
Senyum itu terlihat begitu mengembang ketika dia bertemu dengan saudarinya, namun Caroline masih belum tahu siapa sosok yang ada di samping saudaranya tersebut.
"Siapa dua orang ini, Avara?" tanya Caroline. Wanita itu sangat penasaran dengan sosok yang ada bersama dengan saudaranya.
"Oh ya, Caroline. Perkenalkan, dia adalah putraku." Avara memperkenalkan putranya. karena masih belum bisa memperkenalkan kedua orang tuanya.
Avara lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan dengan adiknya. Benito ataupun Melsia sudah menceritakan mengenai apa yang sudah mereka lakukan. Memang mereka sudah bertobat juga sudah menerima apa yang terjadi kepada mereka. Hukuman selama 5 tahun lebih membuat mereka sadar, dua orang itu dipenjara tanpa ada yang menjenguknya, yang lain dijenguk keluarganya namun mereka berdua tak satupun ada yang menjenguk.
"Oh ya, Siapa namamu?" tanya Caroline kepada bocah pria yang mungkin berusia sekitar 7 tahun.
"Namaku Peter, tante." jawab Peter.
Caroline tersenyum, sesaat kemudian wanita itu meminta salah satu pembantu yang ada di rumah untuk memanggil anak-anak mereka.
Sekitar 5 menit kemudian 4 anak kembar sudah datang di hadapan Semua orang.
"Sayang, ke sini." ajak Caroline.
"Ada apa, Mama?" tanya Jesselyn.
"Sayang, sini." Caroline melambaikan tangannya. "Sayang, perkenalkan ini adalah bibi Avara. kalian pernah dengar cerita Mama kan?" tanya Caroline.
"Jadi dia kakak mama?" tanya Jesselyn dengan dua bola mata yang berbinar-binar.
Caroline menganggukkan kepalanya.
"David, Daniel, Joshua, Jesselyn. perkenalkan diri kalian." pinta Caroline.
Satu persatu anak-anaknya memperkenalkan diri kepada sepasang suami istri itu, Avara dan Jason tidak menyangka kalau gadis barbar yang dulu tingkahnya kelewat batas itu sekarang mempunyai empat anak kembar.
"Kamu mempunyai anak kembar, Caroline?" tanya Avara yang tidak percaya.
Caroline tersenyum menatap saudaranya.
"Iya, kak. Aku mempunyai empat anak ini. Ini Daniel, David, Joshua serta yang paling cantik adalah Jesselyn." jawab Caroline.
Tatapan mata Benito dan Melsia menatap keempat anak Caroline, ternyata anak-anak itu selamat. Air mata Melsia seketika menetes, Dia memegang tangan suaminya dengan begitu erat.
"Syukurlah mereka masih hidup, sayang. syukurlah..," ucap lirih Melsia.
Benito tidak menjawab namun dia menyentuh tangan sang istri.
__ADS_1
"Kalian masuklah, Ayo ke ruang keluarga. Oh ya David Daniel, Joshua, jesslyn Ajax saudara kalian ini ke tempat kalian." pinta Caroline.
Keempat anak kembarnya mengajak Peter, mereka begitu senang namun berbeda dengan Jesselyn.
"Mama, kenapa semuanya laki-laki? lalu apakah di antara kalian semuanya tidak ada yang punya anak perempuan? kenapa harus aku sendirian yang perempuan." kesal Jesselyn.
Caroline malah tersenyum, dia mengelus rambut putrinya dengan begitu lembut. "Karena kamu paling cantik, mereka adalah saudara-saudaramu kan? mereka akan selalu menjagamu." jawab Caroline.
Avara, Jason serta Benito dan Melsia tidak akan percaya dengan apa yang mereka lihat, sekarang Caroline benar-benar sudah dewasa, sudah menjadi seorang wanita yang begitu luar biasa. cara bicara dan tingkahnya memang sudah banyak berubah.
"Aku tidak akan pernah mengira kamu benar-benar menjadi wanita, Caroline." ucap Jason.
"Jangan, banyak menggodaku. Oh ya, ada satu orang lagi yang harus kalian temui mumpung dia belum pergi dari sini." ucap Caroline.
"Siapa?" tanya Avara.
Caroline kembali meminta salah satu pembantunya untuk memanggil Ruhan yang ada di rumah bagian belakang.
Tak berselang lama Ruhan berada di sana, tatapan mata orang-orang itu menatap Ruhan yang juga berada di rumah Caroline.
"Ruhan!!" seru Avara.
"Avara, Jason." Ruhan yang juga terkejut karena Avara sudah ada di tempatnya Caroline.
Orang-orang itu berkumpul di sana, satu keluarga menjadi satu. Benito ataupun Melsia Hanya bisa meneteskan air matanya, dulu jika semuanya tidak mereka lakukan mungkin kebahagiaan ini dia rasakan semenjak dulu bukan sekarang. Dia hanya bisa melihat tanpa bisa merasakan.
Caroline benar-benar merasa penasaran dengan sosok dua orang yang ada bersama dengan saudarinya, ada perasaan yang begitu menyakitkan. Ada perasaan yang tidak bisa dia katakan. Entah mengapa Caroline merasa dia begitu membenci dua orang itu, perasaan itu tidak bisa dia pungkiri atau pun dia hindari sama sekali.
"Ada apa, Caroline?" tanya Avara ketika melihat saudarinya terus menatap kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa, Oh ya. Kalian sudah makan belum?" tanya Caroline.
"Belum." jawab Jason tanpa rasa malu sama sekali.
Caroline tersenyum menatap orang-orang itu, betapa bahagianya dia hari ini. Seharusnya Erik berada di sana untuk merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh istrinya.
"Dimana suamimu, Caroline?" tanya Avara.
Caroline terdiam, sesaat setelah itu dia menunjukkan senyumnya. "Suamiku ada pekerjaan di tempat yang jauh, mungkin masih ada di benua Eropa." jawab Caroline yang berbohong.
Setiap kali ada orang yang menyinggung mengenai Erik, perasaan Caroline tiba-tiba menjadi begitu gundah. Melsia yang melihat putrinya seperti itu dia memberanikan diri untuk mendekatinya.
__ADS_1
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Melsia dengan begitu lembut.
Ada perasaan yang begitu berbeda ada sesuatu yang membuat Caroline langsung menatap Melsia. "Tidak apa-apa, Nyonya. hanya saja aku merindukan suamiku, padahal masih beberapa hari dia pergi untuk mengurus bisnisnya." jawab Caroline sembari tersenyum.
"Kalian tidurlah di sini untuk beberapa hari." pinta Caroline.
"Bolehkah kami menginap di sini?" tanya Melsia tiba-tiba.
"Tentu kalian boleh tinggal di sini, Oh ya dari tadi kamu belum menjawab pertanyaanku."
"Apa, Caroline? Memangnya kamu bertanya apa." jawab Avara.
"Siapa 2 orang ini? apakah dia keluargamu?" tanya Caroline.
Avara bingung untuk mengatakannya sedangkan Benito dan Melsia Mereka takut jika tiba-tiba putrinya mengenali mereka.
"Mereka adalah ibu angkatku yang ada di sini, merekalah yang sudah membantu kami." jawab Jason yang berbohong.
Avara menganggukkan kepalanya, Caroline tersenyum menatap saudaranya.
"Ya sudah, kalian makan dulu setelah itu para pekerja ku akan membawa kalian ke kamar istirahat." ucap Caroline.
"Aku masih boleh tidur di sini kan, Caroline?" Ruhan tidak mau kalah.
"Memangnya kamu mau tidur di sini berapa hari? aku tidak mau kalau kamu tidur di sini untuk selamanya, buat apa suamiku memberimu apartemen Kalau kamu masih tidur di rumahku." cibir Caroline.
"Ayolah, Caroline. Kita semua kan berkumpul, aku merindukan suasana seperti ini." jawab Ruhan.
"Ya sudah kalau begitu kita makan dahulu." ajak Caroline.
Si kembar dan Peter juga dipanggil untuk makan, di ruang makan itu terlihat begitu ramai padahal biasanya hanya ada Caroline Erik si kembar kalaupun itu ada Kelvin, elios dan beberapa orang lagi.
Hari ini terdengar suara yang begitu ramai, Caroline tersenyum begitu bahagia saat melihat keluarganya.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*Air mata dan pembalasan
__ADS_1
*Isteri bar-bar bos mafia 2
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊