Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
bab: 15 Bunuh Diri


__ADS_3

'Harus kah gue milih Kesya? Tapi, bagaimana dengan Kanaya? Gue gak bisa memilih antara keduanya.' Batinnya


Hingga malam mulai larut, mata Aryan sama sekali enggan terpejam. Dia bangkit, dan memutuskan untuk meminta pada sang penciptanya.


Usai shalat, barulah Aryan bisa terlelap.


*****


Pagi telah tiba, Aryan terbangun sebab cahaya matahari telah menusuk matanya. Dia meraba ke samping, namun tak merasakan keberadaan Kesya di sampingnya.


Aryan bangkit dan turun menuju arah dapur. "Hei, sudah bangun?" Sama Mama Indri


"Pagi, Mah." Mata Aryan terus berfokus pada Kesya. Kesya telah membuat sarapan dengan di bantu oleh Mamanya.


"Mata, di jaga. Masih pagi loh!"


Kesya sama sekali tak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan, untuk menyapa Aryan aja enggak.


Kesya mulai menata makanan di atas meja makan. Kesya mengabaikan keberadaan, Aryan yang dari tadi selalu memperhatikannya.


Sebal di abaikan, Aryan menarik pergelangan tangan, Kesya. "Lo kenapa? Lagi marah?"


"Gue sibuk!"


"Jawab dulu! Dari tadi lo itu gak nganggap gue ada tau gak? Lo mondar mandir, bahkan lo noleh juga enggak."


Kesya hanya diam. "Jawab dulu, Key! Lo anggap gue ini apa? Tembok?"


"Lo marah? Lo sakit hati? Lemah banget! Gimana gue yang selama ini, lo gituin? Lo aja gak pernah nganggap gue. Lo selalu ngebanggain Kanaya di depan, gue."


"Yang ada di pikiran lo itu hanya Kanaya! Kanaya! Dan Kanaya! Lo sanggup loh ngebanggain Kanaya di depan gue. Lo mikir gak?"


"Gue ini siapa lo, Yan? Ada lo pikirin gue? Bahkan, sekali pun lo gak pernah mikirin perasaan gue gimana!"


"Gue istri, lo! Tapi yang selalu di pikiran lo itu, Kanaya. Hahaha.... Ngarep banget ya, gue dianggap istri sama lo?"


"Gue capek, Aryan! Udah tiga bulan pernikahan ini, tiga bulan juga gue hanya lo anggap tembok di rumah ini."

__ADS_1


Air mata Kesya jatuh membasahi pipi mulusnya. "Gue tau kok, gue jauh berbeda sama, Kanaya. Bahkan jauh banget!"


"Tapi gue juga punya hati, Yan! Kalo lo nganggap gue buruk, bukan berarti gue gak punya hati dan perasaan. Gue kecewa sama, lo." Kesya langsung berlari ke kamarnya.


Aryan hanya diam membisu di tempatnya. Sampailah adikknya datang, lalu menyadarkannya dari lamunannya.


"Parah, lo Bang! Anak orang sampe nangis gitu, lo buat. Coba Abang bayangin, gimana kalo aku yang di posisi Mbak Kesya gimana perasaan Abang?"


"Kalo gak bisa ngebahagiain, setidaknya jangan nyakitin. Udah tua juga, malah makin blo'on, lo!"


"Buruan lo kejer! Malah bengong." Aryan langsung berlari menuju kamarnya. Saat hendak masuk, ternyata pintunya di kunci oleh, Kesya.


Aryan menggedor pintu, namun gak ada sahutan dari dalam. Lalu, Aryan langsung mendobrak pintu dan mendapati Kesya duduk memeluk lututnya dengan sebotol penyemprot anti nyamuk di sampingnya.


Aryan berlari dan langsung membuang botol itu.


Plakk!!!


Aryan menampar pipi, Kesya. "Lo gila ya? Kalo lo mau bunuh diri, jangan di sini. Loncat di gedung aja sana. Di jamin langsung berhasil."


Kesya memegang pipinya sambil menatap nanar ke arah Aryan.


"Lo manusia gak punya hati yang pernah gue temui! Gue nyesel selama ini pernah tinggal satu atap sama, lo."


"Andai waktu bisa gue putar, gue gak bakalan pernah sudi jumpa manusia kaya, lo! ARYAN WIJAYA ADITAMA, MANUSIA YANG PALING GUE BENCI DI DUNIA INI!" Teriak Kesya.


Aryan kembali melanyangkan tangannya, hendak menampar Kesya. Namung langsung di tahan oleh seseorang.


Bugh!!!


Bugh!!!


Bugh!!!


"Papa, stop!!!" Teriak Mama Indri mencoba memisahkan keduanya.


"Anak ini harus di beri pelajaran, Mah. Aryan! Papa gak pernah ya ngajari kamu buat kasar sama perempuan."

__ADS_1


"Belajar dari mana kamu, sampai berani mukul perempuan? Udah hebat kamu? Udah jago gitu? Cuih! "


"Kamu buat malu aja! Kecewa papa sama kamu!" Ucap papa Aryan, lalu pergi.


"Vidya! Kamu tenangkan, Kesya dulu ya. Mama mau nyusul papa dulu. Dan kamu, Aryan mama kecewa sama kamu. Kamu bukan Aryan yang Mama kenal dulu."


Vidya memapah tubuh lemas, Kesya ke kamarnya.


"Aghh!!!" Teriaknya frustasi. Aryan memukul-mukul tanganannya ke tembok, bahkan ia tak segan membenturkan kepalanya ketembok juga.


"Lo jahat, Aryan! Lo gila! Lo udah nyakitin orang yang lo sayang!" Teriaknya sambil terus menumbuk tembok


Sesampainya di kamar, Vadya langsung menenangkan kakak iparnya itu.


"Mbak, Mbak gak apa-apa kan? Mbak tadi di apain aja sama Bang Aryan?" Kesya menggeleng lemah


"Mbak belum makan kan? Aku ambilin nasi mau? Nanti, Mbak masuk angin kalo gak makan."


Kesya menggeleng, lalu kembali nangis. "Gue gak mau sama, Aryan! Gue benci sama dia. Dia jahat!" Lirih Kesya dengan air mata yang enggan berhenti.


"Udah, Mbak tenang ya. Disini cuma ada kita berdua. Gak ada Bang Aryan." Vidya mulai memeluk Kesya dan mencoba menenangkannya.


Tiba-tiba, Aryan masuk kedalam kamar, membuat Kesya berteriak histeris. "Pergi! Pergi, lo! Gue gak mau liat muka, lo! Pergi!!!" Teriak Kesya


Vidya bangkit, lalu membawa Aryan keluar. "Hei, gue mau jumpa sama, Kesya. Kok lo usir?"


"Lo gak waras, Bang! Lo bukan lagi Bang Aryan yang gue kenal dulu. Bang Aryan sama sekali gak pernah kasar, apa lagi mukul kaya tadi."


"Lo liat, betapa ketakutannya Mbak Kesya saat jumpa sama lo? Gak sedih lo liat istri lo sendiri kaya orang gila gitu?"


"Puas lo hah? Sadar bang! Dia istri, lo. Seharusnya lo ngasi contoh yang baik buat dia, bukan sebaliknya."


"Mending lo pergi! Gue gak kenal sama, lo. Lo bukan Abang gue, paham?!"


Vidya langsung menutup pintu dan membantingnya.


Bersambung...

__ADS_1


Sorry kalo ceritanya gak jelas. Aku pasrah jika bakalan ada yang ngehujat. Soalnya lagi ngebleng, mana banyak tugas sekolah juga.


Jadi pikirannya terbagi-bagi. Thanks buat yang udah mau mampir🤗


__ADS_2