IPA

IPA
IPA--51


__ADS_3

Drrrtttt .... ddrrttt ....


Baru saja Keisha selesai mengganti bajunya. Rangga sudah meneleponnya lagi. Tapi Keisha mau tak mau harus mengangkatnya lagi. Bagaimana jika ini urusan yang penting? seperti kabar Rizki, misalnya.


"Apaan sih!" kesal Keisha ngegas.


"Ca, Si Rizki diculik om-om!"


"Ha? Kok bisa? Mana ada om-om nyulik Rizki. Rizki kan cowok!"


"Rizki digusur sama om-om, Ca. Tadi dia nyosor sama cewek eh tiba-tiba ada om-om datengin si Rizki. Kayaknya pacarnya cewek yang tadi jadi sasaran Rizki. Lu dimana?"


"Gw di rumah sakit. Terus gimana? Lo berdua bantuin dia lah bego!"


"Males. Lo aja!"


"Lah? Kok gitu? Lo tega sama temen sendiri? Gila ya, temen lagi susah lo jadi temen bukannya bantuin."


"Nanti gw bantuin kalo inget. Ya udah nanti gw kabarin lagi, lo berdoa aja semoga dia ga kenapa-napa. Gw takut dia bonyok dihabisin sama tuh om-om. Mana badannya gede banget. Bye!"


Tut. Rangga mematikan sambungannya sepihak. Membuat Keisha bergerutu kesal karena dibuat bimbang tanpa kejelasan seperti ini.


Keisha berjalan ke arah ruangan dimana Ricky terbaring lemah. Masuk ke dalam ruangan dengan berhati-hati berharap Ricky tak terbangun, namun harapannya pupus saat Ricky menatapnya dengan senyum tipis di wajah pucatnya.


"Gak tidur?" tanya Keisha sembari menarik kursi disamping ranjang Ricky.


"Nggak. Lo kenapa belum pulang? Ini udah malem," jawab Ricky dengan suara seraknya.


"Gak apa-apa, malem ini gw pengen nemenin lo aja. Oh iya, Elisa mana?" tanya Keisha lagi, seraya menatap sekeliling ruangan itu, tapi tak ada Elisa disana.


"Gak tau," jawab Ricky cuek.


"Masih sakit?" Keisha meneliti wajah Ricky yang memar hampir di semua bagian wajah.


"Nggak. Lo mau tidur dimana? Di sofa? Atau di kasur? Kalo mau di kasur, gw yang tidur di sofa."


"Hah? Gila lo mau tidur di sofa! Ya gw lah yang tidur di sofa. Lo lagi sakit bang," jawab Keisha terkekeh.


"Ck, lagian gw gak apa-apa. Dokternya aja yang lebay sampe gw harus di rawat kayak gini."


Keisha tertawa bersama Ricky. Seperti tak terjadi apapun, mereka begitu terlihat sangat akrab dan dekat. Canggung di hari kemarin hilang begitu saja.


Drrrttt ... ddrrrttt ...


"Telepon tuh," tunjuk Ricky ke arah ponsel Keisha yang disimpan dekat nakas.


"Hm," jawab Keisha singkat sambil segera mengangkat telepon itu.


"Hallo? Ada apa lagi sih?" tanya Keisha kesal kepada Rangga ketika sambungan teleponnya tersambung.


"Ca..." lirih Rangga diseberang telepon.


"Kenapa?"


"Iki, Ca..."


Keisha bangkit dari duduknya. Tubuhnya berkeringat dingin. Perasaannya mulai gelisah. Takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Kenapa dia?"


"Rizki dipukul habis-habisan, Ca."


"Terus? Sekarang keadaannya gimana? Baik-baik aja kan?" tanya Keisha galau. Ricky terlihat diam saja. Tanpa ada kode untuk bertanya pada Keisha yang sudah sangat gelisah.


"Rangga? Woy! Rizki gimana?"


"Gw telat."


"Maksud lo? Telat gimana?"


Hening. Rangga tak menjawab pertanyaan Keisha. Namun sambungan teleponnya masih tersambung. Keisha melirik ke arah Ricky, laki-laki itu terlihat sedang melamun.


"Hallo? Rangga? Gimana? Rangga!"


"Gw udah cek berulang-ulang, Ca. Tapi hasilnya tetep sama aja. Dia gak nafas."


Deg


Gak nafas? Maksudnya? Maksudnya bagaimana? Keisha benar-benar tak mengerti. Entah Rangga yang memang menjawab dengan tak jelas, entah Keisha yang memang sedang sulit mengerti dan berpikir.


Jantung Keisha berdegup kencang. Keringat dingin mulai timbul, terutama pada bagian tangan dan wajahnya. Ingin sekali dirinya bertanya, tapi apa jawabannya dapat dipastikan baik-baik saja?


"Maksud lo?" tanya Keisha berusaha tetap positif thinking.


"Rizki udah gak nafas, Ca. Iki... dia, udah gak ada."


Tunggu. Maksud Rangga apa sih? Keisha benar-benar tak mengerti. Tidak ada bagaimana? Menghilang? Rangga mempermainkan Keisha tidak sih? Atau ini April mop? Tidak, ini bukan April. Atau prank? Ah ya, sepertinya prank.


"Bercandanya jangan berlebihan!" kesal Keisha emosi.


"Lo yang kuat ya, yang sabar, yang tabah, gw tau lo pasti kuat. Lo sekarang lagi sama Ricky? Di rumah sakit? Kebetulan, jenazah Rizki bakal dibawa kesana. Gw tutup dulu teleponnya, Kei. Assalamualaikum. Sampai ketemu di rumah sakit."


Tut. Rangga mematikan sambungan teleponnya sepihak. Lagi dan lagi memberikan Keisha sebuah tanda tanya besar.


Jantung Keisha berdegup kencang tak beraturan. Pikirannya melayang entah kemana. Lututnya lemas. Mendengar kata 'jenazah Rizki' yang tadi diucapkan oleh Rangga dalam telepon.


Keisha sangat tak bisa berpikir. Di kepalanya terlintas kejadian tadi malam. Saat dirinya, Rizki, dan Ricky berada di sebuah pantai. Perdebatan serta perkelahian mereka terulang kembali dalam ingatan Keisha. Lalu Keisha pergi mengantar Ricky ke rumah sakit, dan mendapat kabar bahwa Rizki datang ke club lalu di seret oleh om-om yang dicurigai adalah kekasih seorang wanita yang menjadi incaran Rizki?


Oh tidak. Ini semua salahnya. Rizki begini karena dirinya, kan? Rizki datang ke club itu karena dirinya, kan? Rizki... frustasi karena dirinya, kan? Ini semua karena Keisha. Ini semua karena dirinya.


Keisha menjatuhkan tubuhnya. Keadaannya lemah saat membayangkan semua kejadian ini. Untung saja dibelakangnya masih tersimpan kursi tadi, sehingga dirinya terjatuh ke atas kursi, bukan ke atas lantai dingin keras yang berada di bawah.


"Kei?" tanya Ricky panik sembari berusaha duduk.


"Keisha? Lo gak apa-apa?" tanya Ricky lagi, kali ini laki-laki itu sudah sepenuhnya terduduk diatas kasurnya.


"Keisha? Lo gak apa-apa? Lo kenapa? Kenapa nangis?" tanya Ricky lagi. Air mengalir deras dari kedua mata Keisha. Membuktikan bahwa Keisha sekarang sedang menangis.


"Iki..." lirih Keisha pelan.


Ricky mendengarnya dengan samar. "Rizki... kenapa?" tanya Ricky ragu.


Keisha tak menjawab. Gadis itu melamun menatap langit-langit ruang rawat Ricky. Dengan mulut yang terus-menerus menyebut nama Rizki.


Ceklek


Pintu ruangan itu terbuka. Ada dua orang suster yang mendorong brankar masuk ke dalam ruang rawat Ricky. Tunggu. Perawat? Brankar? Dan... diatas brankar itu terlihat seperti sebuah gundukan, tidak, tidak, bukan gundukan. Tapi seperti seseorang yang sedang terbaring dengan tertutup kain putih diatasnya. Siapa?

__ADS_1


Keisha refleks berdiri. Dengan rasa bingung dan takut yang bercampur satu, tenaganya tiba-tiba berkumpul.


"Suster? Ada apa?" tanya Keisha bingung.


"Maaf, kami mengantar jenazah ini ke ruangan ini atas permintaan keluarganya. Kamu yang bernama Keisha?" tanya salah satu suster itu pada Keisha.


"Keisha? Ya, itu saya."


"Baiklah. Sepertinya kamu perlu melihat dulu jenazah ini sebelum akan diproses lebih jauh lagi. Kami akan menunggunya." Kedua suster itu mundur beberapa langkah.


Kening Keisha berkerut. Apa lagi ini? Dua suster tiba-tiba membawa jenazah datang kesini dan menyuruh Keisha untuk melihatnya? Siapa? Memangnya siapa yang meninggal? Jenazah siapa?


Keisha melangkah ragu. Mendekati brankar yang berada disamping kasur Ricky. Mau tak mau Keisha harus membuka dan memastikannya.


"Siapa?" tanya Keisha pada kedua suster itu saat sudah berada disamping brankar. Suster itu hanya tersenyum. Membuat Keisha semakin kebingungan. Keisha benar-benar tidak ingat dengan pembicaraannya tadi di telepon bersama Rangga.


Keisha perlahan membuka kain putih itu, rambut hitam mulai muncul dari dalam kain. Rambut hitam dengan harum dan gaya yang sangat familiar bagi Keisha.


Keisha membukanya lagi sedikit. Terlihat ada sepasang mata yang sedang terpejam dengan tenang.


Kayak mata rizki, Batin Keisha.


Keisha tak mau lebih bingung lagi, dia membuka kain putih itu setengahnya. Matanya terkunci. Menatap seseorang yang dikatakan sebagai 'jenazah' oleh dua orang suster tadi.


Keisha terkejut. Tapi reaksi tubuhnya hanya diam. Hatinya seperti ditusuk ribuan jarum yang masih baru. Oksigen juga mendadak hilang di dalam ruangan itu. Gerah sekali, Keisha kepanasan. Tapi tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.


"R-rizki?" gumam Keisha tak percaya.


Mata laki-laki ini terpejam. Bibirnya sangat pucat. Apakah ini sebuah kenyataan? Atau khayalan, imajinasi, dan halusinasi Keisha saja?


Dengan tangan yang bergetar hebat, Keisha menyentuh wajah Rizki. Membelainya dengan lembut yang sekarang terasa sangat dingin. Apa Rizki benar-benar sudah meninggal? Tidak. Tidak mungkin.


Keisha menghambur dan memeluk Rizki dengan sangat erat. Berusaha memberikan kehangatan pada tubuh Rizki yang terasa sangat dingin. Mengguncangkan tubuh Rizki, berharap Rizki bangun dan memaki dirinya karena berani menganggu laki-laki itu yang sedang tidur.


"Bangun, Ki, bangun!" bentak Keisha tanpa melepaskan pelukannya.


Keisha berhenti mengguncangkan tubuh Rizki. Pelukannya mengendur perlahan. Isakannya mulai terdengar. Gadis itu menangis lagi. Menangis di atas tubuh Rizki.


"Ki... gw sayang sama lo, Ki. Setelah semuanya clear, setelah semua masalahnya beres, setelah kita tau apa yang sebenernya. Kenapa lo malah pergi? Ninggalin gw? Ninggalin semuanya, bahkan ninggalin dunia ini? Ki? Lo bahkan belum nikah, lo belum nembak gw, lo belum ujian semester, lo belum ujian nasional, lo belum punya adek kelas di SMA, lo bahkan belum jadi ketua ekskul basket, lo belum nyatain perasaan lo ke gw dengan cara yang serius, lo belum makan malem, lo belum minum coklat panas malem ini, lo belum ini itu. Masih banyak yang belum lo lakuin, Ki, masih banyak yang harus lo lakuin! Bangun, Ki, bangun!!!" teriak Keisha frustasi.


Keisha kembali mengguncangkan tubuh Rizki. Sembari memeluk leher Rizki, perlahan Keisha merasakan lehernya terasa panas. Sepertinya udara diruangan ini semakin aneh. Tapi dia tidak perduli. Dia hanya ingin Rizki bangun dan membalas pelukannya.


"Will you be mine?"


Keisha berhenti. Berhenti menangis serta berhenti mengguncangkan tubuh Rizki. Tubuhnya kaku. Setelah mendengar ada bisikan yang sangat jelas di telinganya. Keisha bingung. Suara siapa?


Keisha bangun dan melepaskan pelukannya dari Rizki. Berdiri menatap intens tubuh Rizki. Matanya tetap terpejam. Tak ada perubahan.


Keisha jatuh ke lantai. Tubuhnya merosot tak mampu berdiri lagi. Dia hanya berhalusinasi. Rizki... sudah tidak ada. Dia harus ikhlas.


"Ssttt hei, lo belum jawab. Will you be mine, sayang?" bisikan lembut itu terdengar lagi.


Keisha semakin menangis kencang seraya menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Aduh, Eca! Ini Iki. Jawab buruan ini gw udah deg-degan. Will you be mine?"


Kali ini seseorang mulai memeluk dirinya. Keisha tak percaya. Dia membuka matanya dan menatap Rizki yang sekarang berada sangat dekat di hadapannya.


"Will you be mine?" tanyanya lembut dengan senyum hangat polos. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa.


Rizki mengangguk yakin. "Ya iyalah, masa lo lupa sama cowok ganteng kayak gw ini?"


Keisha berdiri. Membuat Rizki melepaskan pelukannya pada Keisha. "Lo bohongin gw?!"


"Maaf. Maksudnya kan surprise anti-mainstream. Gw juga pengen tau aja gimana reaksi lo kalo gw bener-bener mati," jawab Rizki polos.


Plak


Keisha menampar Rizki. Membuat tubuh Rizki menjadi kaku dan beku. Seperti patung.


"GAK LUCU! LO GAK TAU PERASAAN GW TADI GIMANA? GW HAMPIR GILA! LO ! BERCANDA LO GAK LUCU! GW GAK SUKA! GW BENCI! GW BENCI SAMA LO!!!" teriak Keisha di depan wajah Rizki.


Rizki tersenyum kecut. Pupus sudah harapannya. Reaksi Keisha tidak seperti ekspetasinya.


"Gw gak suka sama lo! Gw sayang sama lo! Gw cinta sama lo! Yes, i will Rizki." Keisha menghambur ke dalam pelukan Rizki. Membuat Rizki terkejut kemenangan. Tak menunggu lama lagi, laki-laki itu membalas pelukan Keisha.


"Ekhem."


Keisha dan Rizki menatap ke sumber suara. Terlihat Ricky yang sedang menyilangkan tangan di dadanya dengan angkuh.


"Selamat ya, hehe," ucap Ricky kemudian.


"Ri, gak apa-apa kan gw sama Rizki?" tanya Keisha merengek.


"Ya gak apa-apa lah. Emang kenapa? Selama ini gw jagain lo, bukan gw berharap lo jatuh cinta sama gw kok. Gw emang cinta sama lo. Tapi gw gak maksain lo buat jadi milik gw. Gw nganggap lo jadi adik gw sendiri. Jadi, gw ngerestuin kalian," jawab Ricky tenang.


Keisha tersenyum lebar. Lalu berlari dan menghambur ke dalam pelukan Ricky.


"Makasih Bang Ricky," ucap Keisha di sela-sela pelukannya.


"Ekhem."


Keisha melepaskan pelukannya. Lalu mencari lagi sumber suara tadi. Ternyata dari arah pintu.


Disana ada Mama Yanti, Tante Erika, Papa Keisha dan Rizki, Elisa, Silmi, Jera, Safitri, Nurul, Roy, Rangga, dan Matthew. Mereka semua disini? Keisha malu!


"Cieeeeee," goda mereka semua.


Keisha tersenyum malu-malu. Melirik ke arah Rizki yang ternyata sama seperti dirinya.


"Tapi bercandanya gak lucu! Apa-apaan bawa nyawa? Emangnya kalo mati beneran mau?!" tanya Keisha kesal sembari menunjuk wajah Rizki.


"Ya nggak sih," jawab Rizki cengengesan.


"Terus kenapa tadi kayak mati beneran?"


"Pake make-up lah!"


"Muka lo dingin, kayak jenazah beneran!"


"Ya kan pake es batu. Biar dingin!"


"Gak ada kerjaan!"


"Tapi lo seneng, kan? Baper, kan?"


"Emh, berisik lo jelek!"

__ADS_1


"Emang lo mau pacaran sama orang jelek?"


"Emang sejak kapan kita pacaran?"


"Tadi. Lo gak inget?"


"Nggak."


"Jadi?"


"Jadi apaan?"


"Jadi kita pacaran gak?"


"Emmm... ya, pacaran lah." Keisha tersenyum malu. Lalu mencubit perut Rizki dan menendang kaki Rizki dengan sedikit kencang.


"Aww. Sakit. Dasar preman!" ketus Rizki.


"Lo aja yang payah. Dasar banci!" jawab Keisha tak mau kalah.


"STOOOPPPPP!!!" teriak semua orang di ruangan itu.


"Berantem mulu!" ucap Mama Yanti kesal.


"Dia yang ngajak berantem mulu," tuduh Keisha sembari melirik ke arah Rizki.


"Dih, apaan? Lo duluan!" elak Rizki.


"Lo!"


"Lo!"


"Tuh, dasar banci. Gak mau ngalah dari cewek!"


"Ya udah gw ngalah," ucap Rizki pelan.


"Nah gitu dong," balas Keisha bangga.


"Terserah lo." Rizki berjalan ke arah pintu. Hendak keluar, namun Keisha segera menghampirinya.


"Kok marah?" tanya Keisha memelas.


"Nggak. Gw gak marah," bantah Rizki.


"Bohong. Buktinya lo jutek."


"Gw gak marah. Bawel lo!" kesal Rizki. Laki-laki itu langsung menggendong Keisha ala bridal style dan membawanya keluar dari ruangan itu, meninggalkan semua orang yang kebingungan melihat kelakuan mereka berdua.


"Pamit dulu ya! Mau bulan madu!" teriak Rizki.


Dari jarak yang belum terlalu jauh, Keisha dan Rizki mendengar, keluarga dan teman-teman mereka menyemprotkan beberapa sumpah serapah serta semburan kesal untuk mereka berdua.


"Mau kemana?" tanya Keisha.


"Bulan madu, kan?" tanya Rizki menggoda tanpa menghentikan langkahnya.


"Najis!" balas Keisha sembari memukul pelan dada Rizki.


Keduanya tertawa. Hingga sampai di rooftop rumah sakit yang terlihat sepi dan tak banyak orang.


Rizki menurunkan Keisha. Menghela nafas panjang dan menatap ke arah langit yang terlihat begitu cerah.


"Kenapa?" tanya Keisha.


Rizki menggeleng. Tubuhnya berputar lagi, menghadap pada tubuh Keisha yang berada disampingnya. Laki-laki itu meraih tangan Keisha. Menggenggamnya dan meletakannya di dada. "Makasih ya, makasih lo udah mau sama gw. Makasih karena lo udah sayang sama gw. Makasih karena lo udah cinta sama gw. Makasih karena lo tetep kuat ngadepin gw. Makasih lo nerima gw, padahal selama ini gw terus nyakitin lo. Maaf. Gw bener-bener minta maaf. Selama ini gw bodoh. Gw nyakitin lo cuma karena rasa cemburu dan salah paham. Ini semua karena gw payah. Iya, gw payah karena gw gak mau nyatain perasaan gw ke lo lebih dulu. Gw gengsi. Mulai sekarang, gw bakal selalu berusaha ada disamping lo, bahagiain lo, bikin seneng lo, ngehibur lo, dan nemenin lo untuk seterusnya. Thank you dear, i love you so much. I'm really love you."


Keisha tersenyum samar. "Gw berusaha bertahan. Karena gw tau, bakal ada harapan buat gw di depan nanti. Gw gak mau egois lagi. Walaupun selama ini lo nyakitin gw, bahkan mulut gw terus bilang bahwa gw benci sama lo. Tapi hati gw kokoh, Ki, gw emang masih sayang sama lo. Gw gak mau egois dengan cara gw nolak lo gara-gara di masa lalu. So? Gak ada alasan buat gw nolak lo. I love you too, my enemy."


Keisha memeluk Rizki dengan erat. Menyalurkan rasa kebahagiaan yang tak bisa diucapkan.


Setelah semua rasa suka duka yang dia rasakan, Keisha bersatu dengan kekasih hatinya. Bukan sepenuhnya juga salah Rizki. Ini hanya karena sifat egois yang tak terkalahkan. Semuanya berakhir. Tak ada lagi kebimbangan, kekesalan, kebencian, dan kesendirian dalam cinta.


----------------TAMAT----------------


Hallo semuanya!


Gak kerasa IPA udah tamat lagi ><


Mau gak mau, rela gak rela, ikhlas gak ikhlas, aku harus tamatin cerita ini.


GAK RELA PISAH SAMA KALIAN AAAAAAA


Makasih banget buat para readers yang tetep baca cerita IPA sampai detik ini.


Ohiya, buat yang belum tau ataupun ngga nyadar sampai sekarang, jadi...


IPA itu singkatan dari [Insiden Pertemuan Absurd]


hehe, tau ga? atau baru tau?


JANGAN HAPUS CERITA IPA DARI PERPUSTAKAAN KALIAN YAAA!


Karena mungkin nanti bakal ada info lainnya lagi. Misalnya sequel, QnA, GC, atau bahkan info penerbitan versi cetak nii, Doain yaaa!


Pokoknya next part pasti bakal ada info tentang cerita IPA.


Sekali lagi makasih ya, terutama buat kalian semua yang selalu support cerita IPA dengan cara vote, komen, bahkan masukin cerita ini ke reading list <3


Eh iya, terakhir dong.


-Kesan kalian baca cerita IPA?


-Tokoh fav?


-Part ter-fav?


-Pesan ataupun segala bentuk kalimat yang pengen kalian sampein ke para tokoh cerita IPA juga boleh dong.


Komen ya gengs.


Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain ya!


See you.


Salam,


Mantan pacar Park Chanyeol.

__ADS_1


__ADS_2