ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA 2

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA 2
Mencari Erik


__ADS_3

Keputusan Caroline sudah bulat, menemukan sang suami adalah tujuannya untuk sekarang ini. Dia tidak akan membiarkan seseorang berusaha untuk menghancurkan semua kebahagiaannya.


"Apa Nyonya yakin akan melakukannya?" tanya Elios yang sudah berada di rumah Caroline.


Di sana sudah berkumpul John, Vivi, Stella, Elios, Ruhan, Jason, paman McQueen dan beberapa orang lagi.


"Aku sudah membagi semua tugas kalian masing-masing, jadi aku minta kalian untuk menjadi orang-orang kepercayaanku. Aku minta kepada kalian untuk melakukan tanggung jawab Ini sementara aku pergi bersama John dan yang lain." ucap Caroline.


Vivi bertugas untuk menjaga butik bersama Stella, sedangkan Jason bertugas untuk menggantikan John sementara di casino, Elios bertugas untuk menjaga perusahaan, Ruhan di perusahaan otomotif dan yang lain di tempat mereka masing-masing.


"Caroline Apa kamu yakin akan pergi ke sana?" tanya Paman McQueen.


"Aku minta kepada Paman untuk menjaga keluargaku, Aku tidak mempercayai siapapun lagi. Aku harus menemukan keberadaan suamiku dan yang lain." jawab Caroline.


"Apa kamu yakin akan melakukannya, Caroline?" tanya Vivi.


"Apa Kak Vivi tidak ingin suami Kak Vivi kembali?" tanya Caroline balik.


Pertanyaan itu membuat Vivi terdiam, dia menginginkan suaminya kembali. Anaknya masih kecil, terlalu kecil untuk ditinggal sang papanya untuk saat ini.


"Percayalah padaku, aku dan John akan mencari keberadaan mereka. Aku juga sudah meminta beberapa anak buahku untuk menjaga rumah ini, para pengawal wanita akan bertugas menjaga anak-anak." ucap Caroline.


"Tempat itu sangat berbahaya, Caroline. Aku akan ikut denganmu bersama John, kalau kamu dalam keadaan seperti ini, kemungkinan kamu akan mudah terjebak." Paman John. McQueen benar-benar sangat mengkhawatirkan Caroline.


"Aku bukanlah wanita lemah, Paman. Akan kupastikan aku kembali dengan selamat, di sini ada orang-orang yang sangat aku cintai. Aku tidak akan mati konyol berada di sana, aku pergi bersama mereka dan aku pasti akan bawa ke mereka kembali bersama suamiku dan yang lain. Aku tidak akan tinggal diam, walaupun aku seorang wanita aku bisa meraih apapun yang aku inginkan. Jangan katakan wanita tidak akan bisa melakukan apapun, jika wanita sudah murka dunia pun akan hancur di tangannya." jawab Caroline.


Ketegasan dan kata-kata itulah yang selalu menjadi kebanggaan dari orang-orang yang mengenal Caroline, wanita itu begitu lincah keras dan pantang menyerah.


Benito dan Melsia begitu takut terjadi sesuatu kepada putrinya, memang Caroline adalah sosok gadis yang begitu urakan. Tapi betapa menakutkannya dunia yang dijalani oleh Erik, sekarang Caroline harus mencari keberadaan sang suami.

__ADS_1


"Kamu akan ke mana?" tanya Paman McQueen.


"Aku mendapat informasi kalau mereka ada di Meksiko, Paman. nanti malam aku akan langsung berangkat bersama anak buahku." jawab Caroline.


Si kembar yang mendengar semua percakapan mamanya, mereka benar-benar mengkhawatirkan wanita yang sudah melahirkan mereka. Mereka tidak mungkin menghentikan sang Mama karena mereka juga tahu seperti apa Mama mereka.


Hari itu semuanya sudah bersiap-siap, Benito dan Melsia mendatangi Caroline yang ada di ruang kosong rumahnya. Langkah kaki kedua orang itu terdengar oleh telinga Caroline, dia menoleh menatap kedua orang tuanya yang sudah ada di sana.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Caroline.


Tak ada perkataan apapun. Melsia berjalan mendekati putrinya.


"Kamu akan kembalikan, Caroline?" tanya Melsia.


Caroline tersenyum kepada ibunya.


"Kamu berharap aku akan mati ya?" tanya Caroline.


"Aku sudah bilang kan kepada kalian aku mohon kepada kalian untuk menjaga anak-anakku, aku memberikan kesempatan ini kepada kalian, jika kalian berani menghianatiku.., maka jangan salahkan aku jika aku akan membuat kalian semakin menderita. Penjara 5 tahun itu bukan waktu yang singkat, tapi akan ku buat kalian lebih menderita lagi dari itu." jawab Caroline.


Benito mendatangi putrinya, pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya kemudian membelai rambut Caroline. "Kami tahu kalau kami salah, kami tahu kalau kami sudah melakukan sebuah kejahatan yang tidak akan pernah bisa kamu maafkan. Kami menyesal, kami benar-benar menyesal. Seandainya kamu meminta nyawa kami, kami akan memberikan kepada kalian. Terasa kehidupan ini begitu kosong, kami kehilangan semua yang kami miliki, kami benar-benar menyesal. setelah kami masuk penjara setiap kali pula kami menderita, kami memikirkan bagaimana kondisimu, kondisi anak-anakmu. Andai saja terjadi sesuatu kepada anak-anakmu waktu itu, Mungkin kami akan langsung bunuh diri. Kami tidak pernah mendapatkan kabar apapun dari anak-anakmu atau kamu. Kenyataan itu membuat kami seperti berada di neraka, hidup tidak mati pun tidak." Benito berusaha mencurahkan seluruh isi hatinya.


Caroline memang bisa melihat kalau kedua orang tuanya sudah berubah, wanita itu mencoba untuk mempercayai dua orang yang sudah menyakitinya dahulu.


"Aku akan pergi hari ini, entah kapan aku akan kembali. Aku minta kepada kalian untuk menjaga anak-anakku sebagai ganti atas apa yang telah kalian lakukan. Jangan pernah berusaha untuk menyakiti mereka, cukup aku dan Avara yang menderita, jangan pernah kalian berusaha untuk menyakiti anak-anakku ataupun anak-anak Avara." ancam Caroline.


Benito dan Melsia menggelengkan kepalanya, mereka berusaha untuk mendekati Caroline. mereka berusaha untuk menyentuh Putri yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang itu.


Tiba-tiba Melsia menangis, air matanya tidak bisa terbendung lagi. Suara tangisan itu terdengar begitu keras, penyesalan yang begitu dalam, penyesalan yang entah dimaafkan oleh Caroline atau tidak.

__ADS_1


Maafkan kami, maafkan kami. Maafkan kami." berulang kali Melsia mengatakan itu, rasa sakit yang begitu dalam itu bagaikan sayatan yang begitu dalam.


Suara tangisan itu begitu terngiang di telinga Caroline, baru sekarang kedua orang tuanya memeluknya seperti seorang ibu dan ayah yang begitu mencintai anaknya.


"Ayah mohon maafkan ayah, maafkan ayah, Caroline. Maafkan ayah..," berulang kali pula Benito mengatakan itu.


Rasa sesak itu begitu dalam, terasa sakit hingga menusuk tulang menembus tubuh. Caroline tidak ingin menangis, dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya kepada siapapun.


"Aku berikan kalian kesempatan untuk bersama anak-anakku, jagalah mereka rawatlah mereka seperti kalian merawat seseorang yang kalian cintai." Caroline kemudian melepas pelukan kedua orang tuanya.


Ketika baru keluar dari ruang kosong itu dia sudah melihat John berada di tempat itu.


"Ada apa Jhon?" tanya Caroline.


"Kita akan berangkat sekarang, Nyonya." jawab John.


"Semuanya sudah siap?" tanya Caroline kembali.


"Sudah, Nyonya. Kita menggunakan pesawat pribadi kita ke sana, seluruh anggota kita sudah masuk." jawab John.


Caroline menganggukkan kepalanya, akhirnya dia pergi tanpa berpamitan kepada siapapun termasuk anak-anaknya. tekad Caroline sudah bulat, dia pasti akan membawa orang-orang yang dia kasihi kembali bersamanya.


*Bersambung*


Mohon dukungannya untuk karyaku.


*Isteri bar-bar bos mafia


*Air mata dan pembalasan

__ADS_1


*Isteri bar-bar bos mafia 2


Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊


__ADS_2