Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
Bab: 31 Berdamai?


__ADS_3

"Ck! Siapa juga yang mau ngintip, lo? Sayang nya gak doyan pula gue begituan."


"Hah, terserah deh. Udah buruan masuk, ngapain masih disini?"


"Oh tuhan! Kuatkanlah imanku, menghadapi umatmu yang satu ini." Aryan mengacak rambutnya asal, lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Pake cerita gak doyan segala. Orang ngejer-ngejer gitu kok gak doyan, aneh." Gerutu Kesya


******


"Gue udah boleh keluar belum?"


"Keluarlah." Sahut Kesya


Aryan keluar dari kamar mandi, langsung berjalan menuju lemarinya.


"Pakai bajunya di dalam kamar mandi aja. Caper banget keluar cuma pake handuk doang." Cibir Kesya


"Siapa juga yang caper? Orang kalo habis mandi ya pakai handuk. Mungkin pakai kain lap?"


"Entahlah, Yan. Udah sana, pake nya di kamar mandi aja. Ganggu pemandangan aja, lo."


"Ck! Sabarlah!"


Aryan kembali masuk kedalam kamar mandi, dan memakai pakaiannya di dalam.


Aryan keluar dari kamar mandi dengan setelan baju kaos putih polos dengan celana selutut.


"Ayo turun, udah pada demo nih cacing gue di dalam perut."


"Aryan!" Panggil Kesya sambil merentangkan tangannya.


"Jalan sendiri, jangan manja."


"Ck! Parah amat sih!" Kesya langsung turun dari tempat tidur.


"Nah, itu bisanya?"


"Udah ayo, lapar, gue." Ucap Kesya sambil berjalan mendahului, Aryan.


"Key!"


"Hem! Ada apa?"


"Kok jalan, lo aneh sih?" Kesya langsung berbalik badan dan menghadap Aryan


"Aneh apaan? Namanya jalan itu ya gini? Apa lo mau liat gue kayang? Atau terbang gitu?"


"Bukan gitu maksud, gue. Jalan, lo itu ngangkang banget loh. Gak kaya biasanya?"


"Is udahlah, Yan. Jalan aja, lo permasalahkan. Diem aja, gak usah banyak protes." Kesya kembali berjalan dan mulai menuruni tangga.


"Pagi, semua." Sapanya saat berada di tangga terakhir.


"Mah, kok jalannya, Mbak Kesya agak lain ya? Gak kaya biasanya gitu." Bisik Vidya pada Mama Indri


"Iya ya, Vid. Lebar banget? Kaya habis..."


Keduanya langsung tergelak. Seolah sudah sepemikiran, sehingga tak perlu di ucapkan, Vidya sudah tau apa yang di maksud dari mamanya.


"Happy banget nih, pagi-pagi udah ketawa aja. Ikutan dong." Ucap Kesya sambil menarik bangku, lalu mendudukinya.


"Ah iya nih, Vidya pagi-pagi udah ngelawak aja." Sahut Mama Indri lalu kembali tertawa lagi.

__ADS_1


"Pada bahas apaan sih? Kuat banget ketawanya?" Sahut Aryan lalu duduk di samping, Kesya.


"Gak tau. Pada bahas apaan sih, Mah?" Kesya mulai penasaran dengan kelakuan mama juga adik iparnya itu.


"Mah, lihat deh lehernya, Mbak Kesya. Merah banget kan? Mana banyak banget lagi bekasnya." Bisik Vidya pada mamanya.


"Shut! Jangan ngurusin hidup orang."


"Yan, kira-kira mama sama Vidya lagi bahas apaan ya? Kok ketawa mulu dari tadi?" Kesya mulai menyeritakan kekepoannya kepada Aryan.


"Mana gue tau. Kan, elo yang dari tadi udah di sini. Em, atau jangan-jangan ngetawain, lo kali Key?"


"Ngetawain, gue? Emang ada yang lucu ya?"


Aryan mengangkat bahunya.


"Morning, all." Sapa Papa Aryan


"Morning, Pah." Sahut semuanya


"Kok, Papa baru turun?" Tanya Aryan sambil memindahkan nasi ke piringnya.


"Papa lembur semalam, jadi cape banget." Aryan mengangguk paham


"Em, ah iya. Aryan baru inget. Ada sesuatu yang mau, Aryan omongin."


"Mau ngomong apa?" Sahut Papa Aryan sambil mengambil nasi lalu di letakkan ke piringnya, serta lauk yang lainnya.


"Aryan sama Kesya udah tau siapa pelaku yang udah ngeracuni, Kesya kemarin."


"Siapa?"


"Kanaya! Kanaya yang udah ngeracuni, Kesya. Dan, Kanaya juga yang membunuh pelayan pria kemarin."


"Kamu yakin, Aryan? Jangan asal menuduh, nanti kamu bisa di laporkan balik atas pencemaran nama baik loh." Ucap Papa


"Aryan serius, Pa. Aryan ada buktinya. Biar Mama sama Papa percaya." Aryan lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Nih, Papa liat kalo gak percaya." Aryan mulai memutarkan vidio rekaman kemarin saat di mall.


"Ya ampun, Pah. Ini memang beneran, Kanaya pah. Kok dia tega ya, Pah?" Ucap Mama Indri seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Dia terlalu berambisi ingin memiliki, Aryan. Sehingga apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan apa yang dia mau."


"Sekarang, apa rencana kamu kedepannya, Yan?"


"Aryan sih, rencanya mau lapor ke polisi aja, Pah."


"Berdamai aja deh, Yan. Kasihan tau, Kanaya kalo sampe dia mendekam di penjara."


"Lo itu gimana sih, Key? Orang kaya gini itu harus di kasih pelajaran, biar jera!" Tegas Aryan


"Yang di bilang, Kesya ada benernya juga. Gak enak sama Papanya Kanaya. Dia udah banyak berjasa dalam keluarga kita."


"Tapi, Pah?"


"Aryan!" Panggil Kesya sambil menggelengkan kepalanya.


"Oke deh! Tapi, kalo dia berbuat lebih parah dari ini, Aryan gak akan tinggal diam. Aryan langsung habisi dia sekalian."


"Udah, udah! Tahan emosi kamu, Aryan. Kita bahas itu nanti, sekarang kita makan dulu."


"Tau lo, Bang. Gitu-gitu dulu, lo pernah sayang-sayangan loh sama dia. Ya walau gak sampe pelaminan sih." Sambung Vidya

__ADS_1


Aryan melotot ke arah, Vidya.


"Cuma nantan kali!" Sahut nya


"Oh iya, Yan. Kamu hari ini ada jadwal kan?"


Aryan hanya nyengir kuda.


"Udah berapa lama kamu cabut? Udah habis masa honey moonnya. Masa honey moon sampe tiga bulan?" Omel Papa Aryan


"Ha? Tiga bulan?" Tanya Mama Indri terkejut.


"Iya, Mah. Papa semalam dapat laporan, kalo Aryan itu gak pernah piket. Udahlah, kalo gitu kamu tukar aja jadi BRT."


"Apaan tuh BRT?"


"Bapak rumah tangga!" Sahut Papa ketus


"Hahaha. Cocok tuh, Bang."


"Yaelah, ni bocah ya. Nyamber mulu!"


"Tapi, pas kami masih tinggal di villa dulu. Aryan selalu bilang, kalo dia kerumah sakit kok." Kesya mukai angkat bicara.


"Kemana kamu waktu itu, Aryan?" Desak Kesya


"Aku tahu! Pasti Bang Aryan pacaran sama, Mbak Kanaya. Iya kan?"


"Heh, anak kecil main fitnah aja."


"Bohong itu, Pah! Aryan pas masih tinggal di villa selalu kerumah sakit kok. Baru ini-ini ajanya yang bolosnya."


"Beneran? Ragu gue sama omongan, lo."


"Serius loh!"


"Udah, sekarang kamu siapan aja. Buruan langsung kerumah sakit!"


"Ck! Iya loh, Pah."


"Kalo nanti kamu cabut lagi, Papa pecat kamu ya." Ancam papanya.


"Hih, main pecat aja pah. Tega banget sama anak sendiri."


"Ikut dong, Yan? Boleh gak?"


"Mau ngapain, lo ikut gue?"


"Bosen, gue di rumah. Boleh ya?"


"Udah, ajak aja deh, Yan. Kesya kan sudah besar. Bukan anak-anak yang harus kamu ikuti kemana pun."


"Ya udah!" Sahut Aryan


"Mbak! Nanti kalo ada pasien yang ganteng, kabarin aku ya! Yang udah punya bini juga gak papa, yang penting bininya gak tau."


"Hih, kegatalan, lo Vid!" Cibir Aryan


"Diem lah, Bang! Iri aja, lo jadi orang."


"Mbak, jangan lupa ya?" Ucap Vidya sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Dasar, manusia aneh!" Gumam Aryan sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2