
DEG..
DEG..
DEG..
jantung orang-orang yang ada di ruang rapat berdebar tidak menentu, mereka dibuat ketakutan oleh istri Erik Regan. Semua pasti mengira kalau wanita itu adalah wanita lembut dengan semua kelemahan yang dia miliki, namun sayangnya apa yang mereka pikirkan itu benar-benar tidak sama.
Pemikiran Mereka ternyata semuanya salah, wanita itu lebih menakutkan daripada Erik Regan. Pantas ada peribahasa wanita yang terluka akan lebih menakutkan daripada seorang pria, Bahkan dia akan sangat mirip dengan iblis yang baru terbangun.
"Ampun.. ampuni kami." ucap salah satu pria yang terluka.
Caroline tidak akan menunjukkan belas kasihan sama sekali, wanita itu menatap orang-orang yang ada di sana. Pisau yang tadi dia buat untuk melukai mereka sudah ada di tangannya. Dia memutar pisau itu seperti sebuah permainan anak-anak.
"Jangan pernah berusaha untuk bermain-main denganku, Mungkin aku hanyalah seorang wanita. Namun kalian harus tahu, wanita juga sama seperti laki-laki. Jika dia marah dia akan sangat berbahaya, jika kalian bermain-main dengannya maka kalian harus menerima hukumannya."
John dan Elios saling menatap satu sama lain, semakin hari semakin ke sini Caroline menunjukkan sifat asli yang mungkin dari dulu dia miliki.
"Aku beri kalian waktu selama 10 menit, aku beri kalian waktu untuk berpikir ulang dan berpikir dengan bijaksana. Cepat katakan Siapa yang ingin melawanku dan Siapa yang ingin berdiri bersamaku." Caroline menatap satu persatu orang-orang yang ada di tempat itu, dia menatap mereka dengan tatapan mata yang memprovokasi, menakut-nakuti, mengancam dan terakhir mungkin akan membunuh jika mereka berkhianat.
"Aku.. aku akan tunduk padamu, aku akan menerima semua perintahmu." ucap pria setengah baya yang tangannya sudah terluka. Percuma saja dia melawan, jika wanita itu tetap pada pendiriannya Mungkin dia akan mati kehabisan darah di ruang rapat itu.
"Kamu dengar sendiri kan John, pastikan pria ini tidak menghianatiku, jika sampai dia menghianati kita bunuh seluruh keluarganya tanpa tersisa. Aku tidak peduli mereka tidak tahu menahu, tapi hukum alam liar seperti itu." ucap Caroline.
__ADS_1
John dan Elios menganggukkan kepala, mereka meminta beberapa anak buah mereka untuk membawa pria yang tangannya terluka itu untuk dirawat.
"Aku akan menunggu jawaban kalian, sementara itu kalian menginaplah di sini, silakan kalian bermain-main di sini untuk sementara waktu." Caroline kemudian berdiri. dia hendak meninggalkan ruangan itu.
Siapa yang akan mau mati konyol di tempat itu dengan beberapa orang yang terluka, jika mereka melawan mereka akan mati, jika mereka tidak melawan takutnya dia hanyalah seorang wanita.
"Apakah kamu bisa menjamin kalau kau bisa berdiri seperti Tuan Erik?" tanya salah satu pemegang saham.
Caroline menghentikan langkah kakinya, dia memutar tubuhnya menatap salah satu pria. "Aku dan suamiku berbeda, Kami mempunyai pemikiran yang berbeda, tapi aku bisa memastikan kalau aku bisa berdiri di samping kalian." jawab Caroline yang kemudian lanjutkan langkah kakinya.
"Kami tidak akan melawan! kami akan patuh padamu!" seru orang-orang yang ada di tempat itu.
Tiga belas orang, 10 laki-laki 3 diantaranya wanita, mereka semuanya memilih untuk melanjutkan kerjasama dengan perusahaan itu ya daripada mereka harus kehilangan nyawa tiba-tiba.
"Baguslah kalau kalian berpikir seperti itu, sekarang kalian bebas, kalian bisa keluar dari sini. Tapi jika kalian berani berkhianat kepadaku jangan salahkan aku jika Keesokan pagi kalian akan kehilangan segalanya." Caroline meminta John dan Elios mengurus mereka. Wanita itu pergi meninggalkan ruang rapat.
"Aku ingin kalian lakukan seperti yang aku minta, kalian sisir seluruh tempat ini, cari beberapa orang yang sudah berkhianat karena aku mendapatkan beberapa laporan kalau beberapa petinggi bagian keuangan sudah menggelapkan uang." ucap Caroline.
"Baik, nyonya." jawab anak buah sang suami.
Caroline berdiri di depan Dinding kaca perusahaan, dia menatap keluar tempat itu, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Namun dia harus setegar mungkin untuk melindungi seluruh keluarganya.
Sang suami sedang terluka, dia tidak ingin pria itu semakin tersiksa karena tidak bisa melindungi keluarganya. Berulang kali wanita itu menghembuskan nafasnya, menatap dunia luar yang begitu kejam, tak ada Jalan Kembali untuknya. Yang harus dia lakukan sekarang adalah berusaha untuk berdiri dan berusaha untuk menjadi lebih kuat.
__ADS_1
"Nyonya." Panggil Elios.
"Ada apa Elios?" tanya Caroline.
"Kemungkinan besar orang-orang yang ada di ruang rapat itu akan berkhianat kepada Nyonya." ucap Elios.
"Biarkan saja, Elios. untuk saat ini kita beri mereka waktu." jawab Caroline.
Jawaban setenang itu bukanlah jawaban yang diinginkan oleh Elios, pria itu tahu kalau Caroline benar-benar begitu bimbang. dia hanyalah seorang wanita namun sekarang dia harus berusaha untuk mendapatkan kekuasaan sang suami.
Aku sudah meminta beberapa anak buah kita untuk melacak mereka, kamu jangan khawatir.
"Oh ya, tolong kamu jaga perusahaan ini dengan baik. Aku tidak ingin hasil kerja keras suamiku dan kalian semua hancur di tanganku." ucap Caroline yang kemudian memutar tubuhnya menatap Elios. tatapan mata yang begitu dingin itu terlihat di wajah Caroline.
Tidak seperti biasanya wanita itu akan berbicara begitu nyeleneh, bahkan terkesan tidak masuk akal.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*Air mata dan pembalasan
__ADS_1
*Isteri bar-bar bos mafia 2
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊