
Pagi telah mendatang. Matahari telah merangkak naik keatas, dan cahayanya telah masuk melalui celah-celah dari jendela. Dan akan nenyilaukan siapa saja yang terkena silauannya.
"Huam!!! Astaga! Udah terang aja, gue kesiangan nih."
Kesya melirik ke arah jam dinding, yang ternyata sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Yan! Aryan! Bangun, udah siang ini. Lo gak piket apa hari ini? Aryan! Astaga! Lo tidur kaya orang mati tau!"
Kesya terus mengguncangkan tubuh, Aryan. Berharap sang empunya bangun, namun ternyata Aryan enggan membuka matanya.
"Aryan, bangun! Gimana sih caranya biar lo bangun? Kesel gue dari tadi!"
Kesya mulai lelah. Setelah mengatakan itu, Aryan menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya lalu mengetuk-ngetuk nya.
"Apa lagi tuh? Bangun! Bukan megangin pipi!"
"Cium dulu, baru gue mau bangun."
"Nyium, lo? His! Ogah banget!"
"Oh, jadi lo gak mau nih? Oke, gue gak bakal mau bangun!" Ancam Aryan
"Ck! Lo bukan anak kecil, yang setiap bangun tidur harus di cium dulu."
"Harus dong. Kan gue anak bayi. Jadi harus di kis dulu, baru bangun."
"Bayi apaan? Udah alot, lo sadar diri kenapa sih."
"Lo bener gak mau nyium, gue? Yakin nih? Ya udah deh gue tidur aja lagi sampe besok!"
"Is! Yaudah sini biar, gue cium!" Kesya mulai mendekat ke arah pipi, Aryan dan mulai menciumnya.
Bukan Aryan namanya, kalo gak petnah nyari kesempatan.
Aryan malah menghadap ke arah, Kesya. Sehingga bukan pipi yang di kecup oleh, Kesya. Melainkan bibir, Aryan.
Cup!!!
Cukup lama meduanya saling bertatapan, dengan bibir yang masih setia menempel.
"Astaga, Aryan! Ternodai nih bibir gue!!!"
"Udah halal juga sih, kan gak masalah."
"Lo curang ih. Bisanya jadi bibir yang kena! Cepet bener muternya, udah kaya kipas angin aja."
"Hahaha... Sekali-kali gak papa lah."
"Oh iya, Key! Lo bahagia gak sih nikah sama, gue? Jujur, gak boleh bohong!"
"Menurut, lo?"
"Yaelah, kok malah nanya balik?"
"Bahagia sih, kalo ada duitnya." Sahut Kesya
"Jadi, lo matre dong? Wah, salah pilih istri gue."
"Ck! Sembarangan. Gue cuma bercanda, santai aja kali. Lagian nih ya, kalo emang, gue matre udah penuh tuh lemari. Bahkan, sekali pun belum pernah gue lo ajak belanja kaya orang-orang gitu."
"Oh, jadi mau belanja? Biar kaya orang-orang iya?"
Kesya mengangguk dengan mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
"Nanti ya, nunggu gue udah jadi presiden dulu, baru gue ajak, lo shopping."
Sahut Aryan yang berhasil membuat, Kesya semakin geram.
"Ih! Sampe perang dunia ketiga juga gak bakal mungkin."
"Lo ngeraguin, gue? Salah besar, lo key!"
"Udah deh, Yan jangan nyelimur. Bilang aja kalo emang lo itu pelit! Sama istri sendiri aja perhitungan. Katanya sayang, tapi minta shopping aja di hayalin dulu."
"Bukan gitu. Emang lo mau beli apaan? Kan semua udah ada. Lemari, lo sampe muntah gitu loh. Masih mau nambah lagi?"
"Muntah apaan? Itu baju lo aja yang kebanyakan. Baju gue paling cuman lima biji doang."
"Itu juga, kolor lo itu yang udah molor-molor yang kalo di pake selalu kendor. Kenapa gak di buang aja? Malah di simpen."
"Gak papa, nanti juga butuh."
"Masih di pake? Gimana make nya? Orang udah kendor gitu."
"Di iket pake karet belacan."
"Hih, Aryan! Pelit, lo itu kebangetan tau."
"Bercanda! Ya kali beneran! Entar di kira orang, Joni gue bangun gegara nonjol terus. Ya kali!"
"Hahaha... Mana tau beneran. Keren juga tuh, bisa jadi inspirasi."
"Udah ah, pagi-pagi udah ngelawak, lo. Gue mau mandi dulu. Mau bareng gak?"
"Mandi bareng? Dih, ogah ah. Luan aja, gue mandi nanti kalo, lo udah siap."
"Yakin? Nah, kalo mandi bareng, Joni gue baru bangun beneran. No tipu-tipu."
"Aryan! Masih pagi udah mesum aja sih!"
"Jangan lupa keramasan, Yan. Nanti gue juga bakal keramas kok."
"Terserah lo deh, Key! Gue mandi dulu ya. Awas, jangan ngintip loh ya."
Ucap nya lalu menutup rapat pintu kamar mandi.
Kesya hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
Lima belas menit berlalu. Pintu kamar mandi mulai terbuka, terpampang jelas tubuh, Aryan dengan lilitan handuk di bagian pinggangnya.
Tubuh kekarnya dengan perut yang berbentuk Sixpack atau lebih mirip seperti roti sobek.
Kesya berulang kali meneguk salivanya. Pemandangan di hadapannya sungguh menggoda imannya.
Wangi shampo menguar di seluruh ruangan. Aryan terlihat lebih menawan dan tampak lebih fresh.
"Kenapa? Kok ngeliatinnya gitu banget? Ada yang salah ya?"
"Ah enggak kok. Udah minggir, gue mau mandi."
"Lo mau mandi? Emang udah sembuh?"
"Aryan, udah seminggu lebih lamanya, gue cuma baring di tempat tidur. Sekarang gue rasa, gue udah sembuh. Jadi lo gak usah khawatir lagi."
"Lo yakin? Sini biar gue periksa lagi. Siapa tau kan, luka abis operasi kemarin belum kering?"
__ADS_1
"Ah gak perlu. Gue udah sembuh, sumpah. Lagian, klo lo periksa, gue nanti malah khilaf, jadi berabe."
"Oke deh, terserah lo aja."
"Buruan, lo pake baju keburu khilaf, gue entar"
Kesya masuk ke kamar mandi. Dan menjalankan ritual mandinya.
Lima belas menit berlalu. Kini Kesya sudah selesai menjalankan ritual mandinya.
Saat hendak berpakaian, Kesya baru tersadar kalo dia belum membawa baju saat masuk ke kamar mandi tadi.
"Astaga! Bego banget, Kesya! Bajunya kok gak lo bawa? Duh, gimana ini?"
Kesya merampas paksa handuk yang terletak di sana.
"Astaga! Handuknya kecil banget! Nutupin yang atas, ntar yang bawah keliatan. Nutupin yang bawah, atas yang bawah keliatan. Ah, pening gue!"
Dengan terpaksa akhirnya, Kesya terpaksa mengenakan handuk tadi, lalu melilitkan ke tubuhnya.
Kesya membuka pintu kamar mandi lalu mengintip. Ia nelihat Aryan masih di dalam kamar, sambil fokus menatap laptop miliknya dengan berlogo apel separuh itu.
"Aryan!"
"Hem!"
"Tolong ambilin baju gue! Please!"
"Ogah! Ambil sendiri." Tolak Aryan
"Ck! Parah banget, lo di mintain tolong juga. Yaudah deh, jangan ngintip lo ya, gue gak pake baju nih!"
"Hem." Aryan masih tetap fokus pada laptopnya
Kesya berlari secepat kilat, lalu membuka lemari dan memilih pakaian mana yang akan ia kenakan.
"Astaga, Key! Apa-apaan lo ini? Handuk segitu pendeknya masih lo pake juga."
"Terpaksa! Udah sana, jangan liat! Bintitan mata, lo klo sampe liatin gue."
"Sayang kalo gak di liat, barang bagus soalnya." Sahut Aryan sambil cekikikan
Saat asyik memilih pakaian, tiba-tiba handuk yang di pakai, Kesya melorot begitu saja.
"Astaga! Mati gue!"
Saat Kesya memutar kepalanya menghadap, Aryan. Ternyata Aryan melihat pemandangan itu dengan bibir yang terbuka.
"Aryan, jangan liat!" Teriak Kesya sambil kembali memakai handuk kembali.
"Udah terlanjur." Sahut Aryan sambil terus berfokus natap ke arah, Kesya.
Kesya mengambil asal pakaian yang di dalam lemari, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Astaga, Kesya! Malu banget gue." Rutuk nya sambil memukul kepalanya beberapa kali.
Bersambung......
Ya ampun! Gak kebayang malunya gimana. Untung aja liatnya dari belakang.
Kalo sempat dari depan, gimana ya reaksi keduanya? Wkwkwk.
__ADS_1
Terima kasih buat yang masih setia membaca.
Love You All🤗