
"Iya, wanita itu masih belum mendapatkan keberadaan anda." si penghianat sudah memberi informasi kepada Hugo.
Sedangkan Caroline, dia sudah mengetahui Siapa orang yang sudah berkhianat padanya. dari semua gelagat pria itu Caroline menebak kalau mereka akan melakukan sesuatu.
Caroline sudah bersiap-siap dengan semua rencananya bersama dengan Jhon, Beberapa anak buahnya sudah dipecah menjadi dua Caroline akan menangkap si penghianat dengan tangannya sendiri, wanita itu memakai sebuah alat seperti cincin namun mempunyai besi yang lumayan tebal.
"Apa Nyonya akan melakukannya?" tanya John.
"Tentu saja aku akan melakukannya, John. Aku tidak akan membiarkan dia lepas begitu saja. Beraninya dia menghianatiku, tak ada jalan keluar bagi penghianat." Caroline yang kemudian berjalan ke tempat beberapa anak buahnya.
Dua anak buah Hugo sudah diamankan, Fitri membawa seluruh anak buahnya ke salah satu ruangan.
"Apa kita akan langsung mencari keberadaan Tuan Erik, nyonya?" tanya salah satu anak buah John.
"Tentu saja aku akan pergi mencari keberadaan suamiku, tapi sebelum itu aku harus mengatakan ini kepada kalian." Caroline yang kemudian berdiri. Dia mengambil salah satu pistol yang ada di tubuhnya, dia mengarahkan pistol itu kepada beberapa anak buahnya. Melihat hal itu tentu saja mereka sangat terkejut, sontak beberapa anak buah Erik langsung memecah dirinya.
"Ada apa, Nyonya?" tanya beberapa anak buah Erik.
"Kalian akan tahu nanti." jawab Caroline.
Pistol yang ada di tangan Caroline sudah diarahkan ke salah satu anak buah John, dia menarik pelatuknya kemudian..
DOR..
satu tembakan mengenai si pria pengkhianat.
"Apa yang anda lakukan?!" seru beberapa anak buah sang suami.
"Aku tidak akan memberi maaf kepada seorang penghianat." jawab Caroline.
"Maksud nyonya?" tanya mereka semuanya.
"Kenapa kita tidak bisa menemukan keberadaan suamiku? karena salah satu diantara kalian sudah berkhianat dan penghianat ini sudah aku beri hukuman." jawab Caroline.
"Apa salahku, Nyonya? aku bukanlah penghianat." ucap si pria.
__ADS_1
Caroline tersenyum kemudian mendekatinya. "Kamu kira aku tidak tahu apa-apa, kamu kira aku wanita bodoh? kamu harus tahu, aku tidak sebodoh itu dan aku tidak akan menjadi bodoh karena kamu mengelabuhiku." jawab Caroline.
"Aku adalah anak buah setia dari tuan Erik, aku tidak mungkin menghianatinya!' si pria terus mengelak.
Tentu saja Caroline hanya tersenyum, dia menatap penghianat yang sudah menghianatinya.
"Aku tidak akan pernah memberimu maaf karena kamu sudah berani membohongiku, Aku tidak akan pernah memberimu maaf karena kamu sudah membuatku seperti ini. kamu harus tahu, pengkhianat sepertimu tidak akan aku lepaskan seperti apapun. Kamu sudah menghianati suamiku, maka hukuman ini pantas untukmu." jawab Caroline.
"Apa Nyonya yakin kalau dia adalah penghianatnya?" tanya salah satu anak buahnya.
"Tentu saja aku tahu karena aku sudah memantau Dia, setiap gerakannya sudah aku ketahui, dan juga anak buah Hugo yang tadi kita tangkap juga sudah memberi informasi kalau salah satu anak buahku sudah berkhianat." jawab Caroline.
Beberapa orang yang ada di sana menatap pria yang sudah terluka itu.
"Kamu sudah menjual informasi maka lidahmu itu sudah tidak berguna lagi, mulut yang suka melakukan kejahatan makam mulut itu harus aku sobek." Caroline yang kemudian mengambil gunting yang dia temukan di tempat itu.
Wanita itu tersenyum, senyumnya memang seperti malaikat pencabut nyawa.
"Ucapkan selamat tinggal, kamu sudah berani menghianatiku maka kamu harus berani menanggung konsekuensinya. Berapa uang yang diberikan kepadamu maka uang itu tidak akan berguna sama sekali bagimu." Caroline yang kemudian tersenyum.
Sifat kejam Caroline akhirnya perlahan-lahan mulai tumbuh, tumbuh begitu menakutkan hingga siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri. Erik terkenal kejam namun istrinya lebih mengerikan, pantas saja beberapa anak buah Erik mengatakan kalau Caroline adalah malaikat pencabut nyawa.
"Ikat dia di sini, jangan biarkan dia mati secepat itu. Lidahnya sudah tidak berfungsi mulutnya tidak bisa dibuat untuk berbicara, dia sudah tidak berguna Karena dia sudah berani menghianatiku." beberapa perkataan juga apa yang dilakukan oleh wanita itu membuat sebagian anak buahnya bergidik ngeri.
Mereka mengusap tangan mereka berulang kali, dengan menyentuh dada mereka saat melihat Caroline menyiksa anak buahnya yang berkhianat.
"Aku akan memberikan kalian lebih dari yang kalian inginkan, aku akan memberikan kalian lebih dari yang kalian lakukan jika kalian berkhianat." setelah mengatakan itu Caroline langsung bergegas meninggalkan anak buahnya.
Tatapan mata yang sangat menakutkan itu membuat mereka harus berpikir ulang. Terasa ludah yang ada di tenggorokan mereka tidak bisa ditelan dengan baik, begitu pula dengan John. Tatapan matanya tidak bisa teralih ketika dia melihat istri Bosnya itu, memberi siksaan yang begitu luar biasa.
"Apa kita akan ke Brazil, Nyonya?" tanya John.
"Tentu, hilangkan semua jejak kita terlebih dahulu, buat seolah kita kehilangan arah."
"Baik, nyonya." John yang kemudian mulai menyebar informasi kalau mereka sudah kehilangan arah dan mungkin akan kembali ke tempat mereka.
__ADS_1
Hugo yang berada di markasnya dia sudah mendapat informasi kalau istri dari Erik itu sudah kehilangan arah, mereka akan segera kembali ke tempat mereka.
"Hahaha.., ternyata anak buahmu tidak bisa mencari keberadaanmu, Erik. Lihatlah mereka semuanya itu bodoh, mereka tidak bisa menemukan keberadaan kalian!" seru Hugo.
Erik dan yang lain tentu saja terdiam, pria itu masih belum tahu kalau rencana lanjutan sudah dibuat oleh Caroline dan John, Caroline juga sudah memberitahu mengenai keberadaan Erik kepada paman McQueen. pria itu memutuskan untuk menyusul Caroline ke Brazil, mungkin akan butuh waktu yang sedikit lama bagi Paman McQueen untuk sampai ke negara itu.
Keesokan hari pesawat Caroline sudah mendarat di salah satu tempat. "Lebih baik kalian beristirahat dahulu, kita harus mencari losmen atau apapun, kita di sini adalah orang asing Jangan bertindak terlalu ke gabah." perintah Caroline.
"Baik, nyonya." jawab John yang kemudian meminta anak buahnya untuk mencari mobil untuk mereka sewa.
Setelah sampai di tempat itu Caroline mencari penginapan, hotel atau apapun untuk mereka bersembunyi. Mereka harus menghilangkan jejak terlebih dahulu untuk mencari keberadaan Erik dan yang lain.
"Nyonya, Saya sudah menemukan keberadaan Tuan Erik. cincin itu sudah diaktifkan."
"Baiklah, John. Coba kamu pantau tempat itu, kita tidak akan langsung menyerang mereka, kita tidak tahu mereka seperti apa jika kita langsung menyerang mereka. Takutnya tempat itu adalah markas besar mereka." ucap Caroline.
"Baik, nyonya." jawab John yang kemudian meminta beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Erik dan yang lain.
Sekitar dua hari Caroline memantau tempat yang sudah dilacak oleh John.
"Nanti malam kita akan bergerak." ucap John.
"Itu adalah sebuah tempat yang sudah terbengkalai kan, John?" tanya Caroline.
"Benar sekali, Nyonya." jawab John.
Di sebuah bangunan yang sudah terbengkalai entah itu kota mati atau apa namun yang jelas tempat itu jauh dari pemukiman.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*Air mata dan pembalasan
__ADS_1
*Isteri bar-bar bos mafia 2
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊