
Dan disini. Malam ini. Menit ini. Detik ini. Keisha memeluk lututnya sendiri. Membiarkan lututnya basah tergenang air mata. Di dalam kamarnya yang tanpa cahaya sedikitpun, Keisha melampiaskan rasa sakitnya.
"KENAPA GW HARUS SAKIT HATI KAYAK GINI? KENAPA SIH? KENAPA? DARI SEBELUMNYA PUN GW TAU! GW TAU DAN GW SERING NGELIAT MEREKA BERDUA! SEHARUSNYA GW BISA MENYIMPULKAN SEMUANYA SENDIRI! SEHARUSNYA GW EMANG NGERTI! GW HARUSNYA BISA TAU KALO MEREKA EMANG PACARAN! TAPI KENAPA? KENAPA GW HARUS NGERASA SAKIT KAYAK GINI SAAT GW DENGER SEBUAH JAWABAN DARI PERTANYAAN GW SELAMA INI? SEHARUSNYA GW BIASA AJA DENGER INI! SEHARUSNYA GW BISA NYIMPULIN SENDIRI KEISHA!!!" teriak Keisha frustasi. Keisha meremas kembali pecahan kaca miliknya yang sudah bubuk.
Membuat telapak tangannya semakin dikuasai warna merah segar dari darah yang tak henti-hentinya mengalir.
Tok tok tok
"Eca, Mama mohon, Ca. Eca keluar dulu, Ca. Jangan kayak gini, Ca. Mama sayang sama Eca. Hiks hiks," teriak Yanti dari luar kamar Keisha.
Keisha tetap tak memperdulikannya. Papa Keisha, Ibunda Keisha, Papa Rizki, Roy, dan Ibunda dari Rizki juga hadir di rumah Keisha. Mencoba membujuk Keisha yang sedari tadi terus berteriak di dalam kamar.
Keisha mengunci dirinya sendiri. Membiarkan dirinya ditelan rasa sakit yang kian memuncak. Membiarkan batinnya terus berbicara dan meluapkan rasa yang selama ini hanya terpendam dan terkubur dengan sendirinya.
Keisha bangkit. Meraih guling kesayangannya dan memeluknya dengan sangat erat. Membuat guling itu dipenuhi bercak merah dan airmata Keisha.
Sebelumnya, Keisha mengatakan bahwa malam ini adalah malam miliknya. Malam dimana dirinya akan memanjakan dirinya sendiri. Dan disinilah Keisha sekarang. Ini adalah malam miliknya. Malam terhancur sepanjang hidupnya.
Selama ini Keisha selalu tau, kan? Keisha selalu melihat, kan? Selalu tahu dan melihat saat Mesya berdua bersama Rizki. Layaknya sepasang kekasih. Keisha juga seharusnya bisa menyimpulkan, bahwa mereka benar-benar sepasang kekasih. Tapi kenapa malam ini Keisha merasakan sakit yang kian memaksa? Hanya dengan 3 kata yang keluar dari mulut Rizki tadi, Keisha merasa dirinya sangat hancur. Ucapan Rizki itu termasuk jawaban dari semua pertanyaan yang selama ini Keisha pendam. Tapi kenapa Keisha malah tidak mengharapkan jawaban itu sekarang?
Keisha melangkah pelan. Sambil tetap memeluk guling miliknya itu, Keisha berjalan pelan menghampiri pintu pembatas kamarnya dengan balkon kamarnya. Keisha membuka pintu balkon kamarnya perlahan. Membukanya dengan lebar-lebar dan membiarkan udara dingin yang menusuk itu memenuhi ruangan kamarnya.
Keisha kembali menjatuhkan dirinya di lantai. Menatap jutaan bintang yang menghiasi langit malam yang cerah ini.
Gadis itu melempar guling miliknya ke luar balkon. Membiarkan guling itu jatuh ke halaman rumahnya. Keisha kembali menangis sembari menekuk lututnya untuk sebuah sandaran sementara.
"Kenapa... Kenapa harus kayak gini, Ki? Kemarin gw bener-bener butuh jawaban dari lo. Tapi... setelah gw tau jawabannya bakal kayak gini... gw berharap gw gak pernah tau dan gak pernah denger jawaban ini dari lo..." lirih Keisha lemas.
__ADS_1
Dibalik keceriaannya selama ini, dibalik canda dan gelak tawanya selama ini, dibalik senyuman manisnya selama ini, dibalik ratusan lelucon dan usahanya menghibur teman-temannya. Keisha mengubur rasa sakit yang membelah perasaannya. Menyimpan dan menyembunyikan segala ketakutan dan kesengsaraan miliknya sendirian. Membuat dirinya terkadang tak mampu dan tak sanggup menahannya serta menutupinya sendirian.
Pertemuan dirinya dan Rizki saat awal bertemu melintas di pikiran Keisha. Membuat sebuah senyuman manis terbit dengan sangat tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat.
Keisha membayangkan kembali raut wajah Rizki saat itu. Raut wajah sombong Rizki, raut wajah sinis Rizki, raut wajah tak berdosa Rizki itu membuat senyuman Keisha semakin terbit.
Sifat dan perlakuan Rizki pada Keisha selama ini semakin membuat Keisha terombang-ambing di dalam sebuah rasa yang meminta pertanggung jawaban atas semua ucapan manis yang mengesankan dari Rizki semakin membuat perasaan Keisha tak menentu arahnya. Mempertanyakan sebuah ketentuan yang di harapkan perasaan dan kebisuan batin Keisha.
Jeritan batin dan tangisan bisu juga tak mendorong Keisha untuk memperjelaskannya pada laki-laki itu. Membuat rasa ini kian membeku dan membisu.
Tak peduli selama ini dirinya tersakiti.
Tak peduli selama ini dirinya tersiksa.
Tak peduli selama ini dirinya terluka.
Dan sayang tetaplah sayang.
Seberapa seringnya Keisha tersakiti, tapi rasa itu mampu dengan mudah memaafkannya. Semakin membuat Rizki menjadi egois, dan tak pernah berpikir.
Keisha menerima semuanya. Menerima ucapan manis, janji manis, perlakuan manis, perhatian manis, dan segalanya yang Rizki curahkan untuk Keisha.
Selama ini Keisha terbang tinggi dalam semua perlakuan manis yang Rizki berikan. Tapi setelah itu, Keisha jatuh lagi, lagi, lagi, dan lagi ke dalam jurang yang sama seperti sebelumnya.
Hati ini hanya butuh kepastian.
Hati ini sudah bosan.
__ADS_1
Bosan menerima ucapan dan janji manismu untukku.
Semua yang kau lakukan semakin membuatku bingung dan bimbang.
Harus kemana aku berjalan?
Meninggalkanmu?
Atau tetap bersamamu dalam sebuah ikatan yang tidak pasti ini?
Aku menunggumu, sementara kamu?
Kamu membuatku semakin menunggu, menunggu, dan menunggu lagi.
Menunggu entah sampai kapan perasaan ini menemukan jalan keluarnya. Di dalam sebuah labirin rasa yang membuatku pusing tujuh keliling, kamu tak mampu, bukan hanya tak mampu, tapi kamu juga tak berusaha. Tak berusaha membantuku keluar dari perasaan yang semakin kesana-kemari.
Sekarang semuanya sudah pasti.
Kamu sudah memberiku kepastian atas semua rasa ini.
Tapi kamu tetap tidak membantuku keluar dari dalam labirin ini.
Melainkan kamu, kamu membiarkan aku tertimbun di dalam pecahan rasa yang terpecah dengan tanpa aba-aba.
Membuat perasaan ini kian menjerit meminta pertanggung jawaban atas semua yang kamu lakukan.
Tolong...
__ADS_1
Jangan semakin membuat diriku membenci kamu dan sifatmu yang seenaknya.