
"Bu, Jera kan gak sekolah. Tugasnya ada di Jera, Bu. Kok saya di hukum sih," bujuk Keisha kesal.
"Gak ada alasan ya, Keisha. Kamu kan tau kalo tugasnya dikumpulin sekarang. Kenapa gak di ambil? Udah-udah sana, gak ada penolakan. Kalo nolak, mending ibu seret kamu ke BK. Mau?" tanya Bu Eja mengancam.
Keisha berdecak kesal sembari menghentakkan kakinya kesal ke lantai dan berjalan keluar kelas menuju ke lapang, kemudian berdiri tegak sambil menghormat ke arah tiang bendera.
Semalam, Keisha benar-benar telat. Gadis itu sampai dirumah Jera jam setengah 9. Tentu saja itu telat. Jera dan keluarganya juga sudah tidak ada.
"Sial, gw kemarin ngapain pake berhenti liatin dua orang gak jelas itu sih. Kan gw yang jadi kena getahnya!" kesal Keisha.
Mau tak mau Keisha harus melakukan hukuman itu dalam keadaan dirinya yang belum sarapan. Keisha juga tidak yakin, jika dirinya akan kuat hingga bel istirahat berbunyi nanti.
Sinar matahari semakin terik dan terasa membakar itu membuat Keisha semakin kehabisan tenaga dan hampir oleng. Sudah sekitar satu jam dirinya berdiri disitu namun masih teratasi.
Bel istirahat juga sebentar lagi berbunyi. Keisha tak menyangka dirinya bisa tuntas melakukan hukuman tanpa kendala.
Walaupun sinar matahari pagi itu memang bagus untuk kulit, tetap saja, Keisha tidak kuat menahan tubuhnya yang terasa terbakar. Gadis itu tersenyum kecil, tak menyangka bahwa dirinya masih kuat berdiri saat bel istirahat sebentar lagi berbunyi.
Kriiingggg
Bel istirahat berbunyi. Keisha menurunkan tangannya yang awalnya hormat. Memutar badan, hendak pergi dari lapangan. Namun...
Brukk
Keisha tetap tumbang. Gadis itu pingsan ditengah lapangan yang disorot teriknya panas matahari pagi. Tidak, ternyata pikirannya salah. Gadis itu tetap jatuh pingsan walaupun menyelesaikan hukumannya tuntas hingga bel istirahat berbunyi.
Dan selanjutnya bagi Keisha adalah... Gelap.
***
"Hmmm," racau Keisha tak jelas.
Gadis itu perlahan membuka matanya. Mengimbangi cahaya yang mulai dia terima dengan pelan-pelan.
__ADS_1
"Gimana? Udah baikan?" pertanyaan itu terlontar ketika dirinya sudah sepenuhnya membuka mata.
Keisha menatap ke samping dan menemukan Rizki yang ternyata sedang menatapnya juga. Menatap dirinya dengan tatapan panik dan khawatir.
"Masih pusing?" tanya Rizki lagi.
Keisha malah membuang mukanya. Ingat bahwa dirinya seperti ini karena laki-laki itu. Dan Keisha sepenuhnya menyalahkan Rizki dalam hal ini.
"Gak," jawabnya ketus.
"Kenapa sih? Dihukum ya?" tanya Rizki dengan nada yang semakin lembut.
"Udah tau nanya!" kesal Keisha tanpa menatap Rizki.
"Lo kok nyolot gitu sih? Gw kan nanya baik-baik," ucap Rizki dengan perasaan antara kesal dan bingung.
Hening. Keisha tetap tak mau menatap Rizki. Gadis itu sibuk menatap dinding tembok disebelahnya. Dan Rizki, laki-laki itu sibuk menatap Keisha dan mencoba berpikir. Berpikir dan memastikan kenapa gadis itu bersikap seperti itu pada dirinya.
"Makasih apaan?" tanya Rizki memancing.
"Udah bawa gw kesini."
"Sebenernya sih yang bawa lo kesini bukan gw," ucap Rizki sembari menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tadi gw lagi sama Mesya, terus liat lo digendong sama Ricky."
Jleb
Keisha memejamkan matanya sebentar sambil menghela nafas panjang dan mengontrol diri. Dadanya sesak. Dia terlalu percaya diri dengan menganggap bahwa Rizki yang menolongnya. Dan yang lebih menyesakkan lagi, memangnya Rizki sangat harus mengatakan juga pada Keisha bahwa tadi dirinya sedang bersama Mesya?
Gadis yang saat ini wajahnya masih memerah itu tersenyum miris tanpa sepengetahuan Rizki. Merasakan perih saat harus menerima kenyataan pahit yang sudah berulang-ulang terjadi. Menerima kenyataan bahwa yang lebih peduli, yang lebih mengerti dirinya, yang lebih sering menolongnya, dan yang selalu ada untuknya adalah Ricky. Laki-laki yang sangat Keisha benci. Laki-laki yang juga kemarin dia sakiti dengan cara menolaknya dan menggoreskan luka di hati Ricky. Namun sampai saat ini, Ricky masih selalu tersedia untuk dirinya.
"Ngapain disini?" tanya Keisha sinis setelah keheningan sedari tadi melanda.
__ADS_1
"Nemenin lo."
"Gw gak perlu ditemenin. Gw bisa sendiri."
"Biarin aja, gw mau nemenin lo. Takut ada apa-apa lagi sama lo. Gw gak mau lo kenapa-napa lagi."
Kata-kata itu sangat membuat Keisha semakin tersenyum miris dalam diamnya. Menahan airmata yang sangat semangat turun deras dihadapan Rizki. Dengan mudahnya Rizki mengucapkan janji-janji manis, sesekali juga memperlakukan dirinya dengan sangat manis dan romantis. Namun pada akhirnya, Rizki harus menyakiti dan membuat Keisha kembali sadar. Sebenarnya apa yang Rizki inginkan?
"Loh loh, kenapa nangis?" tanya Rizki panik.
Keisha menggelengkan kepalanya pelan. Walaupun dirinya masih menjauhkan wajahnya dari Rizki, tetap saja laki-laki itu akan tahu jika dirinya menangis.
"Hei, Ca. Eca kenapa? Apa yang bikin Eca nangis, hm?" tanya Rizki lembut. Rizki menyentuh wajah Keisha, mengarahkan wajah Keisha pada wajahnya. Membuat Keisha menatap wajah Rizki dengan sangat dekat.
"Kenapa, hm?" tanya Rizki lagi.
Keisha menggeleng lagi. Menatap Rizki dengan mata yang berkaca-kaca. Menahan keinginan dirinya yang sangat ingin memeluk Rizki. Tidak. Keisha tidak akan membiarkan dirinya memeluk Rizki dan membiarkan dirinya terhanyut dalam rasa aman dan nyaman dipelukan Rizki.
"Kalo ada apa-apa cerita aja. Jangan di pendem sendiri ya? Kalo belum siap cerita, gak apa-apa. Tapi Iki bakal selalu berusaha ada disamping Eca."
Manis. Sangat manis janji dan ucapan Rizki tadi. Keisha menatap Rizki, berusaha peka terhadap perasaannya untuk Rizki.
Rizki merengkuh Keisha dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Hal yang sedari tadi Keisha hindari itu terjadi. Sebaliknya, malah Rizki yang sekarang memeluknya.
Tangis Keisha semakin pecah. Di dalam hangatnya pelukan Rizki, Keisha menangis dan mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. Membiarkan seragam Rizki basah dan membiarkan dirinya terlihat rapuh di depan Rizki. Dan kali ini, detik ini, saat ini, Rizki benar-benar melihat Keisha yang ternyata bisa rapuh.
Tak ada cerewetnya, tak ada ketusnya, tak ada kasarnya, tak ada kerasnya, dan tak ada sinisnya untuk detik ini. Dan yang Rizki tahu, detik ini Keisha jatuh ke dalam jurang kesedihan.
Pertama kalinya Keisha memperlihatkan keadaan rapuhnya pada Rizki. Membiarkan Rizki tahu bahwa di balik semua sifatnya selama ini, ada kesedihan yang selalu mengganjal dan berlabuh di hatinya.
Keisha tak mencoba melepaskan pelukannya. Tak juga membalas pelukan itu. Nyaman. Aman. Keisha benar-benar nyaman.
Keisha semakin keras menangis, saat Rizki juga semakin erat memeluknya. Membuat Keisha berada diambang kesengsaraan yang siap menerkam.
__ADS_1