Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
Bab: 20 Kembali Ke Rumah


__ADS_3

happy readyng🌷🌷🌷


[Hallo!]


[.......]


[Bunuh diri? Bagaimana bisa? Terus cari tahu, nanti kamu hubungi saya lagi]


Aryan langsung mematikan sambungan telponnta. "Siapa, Yan?"


"Itu, Mah pelayan yang ngasih minuman sama, Kesya kemarin ternyata dia bunuh diri, mah."


"Astaga! Kok bisa? Gimana mau cari pelakunya kalo gini?"


"Makanya itu, Mah. Aryan juga lagi pusing ini."


"Siapa yang bunuh diri, Yan?" Tanya Kesya


"Pelayan yang ngasih kamu minum kemaren. Dia depresi gara-gara jadi buronan polisi. Aku rasa sih, itu bukan asli kesalahan dia."


"Bukan kesalahan dia gimana? Udah jelas- jelas dia yang ngasi Kesya minuman kemaren loh."


"Mah, bisa aja kan dia di suruh orang atau apalah gitu?"


"Bisa jadi juga sih, Mah. Tapi kalo memang dia ada yang nyuruh, kira-kira siapa ya, Bang?"


"Ye, malah nanya! Kalo, Abang tau udah langsung Abang bawa ke kantor polisi, gak perlu capek-capek gini."


"Udahlah, Yan. Gak usah di permasalahkan lagi. Lagian aku juga gak apa-apa kok."


"Loh? Mana boleh gitu. Ini namanya udah kejahatan. Kamu hampir aja kehilangan nyawa loh, Key. Ikhlas kan, lo bilang?"


"Apa yang di bilang, Kesya ada benarnya juga. Lebih baik kita berhentikan saja masalah ini. Lagian, Kesya sudah sehat kok."


"Tapi, Mah! Enak aja kita biarkan penjahat itu kabur gitu aja. Setidaknya beri dia pelajaran, supaya dia jera."

__ADS_1


"Aryan! Udah, biarin aja. Gue gak apa-apa kok. Biar aja tuhan yang membalasnya."


"Tapi, Key?"


"Udah! Biarin aja. Mau sampai kapan dia nyembunyiin kejahatannya? Ujung-ujungnya juga akan terbongkar sendiri."


"Okelah, kalo itu kemauan, lo."


"Gue mau pulang aja deh, Yan. Sumpek di sini, gak enak."


"Enak aja! Lo itu harus di rawat dulu di sini. Ya minimal seminggu lah."


"Seminggu? Mati berdiri gue yang ada."


"Mah, Kesya pulang aja ya? Kesya gak mau di sini!"


"Gak bisa, Sayang. Kamu belum sembuh total. Jadi harus dalam pantauaan dokter."


"Gak perlu, Mah. Kan Aryan bisa jagain, Kesya. Iyakan, Yan?"


"Bang Aryan jaga Mbak Kesya? Mana bisa di percaya. Lain di suruh, lain di buat. Makin parah nanti, Mbak Kesya di buat Bang Aryan."


"Kejang-kejang yang ada, Mbak Kesya lo buat, Bang. Aneh lo!"


"Dasar, jomblo ngenes! Iri mulu bawaannya. Makanya cari pacar, biar gak jomblo mulu."


"Dih! Lo liat aja ya, Bang! Gue pamerin cowo gue di depan muka, lo yang gak seberapa itu!"


"Gue sampe heran sama, Mbak Kesya. Kok mau ya sama, Bang Aryan? Udah jelek, pelit, nyebelin, ih semuanya lah."


"Ye, sirik aja, lo!"


"Sebenarnya sih terpaksa, Vid. Kalo gak sih, Mbak juga gak bakal mau sama, Aryan." Ucap Kesya sambil mengedipkan mata nya sebelah isyarat memberi kode pada Vidya.


"Lo kok gitu sih, Key? Katanya cinta sama gue. Kok sekarang malah ngomong terpaksa?"

__ADS_1


"Bercanda doang kali! Baperan amat, lo!"


"Ye, tua-tua keladi! Makin tua, makin jadi. Makin gak tau diri!"


"Heh! Abang remes entar mulut lo itu ya, Vid. Mau?"


"Gue boleh pulang ya?" Rengek Kesya lagi. "Gak! Bandel amat lo di bilangin."


"Ih, gue bosen disini. Pengen pulang!"


"Coba tanya dokter, Yan. Apa Kesya udah boleh pulang atau belum?"


"Bentar, Aryan tanya dulu ya, Mah." Aryan keluar untuk mebemui dokter, dan minta izin agar Kesya bisa langsung di bawa pulang.


Setelah sudah mendapat Izin dari, dokter. Aryan kembali keruangan, Kesya.


"Gimana, Yan? Sudah boleh?"


"Boleh, Mah. Yang penting jangan banyak gerak dulu, dan istirahat yang cukup."


Aryan meletakkan, Kesya ke kursi roda. Tak lupa, infus yang menempel di tangan, Kesya ikut di bawanya.


"Loh, mau kemana, Bang?"


"Pulang."


"Lah, jadi ini siapa yang beresin?"


"Ya, kamu lah! Makasih ya adek Abang yang baik hati, love you lah." Ucapnya lalu menghilang dari balik pintu.


"Ya ampun! Yang sakit bini dia, malah gue yang kena imbasnya."


"Loh, Mama mau kemana? Tunggu Vidya bentar kenapa, Mah."


"Aduh, Mama kebelet nih, Sayang. Mama duluan ya, makasih anak Mama."

__ADS_1


"Ck! Gue di kerjain nih! Apes amat deh!"


Bersambung....


__ADS_2