
"Setelah apa yang, lo buat. Lo campakkan, gue gitu aja. Gue akan lapor polisi, kalo memang, lo gak mau tanggup jawab."
"Silahkan! Gue gak takut!"
Tantang Aryan.
"Aryan! Nikahi Kanaya sekarang juga!"
Teriak Papa Aryan lantang.
Bruk!!!
"Kesya!"
Tubuh Kesya jatuh ke lantai begitu saja saat hendak berdiri.
"Aryan! Tolongin Kesya!" Teriak Mama Indri panik
"Buruan kamu bawa, Kesya ke kamar. Kasihan dia." Sambung Mama Indri lagi
Aryan langsung membopong tubuh Kesya dan membawanya ke kamar.
Vidya dan Kanaya, serta kedua orang tuanya juga ikut menyusul ke kamar.
"Em, Bang. Aku telepon dokter dulu ya."
Aryan mengangguk.
"Ya ampun, Sayang! Kasihan banget kamu, Key! Mama tau gimana perasaan kamu sekarang."
Mama Indri duduk di bibir ranjang, sambil mengelus rambut hitam nan panjang itu.
"Gimana, Vid? Udah kamu hubungi dokternya?"
Tanya Mama Indri saat Vidya kembali masuk ke dalam kamar.
Vidya mengangguk. "Kamu yakin itu anak, Aryan?" Tanya Mama Indri kepada Kanaya.
"Kok tante tanya begitu? Tante gak percaya sama, aku? Ini anak Aryan tante. Darah daging Aryan! Cucu tante." Ucap Kanaya di sertai dengan air mata yang terus mengalir.
"Aku gak percaya itu anak Bang Aryan!" Seru Vidya
"Hei, Kanaya! Kamu mau mencoba untuk menjebak abang ku ya? Kamu kira kami ini bodoh apa?" Ucap Vidya lantang.
"Apa sih maksud kamu, Vidya? Siapa yang mau menjebak Aryan? Aku memang lagi mengandung darah daging, Aryan. Keponakan kamu."
"Enggak! Kamu jangan ngaku-ngaku deh. Sampai kapan pun, aku gak bakalan percaya kalau anak itu darah daging Bang Aryan!"
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang pasti, ini adalah anak Aryan. Dan aku mau dia bertanggung jawab akan hal ini."
"DIAM KAU, KANAYA!!!"
Teriak Aryan lantang hingga membuat Kanaya terkejut dan langsung menghentikan perkataannya.
"Yang di katakan, Vidya ada benarnya. Aku juga curiga kalau anak itu bukan darah dagingku."
"Apa maksud kamu, Aryan? Ini anak kamu. Darah daging kamu."
"Stop! Jangan pernah mengatakan hal itu! Gue gak pernah sekali pun nyentuh, lo!"
"Tapi ini memang benar anak kamu Aryan."
"Jangan katakan itu, gue bilang! Lo tuli ya?"
"Permisi!"
Tiba-tiba dokter masuk, dan langsung di sambut hangat oleh, Aryan.
"Gimana keadaan menantu saya, dok?"
"Kondisi Mbak Kesya sangat lemah. Sebaiknya Mbak Kesya banyak istirahat, dan jangan memikirkan sesuatu yang berat-berat dulu. Karena itu akan membuatnya stres."
"Baik, dok."
"Ini resep obat untuk, Mbak Kesya. Tinggal di tebus di apotek."
__ADS_1
"Baik, dok."
"Kalo gitu, saya permisi."
"Mari saya antar, dok." Ucap Papa Aryan
"Semua ini gara-gala, lo ya! Gak puas, lo udah bikin Kesya keracunan kemarin hah?"
Wajah Kanaya berubah menjadi pucat pasi.
"A... apa maksud kamu, Aryan? Kamu menuduh aku yang ngeracuni, Kesya?"
"Gak usah pura-pura bego! Gue udah tau kalo pelakunya itu, lo! Masih mau ngelak lagi?"
"Apa sih, Aryan? Gak usah berbelit-belit deh. Tinggal ngaku aja, kalo memang bener anak yang aku kandung itu anak kamu. Apa susahnya sih?"
"Lo itu yang berbelit-belit. Nih gue tunjukin buktinya, kalo memang bener pelakunya itu, lo!"
Aryan langsung merogo sakunya, dan mengeluarkan ponsel berlogo apel separuh itu.
"Nih!" Aryan menunjukkan putaran vidio saat Kanaya sedang berbicara dengan seseorang di mall kemarin.
"I... itu... itu bukan, aku. Ini pasti editan! Aryan, percaya sama, gue. Bukan gue pelakunya."
"Masih mau ngelak? Oh, bersiaplah! Lo bakalan mendekam di penjara."
"Aryan, please! Aku lagi mengandung anak, kamu. Kok kamu tega sih?"
"Berapa kali, gue bilang kalo anak itu bukan anak, gue!"
"Aryan!!!"
Panggil Kesya. Ternyata dia sudah siuman.
"Key! Kamu udah sadar, sayang?"
Aryan lantas mendekati Kesya dan menciumi jemari Kesya dengan lembut.
Karna semua pada fokus kepada Kesya, Kanaya berhasil kabur gitu aja tanpa ada yang menyadarinya.
"Udah, biarkan aja dia pergi." Sahut Mama Indri
"Kok di biarin sih, mah? Kita harus bikin dia ngaku dulu, kalo yang di kandungnya itu bukan anak Bang Aryan." Vidya tak terima dengan keputusan Mamanya.
"Mama semakin yakin kalo, sebenarnya Kanaya itu gak hamil. Ataupun, kalo memang dia hamil itu pasti bukan sama Aryan."
"Mah, Aryan berani sumpah. Aryan sama sekali gak pernah ngelakukan hal itu sama Kanaya."
"Iya. Mama percaya sama kamu."
"Jadi kalian semua percaya kan sama Aryan?"
Semua mengangguk kecuali, Papanya.
"Papa gak percaya sama, Aryan?" Tanya Mama Indri sinis.
"Em, percaya kok Mah."
"Bagus. Kalo papa lebih percaya sama, Kanaya. Ya udah nikahi aja Kanaya kalo gitu."
"Hah? Bener ini mah? Biar langsung Papa nikahin aja kalo gitu."
"Papa!!!"
Teriak Mama Indri. Semua yang berada di sini ikut tertawa melihat tinggah kedua orang tua itu.
"Lagian Mama sih, ngomong kok asal jeplak aja. Mana mungkin Papa belain Kanaya."
"Awas ya Papa macam-macam. Mama potong habis baru tau!"
"His, seram!" Semua kembali tertawa lagi.
"Udah ah, Mama malas ngomong sama kalian. Mama mau ngomong sama menantu kesayangan Mama aja."
Mama berjalan mendekat ke arah ranjang Kesya. "Minggir kamu Aryan! Ganggu aja."
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu sekarang, sayang? Mana yang sakit? Sini ngomong sama Mama."
"Kesya udah mendingan kok, Mah."
"Halah gaya Mama. Pake acara nanya mana yang sakit segala. Emang bisa nyembuhinnya apa?"
"Kan ada dokter. Gimana sih?"
"Key, kamu percayakan sama aku?"
"Hah, apa ini? Aku kamu? Sejak kapan?" Potong Vidya yang merasa heran dengan ucapan Aryan barusan.
"Suka-suka dong. Iri ya? Hahaha."
"Sejak kapan jadi aku, kamu, Yan?"
"Sejak kamu pingsan. Udah ah, sekali-kali di ganti biar gak bosen. Kan keren, aku dan kamu. Hahaha."
"Ketawa, lo Bang lebar amat. Entar masuk lalat baru tau rasa."
"Kanayanya mana?"
"Dia udah pergi, Key. Aku semakin yakin, kalo dia itu bohong! Sama sekali aku gak pernah nyentuh dia."
"Iya, Mbak. Percaya deh sama Bang Aryan. Tapi, kalo kis bibir pernah lah ya."
"Ini bocah ya, bikin suasana tambah panas aja." Geram Aryan
"Enggak deng, cuma bercanda."
"Loh, Mama sama Papa mau kemana?"
"Mau sayang-sayangan dulu ya. Kenapa, kamu mau ikut?"
"Eh, apaan sih mah? Kok Vidya di ajak segala."
"Gak papa loh, Pah. Biar jadi obat nyamuk."
"Iya juga ya, Mah. Ayo, Vid jadi ikut gak?"
"Ogah!"
"Ya udah deh kalo gitu. Bye!" Kedua orang tua itu langsung hilang dari balik pintu.
"Ya udah, lo kok masih di sini? Mau jadi obat nyamuk juga?"
"Lah, kalian juga mau sayang-sayangan juga?"
"Ya iyalah, apa lagi. Udah buruan cabut, lo. Ganggu aja."
"Masih terang loh ini, Bang. Apa gak ada lagi waktu malam?"
"Yaudah buatnya sampe malam."
"His, agak geser otak lo Bang."
"Udah cabot, lo!"
"His! Sedihnya nasib jomblo!" Kesya menghentakkan kakinya di lantai.
"Kalian lihat aja ya, nanti kalo aku udah nikah. Buatnya dari pagi sampe malam. Kalian liat aja."
"Silahkan! Awas aja kalo gak di buat pas udah nikah nanti."
"Gak salah itu, Vid sampai malam? Gimana jadinya?"
"Tenang aja, Mbak. Kita liat aja nanti."
"Vidio Call ya, Vid kalo malam pertamanya nanti."
"Gak Vidio Call lagi Bang. Siaran langsung aku nanti. Jangan lupa nonton ya?"
"Sip! Adek abang ini emang top cer deh!" Ucap Aryan sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Bersambung...
__ADS_1
Waw, dari pagi sampai malam? Gimana jadinya itu ya? Gak kebayang deh wkwkw