
"Tapi, kalo ancaman Aryan tadi beneran gimana ya? Waduh, bisa lecet nih permata intan berlian gue." Ucapnya lagi.
Santai, Kesya. Kalo pun itu memang terjadi, palingan licet dikit. Masih bisa sembuh kok, dan gak ngurangi rasanya. Hahaha
********
"Key! Kayanya Nyokap gue udah curiga deh sama gue. Gue mau bilang sama lo, klo gue bakalan tinggal dirumah nyokap gue selama beberapa hari, gak apa-apa kan?"
"Gak masalah sih. Ya udah, mendingan lo pulang sekarang aja. Keburu malam."
"Lo juga ikut, gimana?"
"Gila, lo! Nyari perkara itu namanya."
"Gue rasa, kita harus jujur ke orang tua gue. Mau sampai kapan kita sembunyiin ini semua? Gimana, lo mau gak?"
"Gue ikut aja sih. Cuma, emang lo udah sanggup klo nanti ada apa-apa, gimana?"
"Gue siap apapun yang terjadi. Karna, gue gak mau sampe lo jatuh ke tangan orang lain." Ucapnya yang membuat Kesya langsung menoleh ke arahnya.
"Maksud lo?"
"Gue cinta sama lo Key! Gue gak sanggup dan gak akan rela kalo lo akan jatuh ke tangan orang lain. Kalo lo gimana?"
'Yaelah, dia juga suka ternyata sama gue. Sikat langsung ah, keburu di embat orang ntar.' Batin Kesya
"Em...gue...e.."
'Astaga! Susah amat sih ni mulut di ajak kompromi. Pake gugup segala lagi. Bikin greget aja.'
'Kira-kira, Kesya suka juga gak ya sama gue? Ah bodoh amat lah, yang penting dia udah tau kalo gue cinta sama dia.' Batin Aryan
"Gue juga sayang sama lo, Yan. Tapi kayanya perasaan ini gak mungkin bisa terjadi."
"Lo udah punya Kanaya. Dan gue, gue hanya benalu yang selalu bawa masalah kedalam hidup, lo."
Aryan menangkup wajah Kesya. "Heh, kata siapa? Malah, setelah hadirnya diri lo di dalam hidup gue, hidup gue lebih bewarna."
"Maksud lo? Bukannya hidup lo lebih bewarna ya, setelah hadirnya Kanaya?"
"Kata siapa? Jadi, jasa papanya Kanaya itu udah banyak banget untuk keluarga gue. Dan untuk membalas itu semua, gue harus menikah dengan Kanaya."
"Kanaya itu jauh berbeda dengan lo Key. Dia lebih ke egois dan keras kepala. Apa yang dia inginkan, harus terwujud. Dia selalu mentingin diri sendiri, tanpa sesekali memikirkan perasaan gue."
"Dengan ada nya, lo. Gue jadi tau apa itu cinta. Dan gue juga gak tau kapan cinta itu datang. Gue sayang sama lo, Key. Gue gak rela kalo lo sampe jadi milik orang lain."
"Gue tau Aryan. Masalahnya, hubungan kita ini salah. Dan, orang tua lo juga gak bakalan setuju kalo tau kita udah nikah."
__ADS_1
"Lo tenang aja, Key. Gue akan memperjuangkan cinta gue. Mendingan lo siap-siap, kita kerumah orang tua gue sekarang."
"Tapi, gue takut Yan. Gue belum sanggup buat jumpa sama orang tua lo." Ucap Kesya dengan wajah ketakutan.
"Lo tenang aja, ada gue yang selalu jaga lo ke manapun dan kapan pun."
Kesya pun mulai bersiap untuk berkunjung ke rumah sang mama mertua.
Sepanjang perjalanan, Kesya sangat takut. Iya takut akan kemarahan orang tua Aryan kepada nya.
"Yan, gue takut banget deh." Keluhnya
"Kamu tenang aja. Ada aku kok." Sahut Aryan sambil terus fokus mengemudi.
"Apaan tuh? Aku kamu? Gak salah lo?"
"Kan gak masalah sih."
"Idih! Giloh gue, Yan. Aku kamu? Buahahaha...."
"Yaelah, malah ketiwi."
"Ketawa blo'on!" Ucap Kesya menimpali
"Udah, sekarang panggilannya di ganti jadi aku dan kamu, gimana? Keren tau. Apalagi ada sayang-sayangnya."
"Gimana sayang?" Godanya sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Stres lo!"
********
Saat telah sampai di kediaman orang tua, Aryan. Kesya sama sekali enggan untuk masuk. Berkat bujukan dari Arkan, akhirnya kesya ikut masuk ke dalam.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, Aryan? Akhirnya kamu pulang juga nak!" Ucap Mama Indri sambil memeluk erat anak sulungnya.
"Mama apa kabar?"
"Baik, Nak." Lalu pandangannya beralih pada wanita di samping Aryan yaitu, Kesya.
"Dia siapa, Aryan?"
"Kita bicarakan di dalam aja, Mah." Ucapnya lalu masuk ke dalam.
Mereka berkumpul di suatu ruangan. Disana ada ibu, dan adiknya. Mereka semua menanti jawaban siapa wanita yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak, siapa wanita ini?" Tanya Vidya adik Aryan.
"Mah, ini Kesya. Istri Aryan."
"Apa?" Jawab keduanya serentak. "Sejak kapan kamu menikah, Aryan? Mengapa kamu tidak memberi tahu mama?" Tercetak gurat kecewa dari raut wajahnya
"Panjang ceritanya, Mah. Ini semua atas kesalah pahaman. Sampai kami di paksa nikah di saat itu juga."
"Apa kau menidurinya? Apa kau berbuat maksiat? Sehingga orang-orang menyuruhmu menikah?" Murka sang mama
"Ma, sumpah Aryan gak ada ngapa-ngapin mah. Ini semua salah paham."
"Mama gak mau dengar jawaban kamu, Aryan! Mama kecewa sama kamu! Kurang baik apa lagi mama, sampai-sampai kamu melalukan hal keji ini?"
"Mah..." lirihnya. Mama Indri yang merasa kecewa itu pun pergi berlalu menuju kamarnya.
"Aryan, gimana ini?" Ucap Kesya panik.
"Udah, tenang aja!" Ucap Aryan mencoba menguatkan Kesya.
"Kak, emang bener apa yang mama bilang tadi?" Kini sang adik yang angkat bicara.
"Yang di katakan Mama itu gak benar, Vadya! Mama cuma salah paham." Lalu Aryan pun mulai menjelaskan awal mula musibah yang menimpa dirinya.
"Jadi, Kakak gak buat yang di larang agama kan, Kak?"
"Ya enggak lah! Kakak berani sumpah! Kalo kakak memang gak pernah ngelakuin hal yang bukan-bukan."
Tiba-tiba, Sang Mama datang dengan menenteng sebuah koper, lalu meletakkan di hadapan Aryan.
"Mah, apa ini? Koper siapa yang mama bawa?"
"Pergi kamu, Aryan! Pergi! Mama kecewa sama kamu! Mama Sangat kecewa!" Ucap mamanya dengan derai air mata.
"Ma, ini semua salah paham. Mama denger dulu penjelasan, Aryan."
"Mama udah kecewa sama kamu, Aryan. Sekarang, cepat kamu angkat kaki dari sini!"
"Ma, Mama yakin mau usir, Kak Aryan dari sini? Mama cuma lagi emosi aja mah. Nanti Kak Aryan mau tinggal dimana?" Vadya angkat bicara
"Kamu jangan membela Kakak kamu yang kotor itu, Vadya! Atau kamu mau mama usir juga?"
"Udah gak apa-apa, Vadya! Kakak akan pergi dari rumah ini. Kamu jaga mama baik-baik ya."
"Ma, Aryan bakal buktiin kalo apa yang ada di pikiran Mama itu semua salah!" Aryan pun menarik kopernya dan keluar dari rumah besar milik orang tuanya itu.
Bersambung...
__ADS_1
Waduh! Ternyata Aryan malah di usir dari rumah. Ini nyata atau mimpi ya? Kok kasihan banget wkwk