IPA

IPA
IPA--31


__ADS_3

"Lo ****? Lo ****, lo **** gak sih? Lo ****!" bentak Rangga pada Rizki.


"Mau lo apaan sih? Lo bilang lo sayang sama dia? Tapi lo malah ngehancurin dia, Ki, lo nyakitin dia. Itu yang lo sebut sayang?" ucap Matthew ikut bersuara.


"Gw refleks ngomong gitu. Liat, kan? Tadi dia cuma diem aja dan gw takut, gw takut kalo respon dia gak kayak apa yang gw harapin!" teriak Rizki frustasi.


"Maksud lo, lo takut kalo dia nolak lo? Lo takut kalo dia juga gak cinta sama lo? Ki, semuanya butuh proses dan butuh waktu. Sekarang lo nyesel, kan? Lo liat tadi dia kayak gimana setelah lo bilang KALO ITU CUMA TOD?!" ucap Rangga kecewa.


"Lo susah payah pengen dapetin dia, lo susah payah pengen dapetin hati dia, lo susah payah buat ada di hati dia. Tapi sekalinya lo usaha, lo malah ngehancurin semua usaha lo selama ini? Mana Rizki yang selalu bersikap dewasa? Mana Rizki yang selalu jaga perasaan orang? Mana? Mana, Ki?" ujar Matthew panjang lebar.


Kriiinggg


Bel masuk sudah berbunyi. Anak-anak yang lain mulai berhambur masuk ke dalam kelas. Membuat Rangga dan Matthew kembali ke tempat duduknya sambil masih menatap Rizki dengan sinis. Sementara Rizki malah memandang ke depan kelas dengan tatapan kosong.


***


"Assalamualaikum tante," ucap Jera, Silmi, Nurul, dan Safitri serempak.


"Waalaikumsalam," jawab Yanti ramah.


"Tante, Eca ada?" tanya Silmi.


Yanti tersenyum kecil, sambil menatap satu persatu teman-teman anaknya itu.


"Ada, kalian samperin aja ke kamarnya ya. Nanti kalo kalian mau minum atau makan, langsung ke dapur aja. Maaf, tante gak akan nganterin ke kamar Eca. Takut ganggu."


Jera mengerutkan keningnya, sambil ikut menatap yang lain yang ternyata ikut bingung.


"Ya udah kita ke atas dulu ya tante," pamit Safitri lalu mengajak yang lainnya ke lantai atas.


Tok tok tok


"Eca," panggil mereka serempak.


Tok tok tok


"Eca," panggil mereka lagi serempak.


Tetap tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Akhirnya Nurul mencoba membuka pintunya. Pintu itu terbuka, mereka masuk satu persatu. Kamar Keisha gelap, lampu di dalam itu mati. Sangat gelap bahkan sinar matahari di sore itu tak menyinari kamar Keisha sedikitpun. Jendela kamar juga ditutup rapat lengkap dengan tirainya.


Safitri menyalakan lampu kamar Keisha. Di atas kasur terlihat sebuah gumpalan selimut, yang dapat dipastikan bahwa Keisha sedang di dalam selimut itu.


"Ca, lo ngapain pulang segala sih? Pake nelepon gw pas pelajaran Pak Dodit. Kalo hp gw di razia gimana?" ucap Silmi kesal pada gadis itu.


"Nih kita mah baik nganterin tas lo," sambung Nurul sambil melemparkan tas itu kepada Keisha.

__ADS_1


Selimut itu tak kunjung terbuka. Saking kesalnya, Jera menarik selimut itu hingga sepenuhnya terbuka.


Keisha bangkit dan duduk diatas kasurnya. Menatap teman-temannya sambil menangis dengan mata sembab miliknya sekarang.


"Ih, Eca kenapa?" tanya Jera lembut sambil mendekat kearah Keisha.


"Lo kenapa, nyet?" tanya Nurul simple.


Silmi menyenggol pelan lengan Nurul sambil berbisik. "Gak usah bercanda dulu," bisiknya.


"Eca kenapa sih?" tanya Silmi sambil merangkul Keisha.


"Rizki monyet, Rizki *******, Rizki *****, Rizki ****, Rizki jahattt Rizkiii jahattttt. Huwaaaa," teriak Keisha menjadi-jadi.


"Kenapa sih, Ca? Cerita dulu biar kita paham kenapa," tegur Safitri lembut.


"Kalian tau waktu istirahat pertama gw nyamperin dia gara-gara dia bilang mau ngomong?" tanya Keisha berusaha mengingatkan.


Mereka mengangguk mengiyakan. Sambil mendekat dan memperhatikan Keisha.


"Tadi dia bilang suka sama gw."


"Terus kenapa lo nangis? Bukannya lo juga suka, kan?" tanya Nurul heran.


"Udah itu dia bilang cuma TOD, dan dipojok kelas ada Rangga sama Matthew yang ternyata lagi sembunyi," ucap Keisha sambil mengeraskan tangisannya.


"Ya terus, kenapa?" tanya Nurul polos.


"Nurullll," tegur mereka serempak.


"Emang kenapa?" tanyanya lagi.


"Dia mainin perasaan gw!" teriak Keisha sesenggukan.


***


"Bang," panggil Rizki kepada Roy.


"Apa?" tanya Roy tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Gw mau ngomong."


"Ya ngomong aja apa susahnya."


"Gw serius bang. Jangan main game dulu napa sih."

__ADS_1


Roy menatap Rizki sekilas.


"Ya udah ngomong aja, gw juga nyimak kok," ucap Roy sambil melanjutkan lagi game di ponselnya.


Rizki menghela nafas pasrah sambil memutar bola matanya malas. Lalu mendekat kearah Roy agar dia tak perlu berbicara dengan keras.


"Gw tadi bilang ke Eca, kalo gw suka sama dia."


"Hm," jawab Roy singkat.


"Tapi ngeliat dia cuma diem aja, akhirnya gw keceplosan bilang kalo itu cuma TOD. Tap--" ucap Rizki terpotong.


"Apa?!" bentak Roy refleks.


"Gw keceplosan bang. Gw takut kalo dia malah bakal ngetawain gw, terus gw juga takut kalo dia bakal ngeledek gw. Gw juga takut kalo dia malah jadi ngejauh dari gw Bang," lirih Rizki panjang lebar.


"**** lo," kesal Roy sambil menatap Rizki tajam.


Rizki semakin menundukkan kepalanya. Menyembunyikan raut wajah sedihnya dari kakaknya itu.


"**** lo. Lo gatau ya? Dia juga suka sama lo!" ucap Roy dengan nada meninggi.


Rizki langsung mendongakkan wajahnya dan menatap Roy. Sambil berusaha mencari kebohongan di sorot mata kakaknya itu.


"Iya dia suka sama lo, tapi kemarin, sebelum lo nyatain cinta ke dia dengan alasan Truth Or Dare," sinis Roy asal ceplos.


"Kenapa lo gak pernah bilang sama gw sih bang?" kesal Rizki.


"Dia ngelarang gw buat bilang ke lo. Dan lo tau kan gw kayak gimana? Buat apa juga gw harus bilang sama lo? bukan urusan gw."


"Lo bantuin gw jelasin semuanya ke dia ya bang," pinta Rizki memohon sembari menyatukan kedua tangannya di depan dada.


"Ogah," tolak Roy mentah-mentah.


"Bang bantuin gw dong bang," ucap Rizki memohon.


"Ogah. Sono aja sendiri," jawab Roy cuek.


"Terus gw sekarang harus gimana, Bang?" tanya Rizki mulai kesal.


"Gak tau, pikir aja sendiri. Lagian kalo ngomong tuh pikir-pikir dulu jangan asal jeplak aja tuh mulut. Namanya juga penyesalan, pasti datangnya di akhir. Dan satu lagi, jadi orang gak usah sering-sering banyak gengsi. Lo pernah bilang kalo lo gentleman kan? Buktinya sekarang kok lo takut ditolak? Haha," cibir Roy emosi.


"Tau ah. Kalo gak ada niat buat bantu gak usah ngeledek dan mojokin terus. Bikin gw down tau gak?" tanya Rizki ikut emosi.


"Lebih down mana sama Keisha?" tanya Roy menantang.

__ADS_1


Skak! Rizki tak bisa menjawab lagi.


Laki-laki itu memilih bangkit dan meninggalkan Roy dengan perasaan kesal.


__ADS_2