Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
Bab: 34 Pernikahan Kembali?


__ADS_3

"Aaaaaa!!!"


Kesya berteriak sekencang mungkin.


"Gue benci lo, Aryan! Gue benci!"


Teriaknya lagi lalu kemudian kembali menangis.


"Gue gak mau di madu! Gue gak mau! Gue gak sanggup kalo harus berbagi suami. Gue gak sanggup!"


Perlahan, mata Kesya tertutup dan mulai masuk ke alam mimpinya.


*****


"Non! Non bangun, non udah siang!"


Bi Ijah terus mengetuk pintu kamar Kesya agar ia segera bangun.


"Gimana, bi? Udah bangun, Kesyanya?"


"Kurang tau, den. Dari tadi bibi panggilin, tapi gak nyahut."


"Ya udah, bibi balik aja. Biar Aryan yang bangunin."


"Kalo gitu, bibi balik ke dapur lagi ya, den."


Bi Ijah meninggalkan Aryan sendirian dan kembali ke dapur.


Untung Aryan mempunyai kunci cadangan di setiap kamar di villanya ini. Jadi dia bisa sangat mudah untuk masuk kedalam.


Tak butuh waktu lama, pintu kamar terbuka.


"Key! Bangun, udah siang nih!"


Aryan terus mengguncangkan tubuh Kesya agar dia bangun.


Namun mata Kesya sama sekali tak terbuka. Aryan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Kesya.


"Astaga! Panas banget!"


Kata itu terlontar begitu saja dari mulut Aryan, saat tangannya menyentuh kening Kesya.


"Key! Badan, lo panas banget! Lo sakit?"


Aryan sangat cemas melihat keadaan, Kesya. Saat mata itu terbuka, terlihat jelas bahwa dia merasakan ketidaknyamanan dengan tubuhnya.


"Aryan! Lo ngapain di sini?"


Tanya Kesya lirih. Mata sendu, wajah pucat, serta tubuh yang sangat panas.


"Lo, kok malah kesini sih, Key? Gue nyariin, lo tau."


"Pergi! Gue mau sendiri!"


Ucapnya lirih. Mata sendu itu kini meneteskan air mata.


"Lo nangis, Key? Apa yang sakit? Bilang sama, gue. Kita kerumah sakit ya?"


Andai Aryan tau, bahwa yang sakit adalah hati Kesya. Mungkinkah dia akan membawa kerumah sakit juga? Apa bisa dokter menyembuhkan sakit hati? Ah! Entahlah.


"Gue gak apa-apa. Lo pergi aja! Gue mau sendiri."


"Lo kenapa sih, Key? Lo marah sama, gue?"


Kesya memalingkan muka. "Gue cuma mau sendiri!"


"Gue akan panggil dokter."


Aryan keluar untuk menghubungi dokter kepercayaan keluarga mereka.


"Andai, lo tau, Aryan betapa sakitnya hati, gue. Gue rasa, lo gak akan sanggup ada di posisi ini." Lirihnya dengan di sertai derai air mata.


Aryan kembali dengan di ikuti dokter di belakangnya.


"Silahkan, dok!"


Dokter langsung memeriksa tubuh Kesya.


"Gimana keadaannya, dok?"


"Mbak Kesya baik-baik aja. Cuma lagi kecapean aja sih kayanya."


"Sarannya, banyak-banyak istirahat, dan jangan banyak pikiran dulu. Obatnya bisa di tebus di apotek terdekat ya, mas."

__ADS_1


"Baik, dok."


"Kalo gitu, saya permisi."


"Terima kasih, dok. Mari saya antar. " Aryan mengantar dokter itu keluar.


"Key! Lihat, gue!" Aryan menangkup wajah Kesya lalu menghadap ke arah wajahnya.


"Lihat, gue!"


Kesya sama sekali tak mau melihat mata, aryan.


"Kesya! Lihat gue, gue bilang!"


Bentak Aryan. Sontak Kesya langsung menatap lekat mata yang ada di hadapannya.Mata yang selalu menyakiti hatinya. Mata yang selalu membuat Keya jatuh cinta, dan mata itu juga yang membuatnya benci kepada, Aryan.


"Lo kenapa? Apa salah, gue sampai natap wajah, gue aja, lo gak mau?"


Aryan terus menatap wajah Kesya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Jangan gini dong, Key! Kaya anak-anak tau. Kalo ada masalah itu cerita, bukan kabur kaya gini. Lo tau gak, gue khawatir dari semalam nyariin, lo!"


"Gue mau cerita, cerita ke siapa? Cerita sama, lo? Yang ada makin gila, gue."


"Lo kenapa? Ada masalah apa? Ada yang jahatin, lo saat di rumah sakit? Atau, lo di ganggu lagi sama, Kanaya? Jawab, Key!"


"Lo tinggalin, gue sendiri, Yan! Gue gak mau ngomong sama, lo."


"Gak! Gue gak akan pergi, sebelum tau apa alasan sampai, lo benci sama, gue."


"Lo mau tau siapa yang udah nyakitin, gue? Hah, itu kan yang, lo mau?"


"Iya! Biar, gue habisi dia sekalian!"


"Oh, kalo gitu. Lo habisi diri, lo sendiri!"


"Apa-apaan sih, Key? Ngomong itu yang jelas!"


"Lo yang udah nyakitin hati, gue. Biar, lo tau. Gue kaya gini itu, KARNA ULAH, LO! " Kesya menekan kalimat akhir yang di ucapnya.


"Bukan sekali dua kali, Aryan! Tapi sering! Gue udah coba ngalah. Berulang kali, lo sakiti, gue selalu ngalah."


"Tapi apa? Pengorbanan, gue selama ini sia-sia. Udah gak ada yang bisa di pertahankan lagi disini."


"Apaan sih, Key? Gue gak paham!"


"Coba jujur sama, gue. Lo udah tidur bareng kan sama, Kanaya? JAWAB ARYAN!"


Kesya berteriak lantang sebelum akhirnya air matanya tumpah begitu saja.


"Key! Sumpah demi tuhan! Gue gak pernah sekali pun ngelakuin hal kotor kaya gitu, Key. Percaya sama, gue."


Aryan bersikeras bahwa dia sama sekali tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu.


"Tapi buktinya apa? Kanaya sekarang lagi hamil. Dan itu anak, lo! Tega, lo ya sama gue?


"Key, gue mohon sama, lo. Itu gak bener. Sama sekali gue gak pernah ngelakuin hal gituan. Apa lagi sama, Kanaya. Dia udah fitnah, gue Key!"


"Udah deh, Yan! Udah cukup-cukup, lo sakiti hati, gue. Gue capek, Aryan! Gue capek! Kali ini gak ada lagi kata maaf buat, lo."


"Key, please! Percaya sama, gue. Gue gak pernah sama sekali tidur sama Kanaya. Percaya, Key!"


Kesya menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya perlahan. "Ceraikan, gue sekarang juga!"


Deg!!!


Aryan terpelongo mendengar penuturan, Kesya barusan.


"Apaan sih, Key kok malah cerai? Bukannya kita udah sepakat, kalo gak ada kata perceraian sampai kapan pun?"


"Gak ada kata maaf untuk perselingkuhan!"


"Key, gue gak selingkuh! Sumpah!"


"Oke. Mungkin setelah nikah sama, gue lo gak selingkuh. Tapi tetap aja, anak yang di kandung, Kanaya itu darah daging, lo! Karna sebelum nikah sama, Gue. Lo udah pernah berhubungan dengan Kanaya."


"Ya allah, Kesya! Sumpah demi apapun! Gue gak pernah melakukan itu sama siapapun, kecuali sama, lo!"


"Udah lah, Yan. Biar gue aja yang ngalah. Sekarang, lo temui dia dan nikahin dia. Gue tau gimana rasanya tak memiliki orang tua. Dan jangan sampai, anak itu ngerasain hal yang sama."


"Mungkin orang di luar sana, bisa tahan di madu. tapi itu mereka, bukan gue!"


"Mungkin jodoh kita cuma sampai di sini. Gue ikhlas kalo, lo mau nikahin dia. Gue yang bakalan ngalah, Yan!"

__ADS_1


Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!!


Aryan memukul tembok beberapa kali dengan tangan kosong, sampai tangannya terluka.


"Stop, Aryan!!! Jangan bodoh!!!"


Teriak Kesya dan mencoba bangkit lalu mendekat ke arah, Aryan.


"Jangan menyiksa diri, lo sendiri."


Kesya meraih tangan, Aryan lalu membungkus lukanya dengan baju yang telah di sobek Kesya asal.


"Gue selalu nyakiti hati, lo Key! Lo selalu nangis sama, gue. Tapi gue berani sumpah, kalo anak yang di kandung, Kanaya itu bukan anak, gue! Gue mohon, lo harus percaya sama, gue."


"Udahlah, Yan. Ini semua juga udah terjadi. Udah hancur berkeping-keping."


Dret... Dret... Dret...


Ponsel Aryan bergetar.


"Sebentar ya, gue angkat telepon dulu."


"Hallo, pah!"


"Baik, Pah. Aryan pulang sekarang!"


"Papa nelepon. Kata papa kita harus pulang. Kita pulang yuk?"


"Gue masih mau disini!"


"Key, please! Kita pulang ya?"


Kesya luluh dan akhirnya ikut Aryan kembali pulang ke rumah.


*******


"Assalamualaikum!"


Tak ada sahutan. Aryan langsung masuk dan dia mendapati di ruang keluarga mereka tengah berkumpul di sana.


Matanya melirik ke kanan dan mendapati Kanaya tengah menangis.


"Loh, dia? Dia ngapain ada di sini?"


"Duduk kamu, Aryan! Kamu banyak berhutang penjelasan dengan papa."


Kesya mulai lemas dan meneteskan air matanya kembali.


Kesya duduk bersebelahan dengan, Aryan. Mama indri langsung memeluk menantunya yang tampak sangat kecewa itu.


"Ini semua ada apa, pah? Dan lo, Kanaya. Ngapain, lo disini? Apa yang udah, lo buat sama keluarga, gue?"


"Tutup mulut kamu, Aryan! Sekarang kamu jelaskan semua ini!"


"Apa yang harus Aryan jelasin sih, pa? Aryan gak ada buat apa-apa."


"Papa kecewa sama kamu!"


"Pah, sebenarnya ini ada apa? Aryan sama sekali gak paham lo."


"Kanaya hamil! Dan itu anak kamu!"


Kanaya terus menunduk sambil menangis.


"Pah, sumpah demi apa pun. Aryan gak pernah ngelakuin hal itu, pah. Percaya sama, Aryan."


"Lo jangan mengelak, Aryan! Gue gak mau nanggung anak ini sendirian."


"Hei! Jaga mulut lo, Kanaya! Kapan, gue ada nyentuh, lo? Jangan fitnah deh!"


"Setelah apa yang, lo buat. Lo campakkan, gue gitu aja. Gue akan lapor polisi, kalo memang, lo gak mau tanggup jawab."


"Silahkan! Gue gak takut!"


Tantang Aryan.


"Aryan! Nikahi Kanaya sekarang juga!"


Teriak Papa Aryan lantang.


Bruk!!!


"Kesya!"

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2