IPA

IPA
IPA--45


__ADS_3

Peristiwa kemarin malam bukan alasan untuknya agar tidak pergi sekolah. Keisha tetap datang untuk sekolah. Tidak peduli dengan warna hitam di bagian bawah matanya dan kelopak matanya yang sekarang menjadi sangat besar.


Keisha tidak malu. Bahkan dia bersyukur, ternyata teman-temannya pun mengerti keadaan dirinya sekarang.


Gadis itu menyembunyikan wajahnya di dalam kedua lipatan tangannya diatas meja. Ditemani dengan usapan halus dari Safitri yang sangat menenangkan dirinya.


Membiarkan dirinya tertidur disepanjang pelajaran tanpa hukuman.


Kriiinggg


"Eca, udah bel pulang. Pulang yuk?" bisik Safitri lembut.


Keisha mengangkat wajahnya. Membalas tatapan khawatir teman-temannya yang ternyata menunggu dirinya terbangun.


"Udah bubar?" tanya Keisha dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Iya. Yuk pulang," ajak Jera sembari mengulurkan tangannya.


Keisha meraihnya. Ikut bangkit dan menyangkutkan tas miliknya di pundak sebelah kanan. Dari awal pelajaran hingga akhir pelajaran, Keisha tak mengeluarkan buku ataupun alat tulis. Sehingga akhirnya dia tidak perlu membereskan barang-barangnya saat hendak pulang.


Keisha tersenyum tipis. Berusaha menghapus rasa khawatir teman-temannya yang waspada pada keadaannya sekarang.


Jera merangkul Keisha dari sebelah kiri, dan disebelah kanan ada Nurul yang juga ikut merangkul Keisha dengan manja.


"Kita mau langsung pulang? Atau mau kemana dulu, gitu? Main atau apa?" tanya Jera mencairkan suasana.


"Iya main yuk? Kemana kek, kita seneng-seneng," sahut Nurul menyetujui ucapan Jera.


"Ca? Mau gak?" tanya Silmi meminta jawaban.


"Kayaknya nggak. Gw lagi pengen istirahat aja dirumah."


"Oh, ya udah deh. Nanti aja mainnya," jawab Nurul mewakili.


"Lo mau langsung pulang, Ca? Bisa nyetir sendiri lo? Atau mau kita anterin?" tawar Safitri ikut berbicara.


"Iya gw langsung pulang. Gak apa-apa, gw bisa sendiri kok. Duluan ya." Keisha melepaskan rangkulan Jera dan Nurul.


Gadis itu tersenyum pada teman-temannya lalu berjalan pergi menghampiri tempat dimana motornya terparkir.


Keisha meraih helm miliknya. Saat hendak memakai helmnya, Keisha menatap ke arah belakang tubuhnya saat sebuah mesin motor yang cukup familiar baginya itu melintas.


Motor sport hitam milik Rizki melintas. Pemilik motor sport hitam itu menatap Keisha juga, saat menyadari seseorang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Ca?" gumam Rizki. Dengan keadaan jarak yang tidak terlalu jauh, Keisha mendengar jelas gumaman Rizki.


Keisha melontarkan senyuman manis miliknya. Dengan mata bengkak dan penampilan yang acak-acakkan, Keisha masih mampu memberikan senyum manisnya untuk Rizki.


Laki-laki itu diam mematung. Sementara Keisha semakin mempercepat kegiatannya mengeluarkan motornya dari parkiran. Menyalakan mesin motornya dan pergi meninggalkan Rizki yang masih diam memperhatikan Keisha ditempat tadi.


***


Tok tok tok


"Eca," panggil Roy dari luar kamar Keisha.


Keisha yang hanya sedang memejamkan matanya sembari mendengarkan musik dari handphonenya itu langsung membuka mata. Berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu untuk seseorang yang sudah di anggap sebagai kakak kandungnya.


Lagi dan lagi Keisha menerbitkan senyum manisnya. Memperlihatkan bahwa dirinya masih bisa tersenyum. Dan berusaha menyingkirkan rasa khawatir yang sudah pasti Roy rasakan.


"Kenapa, Bang?" tanya Keisha pelan.


"Lagi ngapain?" tanya Roy balik.


"Lagi tiduran aja."


"Abang boleh masuk? Abang kangen sama Eca. Abang pengen ngobrol sama Eca."


"Kenapa, Bang?" tanya Keisha heran.


"Kalo ada masalah biasanya cerita sama Abang, kan?"


"Abang udah sembuh? Udah lebih enakan, Bang?" tanya Keisha mengalihkan pembicaraan.


"Eca tau, kan? Abang gak pernah suka kalo ada orang yang ngalihin pembicaraan dari Abang?"


"Eca tau, Bang. Eca nanya doang. Abang udah ngerasa lebih baikan?"


"Ca, dengerin Abang. Abang tau Eca ngalihin pembicaraan dari Abang. Abang pengen serius dulu buat sekarang. Bisa?"


Keisha menundukkan kepalanya. Mengepalkan tangannya dengan kuat sambil berharap airmatanya tidak jatuh lagi.


Roy meraih tangan Keisha. Menggenggamnya dengan lembut membuat kepalan tangan itu perlahan hilang.


"Abang tau?" tanya Keisha serak.


"Tau. Abang tau, Ca. Abang selalu tau bahkan sebelum Eca bilang sama Abang."

__ADS_1


"Bang..." lirih Keisha.


"Abang gak akan bahas tentang kejadian kemarin malem, Ca. Abang cuma bakal bahas tentang Eca yang gak pernah mau ngerti sama perasaan Eca sendiri."


Keisha mendongakkan kepalanya sembari menatap Roy dengan mulutnya maju karena sebal.


"Kok gitu, Bang? Ya gak mungkin dong kalo Eca gak ngerti sama perasaan Eca sendiri," elak Keisha.


"Kalo gitu, kenapa Eca nyembunyiin dan nyimpen semuanya sendirian?"


Keisha kembali menundukkan kepalanya. "Eca... gak bisa cerita, Bang."


"Kenapa? Tapi Eca butuh kan buat cerita sama oranglain?"


Keisha mengangguk lemah. Tangannya terangkat untuk menghapus satu tetes airmata yang tak sengaja meluncur.


"Eca tau kan secueknya cueknya Abang. Abang gak pernah bisa cuek dan ngebiarin Eca dalam keadaan kayak gini?"


Keisha mengangguk lagi.


"Eca lebih milih Abang tau dari oranglain, atau langsung dari Eca sendiri?"


"Dari Eca langsung dong, Bang. Kalo dari oranglain kan belum tentu bener..." jawab Keisha pelan.


"Nah, kalo gitu, kenapa Eca terus-terusan kayak gini? Eca ngerti gak sih? Selama ini Abang selalu bilang kayak gini ke Eca. Tapi Eca gak pernah bisa ngerti. Abang tau Eca susah buat cerita, bukannya Abang gak ngerti sama perasaan Eca. Tapi emang Eca yang selalu nutup diri dan perasaan Eca dari oranglain. Seenggaknya kalo Abang secepatnya tau dari Eca, Abang bisa lebih ngerti dan nemenin Eca. Abang gak suka sama sifat Eca yang kemarin. Eca egois. Kemarin Eca gak tau kan gimana sedihnya Mama sama Papa? Emang Eca pikir Abang juga gak sedih? Emang Eca pikir Abang gak kepikiran? Abang tau, Eca mendem perasaan Eca sendiri biar gak bikin oranglain khawatir, kan? Tapi kalo Eca terus-terusan kayak kemarin yang ada Eca bikin oranglain stres mikirin Eca. Buktinya kemarin Eca kayak gitu, Eca gak denger Mama Yanti nangis terus bujuk-bujuk Eca biar Eca nggak kayak gitu?" ucap Roy panjang lebar.


Keisha diam tak berkutik. Membuat Roy kembali menghela nafas panjang. Roy menyentuh bahu Keisha dan menggoyangkannya pelan. "Eca ngerti maksud Abang?"


Keisha mengangguk.


"Eca juga bisa cerita ke Safitri, kan? Atau ke temen-temen Eca yang lain. Abang tau kok, Abang bisa liat, temen-temen Eca orangnya bisa dipercaya. Abang jamin itu."


Keisha diam. Tak mampu menjawab deretan pertanyaan bertubi-tubi dari Roy.


"Eca. Eca ngerti, kan? Eca paham? Eca tau kan kenapa Abang kayak gini?"


Keisha mengangguk lagi.


"Eca janji?" Roy mengacungkan jari kelingkingnya pada Keisha.


Keisha menyambutnya dengan sukarela. Mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Roy. "Janji, Bang."


"Jangan sedih lagi, Ca. Abang tau ke depannya bakal kayak gimana. Ini yang terakhir."

__ADS_1


__ADS_2