Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
Bab: 33 Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷


Saat hendak masuk ke dalam ruangan, Aryan. Kesya melihat Kanaya masuk ke dalam ruangan kandungan.


"Ngapain, kanaya ke ruang kandungan?" Batin Kesya.


Saat Kanaya sudah keluar, Kesya menghampirinya. "Kanaya! Lo ngapain di sini? Lo hamil? Sama siapa? Kan, lo belum nikah?"


Kesya menghujani Kanaya dengan pertanyaan yang terturut-turut tanpa jeda.


"Apaan sih, lo? Main asal tuduh aja."


"Lah, terus ngapain, lo ada di ruangan spesialis kandungan gini?"


"Bukan urusan, lo ya! Mau gue hamil kek, atau enggak kek, itu bukan urusan, lo!"


"Jadi, lo beneran hamil?"


"Kalo emang iya kenapa? Masalah buat, lo?"


Kesya sempat syok. "Tapi, sama siapa? Kan lo belum nikah?"


"Lo mau tau, siapa bapak dari anak yang, gue kandung?"


Kesya mengangguk. "Suami, lo!"


Seketika tubuh Kesya lemas. Lututnya sudah tak bisa menahan tubuhnya untuk terus berdiri tegak.


"Gak mungkin! Gue percaya sama, Aryan. Dia gak mungkin lakuin hal keji seperti ini."


"Oh, jadi, lo gak percaya? Lo tanya aja sama, Aryan. Inget ya, gue akan minta pertanggung jawaban sama dia. Bagaimana pun, ini anak kandung dia."


"Satu lagi. Setelah gue sah menjadi istrinya Aryan, bersiaplah posisi, lo akan gue singkirkan!" Tambahnya lagi.


Setelah mengatakan itu, Kanaya langsung pergi meninggalkan Kesya sendirian dengan air mata yang terus mengalir.


"Bagaimana bisa? Lo jahat, Aryan! Jahat! Tuhan! Gak habis-habis kau memberikan cobaan kepadaku!"


Kesya terus menangis. Hatinya sangat sakit. Kesya mencoba bangkit, lalu berjalan dengan tertatih-tatih.


"Bagaimana ini? Pernikahan baru seumur jagung, udah mau di poligami aja."


Kesya berjalan keluar dari rumah sakit, dan menyetop taxi yang lewat.


Kesya tak kembali kerumah orang tuanya Aryan. Melainkan, dia pergi ke villa milik Aryan.


Setelah membayar taxi lalu turun. Tiba-tiba tubuh Kesya jatuh tepat di depan pagar besi yang menjulang tinggi itu.


Melihat kejadian itu, satpam langsung berlari dan membantu Kesya masuk ke dalam.


"Ya allah, non. Ngapain duduk di jalan? Mari masuk. Tak bantuin ya?"


"Bik! Bibi! Bi Ijah! Tolong bukain pintu dulu!" Teriak Mang Ujang dari luar.


Pintu terbuka, Bi Ijah sempat terkejut saat melihat keadaan Kesya yang begitu memprihatinkan.


"Ya allah! Non Kesya! Non Kesya kenapa, Jang?"


Ucap Bi Ijah lalu membantu membawa Kesya masuk, dan meletakkannya di sofa.


"Tadi tiba-tiba saya lihat, Non Kesya udah ada di pinggir jalan. Ya udah saya bawa masuk." Terang satpam itu yang bernama Ujang.


"Ya gusti! Udah, kamu sekarang balik ke depan aja. Biar Non Kesya sama saya."


Mang Ujang memangguk lalu kembali ke luar.


"Non, ada apa? Kenapa sampai begini?"


Kesya langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Bi, Aryan jahat!" Air mata Kesya terus mengalir dan berlomba untuk turun.


Bi Ijah menghapus air mata Kesya dengan sangat lembut. "Den Aryan kenapa? Sini cerita aja sama, bibi."


"Aryan, bi. Dia jahat sama, Kesya." Ucap Kesya sambil sesegukan


"Jahat? Jahat kenapa?"


"Dia... dia..."

__ADS_1


"Iya, kenapa? Jangan bikin bibi penasaran deh, non."


"Dia udah bikin, Kanaya hamil, bi."


"Apa? Bagaimana bisa? Mana mungkin, Den Aryan melakukan perbuatan dosa itu, non."


"Tapi, Kesya sendiri yang lihat, bi. Tadi Kesya jumpa sama Kanaya di rumah sakit. Dia bilang, kalo dia hamil anak Aryan."


"Udah, Non Kesya yang sabar ya. Udah makan belum? Makan dulu yuk? Bibi udah masak nih."


"Gak mau, bi. Kesya gak selera makan."


"Eh, gak boleh gitu. Makan dulu nanti, Non Kesya sakit kalo gak makan. Makan dulu ya?"


Berkat bujukan, Bi Ijah Kesya akhirnya mau makan.


Di sisi lain, setelah selesai melakukan operasi pasiennya, Aryan baru menyadari bahwa Kesya tidak ada di rumah sakit langsung menelpon sang istri.


Namun tak ada jawaban sebab, Kesya sengaja mematikan daya ponselnya karena, ia tak ingin di ganggu oleh Aryan.


"Ah, sial! Kemana sih dia?" Umpat Aryan yang dari tadi teleponnya tidak mendapatkan jawaban dari Kesya.


"Ah, udah pulang kali ya? Gue coba telepon mama aja deh."


Aryan langsung menghubungi mamanya.


[Hallo, Mah!]


[Iya, Aryan. Ada apa?]


[Mah, Kesya udah pulang belum?]


[Loh, bukannya Kesya lagi sama kamu?]


[Iya, mah. Tapi sekarang udah gak ada. Aryan kira dia udah pulang.]


[Gak ada kok. Dari tadi mama di sini, gak ada lihat Kesya.]


[Ya allah, mah. Jadi Kesya kemana?]


[Coba kamu hubungin dulu, siapa tau dia lagi di mana gitu.]


[Ya, ampun! Kamu perintahkan orang suruhan kamu buat cari, Kesya ya. Mama mau hubungi papa dulu]


[Baik, Mah.]


Tut!!! Aryan langsung memutuskan sambungan sepihak.


"Key, lo di mana sih? Bikin panik aja."


Aryan terus mencari keberadaan, Kesya. Semua orang yang dia jumpa, tak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Kesya dimana.


*****


[Hallo, Pah!]


[Iya, Mah ada apa?]


[Kesya hilang, pah!]


[Apa? Kok bisa? Udah di cari bener-bener? Coba hubungi Kesya, tanyakan dia lagi dimana.]


[Ponselnya gak bisa di hubungi, Pah. Udah di cari keliling rumah sakit, tetep gak ada.]


[Oke. Ini sekarang, mama lagi di mana? Aryan masih di rumah sakit kan?]


[Mama di rumah, pah. Iya. Aryannya masih di rumah sakit.]


[Yaudah, papa langsung kerumah sakit ya. Mama nyusul aja.]


[Iya, pah.]


"Kesya, kamu di mana, sayang."


Mama Indri begitu mencemaskan keadaan menantunya itu.


"Mbak Kesya kenapa, mah?"


"Dia hilang, Vid."

__ADS_1


"Ha? Kok bisa, mah? Bukannya Mbak Kesya tadi ikut Bang Aryan kerumah sakit ya?"


"Iya. Tapi, kata Aryan Kesya gak ada di sana. Udah di telepon tapi gak di angkat."


"Ya allah! Kemana ya, mah, Mbak Kesya?"


"Makanya itu mama pusing. Apa kita ke rumah sakit aja ya? Mana tau, Kesya masih di sekitaran sana."


"Ide bagus, mah. Ya udah, mama siapan dulu biar kita langsung ke rumah sakit."


*****


"Non, Den Aryan telepon bibi ini."


"Gak usah di angkat, bi. Biar aja dia kecarian."


"Ya jangan gitu, non. Nanti bibi habis di sembur sama, Den Aryan."


"Ya udah, bibi angkat aja. Tapi jangan bilang, kalo Kesya di sini ya, bi."


Bi Ijah mengangguk, dan langsung mengangkat telepon dari Aryan.


[Hallo, den. Ada apa?]


[Bi, ada Kesya gak di sana?]


[Non Kesya? Gak ada, den. Bibi sendirian di sini]


[Bibi serius?]


[Serius, den.]


[Nanti kalo, Kesya kesana kabari Aryan yah bi.]


[Oke, den. Em, maaf sevelumnya. Non Kesya emangnya kemana, den?]


[Kesya hilang, bi. Ini kami lagi nyari dimana keberadaannya sekarang.]


[Ya ampun. Semoga lekas ketemu ya, den.]


[Iya, bi.]


Aryan langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Non, apa gak sebaiknya, Non Kesya pulang aja ya? Kasihan loh, non. Mereka semua pada nyariin."


"Biarin, bi. Kesya mau nenangin diri dulu."


"Kesya naik dulu ya, bi."


Kesya menaiki tangga menuju kamarnya yang dulu.


Kesya merebahkan tubuhnya sambil menghidupkan perangkat ponselnya kembali.


Saat dia membuka aplikasi berlogo telepon itu, ada pesan masuk dari nomor yang tak di kenal.


Matanya langsung tertuju pada chat dari kontak tersebut.


[Bersiaplah! Lo bakal di madu!]


[Setelah, gue mendapatkan Aryan, gue akan mencampakkan, lo bagaikan sampah!]


[Dasar wanita murah-an! Lo gak bakalan menang lawan, gue. Cupu!]


Begitulah isi chat dari nomor yang tak di kenal itu. Namun, Kesya tahu siapa yang telah mengirim chat itu padanya.


Dia, Kanaya! Kesya sangat yakin bahwa itu pesan dari, Kanaya. Kesya meremas ponselnya sebelum membantingnya ke lantai.


"Aaaaaa!!!"


Kesya berteriak sekencang mungkin.


"Gue benci lo, Aryan! Gue benci!"


Teriaknya lagi lalu kemudian kembali menangis.


"Gue gak mau di madu! Gue gak mau! Gue gak sanggup kalo harus berbagi suami. Gue gak sanggup!"


Perlahan, mata Kesya tertutup dan mulai masuk ke alam mimpinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2