Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
bab: 27 Siapa Dia?


__ADS_3

"Heran, deh. Kebanyakan manusia sekarang sibuk ngurusin hidup orang lain ya? Kaya hidupnya udah bener aja."


"Sama kaya, lo."


"Loh, kok jadi gue lagi sih yang kena?"


"Bodo! Marah gue sama lo. Gak usah di ajakin ngomong."


"Marah kenapa lagi? Salah mulu perasaan dari tadi."


"Ya iyalah. Jauh-jauh kemari, katanya mau ngajak belanja, buktinya apa? Sepotong pun gak ada yang terbeli."


"Oh gara-gara itu? Ya udah pilih aja mau yang mana. Gitu doang kok repot."


"Ck! Dari tadi juga ngomongnya gitu. Tapi, tetep aja gak ada yang di beli."


"Tadi kan karena ada hama yang menggangu. Jadi di tunda dulu."


"Alasan! Udah ah, gue mau pulang aja. Males lama-lama gue liat lo."


"Bener mau pulang nih? Kesempatan gak datang dua kali loh. Kalo mau pulang, biar gue keparkiran ambil mobil. Gimana jadi gak?"


"Udah deh belanja aja."


"Yaelah, pake jual mahal segala lagi."


"Udah, buruan! Lama amat jalan, lo kaya siput aja."


Kesya langsung masuk kedalam kembali. Dan mulai memilih-milih mana yang akan di beli olehnya.


Kesya mengambil sebuah gamis brukat berwarna ungu muda itu, lalu menunjukkan kearah, Aryan.



"Aryan, gimana? Cantik gak?"


"Cantik sih...Bajunya, lo nya mah biasa aja."


"Kampret, lo! Jawab dulu. Menurut, lo gue cocok gak make ini?"


"Cocok sih, cuma buat apaan? Mana banyak pernak perniknya lagi. Silau mata gue liatnya."


"Ih, ini keren tau."


"Iya. Buat apa di beli kalo gak di pake? Kan sayang. Emang lo mau make baju beginian buat hari-hari? Gak ribet apa?"


"Ya gak untuk hari-hari juga lah. Ini itu kerennya untuk di pake pas datang ke hajatan. Kaya pernikahan gitu. Keren nih pastinya."


"Siapa yang bakal ngundang, lo? Bisa habis makanan orang, lo buat."


"Sembarangan! Temen, lo kan banyak. Mana tau mereka bikin acara, pasti lo di undang. Otomatis, lo ngajak gue dong."


"Geer banget, lo. Mendingan gue pigi sendiri, dari pada bareng sama lo."


"Kan, Aryan. Pasti, lo mau tebar-tebar pesona iya, sama cewek lain? Jahat banget!"


"Enggak deng. Bercanda doang. Udah, jadi beli gak nih?"


"Boleh nih?"


Tanya Kesya dengan mata yang berbinar-binar. Aryan mengangguk menyetujui.

__ADS_1


Kesya sangat senang. Saat melihat harganya, Kesya meletakkan kembali pakaian yang ia pegang tadi.


"Loh, kok di kembalikan?"


"Sini deh." Kesya menyuruh Aryan untuk mendekat ke arahnya.


"Harganya mahal banget, Yan. Delapan ratus ribu rupiah." Kesya membisikkan nominal harga yang tertera di gamis itu.


"Wajar sih, Key. Tapi ini barang nya bagus loh. ORI bukan kaya yang di pasar-pasar itu."


"Ah, enggak ah. Ini mah barang-barang pasar, Aryan. Ngerih kali harganya. Mau naik haji kali ya yang jualanan?"


"Lo aja itu yang gak ngerti. Udah, jadi beli gak?"


"Suka sih. Tapi mahal banget! Kalo buat beli kolor, dapat berapa bal ya?"


"Ya ampun. Malah di sama-samain dengan kolor. Udah ambil aja." Aryan langsung mengambil gamis itu, lalu di taruh di lengannnya.


"Mau apa lagi? Atasan, sepatu, tas, make up enggak?"


"Mahal-mahal semua, Yan." Bisik Kesya lagi


Aryan mengambil asal pakaian yang tergantung di sana.


"Yan, banyak banget ini?"


"Udah! Nunggu lo lama, kebanyakan mikir. Mau mana lagi? Sepatu gak mau?"


Aryan langsung menuju rak-rak sepatu. "Berapa ukuran kaki, lo?" Tanya nya


"Tiga puluh delapan."


"Ck! Itu mah ukuran kaki anak Sd kali."


"Nih, coba pakai."


"Ah, gue gak suka. Tinggi banget, cari yang lain aja deh." Tolak Kesya


"Seharusnya, lo itu sadar diri. Kalo pendek itu, pakai yang modelan gini. Biar keliatan tinggi." Omel Aryan.


Mau tak mau, akhirnya Kesya mencoba sepatu itu.


"Nah, kan cantik. Udah bawa itu. Ini juga, em ini kayanya manis deh. Nah, tambah satu lagi."


Aryan terus mengambil berbagai macam model sepatu yang tersusun disana.


"Ini semua? Banyak amat, Yan."


"Shut! Diem aja. Ah, iya tas kan belum." Aryan langsung menarik tangan Kesya menuju ke tempat tas.


"Pilih mau yang mana." Kesya mengambil satu buah tas berbahan kulit yang harganya cukup fantastis itu.


"Satu aja? Ambil lagi. Dua atau tiga juga boleh."


"Ih, banyak banget, Aryan. Jadi orang itu jangan boros, harus hemat. Siapa tau suatu saat kita butuh, tapi sama sekali gak megang uang? Hayo, gimana?"


"Iya buk ustazah. Udah ceramahnya?"


"Ih, di kasih tau malah ngeyel."


"Udah kan, gak ada lagi? Biar sekalian di bayar?"

__ADS_1


"Udah ah. Udah banyak banget pun ini."


Mereka pun berjalan menuju kasir. Namun, Aryan balik lagi dan mengambil sebuat tas di sana, lalu menyusul Kesya kembali.


"Astaga! Kok di tambah lagi?"


"Sayang! Gemes banget tasnya."


"Yaudah, kalo gitu lo aja yang pake semua."


"Astaga! Mulai ngambek lagi kan. Ada aja salah, gue dari tadi." Ucap Aryan sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal


"Ini aja? Tokonya gak sekalian di beli, Mas?" Ucap penjaga kasih


"Oh, tokonya di jual juga? Klo memang di jual, biar saya beli semuanya."


Perempuan yang menjaga di bagian kasir itu pun tergelak.


"Santai aja kali, Mas. Saya juga cuma bercanda kok."


"Aduh, Mbak. Jangan bercanda deh sama dia. Agak geser memang otaknya, jadi suka gak nyambung."


Penjaga kasir itu pun terus saja tertawa.


Setelah selesai transaksi, keduanya kembali ke parkiran.


"Mau kemana lagi nih?" Tanya Aryan


"Pulang aja deh, Yan. Capek gue."


"Gak makan dulu? Keroncongan nih perut gue, minta diisi. Kita makan dulu ya?"


"Terserah deh."


Aryan mulai mengendaria mobilnya keluar dari area pusat perbelanjaan, menuju sebuah restaurant terdekat.


"Ngapain kesini? Warteg kan banyak? Mana murah lagi."


"Astaga! Masih mikirin warteg, perut tu yang di pikirin. Ayo, laper banget nih gue."


Aryan menuntun Kesya masuk ke dalam. Setelah mendapatkan meja kosong, mereka langsung duduk dan memesan makanan.


Mau makan apa, Key?


"Sama kaya, lo aja deh."


"Tulisannya aja pun aneh-aneh banget. Pake bahasa alien kali mereka ya? Gak ngeti gue bacanya." Bisik Kesya


"Ini bahasa inggris, bego. Bahasa alien pula? ada-ada aja lo."


Saat sedang menunggu makanan datang, seorang pria datang dan menghampiri meja mereka.


"Kesya, ya?" Sapa pria itu


Kesya yang sedang bermain ponsel pun, langsung menoleh.


"Kemana aja? Kok gak ada kabar? Nomor hp kamu juga gak bisa di hubungi. Ganti nomor baru ya?"


Kesya melirik Aryan. Dari tatapan, Aryan. Sepertinya dia lagi nahan amarahnya.


'Wah, dalam nih masalahnya. Bisa-bisa di diemin nih gue sampe seminggu' Batin Kesya

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2