Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
Bab: 25 Di Ajak Shopping


__ADS_3

"Aryan, jangan liat!" Teriak Kesya sambil kembali memakai handuk kembali.


"Udah terlanjur." Sahut Aryan sambil terus berfokus natap ke arah, Kesya.


Kesya mengambil asal pakaian yang di dalam lemari, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Astaga, Kesya! Malu banget gue." Rutuk nya sambil memukul kepalanya beberapa kali.


Setelah berpakaian, Kesya keluar dari kamar mandi.


"Wah, parah lo, Key! Bisa-bisa nya..."


"Stop! Gak usah di lanjutin! Gue gak suka." Potong Kesya


"Enggak sih, cuma gak habis pikir aja gitu. Kok bisa-bisa. Hahaha... gak sanggup gue mau ngomongnya, Key." Aryan terus tertawa dan meledek Kesya


"Ih, Aryan! Gue malu tau!"


"Hahaha... Salah sendiri. Udah yuk turun, laper nih gue."


Keduanya turun ke bawah dengan bersamaan. Sepanjang jalan menuju ke meja makan, Aryan tak henti-hentinya tertawa.


"Aryan, udah dong. Ketawa terus dari tadi."


"Gue masih kebayang sama yang tadi, Key. Kok bisa gitu ya? Sayangnya gak gue poto. Kalo di poto kan lumayan."


"Shut! Suara, lo kenceng banget! Ntar ada yang denger, malu gue."


"Sengaja! Hahahaha...." Aryan makin mengeraskan suara ketawanya. Dia sangat senang melihat penderitaan, Kesya.


"Ya ampun! Bahagia banget nih, pengantin baru." Ucap Mama Indri sambil mulai menata makanan di meja makan.


"Duh! Udah pada keramasan aja nih, dua-duanya." Sahut Vidya


"Biasalah, gak inget ya tadi malam, malam apa?" Pasti lupa.


"Ups! Lupa gue. Yang jomblo ini bisa apalah ya." Sahut Vidya sambil menutup mulutnya.


"Udah ayo makan."


"Gimana, Key. Puas?"


Uhuk!!!


Kesya menyemburkan makanan yang telah di kunyahnya tadi.


"Puas apanya, Mah?"


"Alah, biasa. Masa kamu gak paham sih?"


"Sudahlah, Mah. Di meja makan juga masih aja itu yang di bahas. Ada Vidya di sini. Kalo mau cerita gitu, di kamar aja."


"Ck! Papa nyamber aja sih, heran!"


"Oh iya, Mah. Aryan nanti izin mau pergi sebentar ya, Mah."


"Mau kemana?"


"Mau ngajakin, Kesya shopping. Kasihan, Mah bajunya cuma lima potong doang. Apa lagi ****** ********, Mah. Beh! Belubang semua. Parah lah pokoknya."


Semua yang mendengar ucapan, Aryan langsung tertawa.


"Enggak, Mah! Aryan bohong! Padahal ya, Mah. Itu punya, Aryan malah nuduh aku!"


"Gak ada otak, lo Yan. Seneng, lo ya gue jadi bahan candaan? Mana lo balikkan fakta pula itu. Kolor, lo yang berlubang. Lo bilang punya, gue."

__ADS_1


"Tuh, lo liat. Papa dari tadi gak berhenti ngetawain, gue. Gue malu, Aryan!" Bisik Kesya


"Ya udah pergilah. Beli yang banyak, buat stok. Yang koyak-koyak itu buang aja. Ngapain lagi harus di simpan."


"Nah, lo denger tuh Yan. Di buang, jangan di simpan!"


"Sayang! Biar di jadikan pajangan."


"Nih, Mama liat kelakuan anak Mama. Aneh kan? Mama bongkar deh lemari, Aryan. Pasti banyak harta karunnya."


"Ih, gak mau lah Mama. Pasti baunya tengik. Hih, jijik!" Sahut Mama Indri dengan ekspresi seperti sedang ke jijikan.


"Astaga! Mama sembarangan nih kalo ngomong. Itu semua wangi ya, Mah. Gak seperti yang Mama pikirkan."


"Sudah-sudah! Ini mau makan, atau pada mau bahas kolor? Kalo mau bahas kolor, mendingan ke pasar aja. Banyak motif dan pilihan warna juga. Bukan di sini."


"Wah, Papa hebat banget. Dari cara Papa ngomong barusan, itu kaya Papa udah banyak pengalamannya gitu. "


"Ah, kebetulan aja itu. Udah buruan makan. Jangan ada yang ngomong lagi. Yang di masak ayam, yang di bahas kolor. Aneh kalian!"


Setelah selesai makan, keduanya kembali ke kamar untuk mengganti pakaian.


"Yan, emang bener lo mau ngajak gue shopping? Ntar lo cuma ngerjain gue doang."


"Menurut, lo?"


"Ck! Capek ngomong sama, lo. Di tanya, malah nanya balik. Hadeh!"


"Udah buruan siapan. Jadi pigi gak nih?"


"Tunggu sebentar, gue siapan dulu." Ucap Kesya sambil hendak menutup pintu.


"Loh, kok di tutup? Gue ganti bajunya gimana? Kan baju gue di dalam semua."


"Oh, lo mau masuk?"


"Enak aja! Udah buruan ambil baju, lo. Jangan ganti di sini. Gue mau ganti baju juga, ntar lo liat lagi pas, gue lagi buka baju."


"Jadi gue gantinya gimana?"


"Terserah!"


Aryan masuk ke dalam kamar, lalu memilih pakaian yang hendak ia kenakan.


"Buruan lo ganti bajunya. Gue-gue aja kalo udah soal ngalah gini. His!"


Aryan keluar sambil membawa pakaiannya.


Kesya memilih dress selutut berwarna biru dongker, dengan sepatu pansus senada, dengan make up yang natural dan rambut yang terurai membuatnya terlihat lebih cantik dan menawan.


"Key! Lama banget! Udah satu jam gue nunguin, lo gak keluar-keluar juga." Protes Aryan


"Ck! Sabar, dong. Ini udah siap."


"Udah ayo buruan!"


"His, lama amat. Udah ayo!"


"Mah, pah kami pamit dulu ya." Mereka pun mencium takzim telapak tangan kedua orang tuanya.


"Hati-hati, ya."


"Oke, Mah."


"Em, Mama atau Papa mau, mau nitip apa? Biar sekalian Kesya keluar, nanti Kesya belikan."

__ADS_1


"Em, kayanya gak usah deh, sayang. Mama lagi gak pingin apa-apa kalo untuk sekarang."


"Mbak, belikan Vidya sate padang ya? Dua porsi." Sahut Vidya


"Kok malah, lo yang minta? Lo gak masuk hitungan kali."


"Ye, sewot amat, Lo Bang. Gue kan mintanya sama, Mbak Kesya. Bukan sama, lo."


"Udah lah, Yan biarin aja."


"Papa enggak?" Tanya Kesya


"Em, papa titip brownies aja deh. Boleh kan?"


"Boleh dong, pah. Yaudah, kami pergi dulu ya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati."


Keduanya keluar menuju garasi. Setelah itu, Aryan mulai mengendarai mobil dan mulai memasuki jalan raya lalu bergabung dengan pengendara lainnya.


"Mau shopping dimana, Key?"


"Kuburan." Sahut Kesya asal


"Kuburan? Belanja apaan di kuburan? Nih ya, Key. Di kuburan itu gak ada yang jualan. Bunga melati, kantil, kamboja nah, itu baru banyak. Rumput pun banyak juga."


"Terserah lo deh, Yan!"


"Yaelah, di tanya bagus-bagus juga masih aja salah gue. Entah kapan gue benernya."


"Lo sih blo'on. Kalo shopping itu dimana, Aryan? Seharusnya gak perlu di jelasin lagi, lo udah tau dong."


"Yah, nanya kan gak salah? Mana tau, lo mau shopppingnya di pasar atau yang di pinggir-pinggir jalan gitu."


"Dahlah, Yan. Puter balik aja kita. Hilang napsu belanja gue gara-gara, lo."


"Iya deh. Gitu doang aja ngambek."


Aryan terus mengendarai mobilnya hingga berhenti di suatu tempat.


Mereka berhenti tepat di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.



"Waw, gak salah mau belanja di sini?" Ucap Kesya sambil menatap sekeliling dengan takjub.


"Ya enggaklah! Udah buruan turun."


"Yan, beneran mau belanja di sini? Emang gak mahal ya? Cari tempat lain aja deh."


"Udah cepetan. Jauh-jauh gue bawa lo kemari, masa mau nyari tempat lain lagi. Udah ayo!"


Aryan mulai menggandeng tangan Kesya dan membawanya masuk.


"Key, awas...!"


Bruk!!!


Bersambung.....


Astaga! Kenapa lagi tuh, Si Kesya wkwkwkw


Thank's udah mau mampir.🤗

__ADS_1


Jangan lupa ninggalin jejak juga ya


__ADS_2