
"Udah deh, ngaku aja. Nah, tu udah kelihatan. Pipi lo aja sampe merah gitu. Hidung lo kembang kempis, kuping lo naik lima meter."
"Ck! Itu mah namanya lo ngehina."
"Emang! Hahaha. Duh! Aduh, kok sakit lagi nih kaki gue?"
"Syukurin! Haduh...haduh... hahaha." Aryan malah mengejek Kesya balik
"Udah ah, sakit perut gue. Sekarang kita pikirin dulu, gimana caranya supaya mama lo itu gak jadi ke sini."
"Kalo masalah itu, gak bakalan ada solusinya. Sekarang permasalahannya, gimana supaya mama gak jumpa sama elo."
"Iya juga ya."
"Em, ah iya. Gimana kalo lo pura-pura jadi keponanakannya Bi Ijah, terus lo kesini buat bantu-bantu pekerjaan Bi Ijah, gimana?" Usul Aryan
"Gue jadi pembantu gitu?" Aryan mengangguk. "Lo mau kan? Cuma ini jalan satu-satunya."
"Okelah. Terserah lo aja, gue nurut aja apa kata lo"
"Oke, deal ya." Mereka pun berjabat tangan.
******
Sesuai dengan ucapannya, Aryan selalu menemani dan merawat Kesya dengan senang hati.
Tok!!! Tok!!! Tok!!!
"Boleh gue masuk?"
"Masuk aja, gak gue kunci pintunya." Sahut Kesya dari dalam
"Sarapan dulu nih." Ucap Aryan sambil meletakkan nampan yang berisi makanan lengkap dengan minumnya.
"Gue lagi gak selera makan." Tolaknya
"Ck! Gimana lo mau sembuh, kalo lo aja malas makan gini."
"Gak ah! Gue lagi gak nafsu makan." Tolaknya lagi "Lo mau makan apa? Biar gue beli'in."
"Em, rujak kayanya enak tuh. Seger." Sahutnya. "Lo mau rujak?" Kesya pun mengangguk. "Mau dimana gue nyari rujak pagi buta gini?"
"Ya terserah, lo. Yang penting rujak."
"Lo kaya orang lagi ngidam aja sih, heran."
"Enak aja lo bilangin gue ngidam. Bukan berarti kalo gue pengen makan rujak itu ngidam. Awas ya kalo, gue liat lo makan rujak. Berarti lo lagi bunting."
"Hush! Sembarangan kalo ngomong. Enak aja ngatain gue bunting, dari mana keluarnya? Aneh lo!"
"Ye, tukang julid di julidtin marah. Udah lah, lo bilang mau nurutin apa mau gue kan? Beli kan gue rujak."
"Gak mau ah! Mager gue mau keluar." Tolak Aryan.
"Gimana kalo Bi Ijah aja yang buatin? Pasti makin enak." Usul Kesya
"Ck! Lo itu ya, nyusahin orang aja taunya." Aryan keluar untuk bertemu dengan Bi Ijah.
"Bi, bibi bisa bikin rujak gak?" Tanya Aryan. "Bisa, Den. Mau bibi bikinin?"
__ADS_1
"Boleh, bi. Ini ada uang buat bibi beli buah-buahannya ya, bi." Aryan menyerahkan dua lembar uang berwarna merah
"Baik, den. Bibi pamit keluar dulu ya, den." Izin Bi Ijah lalu segera pergi
Selepas ke pergian Bi Ijah, Aryan kembali masuk kedalam kamar Kesya.
"Udah?" Aryan mengangguk
"Lo udah berapa hari gak mandi? Huh, bau taik ayam badan, lo." Ucap Aryan sambil menutup hidungnya
"Sembarangan banget tu mulut ya? Pake ngatain badan gue bau lagi. Heh, gue gini-gini mandi loh ya. Fitnah aja lo"
Dret!!! Dret!!! Dret!!!
"Ponsel lo tuh bunyi. Dari siapa?"
"Dari mama." Ucap Aryan. "Angkat aja, di speaker ya, gue pengen denger."
[Assalamualaikum, mah]
[Waalaikumsalam. Yan, mama mau ngomong. Kayanya mama gak jadi kesana deh.]
[Loh, kok gak jadi, mah?]
[Mama ada janji sama teman-teman, mama. Kapan-kapan, pasti mama bakal kesana. Kamu gak marah kan?]
[Ah enggak kok, Ma.]
[Udah dulu ya, Ma. Aku lagi banyak kerjaan nih.]
[Assalamualaikum]
"Jadi nyokap lo gak jadi datang?"
"Katanya sih gitu, kan lo denger juga tadi. Tapi, bagus sih jadi kita gak perlu bersandiwara kan?"
"Eh, lo mau kemana?" Tanya Aryan saat melihat Kesya hendak turun.
"Toilet." Sahut Kesya sambil turun dengan perlahan-lahan. "Jangan banyak gerak dulu, lo masih sakit."
"Gue bantu ya." Aryan yang hendak membantu Kesya, langsung di tepis olehnya.
"Gak usah, gue bisa sendiri. Lo juga, orang mau ketoilet mau lo tolongin. Pasti mau ngintip lo kan?"
"Idih, kurang kerjaan banget gue ngintip, lo. Palingan juga hitam, bopeng-bopeng, berkurik juga gak?"
Bugh!
Kesya memukul Aryan dengan guling. "Sembarangan lo kalo ngomong ya? Heh, gini-gini gue mulus ya luar dalam. Asal jeplak aja tuh mulut."
"Cie, ada yang gak terima. Tunjukinlah kalo gitu. Biar gue percaya." Sahut Aryan
"Wah, mesum lo ya? Ini mah namanya lo mau nyari kesempatan di dalam kesempitan."
"Hahaha... Mana tau lo khilaf."
"Enak aja. Udah ah, kebelet gue keburu bocor di sini entar."
"Mau gue tolongin, lo tolak. Udah sini." Aryan langsung menggendong Kesya dari atas tempat tidur.
__ADS_1
"Eh jangan! Nyangkut nih!" Ucap Kesya panik
"Aryan! Selimutnya nyangkut ini!"
"Apaan sih, Key? Mana ada yang nyangkut?" Aryan terus membawa Kesya turun.
Bruk!!!
Keduanya pun jatuh kelantai. "Kan udah gue bilang, lo sih keras kepala."
"Aduh, pinggang gue!" Ringis nya
"Lo tuh yang keberatan, makanya jadi jatuh."
"Lah, kok malah gue?"
"Jatuh lagi, jatuh lagi." Rutuk nya
"Sorry! Udah sini gue tolongin." Aryan langsung membantu Kesya kembali naik ke ranjang.
"Nanti jatuh lagi?"
"Iya, jatuh ke hati." Sahut Aryan yang langsung membuat Kesya salah tingkah.
"Bercanda." Sahut Aryan membuat mimik wajah Kesya langsung berubah
"Ayo, jadi gak ke kamar mandi?"
"Gak nafsu!"
"Aduh! Kok makin sakit ya pinggang gue?" Ringisnya sambil terus memijit pinggangnya.
"Sini gue pijitin." Tawar Aryan
"Gak perlu! Bisa lepas semua nanti tulang gue lo buat."
"Yaelah, emang lo pikir gue Samson apa? Udah sini gue pijitin."
"Belum apa-apa udah tiga kali jatuh gue. Makin rata lah ni pantat." Gerutu nya
"Gak apa-apa, yang rata juga enak." Sahut Aryan
"Idih! Mesum lo."
"Kok mesum? Ha, piktor lo! Lagian, gue belum siap ngomong, udah lo potong aja."
"Jadi? Apa lagi kalo bukan mesum? Museum? Stres lo."
"Yah, kalo jalan rata kan enak. Emang lo mau jalan yang tanjakan, terus banyak lubang-lubangnya?" Sahut Aryan yang membuat Kesya terpelongo
"Lo ini sekarang lagi bahas jalan, atau apa?"
"Menurut, lo?"
"Bodok! Udah ah, pusing gue." Aryan malah tertawa melihat muka bingung Kesya.
"Jadi gimana? Masih milih yang rata, atau banyak tanjakannya?" Hahaha
"Stres lo!"
__ADS_1
Bersambung...