ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA 2

ISTERI BAR-BAR BOS MAFIA 2
Kenapa kalian ada di sini


__ADS_3

Setelah canda tawa hari itu ketika malam menjelang Caroline berada di taman belakang rumah. Wanita itu menatap langit yang terlihat tanpa bintang hari ini.


'Apa yang sedang kamu lamunkan, Caroline?" tanya Melsia dan Benito yang sudah ada di tempat itu.


Caroline tidak menjawab, Dia mengelus lengannya kemudian menghela nafasnya begitu dalam.


"Kenapa kalian ada di sini? apa yang sebenarnya kalian inginkan?" tanya Caroline.


DEG..


Benito dan Melsia saling menatap satu sama lain.


"Apa maksudmu, Caroline?" tanya Melsia.


"Kenapa kalian harus berpura-pura? kalian kira aku tidak tahu siapa kalian, kalian kira aku tidak mengenal kalian." jawab Caroline yang kemudian memutar tubuhnya. Dia menatap kedua orang tuanya yang memang penampilannya tidak seperti dulu.


Melsia dan Benito nampak terkejut, mereka tersentak luar biasa ketika Caroline menatapnya dengan tatapan mata yang begitu membenci.


"Memangnya Apa kesalahan kami, Caroline?" tanya Melsia.


"Sudahlah, jangan berbohong lagi. Jangan berakting di depanku, kalian kira aku tidak tahu siapa kalian? kalian kira aku tidak mengenali kalian." jawab Caroline.


Melsia dan Benito langsung mematung, Mereka menatap Caroline yang berulang kali mengatakan itu.


"Nyonya Melsia dan Tuan Benito, Apakah kalian kira aku tidak akan mengenal kalian? merubah wajah kalian seperti apapun aku akan tetap mengenali kalian. Kalian kira aku ini bodoh, Kalian kira kalian akan bisa membohongiku? tidak, seperti apapun kalian aku bisa mengenali kalian. Rasa benci ku ini menuntunku kepada kalian." ucap Caroline.


Benito dan Melsia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, mereka memegang tangan mereka, meremas jari-jari itu dengan kegelisahan yang tidak bisa mereka katakan.


"Jadi Avara memaafkan kalian?" tanya Caroline.


Dua orang itu terdiam.


"Kami sudah berubah Caroline, kami sudah berubah. Kami benar-benar sudah berubah." ucap Melsia berulang kali.


"Secepat itu kah?" tanya Caroline.

__ADS_1


"Hampir 6 tahun kami mendekam di penjara, Caroline. Hampir 6 tahun kami merasakan sesak di tempat itu, kami sudah berubah. kami tidak seperti dulu lagi." jawab Benito.


Caroline menunjukkan senyum sinisnya, Tentu saja dia tidak akan percaya begitu saja. "Berakting lah aku tidak tahu apa-apa, aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Avara. Berakting lah kalian tidak mengenalku, aku akan berpura-pura tidak mengenal kalian." Caroline yang kemudian meninggalkan kedua orang tuanya.


Melsia tidak bisa melakukan apapun, dia memeluk sang suami dengan derai air mata yang mengalir.


"Kita harus menerima ini semuanya, sayang. kita memang pantas mendapatkannya, Jika dia membenci kita itu memang haknya. Jika dia tidak mau menerima kita itu adalah haknya karena kita memang pantas diperlakukan seperti itu." Benito mencoba untuk menenangkan sang istri.


Dari hari ke hari Caroline terus mencari kabar mengenai suaminya, hari ini dia ke Casino, Dia berbicara dengan John mengenai apa yang terjadi kepada suaminya. Dua orang itu membahas dengan begitu detail, kemungkinan demi kemungkinan dipikirkan oleh Caroline dan John.


"Apakah kamu baik-baik saja, Caroline?" Paman McQueen datang ke kasino untuk melihat bagaimana kondisi wanita itu. Dia menelpon Elios, pria itu mengatakan kalau Caroline tidak ada di perusahaan tapi dia ada di Casino.


Elios bertugas untuk memegang perusahaan milik Erik sementara.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, paman. Aku masih belum menemukan keberadaan Suamiku, di mana dia dan bagaimana kabarnya. Hal ini membuatku begitu frustasi, aku benar-benar tidak punya pegangan sama sekali." Caroline berulang kali menghembuskan nafasnya.


"Apa tidak sebaiknya kamu berusaha untuk berbicara dengan mereka semuanya?" tanya paman McQueen.


"Kabar terakhir kata Elios mereka berada di Meksiko, paman." jawab Caroline.


Sudah hampir dua minggu mereka belum mendapatkan kabar sama sekali. Semakin hari Caroline semakin frustasi, semakin hari Caroline semakin kehilangan gairah hidupnya. Dia selalu menatap anak-anaknya. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada suaminya? apa yang harus dia lakukan? wanita itu masih belum siap untuk menghadapi semua ini, menggantikan sang suami untuk sementara membuat Caroline benar-benar begitu goyah.


"Tolong Paman cari tahu di mana keberadaan suamiku tepatnya, Aku tidak ingin seperti ini terus, paman. Aku harus segera mendapatkan keberadaannya, Jika seperti ini terus aku bisa gila, aku bisa kehilangan langkah kakiku untuk berpijak." dari raut wajah Caroline Semua orang bisa melihat kalau wanita itu benar-benar begitu sedih.


"Saya dan anak buah saya akan berusaha mencari keberadaan Tuan, Nyonya. Anda harus bersabar, semoga saja kita akan mendapatkan informasi secepat mungkin." ucap John.


"Dari semua anak buah suamiku hanya kamu yang sangat tegas, John. Jika sesuatu terjadi Bisakah kamu membantuku?" tanya Caroline dengan tatapan mata yang begitu yakin.


"Apa maksudmu, Caroline?" tanya Paman McQueen.


"Sudah dua minggu aku tidak bisa mendapatkan keberadaan suamiku, paman. aku sudah memutuskan untuk mencari suamiku ke Meksiko, aku akan melacaknya sendiri bersama John. Sedangkan Elios aku akan meminta padanya memegang perusahaan, sementara Kak Vivi akan ku tugaskan memantau Casino." jawab Caroline.


"Apa kamu yakin? itu semuanya sangat berbahaya, Caroline. Lalu bagaimana anak-anakmu?" tanya Paman McQueen.


"Aku minta pada Paman untuk menjaga anak-anakku, aku sudah tidak tahu lagi, Paman. apa yang harus aku lakukan, aku takut terjadi sesuatu kepada Suamiku. Aku tidak akan bisa menerima hal ini." jawab Caroline dengan suara yang begitu bergetar.

__ADS_1


Paman McQueen mencoba untuk menenangkan Caroline, dia berusaha sekuat mungkin untuk membuat Caroline setegar mungkin. Siapa yang akan bisa tegar jika kehilangan orang yang dia cintai, siapa yang akan bisa bertahan jika tiba-tiba dia kehilangan suaminya.


"Lebih baik kamu pulanglah dahulu, Caroline." pinta Paman McQueen.


Caroline akhirnya pulang kembali ke rumahnya, dia memikirkan semua jalan hidupnya.


"Nyonya." Panggil Pak sopir.


"Iya Pak." jawab Caroline.


"Apakah kita akan kembali, nyonya?" tanya Pak sopir kembali.


"Kita ke rumah saja, paman. Aku ingin melihat Bagaimana kondisi anak-anakku." jawab Caroline.


Sekitar 20 sampai 25 menit kemudian Caroline sudah sampai di rumah, ketika memasuki rumah terdengar suara canda gurau di dalam rumah itu. Avara dan Jason sudah kembali ke rumah mereka. sepasang suami istri itu meminta Caroline membiarkan kedua orang tuanya di sana untuk sementara.


Ketika berada di ruang keluarga, Caroline melihat kedua orang tuanya bercanda dengan anak-anaknya. Mereka begitu telaten begitu menyayangi si kembar dengan semua pemikiran mereka. Mungkin apa yang dikatakan oleh sepasang suami istri itu benar adanya, bahkan Caroline juga menyelidiki ke salah satu penjara tempat mereka ditahan. sipir mengatakan sudah banyak perubahan di diri dua orang itu.


Caroline terdiam mematung di ruang keluarga, dia menatap anak-anaknya yang terlihat begitu dekat dengan orang tuanya.


"Kamu sudah pulang, Caroline?" tanya Melsia yang kemudian mendekati putrinya.


Caroline menganggukkan kepalanya, dia masih bersikap sedikit dingin kepada kedua orang tuanya.


*Bersambung*


Mohon dukungannya untuk karyaku.


*Isteri bar-bar bos mafia


*Air mata dan pembalasan


*Isteri bar-bar bos mafia 2


Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊

__ADS_1


__ADS_2