
Langit cerah perlahan mulai memudar. Siap diganti dengan langit malam yang sebentar lagi akan berjaga. Membuat langit sekarang diisi oleh senja. Suasana yang selalu disukai dan ditunggu banyak orang.
Sementara Keisha, gadis itu sekarang malah sedang tertidur lelap. Setelah pulang sekolah tadi, dirinya benar-benar tertidur pulas. Tanpa berganti baju, tanpa mengisi perut, dan tanpa membuka sepatu. Mungkin gadis itu sangat lelah, mengingat tadi di sekolah dirinya harus berkorban. Sibuk membantu wali kelasnya mendata absen, nilai, dan biodata teman-temannya.
Dan detik ini, gadis itu mulai sedikit tersadar. Keadaan dirinya yang memang benar-benar tidak nyaman itu tidak mampu membuat kegiatan tidurnya menjadi lebih lama. Keisha terbangun, matanya perlahan terbuka dan kesadarannya semakin penuh.
Tak menunggu lama, Keisha bangkit dari kasurnya. Mengganti pakaiannya dan pergi bersih-bersih. Setelah semuanya benar-benar sudah 100% berubah, gadis itu turun ke lantai bawah dengan piyama berwarna merah muda yang membaluti tubuhnya, sendal berbulu warna hitam menghiasi kedua kakinya, dan wangi harum semerbak yang menenangkan.
"Ma," sapa Keisha pada Yanti.
Yanti yang sedang menonton tv di sofa itu menatap Keisha sekilas. Membalas sapaan Keisha hanya dengan deheman singkat. Keisha juga hanya menatap Yanti sebentar, lalu melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
Keisha duduk di salah satu kursi. Menatap berbagai macam makanan yang sepertinya baru saja dihangatkan. Tanpa menunggu lama lagi, gadis itu menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Melahap dengan sangat rakus karena lapar yang sedari tadi menggerogoti perutnya.
Gw makan kayak orang kesetanan aja sih. Iya sih lapar banget, mana tadi istirahat bekal makan gw dimakan Iki lagi. Batin Keisha.
Keisha melahap makanannya yang terakhir, tersisa satu sendok lagi yang sekarang sudah siap meluncur ke mulutnya. Matanya menatap jam dinding. Dan melihat jarum pendek di jam itu menunjukkan pada angka 7 yang berarti sekarang adalah jam tujuh malam.
Matanya melotot seketika, namun gadis itu tak lupa untuk segera menyuapkan bagian makanan terakhir miliknya dan menelan makanan itu dengan cepat dan susah payah.
"Ma, sekarang jamberapa?" tanya Keisha. Suaranya cukup terdengar oleh Yanti karena jarak meja makan dengan ruang tengah tidak terlalu jauh.
Yanti memutar kepalanya. Matanya ikut menatap jam yang tadi Keisha lihat.
"Jam 7," jawab Yanti singkat.
"Beneran, Ma?" kaget Keisha sembari menggebrak dan refleks berdiri dari tempat duduknya.
"Eh kucing kucing. Ya ampun, kaget Mama. Kenapa sih?" latah Yanti yang kaget karena kelakuan putrinya itu.
"Eca kira masih sore. Eca belum ngambil tugas dirumah Jera," ucap Keisha panik.
"Lah? Kalian bukannya sekelas, kan? Besok juga ketemu kali."
"Besok Jera gak akan sekolah, Ma. Dan tugasnya harus dikumpulin besok."
"Emangnya kenapa Jera gak akan sekolah?"
__ADS_1
"Dia mau pergi keluar kota ada urusan keluarga. Mana perginya jam 8 lagi," gerutu Keisha kesal.
Keisha langsung berdiri dan berpamitan pada Yanti, izin pergi ke rumah Rizki.
"Assalamualaikum," teriaknya lumayan keras.
"Waalaikumsalam. Eh Eca, kenapa Ca?" tanya Erika lembut.
"Ada Bang Roy, Bun?" tanya Keisha balik. Dan yap, Keisha sudah memanggil Erika dengan sebutan 'Bunda'. Kemauan Erika yang tentu saja Keisha turuti.
"Ada. Lagi sakit tapi," jawab Erika.
"Loh? Sakit apaan?"
"Demam biasa kok." Erika kembali membuka majalahnya.
"Emangnya ada apa?" tanya Erika.
"Eca mau minta anter ke rumah temen. Ehm... Kalo Iki ada gak?" tanya Keisha ragu.
"Nggak ada, Ca. Tadi katanya pergi sebentar sama temennya. Kalo gak salah, Mesya namanya."
"Abanggggggg," rengek Keisha manja.
Roy yang sedang menonton tv di kamarnya sambil berbalut selimut tebal itu menoleh sekilas.
"Hm," sahut Roy singkat.
"Sakit? Dari kapan?" tanya Keisha perhatian.
"Dari sore. Ada apaan?" tanya Roy to the point yang memang sudah tau bahwa Keisha menginginkan sesuatu.
"Tadinya mau minta anter ke rumah Jera, tapi lo lagi sakit. Mau minta anter Rizki... Tapi..." ucap Keisha menggantung.
"Lo gak berani sendiri?"
"Malem pake motor sendirian lo tau gw kayak gimana, kan? Anti bang."
__ADS_1
"Pake mobil gw aja. Tapi lo berangkat sendiri. Kuncinya ada di lemari situ tuh," saran Roy sembari menunjuk lemari kecil yang berada di ujung kamar.
"Beneran gak apa-apa, Bang?" tanya Keisha ragu.
"Gak apa-apa. Udah sana. Hati-hati, Ca," ujar Roy lembut. Keisha sumringah, senyumnya lebar dan cerah. Gadis itu langsung meraih kunci itu dan melambaikan tangannya dengan senang pada Roy.
"Tante, Eca pamit dulu. Eca pinjem mobil Bang Roy," ucap Keisha menghampiri Erika. Erika mengalihkan pandangannya pada Keisha, menyodorkan tangannya dengan sukarela.
"Iya, hati-hati ya. Udah malem loh," balas Erika lembut.
Keisha mengangguk cepat. Berlari kecil menuju halaman dan masuk ke dalam mobil milik Roy.
Keisha melajukan mobilnya. Gadis itu sudah mulai mahir dalam mengemudi mobil, walau selama ini selalu menggunakan motor. Alasannya karena Keisha tidak ingin ribet membawa mobil ke area sekolah.
Chiiiittttt
Keisha mengerem mendadak. Melihat dua orang yang familiar baginya di dekat supermarket di pinggir jalan.
Mesya dan Rizki.
Keisha tak ingin menatap keduanya. Namun tatapannya terkunci dan seolah tak bisa lepas. Apalagi setelah menyadari bahwa jaket yang Mesya gunakan adalah jaket milik Rizki. Keisha benar-benar membayangkan bagaimana saat Rizki memberikan jaketnya pada Mesya, dia berpikir bahwa adegannya sama seperti di film-film romantis.
Perih. Itu yang dia rasakan. Entah mengapa, dirinya selalu merasakan ini saat Rizki bersama Mesya. Jangankan pada Mesya, terkadang sikap Rizki juga selalu membuatnya menjadi seperti ini.
"Buat apa gw nangis? Buat apa gw sedih? Gw juga benci dia, kan? Kenapa? Kenapa gw harus cemburu? Sebenernya gw berharap gak sih sama Rizki? Kenapa sih? Kenapa harus kayak gini kalo ngeliat dia sama cewek lain. Emangnya Rizki mikirin perasaan gw gitu? Nggak. Ya udah, ngapain gw sedih-sedih segala? Gw gak mau sedih Ca! Gw gak peduli sama cowok brengsek itu!!!" kesal Keisha. Gadis itu bermonolog sendirian sambil memukul-mukul stir mobil.
Membuat klakson mobil berbunyi tanpa dia sadari dan mengundang perhatian beberapa orang disekitar itu. Termasuk Rizki dan Mesya.
Rizki terlihat menyelidik mobil yang Keisha pakai dari kejauhan. Mengenal mobil itu yang tentu saja dia hafal bahwa itu adalah mobil milik kakaknya. Sementara Rizki juga ingat, bahwa kakaknya sedang sakit. Tak mungkin jika akan keluar rumah seperti sekarang ini.
Rizki berlari kencang menghampiri mobil hitam itu yang terparkir sembarangan dipinggir jalan.
Tok tok tok
"Woy! Buka woy!" teriak Rizki sembari mengetuk kaca jendela mobil.
Keisha menatap Rizki dari dalam tanpa ada niat membuka kaca jendela untuk laki-laki itu.
__ADS_1
"Woy! Siapa lo? ******* lo ya!" tuduh Rizki kesal. Keisha kaget mendengar ucapan Rizki. Membuka kaca mobil dengan sepenuhnya dan menatap dengan Rizki sinis lalu pergi meninggalkan laki-laki itu sendirian. Oh tidak, maksudnya kembali bersama Mesya.