Istri Dadakan Tuan Aryan

Istri Dadakan Tuan Aryan
bab: 4 Kecelakaan


__ADS_3

Tiiinnn!!!!


Brakk!!!


Aaghhh! Tubuh Kesya terpental ke aspal, lalu tak sadarkan diri.


"Tolong!!! Tolong!!! Tolong!!!"


Semua pengendara pada berkumpul, menyaksikan tragedi yang terjadi pada gadis malang itu.


Sementara pengemudi yang menabraknya tadi, berhasil kabur begitu saja.


Kesya pun dilarikan kerumah sakit. Kesya langsung di bawa keruangan ICU.


Sedangkan di villa, ternyata Bi Inah mulai menyadari bahwa Kesya tak berada di villa tersebut. Ia pun bergegas menghubungi sang majikan.


[Ha...hallo, Den.]


[Iya, bi. Ada apa? ]


[Em...anu, den. Non Kesya nya gak ada di kamarnya den. Udah bibi cari kemana-mana, tapi gak ketemu.]


[Apa? Coba bibi cek kolam berenang, atau di taman belakang. Siapa tau dia di sana.]


[Udah, den. Tetep gak ketemu]


[Oke, saya kesana sekarang.]


[Baik den.]


Sambungan telpon di putus oleh Aryan.


"Astaga! Pergi kemana lagi wanita itu." Dia pun bergegas pergi meninggalkan rumah sakit, menuju villa itu.


"Bibi yakin, Kesya kabur?"


"Yakin, den. Udah bibi cari kemana-mana tapi ga ketemu."


Aryan pun kedepan untuk menemui satpam. "Apa bapak ada liat Kesya keluar?"


Satpam itu menggeleng. "Gak ada, tuan"


"Bagaimana bisa? Apa bapak tadi ada ketiduran? Atau pergi, sehingga pos ini kosong?"


"Ada sih tuan, tadi saya lagi ketoilet."


"Astaga! Mungkin di saat itu dia kabur. Baiklah, pak terima kasih informasinya."


Aryan berlari menuju kamar milik Kesya. Ia berharap menemukan sesuatu petunjuk keberadaan Kesya sekarang.


Sesampainya di kamar, dia mendapati selembar kertas yang di tulis oleh Kesya.


"Ah, sial!" Umpatnya


Dia pun kembali keluar. "Bagaimana den, apa sudah ada petunjuk?"


"Belum bi. Cuma dia ninggalin surat." Aryan pun memberikan surat itu pada Bi Inah.


"Astagfiruallah! Berarti Non Kesya beneran kabur, den? Buruan cari den, bibi takut Non Kesya kenapa-napa."


"Iya, bi. Bibi tenang aja, Ini aku mau nyari dulu. Nanti kalo bibi udah dapat kabar, hubungi saya ya." Aryan pun mulai mengemudi mobil nya itu.

__ADS_1


Saat sedang mengemudi, tiba-tiba ponsel miliknya berdering.


Dret!!! Dret!!! Dret!!!


[Hallo?]


[Dengan bapak Aryan?]


[Iya benar. Siapa ya?]


[Ini pak, saya mau memberitahu bahwa istri bapak telah mengalami kecelakaan pak]


[Apa? Di mana keberadaan istri saya sekarang?]


[Di rumah sakit pelita kasih, Pak.]


[Baik. Saya langsung kesana. Terima kasih]


Aryan bergegas menuju rumah sakit yang di maksud suster yang menghubunginya tadi.


"Semoga tidak terjadi apa-apa pada Kesya."


*****


"Bagaimana keadaan istri saya sekarang, dok?"


"Istri anda sudah agak mendingan. Hanya saja di bagian kepalanya mengalami benturan, sehingga menyebabkan banyak mengeluarkan darah." Terang dokter


"Tidak ada yang serius kan dok?"


"Tidak ada, pak. Bapak kalau ingin masuk, silahkan." Aryan pun masuk kedalam ruangan serba putih itu.


"Ini akibat kalau pake acara kabur-kaburan. Dapet karmanya kan?"


"Ck! Klo lo kemari cuma buat ceramahi gue, mending lo keluar deh."


Aryan duduk di tepi ranjang. "Gimana ceritanya? Terus yang nabrak lo kemana?"


"Tau! Kabur kali."


"Lo juga, kenapa kabur? Nyusahin aja." Kesya hanya diam, membuat Aryan jengkel karena ucapannya gak di respon


"Lo tuli? Gue ngomong sama lo."


"Lo ngapain kemari? Udah pulang aja sana. Gue bisa sendiri."


"Jawab dulu pertanyaan gue, kenapa lo kabur?"


"Tau!"


"Jawab!"


"Emang harus gue jawab pertanyaan lo? Klo gue gak mau gimana? Lo dah baca surat gue belum? Seharusnya lo paham dong."


"Oke, oke gue minta maaf. Sekarang lo balik lagi ya? Ikut gue pulang."


"Gak mau. Mending gue gelandangan, dari pada kaya di kurung di sangkar gitu"


"Lo itu istri gue sekarang. Jadi lo harus nurut apa kata gue."


"Nurut sama lo? Lo sadar gak, cara lo memperlakukan istri lo gimana? Gini yang harus gue hormat dan turuti?"

__ADS_1


"Kata dokter lo udah boleh pulang. Udah ayo ikut gue." Ajak nya lagi


"Gue gak mau!"


"Yakin? Lo masih sakit, terus nanti lo mau tinggal dimana?"


"Bukan urusan lo."


"Okelah, klo gitu gue balik dulu. Hati-hati!" Saat hendak balik badan, Kesya langsung menggenggam pergelangan tangan Aryan


"Gue ikut!" Pintanya


"Tadi katanya gak mau. Sekarang mau"


"Tadi ya tadi lah. Udah basi"


"Terserah deh. Udah buruan beresin barang-barang lo, kita pulang sekarang."


"Gue yang beresin? Tega lo liat gue kaya gini? Masih aja lo suruh-suruh, heran gue." Omelmya


"Oh, astaga! Perasaan dari tadi gue salah mulu lo buat. Udah biar gue aja yang beresin."


"Nah gitu dong. Suami itu harus nurut sama istri"


"Kebalik kali." Aryan pun mulai mengemasi barang-barang milik Kesya.


"Udah selesai, ayo pulang."


"Gue gak bisa bangun. Ntar kalo jatuh lagi gimana?"


"Huh manja banget sih lo! Untung cantik."


"Apa lo bilang barusan?"


"Gak ada."


"Apa iya? Perasaan gue kaya denger lo lagi ngomong deh"


"Ah, mungkin lo salah denger kali."


"Bisa jadi sih"


'Astaga! Ember banget ni mulut, gak bisa di rem apa ya?' Batinnya


Tanpa aba-aba, Aryan langsung menggendong Kesya ala-ala bride style. Begitu melewati koridor rumah sakit, semua mata memandang ke arah mereka.


"Is lo apa-apaan sih? Buat malu aja. Gue bisa jalan sendiri."


Brukk!!!


Tanpa aba-aba, Aryan langsung menjatuhkan tubuh Kesya ke lantai.


"Awws!" Ringisnya


"Tega lo ya ngebanting gue? Duh, remuk ni pantat gue." Ringisnya sambil memijit-mijit pinggangnya yang terasa mau patah.


"Sengaja!"


Bersambung......


Tega amat lu, Aryan. anak orang pake di banting segala, hahaha

__ADS_1


__ADS_2