Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
Bab: 26 Terbongkar


__ADS_3

Bab: 26


"Yan, beneran mau belanja di sini? Emang gak mahal ya? Cari tempat lain aja deh." Usul Kesya


"Udah cepetan. Jauh-jauh gue bawa lo kemari, masa mau nyari tempat lain lagi. Udah ayo!"


Aryan mulai menggandeng tangan Kesya dan membawanya masuk.


"Key, awas...!"


Bruk!!!


"Aduh! Sakit banget!!!" Ringis Kesya kesakitan.


"Astaga, Kesya! Kaca sebesar ini, lo tabrak? Untuk gak pecah tuh kaca."


"Ih, kok malah mentingin kaca? Nih, kepala gue sakit tau!"


"Lagian, lo juga. Udah tau itu kaca, main nubruk aja. Kena kan jadinya. Coba sini gue liat, berdarah gak?"


"Ck! Gue gak tau kalo itu kaca. Bening banget soalnya." Sahut Kesya sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa nyeri itu.


"Jangan norak amat kenapa, Key! Rabun kali mata, lo ya? Hahaha..."


"Ih! Malah ketawa. Bukannya bantuin gue dulu kek, atau apalah gitu. Ini malah di ketawain."


"Abisnya lo lucu banget, Key! Kalo gue vidioin, pasti viral hahaha..."


"Pake mata dong, Mbak kalo jalan."


"Awas, nanti nabrak lagi hahaha..."


Para pengunjung yang lain mulai menertawakan, Kesya.


"Aryan, malu banget!" Bisik Kesya sambil terus menunduk


"Udah, ayo masuk." Ajak Aryan.


"Gak mau! Gue malu, Yan. Mau taruh di mana nih muka gue?"


"Kolong jembatan!"


"Ih! Asal aja mulut, lo kalo ngomong."


"Lagian gitu doang aja lebay banget! Abaikan aja, toh kan kita juga gak kenal sama mereka."


"Udah, ayo. Atau gue tinggal nih?"


"Ih, sabar dong."


"Gitu doang, lebay banget! Ayo masuk."


Keduanya pun mulai memasuki Mall besar itu.


Kesya terus bersembunyi di balik tubuh kekar, Aryan. Dia sangat malu untuk menampakkan wajahnya pada semua orang.


"Udahlah, Key! Kalo lo ngumpet di badan, gue terus, entar orang ngira lo anak gue lagi hahaha..."


"Bising! Udah buruan jalan aja."


"Udah sini, jalan di samping gue. Ngapain di belakang?"


"Gak mau ah, malu gue. Mana rame banget lagi."


"Ya ampun, Key! Mall mana ada yang sepi. Noh, di kuburan tuh baru sepi. Mau kesitu? Biar gue anterin."


"Makasih! Kaya kurang kerjaan aja."


"Aryan!"


"Hem"


"Balik aja, yuk? Gue malu mau belanja."


"Malu itu kalo ngemis atau ngutang. Kan kita bayar. Ngapain harus malu?"

__ADS_1


"Ck! Jadi orang kok gak ada pekanya banget!"


"Emang gue gak peka. Kalo gue peka, gue gak bisa dengar apa yang, lo omongin."


"Is, Aryan! Bukan peka yang itu maksud gue!"


"Jadi yang mana?"


"Bodok ah!"


"Mulai ngambek lagi. Oke, sekarang giliran gue yang ngambek. Gue mau pulang aja."


Ucap Aryan sambil hendak pergi meninggalkan, Kesya lalu di tahan olehnya.


"Ck! Jangan gitu dong. Gimana bayarnya kalo, lo pulang? Masa harus ngutang sih. Gak mungkin dong."


"Makanya, jangan pake acara merajuk-merajuk segala. Udah ayo. Pilih mana aja yang lo suka, biar gue yang bayar."


Kesya perlahan mulai berdiri sejajar dengan, Aryan.


"Bener nih kan? Awas lo nipu ya, habis lo gue buat."


"Iya! Baru tahu kali ini, gue. Di traktir orang kok malah yang traktir yang omelin gini."


"Gak apa-apa, pahala nyenengin hati istri."


"Kalo isteinya modelan kaya, lo gini. Bukan pahala, malah dapat dosa tau."


Tanpa sengaja, mata Kesya melihat mantan dari suaminya itu, sedang berbicara dengan seseorang di sudut dekat bawah tangga.


"Yan! Itu bukannya, Kanaya?"


"Kanaya siapa?" Sahut Aryan sambil terus fokus memilih jejeran sepatu-sepatu branded itu.


"Itu, loh mantan pacar, lo."


Aryan menoleh ke arah, Kesya dan mengikuti arah jari telunjuk, Kesya.


"Loh, itu kan kanaya? Sama siapa itu dia?"


"Kita kesana yuk?"


"Ck! Udahlah, Yan jangan kepo sama urusan orang."


"Enggak, Key. Gue ngerasa, ada yang gak beres ini. Lo mau ikut, atau tetep di sini?"


"Ikut aja deh. Ntar gue hilang pula di sini sendirian."


"Siapa juga yang mau nyulik, lo. Ngeribetin!"


Keduanya mengendap-endap untuk mendekati, Kanaya.


"Semalam kan sudah saya kasih. Kamu mau morotin saya iya?"


"Sesuai dengan perjanjian dong, Mbak. Yang Mbak kasih semalam itu hanya setengah. Setengahnya lagi mana?"


"Gak ada! Kalo mau uang kerja!"


"Saya sudah melakukan semua apa yang, Mbak mau. Sekarang mana bayarannya?"


"Saya lagi gak megang uang."


"Oh, Mbak mau main-main sama saya? Siap-siap mendekam di penjara. Saya akan laporkan semua kejahatan yang telah, Mbak buat."


"Kamu ngancam saya? Hahaha... Saya gak takut sama sekali!"


"Oke! Tinggal saya bilang kepada polisi, bahwa Mbak telah meracuni seseorang dan melakukan pembunuhan."


"Oke, oke! Saya akan transfer sekarang. Udah, pergi sana. Awas kalo kamu berani buka mulut. Bersiaplah, nyawamu akan menghilang saya buat!"


"Terbukti kan, Key kalo memang dia pelakunya?"


"Iya, Yan. Bener dugaan, lo kemarin."


"Udah ayo kita samperin. Harus di kasih pelajaran tuh orang."

__ADS_1


"Eh, gak usah. Gimana kalo kita langsung lapor polisi aja?" Usul Kesya.


"Ide bagus. Lagian, udah gue rekam juga percakapan mereka tadi. Jadi kita ada bukti yang akurat."


Prang!!!


Saat keduanya hendak pergi, tanpa sengaja Kesya menyenggol vas bunga hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.


"Astaga, Kesya! Ceroboh banget!"


"Sorry, gak sengaja."


"Siapa di sana?" Ucap Kanaya sambil berjalan mendekat ke arah mereka.


"Gimana ini, Yan? Gue takut kalo ketahuan."


Ucap Kesya panik.


"Mbak, cari siapa ya?" Tanya penjaga toko


"Ah, enggak kok." Sahut Kanaya, lalu pergi.


"Hah, lega. Hampir aja tadi ketahuan, bisa gagal rencana kita, Yan."


"Iya! Makanya, lain kali jangan ceroboh lagi. Vas bunga nganggur kok malah di senggol."


"Gak sengaja kali!"


"Udah yuk, kita mau belanja atau langsung ke kantor polisi?"


"Belanja dulu deh. Mumpung udah sampe sini kan. Sayang juga sih harus putar balik lagi."


Mereka pun kembali ke tempat semula, dan mulai memilih beberapa pakaian.


"Key, sini deh." Panggil Aryan


"Apa?" Sahut Kesya sambil mendekat ke arah Aryan


"Gemes banget kan? Kayanya cocok deh kalo, lo yang pake."


Ucap Aryan sambil menunjukkan sebuah bando bermotif kepala kucing itu.


"Gak salah? Ini itu buat bocah kali! Ya kali gue make beginian. Aneh, lo."


Aryan beranjak pergi menuju deretan sepatu high hils.


"Key, ini keren." Ucap Aryan sambil menunjukkan sepatu yang tingginya hampir sama dengan setinggi harapan.


"Gila, lo Yan. Jadi apaan gue make begituan? Tinggi bener udah kaya penyanyi dangdut aja. Gue rasa pun, penyanyi dangdut gada yang make kaya gini."


"Mana tau, lo doyan yang beginian."


"Is! Kapan milihnya kalo di gangguin mulu? Diem bentar bisa gak sih, Yan? Rempong bener!"


"Iya deh, diem gue."


Para penjaga dan pengunjung lainnya mulai menertawakan mereka.


"Lucu ya pasangan ini."


"Iya, udah kaya kucing sama tikus aja."


"Iya bener. Dari tadi saya perhatikan, berantam mulu. Gak ada akurnya. Bener-bener kaya kucing sama tikus. Hihihi." Ucap seseibu sambil cekikikan


"Kalo emak sama bapaknya kaya kucing sama tikus, anaknya jadi apa?"


"Coro!" Sahut Aryan sambil menarik tangan Kesya dan membawanya pergi dari kerumunan emak-emak julid itu.


Bersambung.....


Thanks udah mau mampir🤗😍


Jangan lupa tinggalkan jejaknya juga ya, biar aku makin semangat buat nulusnya🤗


Love You All😘

__ADS_1


__ADS_2