
"Kesya, ya?" Sapa pria itu
Kesya yang sedang bermain ponsel pun, langsung menoleh.
"Kemana aja? Kok gak ada kabar? Nomor hp kamu juga gak bisa di hubungi. Ganti nomor baru ya?"
Kesya melirik Aryan. Dari tatapan, Aryan. Sepertinya dia lagi nahan amarahnya.
'Wah, dalam nih masalahnya. Bisa-bisa di diemin nih gue sampe seminggu' Batin Kesya
Aryan hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya, sambil sesekali melirik ke arah Kesya juga pria tadi.
"Kemana aja kamu selama ini? Tau-tau hilang gak ada kabar." Kesya menanggapi dengan nyengir kuda.
"Duduk dulu, Pak."
Pria yang di panggil, Pak oleh Kesya itupun langsung duduk tepat di hadapan, Kesya.
"Apa kabar, Pak?"
"Baik!" Sahutnya ketus
"Udah deh, gak usah nyelimur. Kamu jawab dulu pertanyaan saya. Kemana aja kamu selama ini?"
"Em, ada urusan mendadak, Pak. Jadi gak sempat ngabari, Bapak atau anak yang lain."
"Alasan!"
"Saya kira kamu sudah innalillahi. Makanya gak ada kabar."
"Astaga! Bapak kok tega banget? Masih hidup saya loh, Pak."
"Ya mana saya tau. Saya kira kamu sudah isdet kemarin. Untung gak saya kirim karangan bunga ke rumah kamu."
"Ya allah, Pak. Oh iya Pak, isdet itubahasa apa ya? Kok saya baru denger sih?"
"Ah itu, bahasa alien. Kamu gak bakal ngerti deh pokoknya."
Tak lama, pesanan yang di tunggu-tunggu pun akhirnya datang.
"Silahkan dinikmati." Ucap Pelayan sambil meletakkan pesenan mereka tadi.
"Makasih, Mbak."
"Pelayan itupun langsung pergi."
"Ah, segarnya." Ucapnya setelah menengguk minuman Aryan hingga setengah.
Melihat ini, Aryan sangat marah. "Maaf ya, Mas. Itu minumannya punya saya loh, kok kamu yang minum?"
"Oh, punya kamu? Saya kira untuk saya."
Glek!!!
Pria itu menengguk kembali minuman itu sampai kandas. Amarah Aryan sudah tidak bisa di bendung lagi.
Bruk!!!
Aryan menggebrak meja.
"Kamu sebenarnya siapa sih? Dari tadi saya perhatikan kok ngeselin banget?"
"Kamu gak perlu tau siapa saya. Saya lagi bicara dengan, Kesya bukan sama kamu."
"Saya suaminya, Kesya. Kenapa?"
__ADS_1
"Jadi orang kok gak jelas banget. Tiba-tiba main marah-marahin, Kesya lagi. Minuman saya, kamu habisin juga. Gak punya sopan santun banget!"
"Hey, terserah saya dong! Lagian, kamu gak usah ikut campur deh."
"Ayo, Key kita pergi dari sini. Hilang napsu makan gue jadinya." Aryan langsung menarik tangan Kesya pergi dari sana.
"Maaf, Mas. Pesanannya belum di bayar." Ucap salah satu pelayan
"Nah, itu tuh, Mbak yang bayar." Ucap Aryan sambil menunjuk ke arah pria yang membuat selera makannya menghilang.
"Yan, kok pergi sih? Sayang banget itu makanannya. Mana belum sempat di icipin lagi."
"Udah, kita cari tempat lain aja. Enek gue liat tuh orang."
Aryan pun mulai mengendarai mobilnya ke jalan raya yang padat dengan pengendara lain.
"Mau makan dimana, Key?"
"Terserah, lo aja deh, Yan."
"Itu tadi siapa sih? Ngeselin banget."
"Oh, dia itu mantan bos gue."
"Bos? Bos kaya gitu bentukannya? Hebat ya, lo bisa bertahan sama bos yang luar biasa kaya gitu."
"Sebenarnya sih, gue gak betah. Tapi mau gimana lagi, namanya gue butuh duit. Mau gak mau, ya di tahaninlah."
"Untung kan, lo jumpa sama, gue? Terbebas dari manusia yang bentukannya kaya begitu."
"Ih, siapa bilang? Nasib gue itu ibaratkan, keluar dari lubang semut, malah masuk lubang buaya."
"Masih mendinganlah jumpa buaya kaya gue. Mana ganteng, tajir, baik hati, ramah tamah, suka menolong, semuanya deh."
Ucap Aryan membanggakan dirinya.
"Buruan deh, Yan. Laper berat gue nih."
"Yaelah, sebentar kek. Ribet amat."
"Yan, gue pengen makan nasi padang deh kayanya."
"Nasi padang? Keburu mati kelaparan kita, Key kalo harus ke padang dulu."
"Astaga, Yan! Please deh, bego lo itu buang dulu jauh-jauh. Bikin kesel aja dari tadi."
"Oke deh. Tapi, mau nyari nasi padang dimana?"
"Di rumah makan yang di pinggir jalan itukan banyak."
"Rendahan banget selera lo, Key."
"Songong amat, lo. Ini itu makanan yang paling nikmat sejagat raya."
"Apalagi kalo lauknya itu pake gulai nangka muda, ada ikan asin gorengnya. Emm, lezat."
Kesya terus membayangkan makanan yang dia ingin, sampai-sampai air liurnya menetes.
"Astaga, Key! Jorok banget! Sampe netes-netes air liur, lo." Ucap Aryan sambil bergidik ngeri melihat air liur Kesya.
"Astaga! Sorry, remnya lagi blong. Jadi meluncur aja dia." Sahut Kesya sambil mengelap menggunakan tangannya.
"Jadi makan nasi padang aja nih?"
Kesya mengangguk.
__ADS_1
Aryan membelokkan mobilnya tepat dih warung-warung kecil yang ada di pinggir jalan itu.
"Yan, halalnya warung ini?"
"Halal! Tuh liat, lo baca. WARUNG NASI MUSLIM. idah, ayo masuk."
Dengan ragu-ragu, Kesya masuk dan duduk di dalam.
"Yan, kok gue ngerasa ada yang aneh ya?"
"Aneh apaan sih, Key? Perasaan lo aja kali."
"Yan! Bener deh. Kayanya kita ini salah masuk warung deh. Coba lo tanya aja dulu sama penjualnya."
"Bentar ya, gue tanya dulu."
Aryan bangkit, lalu berjalan menuju ke tempat sang pemilik warung.
"Em, maaf, Bu. Apakah muslim itu warungnya, atau nama pemiliknya?"
"Muslim itu nama pemilik yang punya warung ini." Terangnya
"Oh, gitu yah, Bu. Terima kasih." Aryan langsung kembali ke mejanya, dan membawa Kesya keluar.
"Kok keluar, Yan?"
"Bener kata, lo Key. Bacaannya warung nasi muslimkan? Muslim itu, nama si pemilik warung."
"Astaga! Pantesan, menunya kok agak lain, Yan. Rupanya salah sasaran kita."
"Astaga, Key! Mau makan aja kok banyak kali cobaannya. Keburu mati berdiri lah gue nih."
Kesya malah mentertawakan, Aryan. "Ulu-ulu, sedihnya. Laper awak iya? Hahahaha..."
"Udah ah, Key! Malah ketawa pula, lo. Pikirin, mau makan dimana. Laper nih, gue."
"Makan di rumah aja deh, Yan."
"Jadi pulang ini?"
"Ya gimana lagi. Ya udah yuk, tapi kita belikan dulu pesanan Papa sama Vidya ya."
Aryan kembali mengemudi, dan membelikan pesanan Papa dan adikknya itu.
"Yan, browniesnya mau yang mana ini? Ih, tampilannya bagus-bagus banget. Jadi selera, gue."
"Halah, kalo lo mah gak heran. Cari yang murah-murah aja. Namanya juga gratisan, gak usah yang enak-enak."
"Ya ampun, anak durhaka lo. Masa ngasih orang tuanya yang murah sih? Keras tau kalo yang harganya murah."
"Gak masalah, yang penting murah." Sahut Aryan
"Mbak, kasih harga yang paling murah ya. Berapaan?"
"Tiga puluh lima ribu, Mas. Itu yang paling murah." Sahut si penjaga toko
"Yaudah, kasih satu ya."
"Aryan! Kebangetan, lo ya? Gak habis pikir gue sama, lo."
"Shut! Diem aja. Pokoknya, lo tinggal terima bersih deh."
"Astaga, dasar anak durhaka. Medit bener, padalan untuk orang tuanya sendiri."
"Suka-suka dong. Duit juga duit, gue kok lo yang sibuk."
__ADS_1
"Terserah lo deh, Yan." Sahut Kesya lalu kembali ke mobil.
Bersambung....