
Keberadaan Erik sudah ditemukan, Caroline harus membawa sang suami kembali bersamanya. Sesulit apa dan bagaimana caranya Caroline akan mendapatkan suaminya.
Perjalanan pun dimulai, Caroline sudah mempersiapkan seluruh persenjataan bersama anak buahnya. Di sebuah hutan yang memang terkenal akan semua kejahatan yang sering dilakukan di tempat itu.
"Nyonya sudah memakai semua perlengkapan?" tanya John.
"Tentu saja, John. Aku sudah membawa dan memakai seluruh peralatan kita. Aku tidak akan mati konyol John." jawab Caroline.
John tersenyum dengan jawaban yang dikatakan oleh majikan wanitanya. "Sebentar lagi kita akan sampai, Nyonya."
"Kabari seluruh anak buah kita, segera bersiap-siap. kalian jangan sampai terlalu dekat, kita akan berhenti sekitar beberapa meter agar mereka tidak mengetahui kedatangan kita."
"Baik, nyonya." jawab John yang kemudian memerintahkan anak buahnya untuk berhenti di sekitar beberapa meter.
Caroline sudah memakai rompi anti peluru dan beberapa senjata yang sudah dia pegang, beberapa pistol dia selipkan di pinggang dan punggungnya. Beberapa pistol lagi di sekitar kaki dan jaket yang dia pakai.
Orang-orang itu benar-benar seperti pasukan yang akan maju berperang, mereka sudah mempersiapkan persenjataan dengan begitu lengkap. Ada beberapa penembak jarak jauh yang sudah mencari posisi yang paling tepat, Caroline juga menghubungi beberapa teman dari Paman McQueen yang ada di Meksiko. Semuanya berjalan seperti yang direncanakan oleh wanita itu dengan paman McQueen.
"Kita harus berhati-hati, Nyonya." ucap John.
Caroline menganggukkan kepalanya, John berpisah dari Caroline. beberapa anggota Caroline berpencar menjadi beberapa. wanita itu bersama tiga anak buahnya, dia mulai memantau situasi yang ada di sekitar tempat itu.
"Kelihatannya tempat ini aman, Nyonya." ucap salah satu anak buah Caroline.
"Kalian harus hati-hati." ucap Caroline.
Perlahan-lahan Caroline masuk ke sebuah gedung yang mungkin sudah lama tidak terpakai, wanita itu mengendap-ngendap, satu musuh ada di depannya dengan posisi memunggungi dirinya. Caroline langsung mengangkat pistolnya dan..,
Slepp...
satu tembakan langsung membuat satu musuh tumbang. Caroline berjalan sepelan mungkin tanpa suara, tempat itu begitu banyak ruangan. Seluruh anak buah Caroline sudah berada di tempat itu, 10 orang berada di luar 22 orang bersama Caroline sudah masuk ke ruangan itu. Bangunan itu nampak sangat kumuh, bau ada di mana-mana.
Caroline menatap tempat itu, dia berjalan perlahan sembari membuka ruangan satu persatu. Tangannya diarahkan ke ruangan itu, alhasil di dalam ruangan itu kosong tidak ada siapapun.
"Sebenarnya di mana orang-orang itu." ucap Caroline.
Bangunan itu berlantai dua, entah Erik ada di lantai 2 atau lantai 1 yang jelas Caroline belum mendapatkan keberadaan suaminya.
Slepp..
Beberapa tembakan sudah dilepaskan oleh wanita itu, setiap ruangan yang dijaga dimasuki oleh Caroline. Hanya ada beberapa musuh di tempat itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun wanita itu langsung melepas tembakan. Pantas saja julukannya malaikat kematian, dia benar-benar seperti sosok malaikat pencabut nyawa. Malaikat kematian, nama itu disandangkan oleh Caroline karena ini bukan kali pertama wanita itu turun ke dunia yang sangat menakutkan ini.
__ADS_1
John sudah masuk ke beberapa ruangan bersama anak buahnya, dia juga belum mendapatkan keberadaan Erik ataupun Kelvin dan yang lain.
Tut..
John mencoba menghubungi Caroline.
"Ada apa, John?" Caroline menjawab panggilan John melalui alat yang dia pakai.
"Nyonya kelihatannya tempat ini bukan tempat yang akan kita tuju." ucap John.
"Apa maksudmu?" tanya Caroline.
"Kelihatannya tempat ini bukanlah tempat penyekapan Tuan Erik."
"Lalu?" Caroline yang mulai bingung.
"Kelihatannya ini gudang terbengkalai, tempat ini mungkin milik orang-orang itu. Kemungkinan besar Tuan Erik memang pernah ada di sini." jawab John.
"Tangkap beberapa orang yang ada di sini, John. Aku ingin mereka mengatakan Di mana keberadaan suamiku." perintah Caroline.
"Baik, nyonya." jawab John.
Mengetahui kalau sang suami tidak ada di tempat itu Caroline benar-benar sangat frustasi dan murka.
"Lepaskan aku!" seru salah satu anak buah Hugo.
"Dasar brengsek! tutup mulutmu!" bentak John.
Caroline melihat dua orang itu, seketika terlintas sebuah kekejaman yang tidak akan dipikirkan oleh siapapun. "Di mana para tahanan itu?" tanya Caroline.
"Cih.., Aku tidak tahu apa yang kamu maksudkan." jawab dua orang itu sembari meludah.
Caroline mencoba untuk bersikap setenang mungkin, dia menatap dua orang yang sudah ditangkap oleh John. "Minta anak buah kita yang di luar untuk memantau sekitar tempat ini, John. aku akan sedikit bermain-main jika mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun." jawab Caroline .
Dua anak buah John menatap Caroline yang ada di depan mereka, senyum yang ditunjukkan oleh wanita itu benar-benar sangat menakutkan. Senyum itu seperti senyum seorang iblis yang baru lahir ke dunia ini.
"Cepat katakan di mana keberadaan mereka." ucap Caroline.
"Aku tidak tahu apa maksudmu." jawab 2 anak buah Hugo.
Caroline tersenyum, sesaat kemudian wanita itu mengambil salah satu pistolnya. "Kamu tahu, jika seorang wanita marah maka kemarahannya itu tidak akan pernah bisa dihentikan oleh siapapun." Caroline menatap dua orang itu. Senyum yang begitu cantik dia tunjukkan, salah satu tangannya mengangkat pistol kemudian mengarahkan ke jari jari kaki dua anak buah Hugo.
__ADS_1
"Kamu akan merasakan bagaimana penyiksaan di tanganku." senyum Caroline ketika dia mengarahkan pistol itu ke kaki dua anak buah Hugo. Sebelum itu Caroline mengambil alat peredam dari pistolnya.
DOR!!
DOR!!
DOR!!
Tiga tembakan di arahkan oleh Caroline ke kaki salah satu pria.
"Aaaaa!!!!" teriak si pria ketika kakinya ditembak oleh Caroline.
Caroline kembali tersenyum Setelah dia menembak kaki salah satu pria, sesaat kemudian dis menatap salah satu pria yang ada di samping pria yang dia tembak. Kali ini wanita itu tidak mengarahkan pistol ke kaki si pria melainkan ke arah telinga.
"Aku bertanya tidak kamu dengar, itu artinya telingamu ini tersumbat sesuatu." ucap Caroline.
"Apa yang akan kamu lakukan?!" seru si pria.
"Aku tidak akan menembak mu, tapi aku akan memberikanmu hadiah yang sangat spesial." jawab Caroline yang kemudian mengambil atang besi seukuran telunjuk jari yang panjangnya sekitar 50 cm itu.
"Kamu tahu bagaimana jika Batang besi ini menembus tubuhmu juga menembus matamu?" tanya Caroline.
Si pria nampak tersenyum. "Kamu kira aku akan takut dengan ancamanmu?!" seru si pria.
Caroline menatap dua pria itu.
"John..," Panggil Caroline dengan nada yang begitu menakutkan.
ZLEPP...
Seketika Batang besi yang ada di tangannya langsung ditusukkan oleh wanita itu ke telapak tangan si pria. Tentu saja suara teriakan Indah langsung terdengar begitu luar biasa, pria yang tangannya sudah ditembus oleh batang besi itu.
"Aku tidak akan membunuh kalian, aku pasti akan memberi kalian hadiah yang sangat spesial." Caroline yang kemudian kembali duduk di salah satu kursi yang tadi berserakan entah ke mana.
*Bersambung*
Mohon dukungannya untuk karyaku.
*Isteri bar-bar bos mafia
*Air mata dan pembalasan
__ADS_1
*Isteri bar-bar bos mafia 2
Baca novelku yang lain, terima kasih 🥰👍❤️😊😊