
Ceklek
Rizki menoleh ke arah pintu, menatap siapa yang berusaha masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa bang?" tanya Rizki kepada Roy.
Roy mendekati Rizki yang sedang berbaring dikasurnya sambil memainkan ponselnya.
Rizki mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap ke arah Roy. Sementara Roy malah tersenyum genit kepada Rizki sambil cekikikan. Rizki tentu saja merasa aneh, Kakaknya itu datang dan tiba-tiba tertawa seperti ini.
"Kenapa sih?" ketus Rizki.
Roy menghentikan tawanya dan mengubah raut wajahnya seperti biasa, datar. "Gak usah ngegas juga!" ketusnya balik.
"Terus lo kenapa?" tanya Rizki.
Roy menatap ponsel Rizki yang tergeletak bebas diatas kasur. Sambil sesekali menahan tawa saat melihat sebuah foto di layar ponsel itu. Rizki mengikuti arah pandang Roy dan langsung menyembunyikan ponselnya. Merasa malu karena tercyduk sedang menatapi foto Keisha di ponselnya.
"Apaan sih bang!" kesal Rizki, padahal di dalam hatinya dia sangat malu.
"Kangen?" goda Roy sambil menatap genit kepada Rizki.
"Apaan sih bang ah, udah sono keluar lo!" usir Rizki malu.
"Yaudah," jawab Roy cuek lalu berjalan meninggalkan Rizki.
"Gak jelas banget punya abang," gumam Rizki.
Roy berhenti diambang pintu, mendengar gumaman Rizki yang samar-samar.
"Keisha udah siuman," ujar Roy malas.
"Hah? Keisha siluman?" kaget Rizki.
Roy melotot tajam dan memutar tubuhnya. Menatap horror Rizki yang menatap dirinya dengan terkejut.
"Keisha udah siuman, bukan siluman. Yang siluman itu lo!" sarkas Roy kesal lalu melanjutkan lagi langkahnya.
"Emang gw siluman apaan? Ah, gw kan siluman pangeran," ujar Rizki sombong.
"Bukan, lo mah siluman kadal!" teriak Roy dari luar.
Rizki mendelik kesal. Namun raut wajahnya seketika langsung senang saat dia mengingat bahwa Roy mengatakan kalau Keisha sudah siuman.
Rizki tersenyum sendiri. Lalu memutuskan untuk tidur sambil berharap bermimpi indah malam ini.
Besok sore pulang sekolah gw bakal ketemu dia lagi. Cewek yang tampangnya kayak preman tapi cengeng. Batin Rizki terkekeh.
***
Pagi ini Rizki sudah siap dengan seragam sekolahnya. Lengkap dengan atributnya namun acak-acakkan. Saat ini laki-laki itu sedang berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sambil berseri-seri. Ada apa ya? Jarang sekali laki-laki itu bercermin. Sepertinya ada sesuatu yang menyinari hatinya.
Rizki mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik ponsel miliknya. Dia menatap kontak Keisha cukup lama. Ragu untuk menelepon atau tidak gadis itu. Hatinya berdegup kencang dan tangannya mulai berkeringat basah.
"Telepon gak ya?" gumamnya bingung.
"Ah telepon aja lah, daripada gw gak enak hati gini. Bodoamat dia GR juga, gw gak bakal egois kali ini," ucap Rizki mantap.
Setelah memencet tombol telepon di kontak Keisha, dia menempelkan ponsel itu ditelinganya.
"Halo?" suara serak dari Keisha yang sepertinya baru bangun sudah terdengar, membuat Rizki semakin gugup dan malu-malu.
"Pagi," celetuk Rizki keceplosan. Rizki menepuk-nepuk mulutnya sambil meringis dan merutuki mulutnya yang asal bunyi itu.
"Iki?"
"I-iya," jawab Rizki gagap.
__ADS_1
Keisha diam tak menjawab. Membuat Rizki semakin malu dan resah. Hening. Rizki hendak memanggil, namun Keisha bersuara lebih dulu.
"Pagi juga." balas Keisha pelan. Suaranya benar-benar membuat Rizki tersipu malu sekaligus senang.
"Gimana keadaan lo?" tanya Rizki dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Baik lah. Kan gw kuat." jawab Keisha dengan sombong yang mulai kumat.
Baru aja tadi lembut, sekarang balik lagi ke sifat awal dia. Sabar deh sabar gw mah. Batin Rizki.
"Halah, lo kan jagoan KW," ledek Rizki malas.
"Sembarangan aja tuh mulut. Gw tampol tau rasa lo, kutil badak." sembur Keisha.
Rizki menghela nafasnya pelan sambil memutar bola matanya malas.
"Gw kesana pulang sekolah. Mau dibawain apa?" tanya Rizki lembut.
Keisha diam sebentar, lalu menjawab dengan suara yang sangat manja.
"Pengen burger, pizza, hotdog, rendang, ayam yang kriuk-kriuk juga. Terus, pengen milkshake, jus, pop ice, kopi, sama yang soda-soda juga ya." ucap Keisha panjang lebar dengan manja.
Rizki diam. Mencoba mendengarkan semuanya dengan jelas. Setelah Keisha selesai berbicara, Rizki langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menjawab atau mengucapkan apapun lagi kepada Keisha.
Mungkin diseberang sana Keisha sudah menggerutu kesal sambil memaki-maki Rizki. Tapi Rizki tak peduli.
***
Kriiinggg
Bel pulang sudah berbunyi. Namun kelas Rizki masih terus belajar dan gurunya pun masih menerangkan. Rizki sudah gelisah, entah apa yang merasuki dirinya hingga tak mau diam seperti itu.
Brakkk
Rizki menggebrak meja dan spontan berdiri. Membuat seisi kelas kaget dan menoleh kearah dirinya.
Hening sejenak. Lalu disambut suara meriah dari teman-temannya yang lain.
*BALIK WOY BALIK
PAK UDAH BEL PAK
NAH GITU KI, BERGUNA JUGA LO
IKI, GW NGEFANS SAMA LO
A LOP YU SO MUCH IKI*
"HEI SUDAH JANGAN RIBUT SUDAH! KALIAN KENAPA BISANYA SELALU RIBUT SEPERTIĀ INI SIH?" teriak Pak Dodit marah.
Awalnya murid dikelas itu kaget. Namun mereka tiba-tiba berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu 'salah apa aku' lengkap dengan gerakan viral yang bikin ngakak. Membuat Pak Dodit marah dan kesal.
"Sudah sana kalian pulang!" usirnya kesal.
Murid-murid pun dengan senang hati langsung menghampiri dan mencium tangan Pak Dodit dengan sukarela.
"Sampai jumpa lagi ya pak. Kalo gak jumpa lagi berarti gak kesampean," ujar Rizki setelah mencium tangan Pak Dodit lalu berlari. Rizki berlari bukan karena takut dimarahi Pak Dodit, namun dirinya semangat untuk mengunjungi Keisha dirumah sakit.
"Langsung ke rumah sakit aja gitu, Ki? Emang gak akan bawa apaan kek gitu buat Si Eca?" tanya Rangga sembari menyalakan mesin motornya.
"Gak usah males. Kuy!" jawab Rizki semangat lalu melajukan motornya lebih dulu.
***
"ORANG GANTENG DATENG!" teriak Rangga diruangan Keisha. Ternyata diruangan itu sudah ada teman-temannya Keisha, lengkap juga dengan Hamka kekasih Jera dan Bang Roy.
"BERISIK!" balas Keisha teriak.
__ADS_1
Rizki menghampiri Keisha. Diikuti Rangga dibelakangnya. Sementara Silmi dan Nurul yang awalnya ada di dekat Keisha langsung berjalan mundur agar memberi celah untuk Rizki dan Rangga.
Rizki menatap Keisha lama. Membuat Keisha gugup, apalagi teman-temannya hanya diam dan tak bisa mencairkan suasana tegang itu.
"Ki, kenapa?" tanya Keisha memberanikan diri.
Rizki tetap diam. Menatap Keisha dengan serius tanpa bergerak sedikitpun.
"Eh lo kok gak bawa apa-apa? Pesenan gw mana?" tanya Keisha langsung sewot. Dan ternyata itu berhasil mencairkan suasana.
"Gak ada," jawab Rizki santai sambil melemparkan tasnya ke sofa diruangan Keisha.
"Pemberi harapan palsu lo!" jawab Keisha marah sambil mendelik dan membuang muka.
"Yeee pengen gw tampol nih anak," ucap Rizki yang ikut kesal.
"Elo yang mesti ditampo," sindir Keisha tanpa melihat kearah Rizki.
Rizki menatap orang-orang diruangan. Dan menyuruh mereka untuk meninggalkan Keisha dan Rizki berduaan.
"Eh eh mau pada kemana?" tanya Keisha saat teman-temannya satu persatu keluar tanpa pamit.
Mereka hanya menggendikkan bahu sambil berjalan keluar. Termasuk Roy, Hamka, dan Rangga.
Keisha menatap Rizki. Sudah tahu bahwa itu pasti perintah dari cowok tengil disampingnya.
"Lo ngapain nyuruh mereka keluar?" tanya Keisha kesal.
Bukannya menjawab, Rizki malah melontarkan pertanyaan dengan nada lembut. Sebenarnya hanya pertanyaan biasa, tapi mampu membuat Keisha baper dan gugup.
"Masih sakit?" tanya Rizki lembut.
"E-enggak," jawab Keisha gugup.
Rizki mengulurkan tangannya. Menyentuh rambut Keisha dan membelainya dengan pelan. Membuat Keisha semakin berkeringat dingin dan baper.
"Maaf gw gak bisa jagain lo," ujar Rizki pelan. Nada itu sangat jelas, nada orang yang sangat merasa bersalah dan merasa kecewa. Namun Rizki tak menunjukkan raut wajah kecewa itu, laki-laki itu menatap Keisha sembari tersenyum tanpa beban.
"Gak apa-apa. Harusnya gw yang minta maaf. Maaf gw udah bikin lo panik dan khawatir. Maaf juga udah ngerepotin lo. Walaupun gw kadang kesel sama lo yang suka ngikutin dan mantau gw terus, tapi gw tau lo niat jagain gw," balas Keisha selembut mungkin.
Tapi Rizki malah menatapnya kesal. Dan usapan dikepala Keisha juga berhenti. Membuat Keisha takut dan berpikir, apakah dia salah berbicara?
"Ya makanya lo jangan nyusahin gw. Pake acara bolos segala, mau jadi apa lo kayak gitu? Bukannya belajar!" gerutu Rizki sangat kesal.
Keisha tidak takut, malah gadis itu menjawab juga dengan kekesalan yang dirasakan dirinya.
"Ya biarin! Kok lo gak adil sih. Lo suka bolos tapi gw gak pernah marah tuh, sekarang bagian gw bolos jarang aja lo omelin!" jawab Keisha marah.
"Ya beda! Gw cowok. Lo kan cewek, gak malu lo?"
"Enggak! Kalo gw malu gw gak akan bolos."
"Gw lupa. Lo kan emang suka malu-maluin," celetuk Rizki menyindir.
"Maksud lo apaan, huh?" jawab Keisha kesal.
"Maksud gw buat nyadarin lo. Sekarang akibatnya kayak gini, kan? Terus lo ada niat mau bolos lagi? Lo bikin panik oranglain, terutama nyokap lo. Yang sakit juga jadinya diri lo sendiri, kan? Yang ngerasain sakitnya elo, kan? Yang gak enak dan gak bebas ngelakuin apapun kayak waktu sehat itu elo, kan? Terus udah kayak gini, apa lo gak mikir? Yang tadinya lo bolos cuma-cuma tapi akibatnya bisa separah ini. Lo gak kapok? Lo gak nyesel? Atau lo mau coba bolos lagi?" ceramah Rizki panjang lebar.
Keisha menundukkan kepalanya. Menyimak dan mencerna kata yang keluar dari mulut Rizki untuk dirinya. Gadis itu tak bisa menjawab, mempersilahkan Rizki memarahinya dengan sepuasnya.
"Lo gak tau paniknya gw gimana pas kejadian, kan? Susahnya gw pas kejadian, bingungnya gw pas kejadian, dan sedihnya gw pas kejadian. Lo tau gak? Gw khawatir, Ca. Gw khawatir karena gw gak akan pernah mau lo kenapa-napa. Lagian kenapa lo narik gw segala pas waktu itu?" kesal Rizki.
"Maaf," lirih Keisha.
"Cuma lo yang tau siapa, cuma lo yang tau kenapa, cuma lo yang tau gimana, dan cuma lo yang bisa jawab pertanyaan gw." Rizki semakin serius.
Keisha mendongak dan menatap Rizki. Membalas tatapan marah dari sorot mata laki-laki itu.
__ADS_1
"Siapa yang bikin lo kayak gini?" tanya Rizki.