
"TIDAKK!!!"
"Oh astaga! Hanya mimpi ternyata. Tapi berasa kaya nyata banget."
"Apaan sih, teriak-teriak gak jelas?" Tiba-tiba Kesya muncul dari balik pintu.
"Mimpi gue." Ucap Aryan dengan wajah yang di penuhi oleh keringat.
"Mimpi lagi anu-anu, lo kan? Sampe keringetan gitu. Gak mampu bayar orang apa? Sampe kebawa mimpi hahahaha."
"Idih! Ya gak mungkin lah gue kaya gitu. Heh, Lo denger ya, Gue itu orangnya baik jadi gak bakalan main perempuan gitu. Sinting, lo!"
"Idih, di gituin doang marah."
"Emang lo abis mimpi apaan?" Tanya Kesya sambil duduk di tepi ranjang.
"Kepo!" Ucap Aryan sambil menoyor jidat Kesya dengan jari telunjuknya.
"Gak kepo sih, cuma penasaran aja."
"Sama aja kali."
"Makanya, kalo habis shalat subuh itu jangan molor lagi, ntar rezeki lo di patok ayam, baru tau rasa."
"Yaelah! Pake nasehati segala, gue juga ngerti kali!"
"Emang, lo mimpi apaan?"
"Gue mimpi di usir sama mama gue, gara-gara mama tau kalo kita udah nikah."
Wajah Kesya langsung berubah. Ia juga kepikiran dengan apa yang di ucapkan Aryan barusan.
"Apa juga gue bilang? Mama lo itu gak bakal setuju. Udah lah, mending cerai aja."
"Udah berapa kali gue bilang, kalo lo jangan pernah bawa-bawa nama cerai, paham lo?" Aryan marah dengan mata yang melotot sempurna
"Terus? Lo gak mikir apa, nasib kedepannya gimana? Lo mau nikah sama Kanaya, tapi lo gak mau ceraikan gue! Serakah banget, lo. Mau istri dua sekaligus. Gak sekampung aja sekalian?"
"Siapa yang mau nikah? Gue gak ada bilang."
"Halah! Gak usah berlagak bodoh, Aryan! Gak perlu, lo tutupi semua itu. Gue juga udah tau kok."
"Gue gak bakalan nikah sama, Kanaya. Puas lo?"
"Loh, bukan urusan gue juga. Mau nikah kek, mau enggak, gue gak akan pernah peduli."
"Terserah, lo! Gue juga gak butuh pendapat lo. Gak penting banget."
"Terserah! Gue mau pergi." Kesya langsung berlari keluar kamar
"Astaga! Mau kemana dia pagi-pagi begini?" Aryan langsung berlari untuk mengejar Kesya.
"Key!!! Tunggu gue! Lo mau kemana?"
__ADS_1
"Keyy!!! Kesya!!!"
Aryan terus berlari sambil berteriak memanggil Kesya, namun sama sekali tak di gubris olehnya.
"Lo mau kemana?" Akhirnya Kesya berhasil di dekap oleh Aryan.
"Lepas, Aryan!" Kesya berusaha lepas dalam dekapan Aryan. Namun bukannya lepas, Aryan malah mempererat pelukannya.
"Gue benci sama, lo! Lo jahat, Aryan! Lo selalu marahin gue, lo kira gue gak punya hati apa?" Ucapnya sambil menangis
"Udah, gue minta maaf. ayo kita pulang?"
"Gak mau! Nanti, lo marahi gue lagi. Malas gue."
"Udah ayo! Lo gak malu apa, di liatin orang banyak begini?" Bisik Aryan
Kesya menatap sekeliling, langsung terpelongo. "Lah, sejak kapan ada emak-emak di sini?" Tanya Kesya balik sambil berbisik
"Mana gue tau. Perasaan tadi kan cuma kita berdua aja. Kenapa jadi banyak begini?"
"Pengantin baru ya, Mas?" Tanya seseibu yang pakai baju kuning
"Duh, mana masih pake sarung lagi. Kurang puas, atau gimana, Mas? Kok pake kejar-kejaran segala." Sahut ibu yang giginya pada mau lari semua.
"Bininya kabur kali, takut sama belut situ." Sahut ibu yang badanya gempal itu.
"Kalo gak mau, sini sama saya aja, Mas. Awas, tak gigit loh entar kalo nolak." Ucap seseibu yang giginya sudah pada habis, dan rambut yang mulai memutih.
"Kami permisi dulu, bu ibu." Aryan langsung membawa Kesya balik ke villa.
"Lo pikir aja, giginya udah protolan gitu pake mau gigit-gigit aja."
"Kan enak! Di gigit sama nenek-nenek. Hahahaha"
"Ye, malah ketawa. Gara-gara, lo nih pake acara kabur-kaburan segala."
"Kan! Mulai nyalahin gue lagi?"
"Ck! Iya deh, gue yang salah. Salah gue kenapa make sarung. Elo lah yang paling benar, gue lah yang salah. Gitu kan?"
"Nah, gitu dong. Kan sama-sama enak."
"Enak pala, lo! Udah sana, gue mau ganti baju dulu." Usir Aryan
"Ini kamar gue, lo sana yang keluar."
"Yaelah! Numpang bentar napa. Oh ya, sekalian tolong ambilin baju gue dong."
"Ngatur!"
"Heh, istri itu harus nurut sama suami. Pahala loh buat, lo. Buruan sana!" Aryan langsung menutup pintu kamar Kesya.
"Gak tau diri lo!" Cibir Kesya
__ADS_1
Dengan berat hati, mau tak mau Kesya berjalan menuju kamar Aryan.
"Astaga! Ini kamar atau kapal pecah? Berantakan banget." Kesya membuka lemari, dan menyiapkan pakaian untuk Aryan.
"Gue antar dulu kali ya? Nanti baru gue beresin. Heh, lalat aja mati kali nyium kamar ini." Setelah beberapa mengambil pakaian milik Aryan, Kesya kembali ke kamarnya.
"Yan! Aryan!" Panggil Kesya
Karna gak ada sahutan, Kesya langsung menerobos masuk ke dalam.
"Aaaaaaa.....!!!" Teriak keduanya secara bersamaan.
"Astaga, Aryan!!!" Teriak Kesya sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan
"Lo ngapain masuk sih? Ketuk pintu dulu kek, sembarangan main nyelonong aja."
"Duh, ternodai nih mata gue. Buruan Aryan!" Ucapnya sambil melemparkan pakaian yang ia bawa tadi
"Alay banget, lo! Udah pake baju, gue."
'Gila! Mantep banget perut, Aryan! Ada roti sobeknya. Tinggal di kasi selai aja tuh' batin Kesya
"Woy! Yaealah, malah bengong. Ha, kagum lo kan sama body gue? Ya jelas lah."
"Idih! Geer banget! Hem, gue tadi mau ngomong apa ya? Kok jadi lupa."
"Ha, gue inget. Eh! Kamar lo itu kok berantakan banget sih? Kaya kapal pecah aja. Jorok, lo!" Kesya langsung menyembur Aryan habis habisan
"Yah, gini lah kalo lelaki." Sahutnya asal
"Kambing sama, lo!" Ucapnya lalu pergi.
"Mau kemana, lo?"
"Kepo!" Kesya kembali ke kamar Aryan, lalu mulai merapikannya.
"Hadeh! Berantakan banget ini kamar." Saat sedang bersih-bersih, tiba-tiba Aryan masuk
"Rajin banget."
"Sumpek mata gue liatnya."
"Yang rajin ya. Lumayan, dapat pembantu gratisan."
"Wah, kurang asem, lo. Enak aja ngatain gue pembantu. Huh, untung masih pagi. Kalo gak, udah abis lo, gue cincang."
"Idih, lo kira gue ayam potong apa? Maen cincang aja, lo."
"Astaga!!!"
Brukk!!!
Keduanya jatuh ke atas tempat tidur dengan posisi Aryan di atas, dan Kesya di bawah.
__ADS_1
Astaga! Masih pagi udah timpa- timpahan aja. Kaya gak ada waktu malam aja, hahaha.
Bersambung.....