
"Lo jadi nonton?" tanya Silmi pada Keisha.
"Jadi. Lo mau ikut?" tanya Keisha balik.
"Nggak, nanya aja."
"Beneran lo mau sendirian?" tanya Nurul ikut kepo.
"Yaiyalah. Kenapa? Lo mau ikut?" tanya Keisha pada Nurul sambil menggendong tasnya dengan dua tangan.
"Nggak, nanya aja," jawab Nurul cuek.
"Ngebet banget lo. Mau nonton apaan sih?" sambung Jera menyelidik.
"Nonton koki-koki cilik," jawab Keisha asal.
"Masa? Beneran lo? Sehat lo? Kesambet apaan? Dih, sejak kapan mau nonton yang begituan?" sewot Jera sinis.
"Ya nggak lah!" jawab Keisha lebih sewot.
"Yeeeeee, santuy aja bu," seru Silmi, Nurul, dan Jera serempak.
Keisha mendelik kesal. Menghentakkan kakinya ke lantai sambil berusaha meninggalkan teman-temannya jauh di belakang.
"Ca! Ca!" teriak teman-temannya. Keisha lebih mendengar suara Safitri. Dirinya tak ingin membalikkan tubuhnya lagi, bisa saja teman-temannya itu hanya akan menggoda dirinya.
"Keisha!" teriak Safitri lantang.
Keisha langsung memutar tubuhnya. Waspada jika sudah Safitri yang turun tangan. Tanpa menghampiri teman-temannya, Keisha menaikkan salah satu alisnya dari kejauhan.
"Sini!" suruh Safitri. Gadis itu mengatakannya dengan nada datar. Membuat nyali Keisha sedikit menciut, karena Safitri jarang sekali membuat lelucon ataupun memberikan lelucon.
Keisha mendekat. Berjalan pelan dengan hati yang enggan. Mau tak mau dia harus mengikuti perintah Safitri, karena pada dasarnya pun dia sudah kepo terlebih dahulu.
"Apaan?" tanya Keisha pada Safitri.
"Gw ikut," jawab Safitri malas.
"Hah? Ikut?" tanya Keisha heran. Gadis itu mengedarkan pandangannya, menatap kesana-kemari memastikan bahwa Safitri benar-benar berbicara pada dirinya. "Lo ngomong sama gw?"
Pletak
Safitri menjitak kepala Keisha. Membuat Keisha langsung meringis sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang tersakiti.
__ADS_1
"Sakitttt, Mpittt!!!" gerutu Keisha kesal.
"Bagus, Mpit, Bagus," celetuk Silmi.
"Nah gitu dong, Mpit. Maju!" seru Nurul ikut mendukung.
"Hajar terus, Mpit. Hajarrrr!!!" teriak Jera semakin heboh.
Pletak
Pletak
Pletak
Safitri menjitak kepala Silmi, Nurul, dan Jera. Membuat ketiga gadis itu langsung diam tak berkutik sambil menyentuh bagian kepala mereka yang ikut tersakiti.
"****** kalian ******!" ledek Keisha senang.
"Udah diem lo, Ca. Kalian juga, gak usah berisik dan banyak bacot. Gw duluan," ucap Safitri pada ketiga gadis itu, lalu melangkah pergi sambil menggusur Keisha yang terlihat bingung bercampur takut.
"Mpit, mau kemana kita?" tanya Keisha ragu.
"Tanyakan pada peta!" sarkas Safitri sambil melepaskan tas Keisha yang menjadi media dirinya untuk menggusur Keisha.
"Maksudnya? Apa sih, Mpit? Lo gak jelas," balas Keisha malas.
"Lah? Rumah lo kan jauh, Mpit. Males gw nganterin lo."
"Bukan itu maksud gw. Gw mau ke rumah Roy."
"Oh gitu. Ngomong dong dari tadi. Ya udah ayo, kita cus aja langsung ketemu calon suami lo."
Keisha langsung meraih helmnya. Memakai helmnya, lalu duduk di jok motor kesayangannya. Sementara Safitri hanya memutar bola matanya malas sambil ikut duduk di jok motor belakang.
Keisha melajukan motornya dengan keadaan cepat. Entah apa yang ada dipikirannya, sehingga dirinya melajukan motornya dengan kecepatan tidak biasa. Membuat Safitri terus memarahi dirinya selama perjalanan.
"Yuk, turun. Gw juga sekalian mau ikut liat Bang Roy," ajak Keisha sambil melepaskan helm miliknya.
Safitri menurut lalu berjalan mendahului Keisha dengan tergesa-gesa.
"Semangat lo ketemu calon suami!" teriak Keisha menyindir.
Safitri tak memperdulikan Keisha. Gadis itu tetap berjalan lurus menuju kamar Roy.
__ADS_1
Ceklek
Keisha yang tadi mencoba mendahului Safitri itu akhirnya berhasil membuka pintu. Membuat Safitri menjadi berada di belakang tubuhnya.
"Abang!" teriak Keisha pada Roy.
Roy yang sedang menonton televisi itu langsung menatap ke arahnya sambil tersenyum tipis.
"Sini," ucap Roy sembari menyimpan remot tvnya diatas nakas.
Keisha dengan percaya dirinya langsung maju dan menghampiri kasur Roy.
"Bukan lo! Sini, sini, Mpit," sarkas Roy pada Keisha. Keisha melotot tak percaya, gadis itu langsung menghentikan langkahnya dan memperhatikan Safitri yang mendekat ke arah Roy dengan manja.
"Masih demam, hm?" tanya Safitri lembut.
Roy mengangguk sambil tersenyum hangat menatap Safitri dengan jarak dekat.
"Udah makan?" tanya Safitri lagi.
Roy menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya manja dan menggenggam tangan Safitri dengan lembut.
"Makan ya? Aku suapin." Safitri hendak bangkit dari kasur Roy. Namun Roy menahan tangannya dengan mata yang berbinar.
"Nanti aja. Aku belum lapar. Kamu disini ya? Temenin aku."
Safitri menghela nafas pelan sambil kembali duduk dan mengacak-acak rambut Roy dengan gemas. "Iya, aku nemenin kamu. Tapi nanti makan ya?" bujuk Safitri.
Roy mengangguk lagi lalu menarik tangan Safitri dan menciumnya berulang-ulang. Membuat Keisha semakin melotot dan melebarkan matanya tak percaya.
"Nggak, nggak, ini bukan Mpit sama Bang Roy," ucap Keisha tak percaya sambil perlahan mundur dan berusaha keluar dari ruangan itu.
Brukk
Keisha menabrak seseorang dibelakang tubuhnya. Lebih tepatnya, seseorang yang sekarang sedang berada diambang pintu kamar Roy.
"Jalan tuh maju, bukan mundur!" kesal Rizki sambil mencubit pipi Keisha gemas.
"Aww! Ya udah iya maaf. Lagian gw jalan mundur juga gara-gara mereka tuh! Ngebucin aja terus, serasa dunia milik berdua!" ucap Keisha kesal panjang lebar. Gadis itu tak mau lebih lama lagi berada disitu. Lalu berjalan keluar dari kamar Roy dengan muka yang cemberut.
"Eh, mau kemana? Buru-buru amat," goda Rizki sembari menahan tangan kiri Keisha.
"Apaan sih, Ki? Udah lepas. Gw masih ada urusan!" bentak Keisha kesal. Keisha tiba-tiba menjadi emosi. Merasakan gejolak amarah di dalam dirinya. Bukan karena Safitri dan Roy. Melainkan karena melihat wajah Rizki yang terlihat lebih segar ditambah keadaan rambut Rizki yang masih bercucuran air. Menandakan bahwa laki-laki itu baru saja selesai mandi.
__ADS_1
"Kenapa sih? Marah-marah mulu lo. Sini-sini gw peluk."
Rizki menarik tangan Keisha. Membuat gadis itu langsung menabrak dada bidang Rizki yang sangat harum. Keisha sangat ingin melepaskan pelukan itu. Tapi keadaan itu membuat Keisha merasa tak ingin lepas dari tubuh Rizki. Ya, Keisha nyaman. Merasa nyaman berada di dalam dekapan laki-laki yang selalu membuat moodnya turun drastis.