tenggelam dan menyusul Keisha. Si gadis ketus yang selalu memarahi dirinya. Dan gadis galak yang baru saja mengisi tempat dihatinya*.


***

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Edran, dokter tampan itu membuyarkan lamunan Rizki.


Rizki tersadar dari lamunan mengerikan itu dan menatap Edran dengan penuh harapan.


"Bagaimana keadaan Keisha?" tanya Rizki kesekian kalinya.


"Dengarlah. Gadis itu memang kehilangan banyak sekali darah. Namun disini masih cukup banyak stok darah yang dibutuhkan gadis itu," ucap Edran menenangkan Rizki.


Rizki menarik nafasnya perlahan, dan merasakan sedikit rasa lega di dalam dadanya. "Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Rizki berharap.


"Kami akan berusaha. Banyaklah berdoa agar semuanya baik-baik saja." Setelah tersenyum dan sedikit menenangkan Rizki, akhirnya Edran pergi dan meninggalkan Rizki yang masih diam menatap pintu UGD itu dengan pilu.


Sebuah tepukan mendarat di pundak Rizki. "Keadaan Keisha gimana?" tanya Yanti panik.


Rizki berbalik dan menatap Yanti dengan perasaan bersalah yang menumpuk dan membebani pikirannya.


"Masih dalam penanganan dokter tante," ucap Rizki pelan.


"Tante.. maaf," ucap Rizki pelan.


Yanti menatap Rizki dan membawa laki-laki itu duduk dikursi tempat menunggu. Mengusap rambut Rizki dan memberikan senyuman hangat yang menenangkan.


"Gak apa-apa. Tante tau, ini bukan salah Iki. Malah tante harus berterimakasih sama kamu. Selama ini tante tau kalo Iki selalu jagain Eca," ujar Yanti lembut.


Rizki menerbitkan senyumnya perlahan. Membalas senyuman hangat dari Yanti yang berusaha menenangkan dirinya.


"Siapa yang melakukan ini, Rizki?" tanya Erika penasaran.

__ADS_1


Senyum Rizki kembali pudar. Hatinya kembali mendung dan marah lagi. "Rizki... Rizki... Rizki gak tau," jawabnya malu.


"Sudahlah tak apa-apa. Cepat atau lambat semuanya akan terbongkar," ujar Yanti menenangkan.


Rizki tersenyum kecut, lalu kembali menatap pintu UGD itu yang kali ini selalu menyesakkan dada.


***


Brakk


"**** **** ****," umpat orang itu kesal.


Dia menutup pintu kamarnya dengan kencang. Lalu menjatuhkan diri ke atas kasur kesayangannya.


"Kenapa salah sasaran sih?!" gumamnya emosi. Orang itu mengacak-acak rambutnya semakin berantakan. Dia memukul kasur itu dengan kencang hingga dirinya ikut terloncat diatas kasur.


"**** emang **** tuh cewek!" umpatnya semakin kesal.


"Argghhhh," teriak orang itu tak karuan.


Dia menatap kosong langit-langit kamarnya. Dan sebuah senyuman terbit dibibirnya.


"Bodoamat deh. Si Keisha yang kena juga gak apa-apa. Lagian, dia juga sama-sama jadi kategori orang yang gw benci," ujar orang itu cuek.


"Tapi tetep aja, gw gak puas. Seharusnya yang celaka si Rizki. Bukan Keisha. Tapi... yaudah deh," gerutunya terus-menerus.


Orang itu bangkit dari kasurnya. Meraih ponsel miliknya dan membuka galeri. Menatap sebuah foto, yang berisi wajah Keisha dan Rizki.

__ADS_1


Dia menggertakan giginya sambil meremas ponsel miliknya sekuat tenaga.


"Haahhh, makanya, jangan macem-macem sama gw."


__ADS_2