
Langit sore ini memancarkan kerinduan. Membuat Keisha teringat lagi pada seseorang. Dengan keadaan sandaran kursi panjang taman yang terasa dingin, gadis itu memandang langit sore yang menenangkan.
Kakinya dimanjakan dengan ribuan rumput hijau yang menggelikan. Tersenyum samar tanpa seorang pun tahu. Wajahnya hanya datar, tapi dalam batinnya, gadis itu tersenyum lebar.
Ting
Suara bunyi ponsel itu mengalihkan perhatiannya. Membuat Keisha langsung menatap benda pipih itu dan membaca langsung pesan dari seseorang.
RizkiFadhli
Dimana?
Keisha tersenyum tipis. Entah harus merasa senang atau tidak, sosok yang dirindukannya memberi sebuah pesan singkat untuknya. Ingin rasanya membiarkan pesan itu untuk sementara, namun perasaannya tidak mampu berdusta lagi. Keisha segera meraih ponsel miliknya itu. Segera membalas satu pesan yang membuat perasaannya semakin tak karuan.
KeishaTrully
Di taman. Kenapa?
Setelah Keisha mengirim pesan itu dengan cepat, Keisha langsung mendapat balasan lagi dari laki-laki itu.
RizkiFadhli
Mama Yanti nyariin.
KeishaTrully
Iya. Bentar lagi gw pulang.
RizkiFadhli
Lo belum makan. Cepet pulang.
Senyum Keisha semakin lebar. Semakin lebar, seperti lukanya yang terasa ikut semakin lebar dan meluas. Bagaimanapun keadaannya, Keisha tetap mengakui bahwa dia mencintai Rizki.
Keisha bangkit dari duduknya. Meninggalkan kursi taman bercat putih itu untuk menghampiri sepeda miliknya yang tak jauh jaraknya. Setelah berjam-jam menikmati kesendiriannya di taman, Keisha memutuskan untuk pulang.
Bukan karena pesan dari Rizki. Tapi dirinya memang sudah terlalu lama dan tak ingin membuat ibunya lebih khawatir.
__ADS_1
Gadis itu mulai menjalankan sepedanya. Melewati beberapa rumah dan melaju diatas aspal kompleknya. Sepeda merah itu berbelok, bukan ke arah rumahnya. Melainkan ke sebuah minimarket di ujung komplek. Keisha ingin membeli beberapa cemilan untuk di rumahnya nanti.
"Keisha."
Suara itu menghentikan Keisha yang sedang berjalan menuju pintu masuk minimarket. Keisha menoleh, menatap seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Rangga?"
"Darimana?" tanya Rangga balik.
"Dari taman," jawab Keisha dengan senyum tipis di bibir pucatnya.
"Dari taman? Kok rambut lo basah gitu? Baju lo juga kayak yang baru kering."
Keisha ikut menatap sekujur tubuhnya. Keisha kira, pakaian dan rambutnya sudah kering tapi ternyata belum.
"Lo ujan-ujanan di taman?" tanya Rangga lagi, menatap Keisha dengan tatapan curiga. Menuduh lebih tepatnya.
"Nggak. Kehujanan," elak Keisha.
"Lo pasti sengaja ujan-ujanan. Gak mungkin kehujanan. Seenggaknya kalo lo kehujanan doang, lo gak bakal basah kuyup kayak gitu. Lo kayak yang emang sengaja ujan-ujanan."
Keisha langsung pergi masuk ke dalam minimarket. Meninggalkan Rangga yang terlihat masih memantau dirinya di luar.
"Mukanya pucet banget," gumam Rangga sambil memperhatikan Keisha yang sedang kesana kemari dengan gerakan lambat.
Gadis itu terlihat sedang membuka lemari pendingin. Keisha terlihat menggigil, layaknya orang yang kedinginan. Tangannya bergetar meraih sebuah minuman dingin. Belum sempat meraihnya, gadis itu lebih dulu jatuh dan tergeletak bebas di lantai minimarket.
Rangga membelalakan matanya. Menatap Keisha dan berlari dengan sejurus angin, menghampiri Keisha yang sudah dikerumuni beberapa pengunjung lainnya di dalam.
Rangga membuka jaket miliknya. Membungkus tubuh Keisha dengan jaket miliknya untuk sementara. Tangannya mengangkat kepala Keisha dan membiarkannya bertempat di pahanya.
"Hallo?" ucap Rangga panik pada seseorang di seberang telepon.
"Apaan sih? Ganggu gw main game aja lo!"
"Ki, ke minimarket di ujung komplek lo sekarang, Ki. Cepetan!"
__ADS_1
"Males. Mau ngapain sih? Lo gak bawa duit terus nyuruh gw kesana biar gw yang bayarin lo?"
"Bukan gitu! Darurat, Ki. Keisha pingsan disini!"
Hening sejenak. Rizki tak menjawab ucapan Rangga yang sudah dilanda rasa panik. "Ki? Lo denger gak sih?!" tanyanya kesal.
Tak ada jawaban. Rangga melirik ponselnya, teleponnya dengan Rizki masih tersambung. Rangga langsung mematikan sambungan telepon itu dengan perasaan marah.
Dia mengangkat tubuh Keisha. Menggendong gadis itu ke luar minimarket dan membelah kerumunan warga yang tadinya ingin ikut membantu.
Saat diluar minimarket. Sebuah mobil hitam yang terasa familiar di matanya berhenti dengan mendadak. Seperti telah melaju sangat cepat dan berhenti juga dengan sangat mendadak. Laki-laki bertubuh kekar dengan kaos polos berwarna putih keluar dari mobil itu menghampiri Rangga yang masih menggendong Keisha diluar dengan bingung.
"Bawa masuk ke mobil sekarang!" perintah Rizki pada Rangga. Rangga dengan cepat memasukkan Keisha ke dalam mobil dan menemani gadis itu di jok bagian belakang.
Rizki juga kembali masuk ke dalam mobil. Menyalakan mesin mobil dengan tergesa-gesa dan segera membawa mobil itu menuju rumahnya.
"Kenapa lo gak langsung bawa ke rumah gw sih?!" tanya Rizki kesal disela-sela menyetirnya.
"Gw kan bawa motor. Gimana mau bawa ke rumah lo!" jawab Rangga lebih kesal.
"Kenapa bisa pingsan sih?!"
"Ya gak tau. Gw bukan dokter!"
Rizki berdecak kesal. Memarkirkan mobil milik Roy dengan kilat di halaman rumahnya. Lelaki itu segera mengambil alih Keisha dari Rangga. Membawa gadis yang tak berdaya itu ke dalam rumahnya, lebih tepatnya, ke kamarnya. Mengabaikan pertanyaan khawatir dari Erika dan Roy. Rizki membaringkan Keisha perlahan di kasurnya.
"Ki, Eca kenapa?" tanya Erika panik.
"Dia pingsan, Ma. Mama mending sekarang gantiin baju Eca pake baju Iki dulu. Iki mau ke bawah ngambil obat, minyak kayu putih, sama minuman anget. Sekalian mau kasih tau Mama Yanti."
Rizki berlari kencang keluar dari kamarnya. Lelaki itu lebih dulu menuju rumah Keisha untuk memberi tahu Yanti tentang keadaan Keisha.
"Tante," panggil Rizki berusaha tetap tenang.
Erika yang terlihat sedang asik memainkan ponselnya itu langsung menoleh pada Rizki sambil mengangkat kedua alisnya. "Ada apa, Ki?"
"Eca tan... Eca pingsan. Sekarang ada di rumah Iki."
__ADS_1
Yanti melotot tak percaya. Dengan gerakan panik, wanita paruh baya itu langsung berlari menuju rumah Rizki. Meninggalkan Rizki yang masih terdiam dengan heran.
Rizki ikut menyusul. Namun laki-laki itu menyusul dengan berbelok menuju dapur. Membuat secangkir minuman jahe panas dan membawanya ke lantai atas, kembali ke kamarnya sambil berharap gadis pingsan itu sudah sadar dan kembali terlihat ketus seperti biasanya.