
Tiga orang itu berkumpul menjadi satu di ruang tengah.
"Oh ya, Ruhan. Kalau kamu mau tidur di sini silakan, kalau mau kembali ke apartemenmu silakan." ucap Caroline.
"Bisakah aku tidur di sini saja, Caroline. Aku sudah tidak punya tenaga untuk kembali." jawab Ruhan yang benar-benar memang tidak berdaya.
Caroline meminta salah satu pembantu di tempatnya untuk mengantar Ruhan ke salah satu kamar tamu, setelah Ruhan pergi Caroline berbicara dengan John. Wanita itu masih menanyakan mengenai Sang suami dan permasalahannya.
"Apakah kamu tahu mengenai permasalahan yang dihadapi suamiku, John?" tanya Caroline.
John langsung terdiam, dia menatap majikan wanitanya dengan tatapan mata yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Maaf, Nyonya. Lebih baik nyonya tidak usah memikirkan hal itu, Tuan berpesan agar Nyonya tidak boleh tahu mengenai masalah itu." jawab John.
"Kenapa aku tidak boleh tahu, John? Apakah ada yang kalian rahasiakan?" Caroline terus mendesak John.
Wajah Caroline yang mirip almarhum adiknya itu membuat John tidak ingin majikan wanitanya itu terlibat masalah. Apalagi Erik juga berpesan untuk menjaga istri dan anak-anaknya.
"Sebenarnya ini permasalahan yang sudah lama, nyonya. Salah satu gudang milik tuan Erik dalam masalah, para mafia itu menjebak Tuan Erik. Mereka sengaja memfitnah tuan sebagai penyelundup narkoba." jawab John
Caroline tersenyum setelah mendengar jawaban dari John, seperti yang ada di pikirannya pasti suaminya dalam masalah. "Apakah suamiku ditahan, John?" tanya Caroline.
John menganggukkan kepalanya.
"Gudang mana dan negara mana?"
"Kenapa anda menanyakan hal itu, nyonya?"
"Aku tanya sekali lagi, gudang mana dan negara mana!" Caroline terus mendesak John.
"Gudang itu ada di Meksiko, nyonya." jawab Jhon.
Siapa yang tidak akan kenal tempat itu, siapa yang tidak akan kenal dengan sarang mafia yang ada di sana.
"Lalu, apakah Kelvin juga terjebak di sana?" tanya Caroline.
"Menurut kabar terakhir yang saya dengar kemungkinan besar Tuan Erik dalam bahaya, setelah kabar terakhir itu kami semua berusaha untuk mencari informasi mengenai tuan." jawab John.
"Maksudmu?" Caroline mungkin masih bisa bersikap tenang. Namun dalam hatinya dia tidak bisa tenang sama sekali.
"Tuan kemungkinan besar di Jebak, Nyonya. tuan dan seluruh anak buahnya tiba-tiba menghilang tanpa kabar." jawab John yang tidak berani menatap Caroline.
Seketika Caroline menghela nafasnya dengan begitu kasar.
"Apakah kamu yakin kalau di negara itu suamiku berada?"
__ADS_1
"Kami masih belum tahu, Nyonya. Kabar terakhir begitu simpang siur, seluruh anak buah Tuan Erik sudah putus kontak dengan kami. Elios dan saya mencoba untuk mencari tahu, namun tidak ada hasil sama sekali." jawab Jhon.
Caroline tidak tahu apa yang harus dia lakukan, Dia tidak tahu di mana keberadaan suaminya. Di mana dan bagaimana kabarnya. "Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat dahulu kita akan membahas ini besok." Caroline yang kemudian meninggalkan Jhon.
Raut wajahnya begitu sedih, pikirannya begitu ketakutan. Caroline tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. memang pria itu tiba-tiba pergi dengan permasalahan yang tidak dikatakan sama sekali. Caroline berjalan ke kamar anak-anaknya, pertama kamar Jesselyn, wanita itu mencium kening Putri kecilnya mengelusnya dengan begitu lembut kemudian menciumnya.
Setelah itu Caroline keluar dari kamar putrinya, dia masuk ke kamar si kembar tiga bocah laki-laki yang sudah tertidur pulas nampaknya tiga bocah itu tidur dalam kondisi yang benar-benar berantakan.
"Apa yang harus aku lakukan? ke mana aku harus mencari keberadaan suamiku." ucap Caroline.
Setelah malam itu Caroline benar-benar begitu frustasi, tak ada satu kabar pun yang dia dapatkan.
*Dua hari kemudian*
Caroline masih mencari informasi mengenai Sang suami, Elios ataupun John juga belum mendapatkan kabar apapun.
"Kalian masih belum mendapatkan kabar dari suamiku?" tanya Caroline kepada John dan Elios.
"Belum, Nyonya." jawab Elios.
Tak berselang lama salah satu pembantu mendatangi Caroline.
"Nyonya." Panggil pekerja.
"Ada apa." jawab Caroline.
"Siapa?" tanya Caroline kembali.
"Saya tidak tahu, nyonya. soalnya saya tidak pernah melihatnya kemari." jawab Salah satu pekerja.
"Ya sudah kalau begitu kamu persilahkan mereka masuk ke ruang tamu, Oh ya buatkan sekalian sesuatu untuk mereka." pinta Caroline.
"Siapa, nyonya?" tanya Elios.
"Aku tidak tahu, aku akan melihatnya dahulu." Caroline kemudian pergi meninggalkan John dan Elios di ruang tamu.
Di ruang tamu sudah berdiri 4 orang dewasa dengan satu anak yang berdiri memunggungi Caroline.
"Kalian mencari siapa?" tanya Caroline kepada orang-orang yang ada di ruang tamu.
Seorang wanita yang mendengar suara yang begitu familiar itu, seketika dia menoleh, dia menatap sosok wanita yang dulu begitu dia lindungi.
"Caroline." Avara memutar tubuhnya. Dia menatap adiknya dengan tatapan mata yang tidak bisa dia katakan.
Caroline sendiri tentu saja dia benar-benar sangat syok, dia begitu terkejut saat melihat Siapa wanita yang ada di depannya.
__ADS_1
"Avara." ucap Caroline saat melihat kakaknya ada di depan matanya. dua wanita itu sama-sama mematung, sama-sama saling menatap satu sama lain.
Avara yang kemudian berjalan mendekati adiknya, pelukan yang begitu hangat sentuhan lembut yang dulu sering dirasakan oleh Caroline.
"Akhirnya Aku menemukanmu, Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Caroline." ucap Avara yang memeluk adiknya dengan begitu erat.
Jason menatap adik iparnya, wanita itu sekarang benar-benar berbeda. Dia terlihat lebih feminim dan dewasa daripada dahulu.
"Bagaimana kamu tahu aku di sini, Avara?" tanya Caroline.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Avara, dia hanya tersenyum menatap adiknya.
"Bagaimana kabarmu, Caroline?" tanya Jason.
"Baik, kabarku baik." jawab Caroline.
pria itu memberikan pelukan sebagai seorang kakak, mengelus dia juga mengelus rambut Caroline sama seperti beberapa tahun yang lalu.
"Sekarang kamu sudah dewasa ya." ucap Jason.
Caroline menunjukkan senyumnya, dia langsung memukul lengan Jason sebanyak dua kali. "Kamu kira aku ini anak kecil? Tentu saja aku sudah dewasa, lagi pulang aku sudah mempunyai suami." jawab kesal Caroline.
Memang dari dulu Jason selalu suka menggoda Caroline, dia selalu mengatakan pria mana yang akan mau menikahinya karena adik dari kekasihnya itu tingkatnya sangat super, suka balap liar, suka berkelahi bahkan jarang sekali melakukan aktivitas seorang wanita.
"Oh ya, Avara. Dari mana kamu tahu aku berada di sini?" tanya Caroline.
Jason dan Avara saling menatap satu sama lain, mereka tidak berani mengatakan kalau Benito dan Melsia yang memberitahu keberadaan Caroline.
"Kalian datang sama siapa?" tanya Caroline saat melihat ada dua orang yang datang bersama mereka.
"Itu kami..," Avara menghentikan perkataannya.
"Siapa Mereka? apa mereka saudaramu?" tanya Caroline.
Benito dan Melsia sudah menceritakan mengenai apa yang terjadi di antara mereka, hampir saja mereka membunuh Caroline dan bayi yang ada di kandungannya.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*Air mata dan pembalasan
*Isteri bar-bar bos mafia 2
__ADS_1
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊